
"Ayah."
Aska yang tengah fokus pada layar laptopnya menoleh. Dia tertegun dan matanya melebar. Apalagi melihat istrinya yang kini sudah mulai mendekat ke arahnya. Aska mulai menelan saliva.
Aska tak berdaya ketika sang istri sudah menyingkirkan laptop di pangkuannya. Kini, malah dia yang duduk di pangkuan Aska. Membuka lebar kakinya serta menggesek-gesekkan bokongnya ke bagian bawah perut suaminya.
"Ahh!" Suara Aska mulai keluar.
"Hayu atuh, Yah. Apem Bunda pengen disodok."
Aska terperangah mendengar ucapan istrinya. Tidak pernah Jingga seperti ini selama mereka berdua menikah. Tangan Jingga pun sudah menyentuh belahan bawahnya menandakan dia sudah tidak tahan.
"Ayah, cepetan atuh!" erangnya dengan nada manja. "Hareudang, Yah."
Suami mana yang tidak akan tergoda. Apalagi Jingga sudah memakai baju dinas yang haram untuk dilihat oleh orang lain. Ingin sekali dia menyerang Jingga, tapi dia teringat akan anak-anaknya yang selalu menjadi pengganggu kegiatan yang memabukkan.
"Bun, anak-anak?" Aska merasa cemas jika nantinya keempat anaknya itu malah menjadi pegganggu. Kegiatan mereka tidak tuntas dan membuat kepala mereka nyut-nyutan tak jelas.
"Sudah, Yah. Empin udah tidur sama mereka. Dijamin mereka pulas."Jingga sudah sangat tidak tahan. Dia sudah melucuti pakaian haramnya dan sudah membuaka lebar kakinya. Sungguh membuat aliran listrilk menjalar di tubuh Askara.
Dia pun segera memulai dari atas. Sepanas-panasnya istrinya pasti dia ingin diperlakukan dengan begitu lembut oleh suami. Bibir ranum Jingga mulai dia sesap. Dia loemat dengan begitu lembut dan Jingga pun mulai membalasnya. Bibir bekerja tangan pun tak bisa tinggal diam. Aska sudah memijat lembut sesuatu yang lembut bagai squishy. Istrinya sudah tidak dapat membuka mata. Tubuhnya seperti orang sakau. Melayang-layang ke awang-awang.
Turun ke bawah dan menyusuri sesuatu yang jenjang. Uh, suara menggoda terdengar dan membuat Aska ingin segera masuk ke dalam sebuah kenikmatan. Semakin turun, suara itu semakin seksi. Aska sungguh tidak tahan. Apalagi sang istri sudah menegang.
Melihat istrinya seperti itu, hasrat Aska harus ditahan sejenak. Dia ingin melihat keseksian istrinya lebih lama lagi. Jarang-jarang istrinya seperti ini. Aska mulai menjelajahi pusat perut sang istri. Sungguh merdunya suara Jingga kali ini. Meliuk-liuk bagai ular tubuh Jingga sekarang.
"Duh, Yah."
Hanya kata aduh yang keluar dri mulut istrinya. Menandakan dia sudah tidak tahan dengan perlakuan Aska yang sangat memabukkan ini.
"Enak, gak?"
"Banget."
Aska tersenyum bangga. Dia semakin tidak ingin membuat istriya diam. Dia terus saja mengerjai Jingga. Hingga pada akhirnya Aska sudah sampai pada titik di mana bagian itu menjadi titik terlemahnya.
Seperti lagu Joshua diobok-obok. Itulah yang Jingga rasakan. Belum lagi almondnya sudah mengeras dan terasa ingin pipis. Sudah lama sekali dia tidak merasakan hal seperti ini.
"Ayah, aku mau pipis."
'Pipisin aja, Sayang. Keluarin semuanya."
Sungguh kenikmatan malam pertama yang terulang lagi. Benar-benar nikmat dan nagih.
__ADS_1
"Boleh kita mulai sekarang?" Aska juga sudah tidak tahan.
"Bunda yang di atas ya, Yah." Lagi-lagi Aska terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Jingga. Apalagi istrinya sudah mulai merangkak. Memegang ular cobra yang sudah panas dan menegang. Di mata Jingga itu seperti permen. Kini Aska yang dibuat tak tahan.
"Bun, nanti keburu keluar."
"Gak apa-apa, Yah. Bunda ingin meikmati susu kental manis."
Astaga! Kesambet hantu apa istri Aska sekarang ini. Sungguh liar sekalui malam ini. Benar saja, hanya butuh waktu lima belas menit susu kental manis itu keluar dan tanpa ragu Jingga telan.
Baru saja hendak menarik napas, sang istri malah sudah memasang kuda-kuda dan Aska pun melenguh dengan begitu merdu.
