
Di Kamar mandi, Chandra membayangkan wajah Asri berada dekat dengannya, mata Chandra tertutup membayangkan begitu cantik dan indahnya Asri jika Ia berpenampilan seperti Rahma saat ini.
Namun tanpa di sadari, Rahma masuk ke kamar mandi menyusul Chandra lalu Ia melihat Chandra yang tengah berdiri di depan kaca, dengan mata yang tertutup.
"Kamu sedang apa Chan..?"
"Aku sedang melihat wanita tercantik"
Rahma tersenyum kegirangan, yang Ia sangka wanita tercantik itu adalah dirinya, lalu Ia memeluk Chandra dari belakang, hal itu membuat Chandra kaget
"Astagfirullah.."
Rahma langsung melepaskan pelukannya
"Kenapa, kok seperti melihat hantu saja"
"Rahma Kamu ngapain sih disini"
Chandra langsung mengenakan handuk menutupi bagian sensitifnya
"Aku kan Istri Kamu, tidak boleh ya Aku hanya merasa senang, karena tadi Kamu memberikan sensasi yang luar biasa untuk Aku"
"Iya.. tapi Aku kan mau mandi"
"Tapi tadi Kamu tidak mandi malah diam berdiri dan menutup mata, oh ya.. wanita tercantik itu siapa Aku bukan?"
Chandra terdiam tidak mungkin menjawab jika dalam pikirannya wanita tercantik itu adalah Asri
"Iya... Kamu, sudah sana Aku mau mandi"
"Iya.. Aku keluar"
Rahma pun keluar namun Ia merasa ragu dalam hatinya mendengar jawaban wanita tercantik itu.
Sementara Asri terdiam duduk merenungi ucapan Chandra yang ingin menikahinya
"Rasanya tidak mungkin, Rahma pasti tidak akan menyetujuinya"
Asri pun bangkit dari duduknya lalu Ia bergegas mandi, Asri berendam di bathub matanya terpejam tiba-tiba wajah Sam datang dalam bayangannya, memeluknya dengan erat, dan mengelus perutnya dengan lembut, membuat Asri sangat bahagia, namun tidak tahu apa yang terjadi, Sam menghilang tiba-tiba Chandra datang dan memeluknya dengan hangat, tak lama Chandra mengecup bibirnya dengan lembut, bayangan itu membuat Asri terbuka matanya, dan menarik nafasnya berkali-kali, lalu Asri duduk dan terdiam
"Ya ampun bayangan apa itu, mimpi atau khayalan Aku"
ucap risau dalam hati Asri, Asri kini melanjutkan mandi dan tidak jadi berendam.
Pak Faris tengah mengepak barang, lalu Fahmi melihat dan bertanya,
"Pah.. mau kemana kok kepak barang"
"Papah mau ke Bandung besok"
"Ngapain?"
"Ya urusan pekerjaan lah Fahmi"
"Pah.. Aku ikut ya"
Pak Faris terkejut dengan permintaan Fahmi
"Untuk apa?"
"Ya ingin ikut saja, Papah perginya Sama si Sam itu kan?"
"Kok Kamu tahu"
"Ya tahu lah Pah.. biarpun Aku ini bukan orang kantor, tapi Aku tahu loh kegiatan karyawan Papah, apalagi yang namanya Sam itu"
"Fahmi, Kamu harus hormati Dia, Dia itu menantu Pak Herman orang ternama di Jakarta"
"Aku sudah tahu kok"
"Kamu tahu juga soal itu"
Pak Faris sungguh heran dari mana Fahmi tahu semua informasi itu
"Heh Fahmi, Kamu jangan macam-macam ya"
"Pah.. Aku mau deh kerja di kantor lagi"
Pak Faris kali ini benar-benar terkejut mendengar permintaan Putranya
"Papah tidak salah dengar ini"
"Ya gak lah.. tapi Papah harus pecat dulu Sam itu, Dia kan menempati Posisi Aku"
"Tidak, Sam itu aset Papah tahu, Dia cerdas cekatan dan bisa menggaet banyak klien, memangnya Kamu, kerjaan Kamu hanya mabuk minum ke bar seperti itu terus"
Tak mau meladeni Fahmi, Pak Faris pun pergi ke ruang kerjanya, Fahmi semakin membenci Sam, Pak Faris kini selalu membanding-bandingkan dirinya dengan Sam.
Saat di meja makan Sam berbicara pada tini, bahwa Ia mengajaknya ke acara launching pembukaan hotel di Bandung
__ADS_1
"Kamu yakin mau mengajak Aku Sam"
"Iya.. ini perintah Pak Faris, kalau bukan Dia yang minta, Aku juga gak akan mengajak Kamu"
Biarpun terpaksa tapi Tini sangat senang, akhirnya Dia bisa hangout Walau hanya sehari, jadi Ia tidak merasa bosan terus-menerus disini.
