Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
196. Anak Punk


__ADS_3

Aleena terus menyusuri jalan yang terbilang cukup sepi dengan hati yang berdegup kencang. Namun, dia mampu membalutnya dengan ketenangan hingga tiga anak punk di belakangnya tidak merasa curiga.


Tidak biasanya dia sesial ini. Sudah biasa dia melewati jalanan ini sendirian setelah menyerahkan bantuan kepada beberapa anak yatim piatu yang tinggal di sana. Hari ini di malah diikuti oleh anak punk yang terlihat mabuk. Bukannya tidak takut, tetapi dia teringat akan ucapan dari sang ayah. Jikalau tengah merasakan takut jangan menunjukkan gelagat juga mimik wajah yang kentara. Itu akan semakin membuat mereka tersenyum puas. Menghubungi sang paman pun Aleena lakukan dengan setenang mungkin dengan menggunakan earphone portable.


Jalanan kali ini terasa mencekam. Apalagi dia merasa tiga anak punk itu sudah semakin dekat.


"Ya Tuhan lindungilah Kakak Na."


Rapalan doa terus terucap di hatinya. Tinggal beberapa meter lagi sampai keluar dari gang kecil itu, pundak Aleena ditahan oleh anak punk dengan wajah penuh tindikan juga tato.


"Hai cantik," godanya.


Aleena hanya menunjukkan wajah datar. Meskipun hatinya tengah ketar-ketir. Dia berharap Omnya segera datang. Mata Aleena melebar ketika dua anak punk yang lain ikut mendekat dengan seringai aneh. Dada Aleena semakin bergemuruh. Ingin sekali dia berteriak.


Tanpa Aleena duga, kedua anak punk itu sudah menahan tangan Aleena dan anak punk satunya sudah mulai menunjukkan wajah jahatnya.


"Bawa dia ke tempat yang sepi."


Mata Aleena melebar dan dia pun berteriak dengan cukup keras. Namun, mulut Aleena dengan kasar dibekap oleh anak punk yang ada di depannya.


Ingin rasanya Aleena menangis karena bukan hanya tiga, ada dua lagi yang sudah menunggu. Baru saja hendak ditarik dan dibawa ke dalam gang lagi, salah satu anak punk terdengar mengaduh membuat anak punk yang lain menoleh.


"Jangan beraninya sama cewek," teriak seorang anak laki-laki yang sudah memegang batu di tangannya. Tangan satunya tengah membawa kantong keresek berwarna hitam.


Mata Aleena memicing. Sepertinya dia kenal dengan anak itu. Tidak sedikit pun anak itu mundur ketika empat anak punk yang lain menghampirinya dengan wajah murka.


"Jangan sok pahlawan lu!"

__ADS_1


Ketua geng anak punk yang penuh tindikan di wajahnya sudah terdengar sangat marah. Namun, anak laki-laki itu tidak beranjak sedikit pun dari tempatnya. Malah, dia tersenyum mengejek.


"Tampang doang sangar, mainnya keroyokan."


Kalimat yang membuat ketua anak punk itu merah padam karena merasa harga dirinya diinjak-injak oleh bocah ingusan. Dia menyuruh tiga temannya mundur. Dia sendiri yang akan menghadapi anak laki-laki sok jagoan itu.


Ternyata anak laki-laki itu sangat mahir bela diri. Usianya sama seperti Aleena dan anak punk itu sudah di atas tujuh belasan dan mampu anak itu kalahkan.


Ketika ketua anak punk itu tersungkur, tiga anak punk yang lain mulai menyerang anak laki-laki itu. Sedangkan satu anak punk yang terkena lemparan batu mulai menarik tangan Aleena hingga Aleena berteriak.


"GAK MAU!"


Sontak anak laki-laki itu menoleh dan ketika dia lengah dia habis dipukuli oleh tiga anak punk dan Aleena terus berteriak karena tidak ingin dibawa oleh si anak punk tersebut.


Anak laki-laki itu sudah tersungkur dan wajahnya dipenuhi luka lebam juga ada darah yang mengalir di bibirnya.


"Makanya lu ikut gua!"


Tangan Aleena sudah ditarik. Kini, ketua geng anak punk itu sudah mencengkeram tangan Aleena.


"Jangan bawa dia."


Suara anak laki-laki itu terdengar sangat lemah. Tatapannya begitu teduh terhadap Aleena.


"Pukuli gua aja. Gua gak apa-apa. Asal lepasin dia."


Remaja yang wajahnya penuh dengan luka tindik itupun membuang ludahnya.

__ADS_1


"Bocah sok!"


Ketika teman-teman si anak punk yang bertindik itu sudah menyerang anak laki-laki yang sudah tersungkur, suara tembakan terdengar membuat lima anak punk itu kocar-kacir.


Dua orang polisi mengejar mereka. Sedangkan Aska berlari memeluk tubuh keponakannya. Dia tahu Aleena sangat ketakutan.


"Kamu gak apa-apa." Aleena pun menggeleng. Namun, wajahnya tidak dapat berdusta.


"Kakak Na!"


Sang Tante pun mendekat dan memeluk tubuh Aleena dengan begitu erat. Beginilah Aleena, jika ada apa-apa orang yang pertama kali akan dia hubungi adalah Aska. Dia tidak ingin membuat kedua orang tuanya khawatir.


"Kamu beneran gak apa-apa." Aleena mengangguk dengan air mata yang tidak bisa dia tahan. Jujur, dia sangat takut.


Aska memeriksa setiap inchi tubuh keponakannya. Tidak ada luka yang Aleena. Keponakannya itu hanya terlihat takut.


"Kalau gak ada-"


Dahi Aleena mengkerut ketika melihat anak laki-laki yang menolongnya sudah tidak ada di sana.


"Kalau gak ada apa Kakak Na," ucap Jingga.


Aleena hanya terdiam. Dia malah menghampiri kantong keresek berwarna hitam yang anak itu tinggalkan. Aska dan Jingga saling pandang dan ikut menghampiri Aleena yang tengah menatap isi dari kantong kresek itu.


"Punya siapa mie dan telur itu?" tanya Aska.


...****************...

__ADS_1


Komen dong ..


__ADS_2