Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
267. Jadi Satu


__ADS_3

Sekarang giliran dokter Lasya yang memeriksa kondisi tubuh Jingga. Dia tersenyum ketika memeriksa perut Jingga.


"Sudah mencoba menggunakan tetspack?" Jingga menggeleng. Dia menatap ke arah Aska dengan rasa cemas. Juga wajah penuh pasrah.


"Besok pagi silahkan coba testpack-nya, ya." Dokter Lasya masih menyunggingkan senyum kepada Jingga. Dia menatap ke arah dokter Gwen yang juga ikut tersenyum.


"Sebenarnya menantu saya hamil atau tidak?" Ayanda benar-benar penasaran. Begitu juga dengan Riana.


"Gak seru nih Bu dokter mainnya tebak-tebakkan," ujar Gavin.


Dua dokter itu sangat gemas kepada bocah berusia lima tahun di hadapan mereka. Mereka mengusap rambut lebat Gavin juga mencubit gemas pipi putih Gavin. Anak itupun berdecak kesal. Hal yang paling dia benci adalah orang lain mencubit pipinya.


"Saya kasih resep saja, ya." Dokter Lasya berucap. Dia menuliskan resep yang harus ditebus oleh Aska. Namun, masih banyak tanya yang memutari kepala.


"Pesan saya, kalau tidur pake baju." Dokter Lasya berkelakar.


"Masuk angin dong kalau gak pakai baju," sahut Gavin. Dokter Lasya pun tertawa.


"Jenius."


Dua orang itu masih mematung. Mereka benar-benar dibuat penasaran. "Kenapa gak bilang aja sih?" erang Aska ketika dua orang dokter itu sudah pergi.


Gio hanya tersenyum sedangkan istrinya sudah mulai frustasi. Dia memilih untuk membawa si quartet ke kamar mereka.


"Jangan lupa tebus obatnya." Gio mengingatkan. Aska pun mengangguk. Namun, sang bocah kecil malah masih anteng tiduran di sofa.


"Ngapain di sini?" tanya Aska.


"Minta upah ngasuh. Ditambah ganti rugi uang Mas yang diambil kakak lenjeh." Tangan anak itu sudah menengadah.


"Gak ada!" Aska mencubit gemas pipi Gavin sehingga dia berteriak.


"Mas bilangin Daddy biar dipecat!"


.

__ADS_1


Semalaman Jingga maupun Aska tak dapat tidur. Walaupun obat yang diberikan dokter itu menyebabkan kantuk, tetap saja hati Jingga tidak tenang. Dia terus saja gelisah. Bagaimana jika dia hamil? Bagaimana dengan anak-anaknya?


"Ayah, kok Bunda takut, ya." Jingga sudah bersandar di kepala ranjang. Dia menatap suaminya yang mulai ikut mendudukkan diri.


"Bunda melihat betapa kecewanya Mommy." Wajah Jingga pun sudah mulai sendu.


"Jangan dipikirin perihal Mommy. Dulu, Riana juga sama seperti Bunda. Disinisin karena hamil anak kedua . Intinya, Mommy cuma gak mau cucu-cucunya kekurangan kasih sayang. Mommy dan Daddy adalah orang tua yang mementingkan keluarga berencana. Buktinya, Daddy menyuruh Mommy untuk malakukan steril. Mommy tidak mau dan alhasil Mommy memasang IUD." Aska menjelaskan secara rinci. Dia masih ingat ketika dia dan Aksa menanyakan kenapa mereka hanya berdua? Kenapa tidak ada adik lagi? Jawaban yang begitu detail, tidak ditutup-tutupi pun Giondra beberkan.


Jingga memeluk tubuh Aska. Dia mengajak Aska untuk tidur di kamar si quartet. Menikmati waktu berenam sebelum anggota baru hadir.


Memandangi wajah keempat anaknya membuat hati mereka damai. Namun, ketika mengingat bakal ada anggota baru rasa bersalah menjalar di hati mereka.


