Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
163. Ibu Mertua


__ADS_3

Kesedihan Jingga mampu terobati karena Rion, Arya juga Gio selalu menghibur Jingga. Mengajak Jingga maupun Aska bercengkerama bersama. Banyak gelak tawa yang tercipta. Jingga merasakan memiliki ayah yang sesungguhnya. Dia sudah tidak peduli dengan ayahnya. Terlalu bagus manusia seperti dokter Eki disebut ayah.


Hari ini Jingga diutus menjaga Riana di rumahnya. Dia juga bisa bermain bersama Gavin. Itulah yang selalu Jingga inginkan. Jingga pun sudah harus terbiasa ketika Aska harus pergi ke luar Kota. Ya, dua ibu hamil ini tengah ditinggal ke Surabaya oleh para suami mereka.


"Mbak, aku ngeri sama perut Mbak." Perkataan aneh yang keluar dari mulut Jingga. Di matanya perut Riana itu sudah semakin turun. Jingga ngeri sendiri. Riana hanya tertawa menanggapinya.


Ibu hamil itu masih aktif bergerak karena dia menginginkan lahiran secara normal. Walaupun dia istri dari pengusaha kaya tetap saja Riana bergaya sederhana.


Sebenarnya Aksa tidak ingin berangkat dan dia mengutus Askara. Namun, ternyata ada sebuah permalasahan di mana Aksa pun harus ikut terbang ke sana. Mau tidak mau Aksa diwajibkan ke Surabaya, tetapi Aksa meminta memakai pesawat pribadi. Dia ingin pulang-pergi tanpa adanya acara nginap menginap. Dia tidak mau istrinya melahirkan tanpa ada dia di sampingnya.


"Ini juga udah kerasa sedikit." Mata Jingga melebar, tetapi Riana masih mampu untuk tersenyum.


"Kita ke rumah sakit, Mbak," ajak Jingga yang sedikit panik.


"Gak usah. Masih lama," ujar Riana.


Jingga menggelengkan kepalanya tidak mengerti. Riana duduk di samping Jingga yang masih menatapnya.


"Sebanyak apapun uang suamiku, aku ingin tetap menjadi ibu seutuhnya. Ingin melahirkan bayiku dengan normal. Tidak mau operasi," tutur Riana.


Jingga mengerti akan hal itu. Riana pun sempat bercerita perihal pengalaman kehamilan pertamanya. Harusnya dia memiliki anak kembar, tetapi kakak dari Gavin tidak berkembang dan alhasil dia gugur.


"Mbak, apa melahirkan itu sakit?" Jingga masih awam. Dia masih mencerna ucapan dari setiap wanita yang pernah melahirkan secara normal maupun operasi.


"Sakit itu pasti, tapi rasa sakit itu akan terganti karena suara tangisan bayi yang membuat bulu kuduk meremang dan hati bergetar hebat." Riana cerita dengan senyum yang melengkung indah. Riana pun mengusap lembut punggung tangan Jingga.


"Boleh aku bertanya?" Jingga pun mengangguk. "Bagaimana rasanya mengasuh seorang bayi yang bukan darah daging kamu? Apalagi bayi itu memiliki ... maaf, kecacatan. Apa yang kamu rasakan? Apa yang membuat kamu mau mengasuh Dea?" Pertanyaan itu yang masih berputar di kepala Riana. Dia benar-benar salut kepada adik iparnya ini.


”Hatiku terketuk ketika melihat seorang bayi yang tak berdosa akan dibuang oleh dua orang yang tak memiliki hati. Pada waktu itu aku hanya memiliki dua pilihan, ambil atau ikut membuang. Setelah aku melihat manik mata bayi itu, hatiku berdesir sangat hebat. Ada kebahagiaan juga kesedihan dalam hati aku. Akhirnya, aku memberanikan diri untuk mengambilnya. Apapun resikonya akan aku tanggung karena pada waktu itu keadaan ekonomi ku sudah membaik." Bibir Jingga sedikit terangkat jika mengingat bagaimana dia mengasuh Dea.