Teriakan-teriakan kecil keluar dari mulut Aska. Begitu juga dengan Jingga. Mereka berdua seakan tengah beradu d'sahan.
"Oh God!" Suara Asak sudah mulai kencang, Goyangan coran membuat Aska mengumpat nikmat. Apalagi Jingga juga sudah meyodorkan sumber asi kepada suminya.
"Rangsang Bunda, Yah."
Mereka bagai sepasang suami-istri yang sudah bertahun-tahun tak bertemu. Suara manja mereka sangat jelas terdengar
"Enak banget!"
Goyangan Jingga semakin cepat menandakan dia sudah tidak mampu bertahan. Sama halnya dengan Aska. Mereka berteriak bersama menandakan mencapai gunuug kembar secara bersama.
.
"Ahh!"
"Terus ... ya teruss ....."
"Kok Uncle jadi tukang paklil?" Ingin dia beranjak dari tempat tidur, tetapi rasa kantuk membuatnya tak sanggup untuk membuka mata.
.
Bermacam gaya mereka berdua lakukan. Sungguh tidak membuat mereka lelah. Mencapai puncak tertinggi lebih dari lima kali tak membuat tenaga mereka terkuras. Mereka malah semakin buas.
Jangan ditanya perihal tanda cinta yang tersemat pada kulit mulus putih mereka. Tidak bisa dihitung dengan jari saking banyaknya.
"Gaya ini yang aku suka, Yah. Nancep banget."
Sungguh kemajuan luar biasa dari Jingga Andhira. Bibirnya yang biasa hanya terdiam atau men-the-sah pelan kini malah seperti wanita liar. Tak segan meminta mengubah ritme ataupun yang lainnya.
Posisi ini adalah kesempatan emas bagi Aska. Dia bisa bermain puas dan bisa menjamah semua bagian yang dapat membuat Jingga tak berdaya.
__ADS_1
"Aissh!"
Sungguh nikmat yang tak bisa diucapkan dengan kata-kata. Mereka berdua tenggelam dalam lautan yang begitu dalam nan indah. Menyusuri malam yang penuh dengan bintang. Jarum jam yang semakin ke kiri tak mereka hiraukan. Mereka bagai sepasang manusia yang tak tahu waktu. Mereka asyik dengan keseruan yang sudah jarang mereka lakukan. Melakukan berulang, tapi tidak bosan. Juga, tidak membuat susu kental manis itu menyusut. Malah semakin banyak dan mereka seakan menjadi manusia yang tengah merasakan dahaga panjang.
Jam tiga pagi mereka barulah tertidur dengan keadaan sudah bersih. Tengah malam tadi mereka melakukannya di bath up berisikan air hangat. Sungguh sensasi yang sangat berbeda. Juga membuat mereka bertahan lama.
Tidak mereka sangka juga keempat anak mereka tidak terbangun di tengah malam. Mereka tidur dengan berpelukan dengan hanya menggunakan bathrobe.
.
Bias cahaya mentari sudah masuk ke dalam kamar dua manusia ini. Jingga terperanjat ketika dia melihat ke arah jam.
"Quartet!"
Aska malah memeluk erat tubuh Jingga. Jam masih menunjukkan pukul enam pagi. Namun, itu sudah terlalu siang untuk Jingga.
"Yah, anak-anak--"
"Mereka maish tidur nyenyak bersama Empin." Aska menjawab dengan mata yang terpejam.
"Benarkah?"
"Iya. Tadi Ayah sudah cek."
Tetap saja dia tidak bisa tenang. Jingga masih tetap ingin melihat keempat anaknya.
"Bun," panggil Askara.
"Bunda hanya ingin memastikan."
"Pakai baju dululah. Ada Empin 'kan." Jingga pun menepuk dahinya. Dia lupa jika dia hanya menggunakan bathrobe.
Setelah berganti pakaian. Jingga masuk ke dalam kamar si quartet. Mereka sudah terbangun dan di sana sudah ada Riana yang menjaga mereka berempat. Ditambah Ghea dan juga Gavin.
"Maaf ya, Mbak." Riana hanya tersenyum. Sedangkan Gavin sudah memicingkan matanya.
"Anteu, itu lehel Anteu kenapa? Dijilat hantu?"
Riana sudah mengulum senyum. Beda halnya sangan Jingga yang merasa malu.
"Semalam Mas juga dengel suala kaya tukang paklil. Telus, telus, telus." Jingga semakin membeku. Apalagi Gavin semakin menelisik leher Jingga.
"Apa yang jilaat lehel Anteu itu hantu tukang paklil."
__ADS_1
...***To Be Continue***...
Komen dong ...