Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
PATAH HATI


__ADS_3

Karena merasa khawatir dengan Bu Alya, Kasih berlari ingin melihat, tapi sayangnya Kasih tersandung gantungan baju tadi, senjata yang Ia gunakan untuk memukul Perampok.


"Ya ampun Kasih.. Kamu hati-hati dong" Makmun pun membantu Kasih berdiri, dan tak sengaja Mereka pun berpandangan lagi untuk keduakalinya, Kasih tersadar ini adalah sebuah kesalahan


"Maaf Mas.."


Kasih langsung menundukan pandangannya, lalu Kasih pergi ke kamar Bu Alya, Makmun hanya terdiam merasa ada sesuatu yang lain dalam perasaannya, namun Makmun menepis semua itu, lalu Ia pun bergegas menuju kamar Bu Alya.


"Ada apa Bu..." tanya Kasih yang tiba-tiba datang


"Ini loh Kasih.. perhiasan Ibu hilang semua"


"Apa.. berarti ada dua perampok"


"Apa.. Dua.." Makmun datang langsung menyahuti


"Sudah.. tenang.. perampok kan sudah di tangkap, Papah yakin sebentar lagi Dia di interogasi dan jika ada komplotannya pasti Posisi segera meringkus Mereka"


"Iya Mah.. sudah.. jangan bersedih lagi"


"Tapi perhiasan Mamah Mun.. Kamu sendiri bagaimana? ada yang hilang dari Kamar Kamu?"


"Alhamdulillah Aku berhasil mengambil uang yang sudah di simpan di tas si Rampok" Bu Alya pun menangis layaknya anak kecil


"Mamah gak terima.. Mamah kumpulin Mas itu dengan susah Payah, sekarang malah hilang"


"Sudahlah Mah.. nanti Papah belikan lagi yang baru" ucap Pak Helmi berusaha menenangkan Istrinya.


Setalah itu, Kasih membereskan semua barangan yang berantakan akibat pertempuran tadi, Makmun pun membantu Kasih, namun Kasih menolak bantuan itu, rasanya tidak etis saja jika majikan membersihkan Rumah yang berantakan.


"Jadi menurut Kamu.. seorang majikan harus diam ketika melihat ART nya sedang kesusahan" Kasih hanya tersenyum mendengar gurauan Makmun.


Bu Alya dan Pak Helmi pun beristirahat, lalu Makmun membuatkan minuman hangat untuk Kasih, ketika selesai membersihkan semuanya, Kasih Kembali ke kamar untuk beristirahat, lalu Makmun memanggil Kasih dari luar kamar


"Kasih.." Kasih keluar kamar


"Iya Mas.. ada apa?"


"Ini..." Makmun memberikan segelas teh hangat untuk Kasih


"Teh.. untuk Aku"


"Iya dong.. memang disini ada orang lain" kasih pun tersenyum dan menerima minuman hangat tersebut


"Terimakasih ya Mas.. maaf merepotkan loh"


"Kamu minum ya, Kamu pasti lelah habis bertarung dengan Rampok sendirian" Makmun memberikan perhatian sehingga membuat hati Kasih jadi tersentuh, setelah memberikan minuman itu, Makmun kembali ke kamarnya untuk beristirahat.


Pagi-pagi sekali Makmun bersiap untuk berangkat ke Rumah Sakit membawakan baju ganti untuk Lia, Dia pun ke belakang Rumah menemui Kasih


"Kasih...Aku berangkat dulu ya, nanti kalau Mamah atau Papah tanya, bilang Aku pergi ke Rumah Sakit"

__ADS_1


"Oh iya Mas... hati-hati ya, salam untuk Ibu Irma" Makmun pun tersenyum lalu berangkat.


Sementara Chandra sebelum ke kantor Ia mampir sebentar ke Rumah Sakit untuk menjenguk Asri, sesampainya Chandra disana, terlihat Bu Anita sendang mengepak baju di tas


"Assalamualaikum" Asri dan Bu Anita menjawab salam dari Chandra


"Chandra Kamu kesini..?"


"Iya Tante.. Aku hanya ingin memastikan Asri baik-baik saja" Bu Anita tersenyum lalu menjawab,


"Terimakasih ya Chan.. Kamu sudah perhatian terhadap Asri, kebetulan Kamu datang, Tante bisa minta tolong tidak untuk Kamu antar kan Kami pulang"


"Asri sudah boleh pulang Tante?" tanya Chandra dengan wajah yang senang


"Iya Chan.. bagaimana bisa..?"


"Bisa Tante, ya sudah Asri Aku bantu Kamu ya, Tante kemas saja dulu, jika sudah selesai langsung ke mobil ya Tante"


Asri dan Chandra pun duluan ke parkiran mobil, Chandra berjalan sambil mendorong kursi roda yang dinaiki Asri, lalu Chandra berbasa-basi menanyakan keadaan kaki Asri.