"Jadi Kamu berangkat jam berapa Nak?"
tanya Bu Fatma terhadap Sam
"Jam 7 pagi Bu, paling Kita pulang jam 3 sore"
"Sam.. nanti Kita jalan-jalan dulu boleh tidak"
"Aku tidak ingin melakukan hal yang tidak penting, silahkan Kamu belanja dan bermain disana, tapi Aku tidak bisa menemani Kamu"
"Gak masalah kok Aku bisa sendiri pergi"
Bu Fatma merasa Tini kini sudah bersikap baik kepada Sam, dan Bu Fatma merasa tidak adil jika Sam selalu mengacuhkannya
"Sam.. sebaiknya Kamu temani Istri Kamu, takut nanti Dia nyasar bagaimana?"
"Tidak akan nyasar Bu, Dia itu ratu shoping, seluruh kota pasti pernah Dia datangi"
Tini merasa kesal sekali dengan tanggapan Sam tentang dirinya, namun Ia tak mau berdebat dengan Sam, Dia pun merendahkan diri di hadapan Sam dan Bu Fatma
"Gak apa-apa kok Bu, Sam benar.. Aku sudah sering ke luar kota, jadi tidak masalah untuk Aku"
Bu Fatma hanya terdiam, memperhatikan sikap Sam yang terus acuh kepada Tini.
Setelah sampai di rumah Bu Anita duduk di kursi tamu, dengan rasa lelah dan letih seharian berada di toko, lalu Asri mendatangi Ibunya dan mengobrol.
"Mah.. sudah pulang, ini Aku sudah buatkan minum untuk Mamah"
"Iya sayang, Mamah capek banget hari ini"
Asri merasa kasihan melihat Ibunya bekerja keras untuk menghidupi keluarga
"Mah maaf ya, hari ini Aku gagal lagi dapat pekerjaan, Aku bingung Mah.. kenapa susah sekali mencari pekerjaan, padahal Aku sudah bisa berjalan, tapi"
Asri bercerita sambil bersedih, membuat Bu Anita merasa kasihan dengan nasibnya
"Asri.. Mamah juga merasa hidup di Jakarta sepertinya sudah susah berbisnis"
"Maksud Mamah apa, Aku gak mengerti"
Bu Anita terdiam memandangi wajah Putrinya, dalam hatinya mungkin permintaan Farhan ada baiknya di turuti, lagi pula Bu Anita masih punya rumah pemberian Fery sewaktu dulu di Bandung, dan lagi pun Bu Anita sangat rindu dengan Ibunya, yang sudah bertahun-tahun tidak Ia temui
"Apa sebaiknya Kita pindah dari sini Nak?"
Asri sungguh tidak mengerti dengan maksud yang di bicarakan oleh Ibunya
"Kita pindah ke Bandung"
"Bandung"
Mengingat kota Bandung, tanpa ragu Asri mengiakan ucapan Ibunya
"Kamu mau tinggal di Bandung"
"Ia Mah.. Aku gak masalah, Aku ingin bertemu Nenek, dan.. Aku ingin sekali bertemu Papah"
Sepertinya Bu Anita kini akan mengatur jadwal keberangkatannya ke Bandung namun entah itu kapan, melihat Asri yang begitu antusias membuat dirinya yakin akan pindah ke Bandung.
Tengah malam di saat semua orang tertidur lelap Herman menghubungi seseorang yang akan membakar gedung penyimpanan dan pabrik tekstil milik Pak Faris.
"Baik Bos.. Kita akan lakukan besok"
"Ingat.. jangan sampai ada jejak, Saya ingin semua rapih"
"Kami mengerti Bos"
Pak Herman kini beristirahat supaya besok tak kesiangan datang di acara launching.
Pagi hari pun tiba, Chandra kini tengah bersiap, Rahma pun ikut terbangun, dan ingin menyiapkan sarapan untuk suaminya
"Rahma tidak usah, Kamu tidur saja, Aku bisa sarapan di luar"
"Kamu yakin?"
Rahma berbicara dengan wajah yang setengah sadar setengah mengantuk
"Iya.. Aku berangkat ya"
Chandra mencium kening Rahma, namun Rahma tak menyadari hal itu, karena saking ngantuknya.
Chandra segera bergegas pergi ke rumah Asri menjemput Asri
"Assalamualaikum"
__ADS_1
"wa'alaikum salam"
Asri membukakan pintu, dan ternyata Chandra datang lebih pagi dari yang di duga
"Berangkat sekarang Chan?"
"Tidak.. Aku hanya ingin cepat sampai disini saja"
Asri tak mengerti dengan maksud ucapan Chandara
"Ayo masuk.. Kamu sudah sarapan?"
"Belum.."
"Rahma gak membuatkan sarapan untuk Kamu?"
