
Saat ingin meminum kopi yang masih hangat Sam mendapat panggilan dari Ibunya, Sam pun langsung mengangkat telepon tersebut
"Halo... Ibu" ternyata yang menelpon Sam adalah Adiknya
"Mas.. Ini Aku Arif" Sam bingung kenapa Arif yang menelpon
"Arif kenapa Kamu yang telepon, Ibu mana? Ibu gak apa-apa kan?"
"Ibu lagi sakit Mas, Aku telepon Mas hanya ingin memberitahu, jika nanti kenapa-kenapa sama Ibu Mas gak kaget lagi" berita ini membuat Sam begitu khawatir dengan Ibunya
"Arif, Ibu kumat lagi ya, nanti Mas kirim uang ya, 1 juta dulu kira-kira cukup"
"Cukup kok Mas, Mas.. maaf ya Aku dan Ibu sering minta uang terus sama Mas, Aku janji Mas setelah selesai kuliah, giliran Aku yang membiayai semua biaya Rumah Sakit Ibu" Sam tertawa kecil mendegar Adiknya bicara seperti itu
"Sudah.. Kamu fokus kuliah saja ya, tahun depan Kamu lulus Kan, semoga Skripsi Kamu dan ujiannya lancar ya, Mas juga minta maaf, Mas gak bisa menemani Kalian disana, di saat Ibu sakit Ibu butuh Mas, Mas malah ada disini" Tak terasa Arif bersedih dengan perkataan Sam
"Ya Mas coba kalau Bapak masih ada, pasti Mas gak akan berkorban sejuah ini" mendegar kata-kata dari Adiknya Sam jadi terenyuh, tak terasa air mata Sam hampir menetes, tapi Sam menahannya agar tak jatuh di pipi
"Ya sudah, Mas mau istirahat, ini baru pulang kerja capek banget" dan akhirnya telepon pun di putus.
Sam merenungi hidupnya Dia sangat rindu dengan Ibunya, juga Adiknya Sam berkata-kata dalam hatinya kapan bisa kembali ke kampung, dan pergi dari rumah yang seperti Neraka ini, lalu Sam bergegas bangun dan kembali ke kamar.
Tini mendapat panggilan dari Si Mata-mata, Dia melihat ke kanan dan ke kiri memastikan tak ada orang yang melihat atau mendengar, dirasa setelah aman Tini pun langsung mengangkat panggilan itu
"Ada apa, Aku harap Kamu kasih kabar bagus untuk saya" ucap Tini dengan suara galaknya
"Bos tenang, Saya kasih kabar bagus Bos, Target Kita baru saja Saya tabrak, tapi sayangnya Dia hanya luka di bagian Kaki sepertinya besok Dia tidak akan bisa berjalan" mendegar hal itu Tini menjadi senang tersenyum kecut
"Bagus... tak masalah jika hanya kaki yang terluka, justru itu bagus Dia jadi merasakan sakit sedikit demi sedikit" ucap Tini dengan suara sinis nya dan di iringi dengan wajah yang sangat licik.
Namun tiba-tiba Sam masuk kamar, Tini pun kaget hingga menjatuhkan ponselnya.
Sam sedikit curiga dan aneh dengan sikap Tini, Dia memandangi Tini lalu melihat ponsel Tini yang masih menyala dengan layar panggilan aktif.
Tini pun melihat Sam dengan gugup lalu ia mencoba mengambil ponsel di bawah kakinya, namun panggilan itu masih aktif, takut jika Sam melihat Dia langsung menutupi layar ponselnya.
"Sam... Kamu mengagetkan saja, kenapa gak ketuk pintu dulu ya"mendegar Tini berbicara dengan gugup Sam menatap curiga terhadapnya
__ADS_1
"Kamu sedang telepon siapa? kok kelihatannya gugup" pertanyaan Sam membuat Tini bingung menjawab,Tini mencari akal untuk beralasan
"Ini Aku lagi telepon dengan Teman Aku yang baru pulang dari Amerika" Tini terlihat seperti berbohong , tapi Sam tak ingin tahu lebih dalam urusan Tini.
