Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
251. Masalah Nama


__ADS_3

"Balqis Lalita Bania Laila," ulang Rion sambil mengunyah buah melon. "Ntu cucu si Gio apa bukan? Kenapa gak ada nama besar keluarga?"


Arya pun berdecak kesal. Dia menatap tajam ke arah Rion yang seperti orang tak bersalah.


"Mulut lu kenapa kayak netijen sih? Bisa aja nyari celah buat diomongin. Heran gua," omel Arya.


"Gua cuma bergumam, Bhas. Aneh aja kenapa tiga anak yang cowok ada nama belakang kakek buyutnya sedangkan yang cewe-"


"STOP!" Cucu tampan Rion Juanda sudah bersuara.


"Wawa sama Engkong itu cowok, tapi mulutnya kayak cewek. Senang banget nge-ghoib." Dahi Rion dan Arya mengkerut mendengar kata aneh yang baru mereka dengar.


"Nge-ghoib apaan?" tanya Arya yang kebingungan.


"Itu loh yang suka ngomongin olang."


"NGEGOSIP!" kata Rion dam Arya berbarengan.


"Oh, udah ganti nama ya." Wajah polos Gavin membuat dua paruh baya itu kesal. Ingin memarahi, tapi tidak tega. Anak itu sangat menggemaskan.


Bukan hanya Rion yang merasa aneh karena nama anak perempuan Aska juga Jingga tidak ada nama Wiguna. Kedua kakak Aska pun merasakan hal yang sama. Mulut mereka masih terbungkam karena masih ada para peliput berita di sana.


Setelah acara selesai, si quartet masih tidur dengan nyenyak. Jingga dan Aska pun memilih beristirahat sejenak karena sedari pagi jadwal mereka sangat padat.


"Gi, tuh cucu bungsu lu kenapa gak ada nama Wigunanya? Ada masalah apa keluarga lu sama cucu bontot lu?" Giondra menggeplak kepala sang besan hingga dia mengaduh.


"Lemes amat tuh mulut!" omelnya. "Hak mereka mau menamai cucu gua pake nama keluarga apa enggak."


"Rada aneh aja gak sih?" tanya Rion kepada Arya. "Yang tiga pake nama Wiguna, yang satu enggak."


"Kagak usah nyinyirin orang, Bung. Apa kabar sama anak pertama lu? Anak kedua dan ketiga lu mah pake nama belakang lu. Ngaca sebelum berkata."


Giondra malah tertawa puas. Mulut Rion terkadang seperti lambe murah. Ada saja hal ganjil yang kemudian dinaikkan menjadi sebuah berita gembar-gembor.


"Kagak pernah tuh gua dengar anak lu yang pertama protes atau apalah. Kenapa sekarang lu yang protes sama nama anaknya si Aska." Arya masih mengomeli Rion Juanda. Sudah lama dia tidak beradu mulut dengan duda anak tiga itu.


"Pasti ada alasan di balik ini semua. Gua juga gak pernah meminta atau memaksa anak-anak gua memakai nama Wiguna untuk memberi nama kepada anak-anak mereka."


"Gua suka sama cara ku berpikir. Justru nama belakang keluarga itu akan menjadi beban yang teramat berat untuk si anak." Arya membenarkan ucapan dari Giondra.


.


"Ayah, Daddy dan Mommy akan marah gak, ya?" Rasa khawatir menjalar di hati Jingga. Aska yang tengah asyik menggesek-gesekkan pisang tanduk ke gunung kembar sang istri hanya terdiam. Dia tengah menikmati karena sudah seminggu ini dia tersiksa karena tidak bisa menyalurkan kebutuhan hormonnya.

__ADS_1


"Ayah, jawab Bunda, ih." Jingga kesal sendiri sedangkan Aska sedang merasakan kenikmatan.


"Lagi enak, Bun. Nanti diskusinya."


Suaminya ini benar-benar ya. Inilah alasan kenapa Jingga ingin tidur di luar bersama ibu mertuanya juga yang lain. Suaminya akan mencari kesempatan ketika anak-anaknya terlelap. Dia lelah jika harus mengeluarkan susu kental manis menggunakan mulut. Sampai kempot pun susu itu susah keluar. Malah pisang tanduk yang semakin menegang.


"Sayang, enak banget."


Jingga hanya menghembuskan napas kasar. Dia kira dia akan aman ketika masa nifasnya berlangsung. Pada nyatanya tidak. Seorang suami lebih bernafsu ketika masa nifas. Contohnya saja Askara. Memang tidak masuk melalui pintu bawah, tapi tetap saja Jingga kewalahan. Dijilat, disedot, dipijat tidaklah cukup. Sudah terbiasa masuk ke gua benda itupun ingin masuk ke dalam rongga mulut. Atau juga suaminya akan menggunakan dua roti konde yang mengembal untuk menjepit cacing raksasa.


Setengah jam berselang, susu kental manis pun muncrat. Ada rasa lega di hati Aska sedangkan istrinya malah berdecak kesal.


"Lap yang bersih!"


Aska hanya tertawa. Dia ambil tisu basah. Mengelapnya dengan telaten. Namun, mata Aska terpaku pada benda semu kecokletan yang berada di atas roti konde. Mode bayi gorilla pun muncul, dia melahap benda itu dengan penuh nafsu. Sungguh Jingga dibuat tak berkutik. Itu salah satu sisi lemahnya. Hisapan si quartet dengan suaminya sungguh berbeda.


"Duh, Yah. Kalau ketahuan Mommy kita bisa diceramahi habis-habisan."


