Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
223. Pertanyaan Dalam Hati


__ADS_3

"Ada apa ini?" batin Jingga berkata dengan jantung yang berdegup kencang. Suaminya tidak mengatakan hal apapun tentang Fahrani juga Fahri. Kenapa mereka berdua ada di rumah sakit ini?


Echa sudah menghampiri Fahri dan Fahrani. Sedangkan Jingga masih mematung di sana. Dia masih menerka-nerka ada apa sebenarnya.


"Bu," sapa Fahri dan Fahrani menundukkan kepalanya dengan sopan.


Echa menjawabnya dengan seulas senyum yang cantik. Fahri dan Fahrani tercengang ketika melihat ada istri dari atasan mereka tengah mematung tak jauh dari tempat Echa berada. Hati mereka berdua semakin gusar.


Fahrani menatap ke arah Fahri, sang kakak pun terdiam dan menggeleng pelan ke arah Fahrani. Dia juga tidak tahu jikalau Jingga ada di sini. Di rumah sakit tempat di mana ayahnya dirawat dalam keadaan kritis.


"Jingga sedang liburan ikut dengan saya." Perkataan Echa membuat Fahrani dan Fahri mengerti. Namun, ada makna lain dari ucapan Echa tersebut. Echa sangat tahu mimik wajah dari dia sahabat adiknya yang sangat berbeda.


"Dokter Radit belum keluar?" tanya Echa. Dia mengalihkan pertanyaan agar Fahri dan Fahrani tidak terus menatap Jingga dengan tatapan mencurigakan. Kedua adik kakak di depannya itu menggeleng. Echa menyerahkan makanan yang dia bawa kepada Fahri dan Fahrani. Dia pun kembali lagi kepada Jingga yang masih menegang di sana.


"Kenapa?" tanya Echa. Jingga hanya menggelengkan kepala ketika sang kakak ipar menatapnya dengan penuh tanya.


Baru saja Jingga hendak membuka suara, pintu ruangan terbuka dan terlihat Radit yang memakai jas putih sama seperti tiga orang yang baru saja keluar dari sana.

__ADS_1


Dari keempat pria yang memakai jas putih Raditlah yang paling tampan. Ketika dia melihat istrinya dia segera menghampiri Echa dan memeluk tubuh Echa sekilas. Kemudian, membubuhkan kecupan hangat di kening sang istri.


"Udah selesai?" Radit pun menggeleng. Tiga pria berjas putih yang lain sudah berada di belakang Radit.


"Sungguh suatu kehormatan bertemu dengan Anda, Nyonya Raditya," ucap salah seorang dokter yang seumuran dengan Radit.


Echa malah tertawa dan Radit sudah merengkuh pinggang sang istri tercinta. Menandakan betapa dia mencintai istrinya tersebut.


"Maklumlah, Dok. Saya hanya pencari receh." Semua orang yang berada di sana pun tertawa. Echa selalu saja bersikap seperti itu. Selalu membumi, walaupun dia itu memang sudah seperti langit.


Apalagi kebaikan Echa membuat semua orang suka kepadanya. Membagi-bagi makanan kepada dokter yang bertugas di sana. Jingga pun ikut bergabung bersama mereka atas perintah Echa. Meskipun masih ada rasa sungkan di hatinya. Ada terseilp rasa bingung karena keberadaan asisten dari Askara yang juga ada di sana. Fahri maupun Fahrani pun tidak banyak bicara. Malah terkesan tidak mau menatapnya. Mereka hanya sesekali menimpali ucapan dari para dokter tersebut. Tidak biasanya mereka seperti itu. Mereka adalah orang yang aktif berbicara.


"Maaf ya, sudah ganggu acara jalan-jalan kamu," ucap Radit kepada Jingga. Jingga hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. Semua dokter yang tengah bersama Radit ikut menatapnya juga. Itu membuat Jingga merasa malu.


"Kepada para dokter terhormat pun saya minta maaf karena tidak s sempat membeli makanan di luar. Namun, istri saya selalu tahu apa yang ingin saya makan jika sedang berada di Bandung." Echa pun hanya tertawa.


Radit dan tiga dokter lain tengah membicarakan perihal pasien yang mereka tangani. Jingga hanya mendengarkan saja. Namun, hatinya merasa perih ketika salah satu dokter berkata, "sudah tua, hidup dengan ketidaksempurnaan dan tinggal di kontrakan sendirian. Ke mana anak-anaknya?"

__ADS_1


Sendok yang sudah Jingga arahkan ke arah mulut pun mundur kembali. Sebuah kata ketidaksempurnaan membuat Jingga teringat akan ayahnya. Kini, hati kecilnya tengah menanyakan di mana ayahnya sekarang? Kenapa pria tua itu seakan menghilang?


"Anaknya hanya satu dan sudah meninggal," timpal dokter yang lain.


"Ya, untung saja ada seorang yang berbaik hati yang mau menanggung biaya pengobatan yang tidak sedikit ini."


Jingga kini menatap ke arah Fahri dan juga Fahrani yang hanya terdiam saja. Wajah mereka pun tanpa ekspresi. Malah cenderung tidak dapat Jingga baca. Mereka berdua seperti tengah menyembunyikan sesuatu dari dirinya.


"Apa suamiku tahu akan hal ini?" Begitulah batin Jingga berkata. Apapun yang dilakukan dua saudara kembar tak identik ini biasanya atas sepengetahuan Aska maupun Aksa. Mungkinkah suaminya tidak tahu? Begitu juga dengan Abang iparnya.


"Apa pasien yang Bang Radit tangani adalah keluarga dari Fahri dan Rani?" tanyanya lagi di dalam hati. Jingga mencoba menelisik wajah adik kakak tersebut.


.


...****************...


Komen dong ...

__ADS_1


__ADS_2