
Tini pun tertawa dengan bahagianya
"Hahaha... Asri.. ini baru permulaan, jika nanti aku hamil anak Sam lagi Kamu pasti akan lebih sakit hati" ucap Tini dengan tatapan yang sangat tajam
Suara tertawa Tini terdengar hingga ke kamar Arif, Arif yang sedang asik belajar jadi terusik karena suara itu
"Ya Allah suara apa itu, sangat menyeramkan, jangan-jangan suara hantu lagi"
Arif meninggalkan pekerjaannya, Ia ingin memastikan suara apakah sebenarnya, namun belum saja Ia melangkah keluar, suara tertawa itu muncul kembali, hingga membuat Arif takut dan tak jadi memeriksanya, Arif langsung menyudahi pekerjaan kuliahnya, Dia langsung tidur di atas kasur lalu menutup telinganya dengan selimut, supaya suara tertawa itu tak lagi terdengar.
Chandra telah menceritakan pada Rahma semua yang terjadi pada Asri, Rahma sangat terkejut Dia tak menyangka Asri melakukan hubungan lebih jauh dengan Sam hingga Ia hamil.
"Chan.. Aku sangat tidak menyangka Asri hamil saat ini, kasihan Dia.." setelah bicara, Rahma pun terdiam seperti memikirkan sesuatu
"Rahma Kamu kenapa, kok jadi terdiam seperti itu?"
"Chan.. sebenarnya Aku iri dengan Asri"
"Kamu iri kenapa.. apa soal perasaan Aku"
"Bukan...tapi karena Dia saat ini hamil, padahal Aku yang ingin sekali hamil, tapi Dokter memvonis Aku sulit hamil"
"Lalu.. ?" pertanyaan Chandra sungguh membuat Rahma kesal, dalam hatinya berkata,
"Mengapa Kamu tidak peka Chan..." berfikir dengan wajah bengong
"Rahma.. hey.." Chandra berusaha memanggil Rahma yang sedang bengong, tiba-tiba Rahma berkata,
"Chan.. malam ini, Aku ingin.." sepertinya Chandra saat ini sudah mengerti dengan apa yang diinginkan Rahma, lalu Chandra langsung menjawab,
"Iya.. Aku tahu.. ayo Kita lakukan"
Wajah Rahma terlihat sumringah setelah Chandra mengatakan itu, dengan segera Rahma mengganti bajunya dengan pakaian lingerie supaya menarik hasrat Chandra dalam berhubungan.
Setelah selesai melakukan hubungan itu, Chandra memakai kembali bajunya Ia hendak melangkah lalu Rahma mengatakan,
"Chan... terimakasih, Aku sangat bahagia" Rahma memeluk Chandra dengan penuh cinta, sedangkan Chandra hanya tersenyum hangat pada Rahma, lalu Chandra mengatakan akan keluar sebentar ingin duduk di teras menghirup udara malam sambil merokok.
"Ya.. silahkan, nanti Aku buatkan kopinya"
Setelah itu Chandra membuka ponselnya lalu Ia melihat kiriman video dari Tini, Chandra terkejut saat melihat caption video tersebut yang isinya,
"Ini foto Mereka berdua, sudah Aku robek, dan juga baju couple Mereka sudah Aku hancurkan seperti hubungan Mereka yang telah hancur, sampaikan pesan ini untuk Asri, Aku yakin ini video ini sangat berharga untuknya"
Saking terkejutnya Chandra spontan berdiri, dengan mata yang terbelalak lebar, Rahma pun muncul membawakan kopi hangat untuk Chandra, tapi Ia terheran mengapa tatapan Chandra seperti sedang menahan amarah.
"Chan.. Kamu kenapa..?" Chandra belum menjawab Ia masih memperhatikan video tersebut, lalu Rahma langsung mengambil ponsel Chandra
"Lihat apa sih.." saat Rahma melihatnya, Rahma terdiam bengong tak menyangka
"Ya ampun... itu kan baju kenangan Mereka"
"Iya.. tapi kenapa Sam membiarkan Tini melakukan itu, apa Dia benar-benar ingin kembali dengan Tini" Rahma tak mengerti dengan semua ini, Ia hanya mengangkat bahunya merasa tak tahu harus berkomentar apa.
Lalu Rahma menanyakan pada Chandra apakah Asri harus tahu video ini
"Jangan.. Aku takut Asri semakin terluka, Aku tidak ingin menambah beban pikirannya, apalagi saat ini Dia sedang hamil" Rahma menundukkan pandangannya, biarpun Ia tahu Chandra masih belum bisa melupakan Asri, namun setiap perhatian dan kata-kata pembelaan untuk Asri selalu saja membuat hatinya cemburu.