"Aku pernah menjadi seorang pengasuh, tetapi pengasuh anak seusia Empin. Sedangkan aku harus mengurus anak bayi yang masih merah. Sulit awalnya dan pada akhirnya aku mengambil Tini untuk membantuku dan di mataku Dea itu sempurna. Malah dia bagai matahari yang selalu menyinari hidup aku. Dialah alasan terbesarku untuk menjadi orang sukses. Aku ingin membahagiakannya." Suara Jingga semakin berat dan dia pun kini menunduk.

__ADS_1


"Aku tak peduli dengan ocehan orang lain perihal Dea. Mengatai Dea anak cacat aku tidak pernah sakit hati. Memang kenyataannya seperti itu. Aku pun memberi pengertian kepada Dea perihal kondisinya. Anak itu kuat dan pintar. Namun, kerapuhannya terletak pada satu sosok. Sama seperti diriku, yakni Ayah."


Riana memeluk tubuh Jingga. Baru kali ini Riana mendengar ungkapan hati terdalam dari seorang Jingga Andhira.


"Dea tahu bahwa ayahku adalah kakeknya, tetapi dia tidak tahu siapa orang tua kandungnya karena ayah melarangku memberitahukannya. Dia tidak menginginkan khalayak umum mengetahui bahwa Dea adalah cucu dari dokter Eki, anak dari seorang dokter ternama, yakni dokter Melati. Akhirnya, aku yang menjadi gunjingan semua orang karena akulah yang naik ke publik. Semua orang mengulik masa laluku. Aku dikatai anak haram, anak dari seorang pelakor. Dikatai wanita nakal karena melahirkan tanpa adanya seorang suami. Lebih parahnya semua orang menyebut Dea adalah anak haram. Sungguh sakit, Mbak. Namun, aku tetap harus legowo. Aku ingin melindungi Dea. Aku gak mau psikis Dea terguncang. Cukup hati aku yang sakit, cukup psikis aku yang terluka. Aku tidak apa, asal jangan putriku."


Riana dapat merasakan betapa tulusnya Jingga menyayangi Dea. Betapa luar biasanya Jingga dalam mengurus Dea yang bukan anaknya.


"Aku ingin membuktikan kepada mereka bahwa aku bisa membesarkan Dea. Aku bisa merawat Dea dan aku sangat senang karena Dea tumbuh menjadi anak yang luar biasa. Sedari dia bisa jalan, aku sudah memesan kaki palsu. Aku ingin melihat putriku seperti anak normal. Ketika Dea berjalan ke arahku dan kakinya seperti orang normal, aku menangis keras, Mbak. Anakku bisa seperti anak normal. Anakku tidak akan dicemooh lagi oleh mereka. Begitulah pikirku dulu."


"Kepercayaan diri Dea pun mulai tumbuh. Aku sangat bahagia, tetapi ayahku sendiri yang menjatuhkan mental anakku. Ayahku menggunakan kesempatan ketika aku tidak ada karena harus bekerja ke lain Kota. Ayahku mengatakan hal yang membuat semangat putriku mengendur. Semangat putriku melemah. Satu perkataan negatif mampu menjadi virus mematikan untuk putriku hingga dia dinyatakan mengalami cancer."


"Aku tidak bisa membayangkan, bagaimana jika aku ada di posisi kamu," imbuh Riana. "Sudah pasti aku akan rapuh dan mungkin akan gila," lanjutnya.


"Awalnya aku juga seperti itu. Mbak. Tuhan memang sangat baik, Tuhan mengirimkan anak yang luar biasa kepadaku." Jingga pun tersenyum. "Dea, dialah yang menyemangati ku. Dialah yang selalu mengatakan bahwa dia ingin sembuh. Dia tidak ingin membuat aku bersedih terus. Dari sanalah, aku menyudahi air mataku. Membiayai pengobatan Dea yang ternyata tidak sedikit."


