Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
TIDUR TERPISAH


__ADS_3

Makmun sudah menunggu Kasih di pintu masuk mall, kemudian terlihat dari jauh Kasih sedang berjalan menghampirinya


"Kamu tidak nyasar kan" Kasih tertawa mendengar ucapan Makmun


"Ya gak lah Mas.. Aku kan dulu juga pernah tinggal di Jakarta, jadi kalau mall Jakarta Aku tahu"


"Ya sudah Kita langsung masuk, oh ya.. Kamu mau beli kado apa untuk Andi"


"Itu Dia Mas...kado apa ya, yang cocok" Makmun sedang berfikir kado apa yang bagus untuk Andi


"Biasanya laki-laki suka jam tangan atau tidak dasi, atau... sepatu"


"Mungkin sepatu kali ya.. Aku hanya punya uang 500 Mas.. cukup tidak ya"


"Cukup.. nanti Aku cari toko yang paling ekonomis"


Kasih tersenyum senang, Makmun kini membawa Kasih ke toko sepatu yang harganya lebih ekonomis.


Adzan Maghrib berkumandang kini semua akan menunaikan ibadah shalat Maghrib


"Chan.. Kalau Kamu ingin shalat, Kamu bisa shalat di kamar tamu ya"


"Ya Tante terimakasih"


"Asri Kamu ingin wudhu? mau Aku bantu?" tanya Chandra


"Aku bisa Chan.. gantian saja sehabis Kamu"


Chandra duluan kemudian diikuti Asri dari belakang, Asri masuk ke kamarnya untuk menunaikan shalat, sedangkan Chandra menunaikan shalat di kamar tamu.


Setelah selesai shalat Asri dan Chandra sama-sama berdoa, doa Chandra ialah meminta pada yang kuasa agar Asri cepat bisa berjalan lagi, dan Ia bisa melakukan aktifitas seperti biasanya, sedangkan doa Asri yaitu ingin sekali di pertemukan dengan Sam walau hanya sebentar.


Setelah selesai semuanya keluar dan berkumpul lagi di ruang tamu


"Chandra Asri... Mamah harus ke toko sebentar ya, tadi Tika telepon beberapa barang ada yang rusak"


"Loh Mah...lalu bagaimana, apa gantinya ada"


"Ya ini makanya Mamah mau kesana tengok dan cari solusinya"


"Tante mau Aku antar"


"Tidak Chan...Kamu lebih baik disini supaya Asri gak sendirian"


Bu Anita pun pergi, Chandra dan Asri kini mengerjakan pekerjaan kantor yang belum selesai kemarin.


Setelah sampai di toko sepatu Kasih kini memilih sepatu yang bagus dengan harga yang terjangkau


"Mas.. ini sepertinya bagus, menurut Mas Bagaimana?"


"Ya.. ini bagus.. sudah bungkus saja yang ini"


Lalu Kasih memanggil pegawai sepatu untuk membungkus kan sepatu yang sudah Ia pilih, setelah selesai Mereka pun langsung pulang ke rumah, namun saat di perjalanan Makmun merasa lapar


"Kita makan dulu yah.. mau tidak?"


"Aku sih terserah Mas saja"


"Tapi Kamu juga ikut makan dong.. masa Aku saja yang makan"


"Ya sudah Mas.. Aku makan" Makmun pun tersenyum terhadap Kasih.


Mereka sampai di tempat makan pinggir jalan


"Kasih.. Aku bawa ke sini Kamu tidak masalah kan?" Kasih bingung dengan pertanyaan Makmun


"Memangnya kenapa dengan tempat ini"


"ini kan tidak mewah"


"Ya ampun.. Aku pikir kenapa, Mas justru Aku tidak terbiasa dengan tempat mewah, Aku lebih nyaman di tempat seperti ini"

__ADS_1


Makmun tersenyum tipis Ia melihat kesederhanaan dari Kasih, tiba-tiba jantung Makmun terasa berdetak kencang, untuk mengehentikan semua itu, Makmun langsung masuk ke rumah makan dan duduk lalu memilih menu makanan, Kasih di tinggal begitu saja di parkiran, hal itu membuat Kasih sedikit bingung dengan sikap Makmun.


Setelah memesan menu makanan Kasih bertanya mengapa tiba-tiba tadi langsung duduk disini dan pergi meninggalkan Kasih di parkiran mobil, Makmun agak bingung menjawabnya karena tidak mungkin jika ia berkata bahwa jantungnya berdetak saat menatap Kasih.


"Tidak kenapa-kenapa, Aku hanya lapar ingin cepat makan"


Kasih hanya terdiam memandangi Makmun sedangkan Makmun menjadi salah tingkah saat Kasih memandangnya.