Aska memeluk Jingga dari belakang. Mencoba menguatkan walaupun dia juga ikut andil dalam kesalahan terbesarnya ini.


"Maafkan Ayah, Nak."


"Maafkan Bunda juga," timpal Jingga.


Menjelang pagi barulah Aska dan Jingga tertidur. Mereka hanya tidur beralaskan karpet yang biasa keempat anak mereka pakai. Saling memeluk dengan hati yang kalang kabut. Mata boleh terpejam, tapi pikiran masih berjalan-jalan.


"Aqis nanti gak akan dipanggil Adek lagi, melainkan Mbak." Anak itu menggeleng dengan cepat.


"Nyo nyo nyo. Da ao da ao."


Mendengar jawaban dari Balqis memhua hati Jingga mencelos. Anak keempatnya pun seakan tidak mau memiliki adik. Jingga menatap nanar ke arah Balqis.


"Bun."


Panggilan dari Aska menyadarkan Jingga. Dia tersenyum perih ke arah suaminya.


"Aqis sama ayah sini."


Anak itu pun minta diturunkan dan berlari ke arah Aska. Balqis mencium wajah ayahnya seakan tengah melepas rindu.


"Bun, cobain testpack-nya." Jingga pun mengangguk.

__ADS_1


"Aqis sama Ayah dulu, ya. Bundanya mau mandi. Nanti gantian kalau Bunda udah cantik Aqis yang mandi."


"Ya ya ya ya ya." Aska pun tertawa dan mencium gemas pipi anak keempat ini.


.


Jingga sudah membawa lebih dari lima testpack. Dia meletakkan di atas watafel kamar mandi. Ada keraguan, ketakutan, juga kecemasan yang menjadi satu.


"Bagaimana jika garis dua?" batinnya begitu lirih.


Dia memejamkan matanya sejenak. Mencoba menarik napas panjang agar hatinya tenang. Akhirnya, dia menampung urin di tempat khusus. Kemudian, semua testpack dia buka dan dia celupkan ke dalam urin. Namun, sengaja Jingga tinggal. Dia belum ingin melihatnya dan memilih membersihkan tubuhnya.


Seperti biasa, Jingga tidak bisa berlama-lama di kamar mandi. Keempat anaknya sudah memanggil-manggil. Dia juga melupakan sesuatu hal.


Sibuk mengurus anaknya, dari memandikan hingga menyuapi. Suaminya pun terkadang dia abaikan karena keempat anaknya yang tidak ingin jauh darinya jika tidak Om dan tante mereka.


"Bun." Suara Aska terdengar. Jingga yang sedang menyuapi Balqis pun menoleh.


"Udah rapi?" tanya sang istri. Aska hanya mengangguk.


"Temani Ayah sarapan," pinta Aska. Jingga pun mengangguk. Dia menyerahkan keempat anaknya kepada pembantu rumah tangga yang biasa menjaga di quartet ketika pagi hari.


"Bagaimana hasilnya?" Suara sang ibu menyadarkan dua orang manusia ini.


Jingga dan Aska segera melangkahkan kakinya menuju kamar mandi kamar mereka. Hati mereka berdegup tak karuhan. Sungguh mereka berdua benar-benar takut.


"Yah," panggil Jingga. Aska pun menoleh dan mengangguk pelan.


Langkah mereka terhenti tepat di depan wastafel kamar mandi. Mereka saling tatap. Jingga menggeleng pelan. Dia memilih untuk melingkarkan tangannya di pinggang suaminya. Dia tidak mau melihat. Sebelum mengambil testpack itu, Aska menarik napas panjang terlebih dahulu.


Tangannya mulai meraih testpack satu per satu. Jingga semakin memejamkan matanya. Satu per satu testpack yang masih ada di dalam wadah dia angkat. Matanya melebar ketika melihatnya. Dia masih penasaran, tetstpack kedua dia angkat lagi. Hasilnya pun sama. Hingga testpack terakhir dia angkat tetap saja sama.


"Bun--"


...***To Be Continue***...

__ADS_1


Komen dong ...


__ADS_2