
Aska mengantar istrinya hingga halaman depan rumah besar miliki Giondra. Dia terus menitipkan Jingga kepada kakaknya hingga istrinya pun berdecak kesal.
"Emang aku barang."
Echa dan Radit hanya tertawa mendengar sungutan dari adik ipar mereka. Begitulah Askara jika sudah khawatir. Tidak cukup berkata satu atau dua kali. Radit dan Echa sudah terbiasa akan hal itu. Beda halnya dengan Jingga yang baru mengetahui sifat asli suaminya seperti apa.
"Anteu, Mas ikut."
Ternyata anak itu sudah terbangun dan sudah berada di gendongan sang paman. Jingga malah tertawa dan mencium pipi gembil Gavin.
"Nanti Mas nyusul aja bareng Uncle," ujar Echa. Wajah anak itu terlihat kecewa. Namun, Radit mengeluarkan uang lembaran merah berjumlah lima lembar dan sang keponakan pun langsung melupakan keinginannya.
"Dasar mata duitan!" Aska berdecak kesal melihat tingkah laku sang keponakan.
Gavin tak mengindahkan ucapan sang paman. Malah dia meminta diturunkan dari gendongan Askara. Lagi-lagi Aska menggelengkan kepala dan semua orang malah tertawa.
"Uncle, telepon Daddy. Mas udah sembuh dan mau pulang." Anak itu berteriak sambil berlari ke dalam rumah.
__ADS_1
Tawa semua orang pun pecah. Ada-ada saja tingkah konyol Gavin yang membuat pagi ini lebih semangat.
"Bandit, jangan bawa mobil lu!" larang Aska. Dia sangat tahu kakak iparnya itu tidak tidur karena terlihat mata Radit yang merah juga matanya terlihat lelah.
"Enggak, Dek," jawab Echa. "Abang kamu mau istirahat soalnya setelah sampai Bandung dia harus langsung ke rumah sakit untuk mengecek keadaan pasien yang sudah kritis."
Aska mengangguk dan Jingga hanya mendengarkan saja. Ternyata menantu dari Ayanda bukanlah orang sembarangan. Banyak titel yang tersemat pada diri seorang Raditya Addhitama. Bohong jika keluarga kaya seperti Giondra tidak melihat bibit, bebet, bobot dari seseorang yang akan menjadi bagian dari keluarga mereka. Apalagi Echa adalah anak perempuan satu-satunya di keluarga Giondra dan Ayanda. Juga anak sulung yang pastinya terjadi seleksi ketat dalam memilih pendamping hidup untuk putri mereka.
Jingga dan Echa duduk di kursi penumpang belakang. Sedangkan Radit di kursi penumpang depan dengan mata yang sudah terpejam. Jingga melihat hari ini Echa tidak memegang ponsel.
"Kalau Kakak mau liburan, itu tandanya ponsel dan laptop sudah Kakak letakkan. Apalagi pekerjaan."
Jingga masih menatap intens ke arah sang kakak ipar yang terlihat cantik walaupun tidak menggunakan polesan make up sama sekali.
"Sekarang kita liburan dan lupakan semua beban pikiran." Ucapan Echa kali ini membuat Jingga tersenyum. Apa yang diucapkan oleh Echa memang benar adanya. Refleks kepala Jingga pun manggut-manggut.
"Kakak gak sabar ingin menanti mereka semua lahir ke dunia." Jingga terkejut ketika Echa menyentuh perutnya yang sudah besar.
__ADS_1
"Lahirlah ke dunia dengan sehat, ya. Kami semua menanti kalian."
Kalimat yang sangat tulus dan membuat hati Jingga mencelos. Betapa baiknya kakak iparnya ini. Apa yang dia pikirkan tentang Echa yang buruk ternyata salah. Echa memanglah wanita yang sangat tulus.
Namun, terselip rasa takut di hati Jingga tatkala Echa mengatakan hal itu. Dia takut jika anak-anaknya terlahir dengan ketidaksempurnaan lagi dan akan membuat semua orang yang menantinya kecewa untuk kedua kalinya. Mimik wajah penuh ketakutan terlihat sangat jelas.
"Bagaimanapun kondisi anak kamu ketika lahir nanti, percayalah bahwa semua orang akan menerimanya dengan hati yang lapang."
Tes.
Bulir bening menetes begitu saja. Kalimat yang sungguh menyentuh hatinya. Kalimat yang ingin dia dapatkan dari ayah kandungnya sendiri. Malah dia dapatkan dari keluarga suaminya.
Kapan ayahnya mengatakan seperti itu? Itulah yang selalu Jingga pertanyakan selama ini.
...****************...
Minta komennya boleh?
__ADS_1