Sam sampai dirumahnya Ia pun langsung mendatangi kamar Bu Fatma untuk menengok keadaan Ibunya


"Bu.. " Bu Fatma menoleh


"Sam...sudah pulang"


"Barusan sampai Bu"


"Lembur...? kok malam si"


"Tidak... Minggu depan Aku harus ke Bandung Bu, untuk ikut Pak Faris mendatangi acara pembukaan grand hotel"


"Berapa hari..?"


"Hanya satu hari, Ibu tidak apa-apa kan di tinggal Aku sehari saja"


"Tidak apa Sam, itu kan tuntutan pekerjaan, Kamu sudah makan, Ibu masak sebentar ya, Kita makan bersama"


Sam langsung mandi sedangkan Bu Fatma memasak di dapur, mendegar suara gongseng wajan, Tini merasa mungkin Sam sudah pulang, Ia pun bangkit dari tidurnya untuk memastikan apakah Sam benar sudah pulang, namun saat membuka pintu kamar, Sam pun masuk dengan hanya memakai handuk saja, Tini berjalan mundur karena Sam tak memberi jalan padanya.


"Sam.. Kamu sudah pulang"


"Aku ingin ganti baju, Kamu keluar"


"Keluar...Aku Kan istri Kamu"


"Aku tidak ingin Kamu melihat Aku berganti baju"


"Sam.. ini tidak masuk akal"


"Baik.. kalau begitu Aku yang keluar"


"Sam... Kamu.."


Tini merasa kesal dengan sikap Sam yang seperti anak kecil. Setelah selesai berganti baju Ia memutuskan untuk tidur di kamar Arif selama Arif koas, jika Arif sudah pulang Ia akan kembali tidur di kamarnya.


Tini tidak terima dengan apa yang Sam lakukan, Ia pun marah-marah pada Sam hingga pertengkaran itu terdengar oleh Bu Fatma


"Ada apa ini.. Kalian kenapa sih .?"


"Ibu... lihat.. Sam ingin tidur di kamar Arif Dia tidak ingin tidur di kamarnya" Bu Fatma terdiam menatap wajah Sam


"Sam.. itu benar..? tanya Bu Fatma


"Ya Bu... itu benar.. Aku mohon bu.. biarkan Aku tidur sendiri, Aku muak lihat wajah Dia, kalau Ibu sudah selesai masak beri tahu Aku ya, Aku ingin istirahat sebentar" Sam langsung masuk kamar Arif dan mengunci kamar Arif agar Tini tidak masuk ke kamar Arif


"Bu.. tidak seperti itu dong.. Sam.." Tini terus mengetuk pintu kamar Arif, namun tidak di hiraukan oleh Sam


"Sudah Tini.. ini resiko Kamu..Ibu tidak bantu apa-apa, tolong Kamu mengerti perasaan Sam"


Tini bingung dan heran mengapa harus Dia yang mengerti perasaan Sam, harusnya Sam lah yang mengerti perasaannya


"Kenapa jadi Aku yang harus mengerti Bu?"


"Sudah lah Tini.. Ibu tidak ingin berdebat, Ibu sedang masak, lebih baik Kamu bantu Ibu" Tini merasa kesal dengan semuanya, Dia menggerutu dalam hati,


"Kalau bukan karena anak Ibu, Aku sebenarnya malas tinggal disini"


Tini langsung masuk kamar dan tidak mau membantu Bu Fatma memasak.


Bu Fatma tidak bisa memaksa Sam, karena Bu Fatma tahu mungkin Dia memang sudah tidak mau menjalani hidup dengan Tini lagi, hanya karena perjanjian itulah Dia harus tetap bersama Tini.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam setengah 8 malam, Chandra pun harus pulang tidak lebih dari jam 8 karena pasti akan banyak pertanyaan dari Rahma jika pulang terlalu larut

__ADS_1


"Asri.. Aku pulang ya, Tante Anita mengapa belum kembali"


"Aku juga tidak tahu Chan.. ya sudah jika Kamu mau pulang, Aku antar ke depan ya"


"Tidak usah, Kamu langsung istirahat, besok Kita berlatih lagi, semoga saja selama 3 hari ini, ada perubahan"


Asri tersenyum lalu Ia mengucapkan terimakasih pada Chandra karena sudah membantunya


"Aku pulang"


Chandra mengusap-usap rambut Asri, hal itu mengingatkannya pada Sam yang pernah melakukan hal itu juga pada dirinya, Chandra pun berlalu pergi meninggalkan Asri sendiri di rumah, dalam hati Asri berkata,


"Sam...kenapa Kamu pergi dari Aku, harusnya sekarang Kita bisa menikah, dan hidup bersama, Aku masih yakin dan percaya kalau Kamu tidak sungguh-sungguh ingin meninggalkan Aku" tak terasa Asri menangis lagi.