"Masih belum terasa Chan.. sepertinya akan lama untuk Aku bisa berjalan lagi"


"Kamu jangan bersedih ya, harus tetap semangat, Aku yakin Kamu akan sembuh, atau mau Aku bantu untuk latihan berjalan setiap hari" tawaran Chandra sangat menarik, namun Asri memikirkan Rahma, jika Rahma tahu Chandra kerumahnya setiap hari, hal itu pasti akan menyakiti hati Rahma


"Tidak usah Chan.. nanti Rahma akan marah jika Kamu ke rumah Aku setiap hari" lalu Asri meminta Chandra untuk memperbaiki kalung pemberian Sam yang terputus semalam


"Apa...Kamu ingin memperbaiki kalung dari Sam yang putus..?" Asri menganggukkan kepalanya, namun Chandra tersenyum kecut lalu menjawab,


"Chan.. Aku mencintai Sam dengan tulus, apapun yang Ia lakukan Aku yakin Dia melakukan hal itu karena sesuatu yang mendesaknya, hanya saja Aku tidak tahu itu apa"


Chandra merasa geram dengan ucapan Asri jelas-jelas Sam sudah menyakitinya, lalu Chandra pun teringat tentang dirinya dulu saat menikahi Rahma dengan terpaksa.


"Kalau waktu dulu Aku meninggalkan Kamu tanpa bicara, apa Kamu berpikiran seperti ini Asri..?" Asri bingung dengan pertanyaan Chandra yang melantur entah kemana


"Chan.. Kamu bisa tidak bedakan.. dulu Kamu tidak bicara apapun tentang pernikahan itu, sedangkan Sam Dia bicara terlebih dahulu terhadap Aku saat ingin pergi meninggalkan Aku, hal itu saja sudah memperlihatkan itikad baik Sam, dan Aku percaya Dia melakukan itu karena terpaksa" sepertinya Chandra sangat kesal ketika Ia di bandingkan dengan Sam


"Jadi intinya Kamu mau bantu Aku atau tidak" tanya Asri dengan nada tinggi terhadap Chandra, mau tak mau Chandra pun mengiakan untuk membantu memperbaiki kalung yang putus


"Ya.. Aku akan memperbaikinya untuk Kamu"


Asri dan Chandra pun menunggu Bu Anita di mobil, namun hampir 15 menit Bu Anita tak muncul-muncul membuat Asri menjadi khawatir.


Ponsel Asri pun berada pada Bu Anita, Asri jadi susah menghubungi Bu Anita, melihat ponsel Chandra Asri ingin meminjam untuk menelepon Ibunya


"Chan Aku pinjam ponsel Kamu ya, Mamah gak datang-datang buat Aku khawatir"


"Ya sudah Kamu pakai ini"


ketika Asri membuka aplikasi WhatsApp di ponsel Chandra Ia melihat ada chat dari Tini, Asri merasa penasaran, tanpa bertanya Ia pun membuka chat tersebut, betapa kagetnya Asri saat melihat kiriman video dari Tini yang isinya foto dan baju kenangan Ia bersama Sam telah di hancurkan berkeping-keping oleh Tini.


"Chan.. ini apa...? tanya Asri dengan wajah yang kaget juga bersedih

__ADS_1


"Apa.. Kamu melihat apa?" dengan cepat Chandra mengambil ponselnya


"Ya ampun.. harusnya semalam Aku hapus" ucap dalam hati Chandra


"Tini melakukan itu Chan.. dan Sam membiarkannya terjadi begitu saja" Asri pun mulai menangis karena video itu


"Asri Kamu jangan menangis"


"Bagaimana Aku tidak bersedih, Aku disini berpikiran positif tentang dirinya, tapi Dia tega menghancurkan sisa kenangan itu Chan.." Chandra merasa iba dengan kesedihan Asri, Dia pun meminta maaf karena tak sempat menghapus video tersebut


"Kamu gak perlu minta maaf, justru Aku sekarang jadi tahu kalau Sam memang ingin menjauh dan melupakan Aku selamanya" Chandra pun terenyuh melihat Asri menangis, dengan spontan Ia menghapus air mata Asri dengan lembut


"Tolong jangan menangis, Aku tidak bisa melihat Kamu menagis terluka seperti ini Asri" Tiba-tiba Asri menepis tangan Chandra dari pipinya


"Lepas.. Aku tidak mengerti Kamu dan Sam, Kalian sama-sama pernah berjanji untuk tidak membuat Aku menangis, tapi mana justru Kalian lah yang membuat Aku patah hati"


Asri kini menagis hingga tersedu Ia memukulkan tangannya sendiri ke kaca mobil, merasa dirinya adalah orang paling bodoh manjadi budak cinta untuk seorang laki-laki.