Sam hanya berharap Tini tak sedang merencanakan sesuatu yang jahat pada Asri, setelah itu Sam masuk kamar mandi untuk membersihkan badannya karena tadi belum sempat mandi.
Pengantin baru yang berbahagia kini sedang menikmati kebersamaannya
"Sayang Kita dinner yuk, tapi Aku ingin dinner di tempat yang romantis" Makmun bicara sambil memeluk Lia dari belakang
"Memangnya di mana tempat yang romantis itu"
"Di cafetaria setahu Aku di belakang Cafe itu ada danau yang sangat indah, cocok untuk Kita foto-foto seperti ABG yang sedang kasmaran, Kita coba yuk kesana" melihat Lia tersenyum, Makmun mencium pipi Lia dan Lia mengatakan,
"Ikh.. Bau belum mandi sih" Makmun tertawa begitu juga dengan Lia, setelah itu Makmun pun mandi agar tak di ejek lagi oleh Istrinya.
Selagi Makmun mandi Lia menghubungi Mamahnya lewat telepon, dan telepon Lia di angkat juga oleh Ibunya
"Halo sayang, kenapa kok telepon Mamah" Lia mengatakan prihal ucapan yang tadi di bahas di meja makan dengan suaminya juga mertuanya
"Sayang.. kalau menurut Mamah, lebih baik Kamu tetap kerja ini demi keamanan Kamu juga, dan lagi pula Kamu kan baru saja memulai karir masa sudah mau berhenti, tapi kalau akhirnya Suami Kamu sikapnya agak berbeda dan membuat Kamu gak nyaman, ya itu kembali lagi sama Kamu, Kamu ngerti maksud Mamah kan"
"Iya sayang, kalau Kamu bingung Kamu bimbang, dan ada masalah dalam pernikahan Kamu, Mamah akan siap Nak jadi pendengar yang baik, Mamah juga akan melindungi Kamu selalu" mendegar kata-kata itu membuat hati Lia jadi terharu, lalu panggilan pun di sudahi.
Beberapa menit kemudian Makmun selesai dari mandinya lalu bersiap untuk berangkat ke Cafetaria bersama Istri tercinta
"Kamu sudah siap, yuk Kita berangakat" Makmun menyodorkan tangannya agar Lia mau menggandeng di lengan Makmun
"Romantis banget sih suamiku, yuk Aku sudah siap" Lia berkata dengan nada yang bersemangat, dan Mereka pun kini berangkat dengan menggunakan mobil.
Saat ingin memejamkan mata Asri merasa kesakitan akibat luka di kakinya
"Sakit banget, tadi perasaan gak sesakit ini, kenapa sekarang terasa banget sakitnya" Asri melihat ponselnya menunggu kabar dari Sam
"Sam.. kok Kamu belum ngabarin Aku sih" Asri berbicara pada dirinya sendiri.
ketika rebahan di atas kasur, Rahma teringat pada Tini yang sedang berbicara dengan sosok misterius lalu Rahma menceritakan kejadian tadi siang seusai Dia mengantar makan siang di kantor Chandra
__ADS_1
"Chan... Kamu tahu gak Aku tadi siang bertemu siapa?"
"Memang bertemu siapa?"
"Aku bertemu Tini" mendegar kata Tini Chandra langsung bangun dan duduk
"Tini, terus kalian sedang apa?" Chandra kini penasaran terhadap cerita Rahma
"Dia panggil Aku saat Aku ingin membayar belanjaan, terus Dia berkata ingin ngobrol dengan Aku, habis itu Kita duduk di bangku depan Supermarket lalu Dia menanyakan soal Asri sama Aku" kini Chandra lebih kaget kenapa Tini menanyakan soal Asri.