Rahma bersiap menyambut Suaminya pulang, Ia berdandan cantik sekali untuk memikat hati sang Suami, terdengar suara ketukan pintu Ia pun bergegas membuka pintu, saat di buka Rahma langsung memberikan senyum hangat untuk Chandra


"Hey.." Chandra memperhatikan Rahma dari atas hingga bawah


"Tumben.." Rahma hanya terus tersenyum


Dalam hati Chandra sudah tahu, jika Rahma pasti akan mengajaknya lagi malam ini


"Chan..Kamu mandi ya, Aku sudah siapkan baju ganti, mau makan dahulu atau nanti saja"


"Nanti saja, Aku masih kenyang, terimakasih ya sudah perhatian dengan Aku"


"Aku kan istri Kamu, jadi ini tugas Aku" Chandra tersenyum lalu Ia segera mandi membersihkan badan.


Lagi-lagi Rahma mencium aroma parfum yang kemarin, Rahma langsung mengambil baju yang tadi di pakai Chandra, lalu mengendus kan lagi untuk memastikan wanginya sama atau tidak


"Sama...aromanya sama, sebenarnya Chandra lembur di ruangan sendiri atau dengan orang lain"


Rahma kini jadi bertanya-tanya dalam hatinya, namun Rahma menepis pikiran negatifnya, dalam hatinya berkata lagi,


"Asri sudah tidak ada di Retro jadi apa yang harus Aku khawatirkan"


Rahma pun tersenyum untuk menghibur hatinya sendiri, menghilangkan rasa curiga, lalu Ia tiduran di atas kasur menunggu sang suami untuk menggaulinya.


Kasih dan Makmun sampai di rumah, Bu Alya membuka pintu lalu melihat Kasih dan Makmun datang bersama


"Kalian kok bisa pulang bersama" Makmun langsung menjawab


"Tadi Kita ketemu di depan gapura Mah"


Bu Alya percaya saja dengan alasan Makmun


"Ya sudah Kamu masuk mandi lalu makan setalah itu" Makmun masuk duluan barulah Kasih mengikuti dari belakang


"Kasih.. " Kasih menghentikan langkahnya dan menjawab Bu Alya


"Iya Bu.. kenapa?"


"Sudah beli kadonya, kado apa yang di beli"


"Kado sepatu Bu, oh ya Bu.. sebenarnya besok sekalian Andi ingin membicarakan hubungan Kita terhadap Papahnya, Aku minta Doa Ibu ya, doakan besok semuanya lancar"


"Ya Kasih.. Ibu pasti doakan yang terbaik, ya sudah Kamu juga istirahat sana, kalau lapar makan saja ya"


Kasih merasa bahagia dengan kelembutan Bu Alya terhadapnya, hal itu mengingatkan dirinya kepada sang Ibu di kampung, lalu Kasih langsung masuk ke kamar dan beristirahat.


Pak Herman mendapatkan kabar jika Sam masih bekerja sama dengan toko milik Bu Anita, lalu Ia mengingat jika dulu Pak Faris dari PT. Jaya Abadi pernah menolak kerjasama dengan Retro karena Asri, dan terpikirkan lah ide jahat Herman untuk menghancurkan usaha Bu Anita


"Ya.. kalau Pak Faris tahu jika Bu Anita itu Ibunya Asri, mungkin saja Pak Faris akan membatalkan kerjasama itu, ini bagus... Asri.. Asri.. Kamu tinggal di Jakarta tidak akan mudah seperti dulu sebelum Kamu masuk di kehidupan Anak Saya"


dengan segera Herman menelepon Pak Faris untuk mengajak kerjasama.


"Apa Pak.. bekerjasama"


"Ya.. Pak Faris, Kami Retro bisa memproduksi minuman herbal sesuai permintaan Pak Faris hanya dalam Dua Minggu saja Pak.. Kami tidak akan mengecewakan Bapak seperti waktu kemarin" Pak Faris belum menjawab, Ia masih terdiam kemudian Pak Faris berkata,


"Tapi Saya sudah bekerjasama dengan toko organik Anita di Jakarta"

__ADS_1


"Itu mudah Pak.. Bapak bisa batalkan kontraknya, setahu Saya Bapak tidak kena pinalti, dan kalau dibatalkan juga, Pak Faris belum membayar produk tersebut bukan, sebab produksinya belum selesai"


Pak Faris masih berfikir belum menjawab apapun, lalu Pak Herman berbicara lagi untuk menghasut Pak Faris supaya membatalkan kontraknya dengan Anita organik.


__ADS_2