Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
218. Kartu Hitam


__ADS_3

Jingga malah tertawa melihat tingkah laku sang keponakan. Dia tahu suaminya pasti enggan membersihkan kotoran sang keponakan tampannya ity. Setampan-tampannya manusia tetap saja kotoran yang dikeluarkan sama.


Aska yang hendak melangkah dilarang oleh sang istri tercinta. "Biar Bunda aja." Aska menatap penuh lega ke arah sang istri.


"Lebih baik Ayah tidur. Besok ngantuk loh kerjanya." Aska pun mengangguk lemah. Apa yang dikatakan istrinya memang benar. Dia pun keluar dari kamar mandi dan mulai merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur berukuran besar.


Jingga terkekeh melihat wajah lucu dan menggemaskan sang keponakan yang tengah menganga. Dia menekan tombol flush agar kotoran yang dikeluarkan sang keponakan masuk ke dalam kloset. Perlahan dia pun membangunkan Gavin hingga anak itu sedikit terkejut. Matanya berkedip sedikit cepat dan memicing sipit ketika melihat sang Tante ada di depannya.


"Uncle!"


Anak itu teringat akan sang paman. Sontak Jingga pun tertawa. Ikatan batin paman dan keponakan ini sangatlah kuat.


"Ce-bok dulu, ya." Jingga sudah mulai membantu Gavin berdiri. Tanpa jijik dia mencebo-ki Gavin yang sudah dia anggap seperti anaknya sendiri.


Jingga merasa dia sedang ditatar oleh Gavin. Dia malah berterima kasih kepada kedua kakak iparnya yang sudah mempercayakan Gavin kepadanya malam ini. Dia merasakan jadi ibu yang sesungguhnya. Sudah pasti ketika anaknya lahir pasti akan terjadi insiden seperti ini. Salutnya sang suami pun ikut andil hingga dia rela menunggu keponakannya di depan kamar mandi. Sampai-sampai dia tertidur.


"Sudah selesai." Jingga berkata dengan senyum yang mengembang.


Namun, anak itu malah menunduk dalam. Dia tidak berani melihat ke arah sang Tante.


"Maaf."


Satu kata yang keluar dari mulut Gavin. Jingga hanya tersenyum dan tangannya mulai mengusap lembut rambut sang keponakan.

__ADS_1


"Gak apa-apa, Empin," balas Jingga. "Sekarang Empin bobo lagi, ya."


Jingga sudah menarik tangan sang keponakan dan membawanya menuju ranjang besar yang ternyata sudah ada suaminya di sana dengan mata yang terpejam.


"Bobo sama Uncle, ya." Anak itupun mengangguk. Gavin pun mulai merebahkan tubuhnya di samping sang paman yang sudah mendengkur. Sedangkan Jingga sudah mengusap lembut rambut Gavin agar anak itu terlelap.


Benar saja tak memerlukan waktu lama, anak itu memejamkan matanya. Jingga tersenyum dan mengecup kening Gavin dengan begitu dalam. Lalu, beralih kepada sang suami dan mengecup kening Aska dengan penuh cinta.


Jingga melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi. Setelah keluar dari kamar mandi bibirnya melengkung dengan sempurna ketika melihat suaminya sudah memeluk tubuh Gavin. Dia membayangkan jika Gavin itu anaknya sendiri. Sudah pasti dia sangat bahagia.


Bukannya memejamkan mata, Jingga malah terduduk di samping Askara. Dia menatap dua laki-laki yang sangat tampan. Sekilas wajah Gavin mirip dengan sang paman. Wajar saja karena ayahnya pun merupakan kembaran dari Askara.


Aska mencoba membalikkan tubuhnya. Dia merasa tangannya menyentuh sesuatu yang bergerak-gerak. Aska pun membuka mata dan senyum sang istri menyambutnya.


"Masih malam Bunda. Ayo, tidur lagi." Suara Aska sudah mulai melemah dan dengkuran halus pun terdengar. Jingga malah tertawa.


Pukul empat subuh Jingga mulai turun dari tempat tidur. Menurunkan tangan Aska secara perlahan karena dia harus bersiap untuk ke Bandung. Dia masih teringat ketika sang kakak ipar mangatakan bahwa mereka akan berangkat pagi buta. Dia tidak ingin terlambat.


Tangan Aska mulai mencari istrinya. Ketika istrinya tidak bisa merasakan apapun yang ada di sampingnya, dia segera terbangun. Dia pun terlihat sangat bingung. Baru saja hendak bangkit, dia mendengar suara gemercik air. Aska pun mulai merasa tenang dan melanjutkan mimpi indahnya yang tertunda.


Jingga terlihat bingung ketika hendak memasukkan baju ke dalam tasnya. Dia sangat ragu. Lama dia berdiri hingga ada sepasang tangan yang melingkar di pinggangnya. Cincin pernikahan yang sama dengan miliknya dapat dia lihat di jari manis sang suami tercinta.


"Jangan bawa apa-apa." Begitulah perkataan Aska sambil meletakkan dagunya di bahu Jingga.

__ADS_1


"Kalau Bunda ingin ganti baju gimana?"


Sebuah kartu hitam Aska berikan kepada sang istri tercinta. Sontak mata Jingga pun melebar. Melihat istrinya yang tak bereaksi apapun, Aska mulai membalikkan tubuh istrinya secara perlahan.


"Ayah bukan suami yang kere-kere amat," tuturnya. Jingga terkejut mendengar ucapan Askara. Kepala Jingga pun menggeleng. Namun, Aska meresponnya dengan sebuah senyuman.


"Kartu hitam ini sudah Ayah miliki sedari dulu, tapi tidak pernah Ayah gunakan." Aska menjeda ucapannya sejenak. "Inilah saatnya kartu hitam ini Ayah berikan kepada Bunda. Apapun yang Bunda inginkan bisa Bunda beli dengan kartu ini."


Jingga tidak bisa berkata-kata mendengar ucapan dari Askara. Dia benar-benar terharu juga bahagia. Kemarin-kemarin dia hanya bisa melihat kedua kakak iparnya menggunakan kartu hitam tersebut. Sekarang, dia pun sudah punya dan bisa memilikinya juga.


"Ada satu yang tidak boleh Bunda beli pakai kartu itu atau kartu manapun." Dahi Jingga mengkerut mendengarnya. Dadanya mulai berdegup cukup kencang.


"A-apa?"


"Brondong." Jingga pun tertawa cukup keras hingga si kecil tampan yang tengah terlelap di ranjang besar menggisik kedua matanya.


"Belisik ih! Mas masih ngantuk."


...----------------...


Minta komennya boleh dong, ya.


Selamat hari raya Idul Adha. 🙏🏻 Semoga tahun ini gak hanya bisa korban perasaan, tapi kurban sungguhan. 😆

__ADS_1


__ADS_2