.


Dokter Eki duduk termenung di atas kursi roda memandangi bunga yang tengah bermekaran di sore hari. Dia menatap ke arah langit. Senyum di wajahnya yang sedikit keriput terukir.


"Terima kasih, Tuhan. Engkau telah memberikan aku kesempatan untuk melihat keempat cucuku."


Sebuah doa dari sang pendosa yang Tuhan kabulkan. Inilah buktinya jikalau Tuhan memang Maha mengampuni.


"Bar, jika saya meninggal ... bagaimana dengan kamu?"


Akbar terkejut dengan apa yang diucapkan oleh dokter Eki. Dia menatap wajah senja pria yang dia rawat.


"Saya akan kembali ke Bandung, Pak."


"Kembali jadi perawat di puskesmas yang hanya bergaji lima ratus ribu," sahut dokter Eki.


"Sepertinya, Pak. Tidak apalah, Pak, yang penting ilmu keperawatan saya di masa SMA kesehatan bisa saya gunakan. Saya juga bisa Nyambi kerja yang lain setelah dari puskesmas. Saya ingin kuliah, Pak."


Aska memang sengaja mengambil perawat dari Bandung. Sekaligus membantu perekonomiannya. Aska merasa cocok dengan Akbar hingga dia mempekerjakan Akbar untuk merawat mertuanya. Gajinya Akbar dua puluh kali lipat dari gaji di puskesmas.


.


"Mom, Dad, Kak, Bang, Adek mau bicara sebentar." Aska sudah menunjukkan wajah yang serius ketika mereka selesai makan malam.


Mereka sudah berkumpul di ruang keluarga yang sudah kembali seperti sedia kala. Semuanya berkumpul termasuk dua ipar dan enam keponakan Aska.

__ADS_1


"Maafkan aku, Mom, Dad."


Dahi Ayanda dan Giondra mengkerut mendengar permintaan maaf Jingga. Memangnya salah menantunya itu apa?


"Nama anak kami yang keempat tidak menggunakan nama belakang Wiguna." Jingga menjelaskan, tetapi tidak berani menatap kepada kedua mertuanya.


"Mommy dan Daddy jangan marah. Begitu juga dengan Kakak dan Abang," lanjut Askara. "Itu sudah menjadi keputusan kami berdua," tambahnya.


"Bisa berikan alasan kepada Daddy?" Perkataan Gio teramat serius. Sungguh membuat dada Jingga dan Aska berdegup tak karuhan.


"Sebenarnya nama Balqis Lalita Bania Laila itu adalah dua nama yang kami satukan," terang Jingga. Semua orang di sana terkejut.


"Kata dokter akan ada dua anak perempuan yang aku lahirkan. Aku teramat senang karena Tuhan memberikan pengganti Dea dan Ayna, anak perempuanku yang sudah tiada."


Suasana mendadak hening. Tidak ada yang berbicara sama sekali. Mereka menatap Jingga yang masih menunduk.


"Karena aku gak mau memilih, akhirnya aku putuskan untuk memakai dua nama itu untuk nama si bungsu." Aska mengusap lembut pundak sang istri dan menyuruhnya untuk menatap ke arah kedua mertuanya.


"Mohon maaf, Dad, Mom. Nama Wiguna tidak kami sematkan karena memang sedari awal untuk anak perempuan kami tidak akan menggunakan nama keluarga. Kami menganggap dua anak perempuan yang akan lahir ini adalah reinkarnasi Ayna dan Dea. Ayna memang anak kandung kamk, tapi tidak dengan Dea. Maka dari itu, Adek ingin bersikap adil. Adek tidak akan menggunakan nama keluarga di belakang nama kedua putri Adek. Meskipun, Tuhan memberikan hanya satu anak perempuan, tetap saja wajah Balqis perpaduan antara wajah Ayna dan Dea. Makanya, nama belakang keluarga tidak Adek sematkan."


Aska akan menerima jikalau kedua orang tuanya akan marah. Apa yang dia putuskan pasti memiliki konsekuensinya sendiri.


"Dari awal Daddy dan Mommy tidak pernah menuntut kepada kalian untuk memakai nama keluarga untuk memberi nama anak-anak kalian. Tidak masalah jika tidak pakai juga. Tidak akan pernah Daddy coret dari anggota keluarga Wiguna kok."


Aska dan Jingga bisa bernapas lega. Mereka berdua berhambur memeluk tubuh Ayanda dan juga Gio yang selalu berpikiran terbuka. Tidak pernah menuntut dan membebaskan anak-anaknya. Hanya arahan yang Gio berikan.


"Uncle, Empin udah bisa baca loh," ucap Aleena memecah keharuan.


Aksa dan yang lainnya menatap tak percaya kepada bocah empat tahun yang malas sekolah di play grup. Dia ingin sekolah seperti si triplets.


"Coba sini Uncle tes." Aska menantang Gavin. Dia pun menyuruh anak itu membaca sebuah kertas yang bertuliskan nama Putri keempatnya.


"Baca!"


"B-bal-qis La-li-ta Ba-nia La-ila."


Semua orang terperangah dan bertepuk tangan bahagia. Aksa dan Riana sudah mencium gemas pipi gembul sang putra pertama yang sangat pandai.


"Balqis Lalita Bania Laila," ulang Gavin sambil menunjuk satu per satu kata yang ada di atas kertas.


"Dipanggilnya ... Ba-La-Ba-La."


...***To Be Continue***...

__ADS_1


Komen atuh ...


.


__ADS_2