Chandra langsung memegangi tangan Asri da nmemeluk Asri dengan erat


"Aku minta maaf Asri.. Aku pernah menyakiti hati Kamu, tapi sungguh jika Aku di beri pilihan antara memilih Kamu atau Rahma, Aku pasti sudah menceraikan Rahma, namun hal itu tidak semudah seperti membalikkan telapak tangan, Aku masih sangat mencintai Kamu, sangat mencintai Kamu" sambil berbicara Chandra pun ikut menagis dan mengingat masa-masa dulu yang sudah mengambil keputusan tanpa mencari bukti terlebih dahulu.


Tak lama Bu Anita datang dan langsung masuk ke dalam mobil, Chandra dan Asri pun kaget dengan segera Chandra melepaskan pelukan itu, Bu Anita terdiam memperhatikan Mereka


"Maaf ya.. Mamah lama, Mamah harus selesaikan administrasi dulu tadi, Kalian kenapa diam-diaman" Bu Anita bertanya namun matanya melirik wajah Asri, lalu Ia melihat mata Asri yang sembab seperti habis menangis


"Asri.. Kamu menangis?" tanya Bu Anita sambil menarik badan Asri untuk melihat wajah Asri


"Gak Mah.. Aku hanya..." belum selesai bicara Bu Anita langsung menanyakan hal ini pada chandra


"Chandra jelaskan pada Tante kenapa Asri menangis" Chandra tak mungkin bisa berbohong pada Bu Anita, akhirnya Chandra menjelaskan tentang video tersebut, respon Bu Anita pun terlihat marah ketika mendengar informasi itu.


"Mamah sudah pernah bilang Asri, Sam bukan laki-laki yang baik, Kamu mengharapkan Dia untuk Kembali dengan Kamu, jangan mimpi Asri.. lihat Mamah.. lihat Mamah Asri, Kamu harus bercermin dari kisah cinta Mamah, bahwa mencintai Suami orang itu tidak seindah yang Kamu kira, dan Istri sah lah yang akan menang" jawab Bu Anita dengan suara emosi yang mendalam hingga Bu Anita pun menangis saat menasihati Asri


"Tapi Sam melakukan itu karena terpaksa"


"Kamu masih saja membela Dia, video itu sudah menjelaskan bahwa Kamu akan dikubur dalam-dalam dari hidup Sam, sadar Asri..." Chandra langsung menyahuti


"Tante.. sudah.. Asri cukup, Kamu harus hargai Mamah Kamu, cukup Kamu yang menagis, jangan buat Ibu Kamu menangis juga" Asri pun menoleh dan memandang Bu Anita


"Mamah... Aku tidak tahu apa yang Aku rasa saat ini, Aku memang benci melihat video itu, tapi perasaan Aku mengatakan jika Sam tidak sungguh-sungguh melakukan itu, Aku mohon Mah.. Aku bisa tidak membicarakan Sam di depan Mamah, tapi tidak untuk hati ini Mah.. Sam bagaikan separuh jiwa Aku yang akan susah sekali untuk Aku hilangkan dari ingatan ini"


Setelah berbicara panjang lebar Asri pun menghadapkan wajahnya ke jendela, Bu Anita tak ingin menjawab ucapan Asri, Dia sangat mengerti saat ini hati Anaknya sedang terluka, lalu Bu Anita menyuruh Chandra untuk cepat mengantarnya pulang ke rumah.


Sampai pagi ini Sam masih menemani Ibunya di Rumah Sakit, sambil sarapan Bu Fatma bertanya mengenai pekerjaannya


"Nak.. Kamu tidak masuk kantor apa hari ini?"


"Masuk kok Bu.. nanti setelah selesai Ibu makan, Aku akan segera berangkat ke kantor" lalu Bu Fatma bertanya lagi soal biaya operasi transplantasi jantung kemarin.


Melihat keadaan Ibunya semakin membaik, Sam memberanikan diri untuk menceritakan semuanya pada Bu Fatma

__ADS_1


"Bu.. Aku akan ceritakan semuanya, tapi Ibu jangan marah ya sama Sam, karena Sam waktu itu tidak tahu lagi harus bagaimana" dan di ceritakanlah kejadian sehabis di rampok itu, lalu tanda tangan perjanjian hingga hubungan yang harus berakhir dengan Asri, Bu Fatma semakin bersedih dengan cerita Sam, Dia semakin merasa bersalah karena keinginan Sam untuk bercerai dan menikah bersama Asri kini telah sirna.


__ADS_2