"Dia sih mau.. tapi Aku yang mau sarapan disini?"
Asri terdiam dan kali ini Asri mengerti maksud kedatangan Chandra yang masih pagi buta seperti ini, kemudian Asri tersenyum
"Chan... Kamu jangan main-main deh sama Istri Kamu"
"Kalau Sam saja yang beristri bisa Kamu beri hati dan ruang, kenapa tidak untuk Aku Asri"
Ucapan Chandra sungguh membuat Asri mati kutu akan kesalahannya berselingkuh waktu itu
"Aku siap-siap dulu ya"
Asri pergi begitu saja tak menjawab ucapan chandra, di kamar Ia merenungi ucapan Chandra didalam hatinya berkata,
"Chandra.. itu hal yang berbeda, Kita tidak akan bisa bersatu jika bukan campur tangan Tuhan, Aku rasa Kita tidak akan bisa bersatu"
Setelah selesai bersiap Asri menyiapkan sarapan untuknya dan untuk Chandra.
Setelah itu Mereka pun berangkat
"Mamah Kamu mana?"
"Mamah belum bangun, biarlah kasihan semalam pulang kecapean, ayo berangkat"
Chandra terlihat bahagia, Ia membukakan pintu mobil tak seperti biasanya, dan saat dalam perjalanan, Chandra menceritakan jika dirinya tadi membayangkan Asri berpenampilan sangat cantik untuknya
"Chan.. Itu hanya khayalan Kamu saja"
"Tapi itu jelas sekali seperti nyata"
"Tapi nyatanya Aku ya seperti ini biasa saja"
Asri berbicara sambil tersenyum manis, rasanya sudah lama Chandra tak melihat senyum semanis itu, entah mengapa sekarang-sekarang ini Chandra jadi lebih berani, menggoda bahkan mengungkapkan isi hatinya kepada Asri
"Asri.. senyum Kamu manis sekali, Aku sudah lama tidak melihat senyum semanis itu"
Asri bingung harus menjawab apa, Chandra sangat percaya diri sekali dalam bicara
"Ingat Istri"
Chandra hanya tersenyum kecut mendengar jawaban Asri
"Kenapa pada Sam Kamu tidak jawab seperti itu dulu"
"Chan...sudahlah.. kenapa Kamu selalu membandingkan Diri Kamu dengan Sam, itu hal yang berbeda"
"Apa bedanya Asri, Kita Sama-sama laki-laki beristri, bedanya hanya Aku menyatakan dan ingin benar-benar menikahi Kamu, tapi lihat apa yang Sam lakukan Dia tidak memberikan kepastian untuk Kamu bahkan Kamu hanya dicicipinya"
Ucapan Chandra sungguh membuat hati Asri sakit, tak terasa air mata menetes di pipi Asri, seketika Chandra memarkirkan mobilnya dan bertanya,
"Asri.. Kenapa Kamu menangis?"
"Sudah cukup Kamu bicara, kalau Kamu ingin membahas masalah Aku dan Sam, lebih baik antar Aku pulang Aku tidak ingin pergi dengan orang yang tidak menghargai keputusan Aku"
Chandra kini menyadari kesalahannya, Ia mengusap-usap wajahnya lalu Ia meminta maaf kepada Asri
"Maafkan Aku, Aku telah menyakiti hati Kamu, sungguh bukan seperti itu maksud Aku Asri"
"Aku tahu Chan.. Kamu punya niat baik ingin menikahi Aku, tapi Kamu lihat posisi Kamu, jika Kamu masih sendiri Aku pasti akan menerima Kamu"
Lalu Chandra menggenggam tangan Asri dan Ia meminta maaf kesekian kalinya,
"Aku minta maaf, Aku terlalu mengikuti nafsuku hingga Aku tak memikirkan bagaimana kedepannya, tolong maafkan Aku, Aku hanya sangat... sangat mencintai Kamu Asri, jujur Aku tidak bisa melupakan Kamu sampai saat ini, biarpun diri ini raga ini sudah Rahma ambil, tapi pikiran dan rasa cinta Aku selalu untuk Kamu"
Asri menangis lagi, dan kali ini Ia menangis hingga terdengar suara Isak tangis, Chandra menatap Asri begitu dalam, tiba-tiba Asri memeluknya sambil menangis
"Aku sangat mengerti perasaan Kamu, Aku tidak bisa menikah dengan Kamu, jika tanpa restu Rahma"
"Jadi jika Rahma merestui, Kamu mau menikah dengan Aku?"
Lalu Asri menatap Chandra dan menganggukkan kepalanya, Chandra tersenyum bahagia dan kini Chandra yang memeluk Asri dengan erat
"Aku akan membicarakan ini dengan Rahma"
__ADS_1
Lalu Chandra mengusap air mata Asri dan Ia mengatakan jika dirinya sangat mencintainya.