Bu Alya bersiap untuk pergi ke Rumah Sakit menjenguk Lia bersama satu keluarga juga Kasih.
__ADS_1
"Ayo semuanya sudah siap, Kita berangkat, naik mobil Papah saja ya"
"Kasih.. Kamu belum ganti baju, Ayo kita sama-sama Menjenguk Lia" Makmun datang menyahuti
"Iya.. Kamu ikut saja"
"Aku di rumah saja Bu, Mas agak capek badan Aku"
"Kamu capek.. ya sudah kalau Kamu capek gak apa-apa Kamu di rumah ya"
"Ya sudah Ayo.. nanti kemalaman" ajak Pak Helmi dengan segera.
Kini semua orang pergi hanya Kasih yang berada di Rumah, tak di sangka ternyata ada komplotan perampok yang sudah mengintai Rumah kediaman Helmi Riadi
"Bos.. aman.. semua orang sudah pergi, Kita bisa beraksi sekarang"
"Tunggu.. Kamu yakin semua pergi"
"Yakin bos... buktinya tidak ada orang lagi"
"Baiklah ayo cepat..."
Mereka tak tahu jika masih ada salah satu anggota keluarga yang masih Ada di rumah, Mereka pun memulai Aksinya dengan mencongkel jendela dan pintu bagian belakang.
Sekitar 10 menit usaha Mereka membobol pintu dan jendela akhirnya perampok pun masuk ke dalam rumah
"Kalian Jagan di luar, jaga-jaga jika yang punya rumah datang"
"Baik bos" dua orang masuk dan dua orang menjaga pandangan dari belakang.
Kasih hampir tertidur namun karena rasa sakit perut yang tak tertahankan Ia pun beranjak bangun untuk mengambil obat di kotak obat yang berada di dapur
Si perampok sudah berada di kamar utama yaitu kamar Bu Alya dan Pak Helmi, sedangkan yang satunya berada di kamar Makmun, Mereka sedang mencari sebongkah perhiasan atau uang gepokan yang dapat Mereka curi, saat salah satu membuka lemari rahasia Bu Alya, Mereka melihat banyak sekali perhiasan, lalu dirautlah semua perhiasan tersebut
"Banyak sekali, kaya Aku" dengan senangnya permampok tersebut bicara.
Setelah mengoleskan minyak gosok di perut, Kasih dengan segera kembali ke kamarnya untuk melanjutkan tidur, namun saat berjalan Ia mendengar suara klotrek seperti seseorang sedang membuka sesuatu, Kasih penasaran suara apa itu, lalu Ia terus berjalan dengan pelan, suara itu terdengar keras di Kamar Makmun dan Lia, Kasih pun membuka pintu secara perlahan.
Setalah pintu terbuka, Kasihh terkejut melihat ada orang berbaju hitam dengan wajah ditutupi kain hitam hanya mata yang terlihat ternyata si perampok sedang berusaha membobol brankas milik Makmun.
"Kamu siapa..?" Kasih bicara dengan suara gagap, si permampok kaget mendengar suara Kasih, Ia menoleh secara perlahan, setelah saling bertatapan, Kasih berjalan mundur merasa ketakutan
"Kamu rampok ya" si Rampok hanya terdiam namun matanya mencari waktu yang tepat untuk membungkam mulut Kasih
"Tenang.. tenang..." Rampok berbicara sambil berjalan mendekat ke arah Kasih
Lalu dengan tiba-tiba Rampok langsung menangkap Kasih dan memegang tangan Kasih dengan kasar
"Diam Kamu.. Saya hanya ingin mengambil sedikit uang dari Rumah ini" Kasih merasa ketakutan
"Lepaskan Saya" Kasih berusaha berontak, namun sayang.. Dia malah di ikat dan di sumpal mulutnya oleh si Rampok
"Kamu tunggu disini Saya harus segera menyelesaikan ini"
Kasih berusaha membuka tangannya hingga akhirnya ikatan itupun terlepas, Kasih langsung menghubungi Makmun dengan mengirim pesan.
Makmun sedang melihat foto-foto kenangannya bersama Lia saat di cafe dekat danau, rasa-rasanya Ia ingin sekali pergi kesana lagi bersama Lia
"Lia.. semoga besok Kamu sadar, dan Kita bisa pergi bersama-sama lagi seterusnya" ucap Makmun dalam hatinya, tak lama pesan dari Kasih masuk, Makmun membukanya Ia pun terkejut saat membaca pesan dari Kasih
__ADS_1
"Pah.. Kasih.."
"Ada apa Mun.. Kasih kenapa..?" tanya Bu Alya melihat Makmun dari kaca depan
"Rumah kemasukan Rampok Pah.."