Rahma pun menceritakan semuanya soal Tini yang sudah tahu tentang perselingkuhan yang di lakukan Sam, respon Chandra pun sangat terkejut
"Jadi Tini sudah tahu, dan sekarang Dia hamil, apa mungkin kemarin sepulang dari acara pernikahan Lia, masalah itu yang sedang di hadapi Asri dan Sam" Chandra berkata dengan penuh perasaan bertanya-tanya
"Mungkin Chan, Aku juga sempat berfikir begitu, tapi yang buat Aku agak aneh sebelum ke Supermarket Aku lihat Tini sedang berbicara sama seseorang dan orang itu berpakaian aneh Chan" kini Chandra semakin di buat penasaran oleh cerita Rahma
"Aneh bagaimana Rahma"
"Ya aneh, karena Dia itu pakai masker terus mengendarai motor besar, memakai jaket kulit hitam, sepertinya Mereka mengobrol sangat serius" mendengar ciri-ciri jaket kulit hitam dan memakai masker, sosok itu seperti orang yang ingin mencelakai Asri tadi siang.
Namun Chandra tak menceritakan insiden itu kepada Rahma tujuannya menjaga perasaan Rahma agar tak cemburu pada Asri, lalu Rahma melanjutkan lagi ceritanya
"Yang buat Aku lebih terkejut, di terakhir obrolan saat Aku berkata ingin pulang, Dia mengatakan Aku tidak peduli seperti apa Asri itu, yang pasti aku akan lakukan bagaimana pun caranya untuk menyingkirkan Asri dari hidup Sam selamanya, begitu Chan serem banget deh dari raut wajahnya sama ucapannya itu kelihatan sekali kalau Tini seperti dendam sama Asri" Rahma berbicara cukup panjang menjelaskan cerita kepada Chandra.
Chandra hanya diam Dia mengamati setiap cerita dari Rahma, Chandra kini yakin ada orang yang sengaja ingin mencelakai Asri, Dia ingin sekali memberitahu Asri soal ini tapi Dia berfikir tidak untuk sekarang, karena pasti kalau Dia menghubungi Asri saat ini Rahma bisa salah faham dan tentu pasti cemburu.
Setelah bercerita panjang lebar, Chandra pun mengajak Rahma untuk tidur beristirahat karena Ia merasa lelah seharian bekerja
"Rahma kalau bisa nanti jika Kamu bertemu lagi sama Tini, lebih baik Kamu menghindar karena sepertinya Tini membawa pengaruh buruk jika Kamu dekat-dekat sama Dia, Kamu paham kan?" Chandra menasihati Rahma dengan lemah lembut supaya tak menyinggung perasaan Rahma. Rahma pun menganggukkan kepalanya tanda Ia mengerti
"Iya Chan, Aku juga tidak ingin punya teman seperti Dia, Aku merasa Tini itu jauh lebih licik dari pada Aku waktu dulu" mendegar ucapan bijak dari Rahma, sedikit membuat hati Chandra menjadi simpati, Chandra mengakui perubahan Rahma yang ingin menjadi seseorang lebih baik
"Aku bangga sama Kamu Rahma, Kamu benar-benar sudah banyak berubah, Aku kagum sama Kamu" Chandra memberikan senyuman kepada Rahma.
Setelah itu Chandra tidur dengan posisi membelakangi Rahma, lalu Rahma mencoba memeluk Chandra diam-diam.
Sebenarnya Chandra belum tertidur pulas, Ia bisa merasakan pelukan itu, tapi Ia sengaja tak bangun agar Rahma tidak merasa malu nantinya.
__ADS_1
Dia hanya harus menghargai Rahma sebagai Istrinya, sedikit demi sedikit mungkin Chandra akan mencintai Rahma dan bisa melupakan Asri, tapi entahlah apa itu mungkin terjadi.