Biaya pengobatan kanker itu tidak murah. Apalagi hidup di negara Singapura yang notabene semuanya mahal. Jingga berjuang mati-matian. Dia jungkir balik bagaimana bisa menghasilkan uang banyak untuk mengobati putrinya. Pada waktu itu dokter mengatakan tujuh puluh persen bisa sembuh. Walaupun kepala jadi kaki dan kaki jadi kepala itu tak masalah untuknya. Pasti semua orang tua di dunia ini akan melakukan hal yang sama.


Riana tersenyum dan dia masih menggenggam lembut tangan Riana. Dari Jingga dia belajar arti bersyukur dan menjadi wanita yang lebih kuat lagi.


"Aku juga sangat sangat bersyukur, ternyata Bang As mau menerima Dea. Mau menganggap Dea seperti putrinya sendiri. Menyayangi Dea dengan begitu tulus. Apalagi mau membiayai pengobatan Dea di sebuah rumah sakit khusus kanker. Uang yang harus dikeluarkan itu sangat-sangat banyak. Namun, Bang As rela melakukannya. Aku sangat bersyukur akan hal itu." Suara Jingga kembali bergetar.


"Suamiku dan suamimu memang memiliki hati yang sama. Mereka adalah orang-orang yang baik. Keluarga mereka pun adalah keluarga yang sangat luar biasa."


Jingga setuju akan hal itu. Apalagi ayah dan ibu dari suaminya sangat menyayanginya dan selalu menjaga pola makan dia dan si jabang bayi yang masih ada di dalam kandungan.


"Aku juga bersyukur memiliki kakak ipar seperti Mbak, dan Kak Echa. Kalian berdua sangat baik sama aku. Walaupun terkadang aku selalu dimarahi oleh kalian," ucap Jingga seraya mengeluh. Riana malah tertawa dan mencubit pipi Jingga.


"Suruh siapa jadi orang lemot." Tidak ada rasa tersinggung, Jingga malah terbahak mendengar Omelan dari kakak iparnya itu.


"Asyik benar menantu-menantu Mommy."

__ADS_1


Suara sang ibu mertua terdengar. Kedua wanita hamil itupun menoleh dan tersenyum ke arah wanita yang baru saja datang dengan senyum yang mengembang.


"Oleh-olehnya mana, Mom?" Riana langsung menodong sang mertua.


"Menantu kurang ajar," ucap Ayanda. Riana malah tertawa dan diikuti oleh Jingga.


"Mommy happy banget kayaknya," imbuh Jingga ketika mertuanya baru saja duduk di tengah-tengah Riana dan Jingga.


"Udah tua jangan sedih-sedih lah. Tinggal menikmati hari tua kok."


Riana dan Jingga tersenyum. Mereka merangkul lengan ibu mertua mereka dari sebelah kiri dan kanan.


"Perasaan Mommy udah gak enak kalau begini," sinis Ayanda. Tidak biasanya dua menantunya ini bergelayut manja di lengannya.


"Mom, Ri ingin omlette lengkap buatan Mommy." Ibu hamil tua yang meminta.


"Aku pengen sosis pedas manis, Mom." Jingga pun tak mau kalah ternyata.


"Kebiasaan deh!" omel Ayanda. "Selalu aja dikerjain sama ibu hamil."


Riana dan Jingga tertawa. Sedangkan Ayanda sudah berdiri dari duduknya. Dia menatap tajam ke arah dua menantunya.


"Kalau dua cucu Mommy itu udah gedenya gak nurut sama Mimonya, KETERLALUAN!"


Dua menantunya malah tertawa. Lucu jika melihat sang ibu mertua marah. Mereka tahu ibu dari suami mereka tidak marah sungguhan. Mereka tahu bagaimana lembutnya hati seroang Ayanda Rashani.


"Mimo, danan malah-malah nanti matin tua."


...****************...


Komen dong ...

__ADS_1


__ADS_2