"Apa..." Pak Helmi mendadak menginjak rem karena kaget
"Pah.. Ayo cepat Kita harus pulang, Aku khawatir dengan Kasih"
"Iya Pah.. Kita kembali saja, soal baju Lia nanti lagi Kita kesana" Mereka pun segera kembali, tak lupa Makmun menghubungi polisi terlebih dahulu, untuk membantu menangkap Perampok.
Kasih masih terdiam tak melakukan apapun, yang Ia pikirkan saat ini hanyalah nyawanya, jika Ia berontak lagi, Dia takut si Rampok akan melakukan hal yang lebih gila, jadi Ia memilih untuk diam di tempat, berpura-pura masih terikat tangannya.
Setelah menggasak semua isi brankas milik Makmun, Rampok pun mendekati Kasih, Ia pun memperhatikan Kasih dengan seksama Ia memandangi Kasih dengan wajah bringas, Ia merasa tertarik dengan tubuh Kasih berkulit mulus dan tubuh yang ramping, Rampok pun ingin memulai aksinya untuk memperkosa Kasih, namun tak disangka Kasih langsung menamparnya dengan kencang, sehingga Rampok terdorong ke samping.
"Dasar otak mesum, Kamu sudah merampok lalu ingin memperkosa Aku, Aku tidak akan biarkan itu" Kasih mengambil gantungan baju di sebelah kasur Ia mengangkat gantungan besar tersebut lalu dengan cepat memukul pundak si Rampok, hingga si rampok merasa kesakitan.
Tak lama Makmun pun tiba, Rampok yang menjaga di pintu belakang dengan cepat masuk rumah memberi tahu jika pemilik Rumah datang, Ia menepuk tangan 3 kali dengan lantang.
Merasa tak terima di pukul, lalu si rampok mengeluarkan pistol dari saku celananya, Kasih kini ketakutan, tak tahu harus berbuat apa, sedikit melangkah saja bisa-bisa peluru masuk dalam tubuhnya, saat berusaha menakuti Rampok mendengar suara tepukan dari rekannya.
"Sial.. kalau bukan karena pemilik rumah datang, Kamu sudah ku lahap"
Pikiran jahat si Rampok kini muncul, Ia merasa harus menghabisi perempuan ini, yang sudah sok menolaknya dan memukul pundaknya.
Sedangkan Makmun langsung memasuki rumah dengan perlahan
"Pintu masih terkunci, berarti Rampok itu masuk lewat pintu belakang" ucap Makmun terhadap kedua Orangtuanya
Makmun terus berjalan dengan pelan, Ia masuki Kamarnya, saat pintu di buka.. Makmun kaget sejadi-jadinya, Kasih sedang bertarung dengan Si rampok sedang memperbutkan pistol tersebut, tak ingin diam saja Makmun mengambil vas bunga di meja yang ada di sekitarnya, dengan gerakan cepat Makmun menghantam kepala Rampok tersebut, hingga rampok itu pun tergeletak tak berdaya, darah bercucuran di kepalanya, Rampok kesakitan memegangi kepalanya.
"Mana bos.. " tanya anak buah Perampok
"Tak tahu, Aku tak melihatnya, Aku pikir Bos sudah disini setelah mendengar kode tepuk tangan dari Kamu" Tak lama terdengar suara sirine mobil polisi
"Gawat Polisi, bagaimana ini"
"Lebih baik Kita kabur sekarang" ucap salah seorang rekannya
"Tapi Bos bagaimana" tak ada pilihan dari pada Mereka tertangkap polisi, lebih baik kabur dan meninggalkan Bos Mereka yang sedang merasa kesakitan.
Tak ingin berlama-lama Makmun dengan nafsunya menghajar si Perampok hingga babak belur
"Mas.. itu di tasnya ada uang Kamu yang Dia curi dari brankas" lalu Makmun mengambil tas tersebut, dan mengambil pistol si Perampok.
"Brengsek Lo ya.." ucap Makmun dengan emosi, tak lama Polisi datang
"Jangan bergerak.."
"Ini Pak.. pelakunya Dia merampok uang di brankas Saya" dengan segera Polisi meringkus si Perampok
Kasih dan Makmun saat ini merasa lega, akhirnya Perampok sudah di tangkap polisi, lalu Makmun menanyakan Keadaan Kasih.
"Kasih.. Kamu gak apa-apa?" Makmun merasa khawatir dengan keadaan Kasih, Ia pun meraba-raba seluruh badan Kasih
"Mas... Aku gak apa-apa, Aku aman.. makasih ya Mas sudah datang tepat waktu, kalau tidak.. Aku gak tahu mungkin.."
"Gak.. Kamu jangan bicara seperti itu" tiba-tiba terdengar suara teriakan Bu Alya.
__ADS_1