
Boleh minta komennya gak? Gratis kok.
...****************...
"Ke Bandung sekarang. Dia kritis."
Kalimat perintah yang terdengar tidak main-main dan mampu membuat tubuh Aska menegang hebat. Pikiran Aska sudah tidak fokus mendengar kabar tersebut. Hatinya pun sudah tidak karuhan. Melihat suaminya yang masih mematung dalam keadaan ponsel yang masih di telinga membuat Jingga penasaran dan menghampiri Askara.
"Ayah."
Suara Jingga membuat Aska terkejut dan ponselnya nyaris menyentuh marmer jika tidak buru-buru Aska raih.
"Ada apa?" tanya Jingga.
"Bagaimana aku harus mengatakannya?" batin Aska berkata.
Ketika dia berbicara jujur, dia takut kondisi janin di dalam perut istrinya tidak membaik. Dia juga tidak ingin membuat Jingga kepikiran dan berimbas pada calon anak-anaknya yang masih berada di dalam perut.
"Ayah," panggil Jingga untuk kedua kalinya.
Hembusan napas kasar keluar dari mulut sang suami tercinta. Aska masih menatap sang istri dengan tatapan penuh keraguan. Bagaimana untuk menyampaikan ini semua? Itulah yang ada di benaknya.
Jingga sudah mengangkat kedua alisnya. Dia tengah menantikan jawaban dari Askara. Tidak biasanya mimik wajah suaminya berubah seperti ini setelah menerima telepon.
"Sayang," ucap pelan Aska. Dia sudah menggenggam tangan istrinya. Menatap istrinya dengan sorot mata yang tidak bisa dibaca.
"Apa sih artinya seorang ayah untuk kamu?" tanya Askara. Kedua alis Jingga menukik dengan begitu tajam. Ada apa dengan suaminya? Kenapa dia bertanya seperti ini?
Jingga masih terdiam, mulutnya kelu ketika ada pertanyaan perihal sosok ayah. Bukan tanpa alasan, masih ada kesakitan di hatinya juga rasa sayang yang tak bisa hilang di benaknya untuk sosok yang sama sekali tidak mengakuinya. Apalgi menyayanginya.
"Kamu pernah mendengar cerita Kak Echa tentang ayahnya 'kan." Masih tidak ada respon dari Jingga.
"Kak Echa disakiti bukan hanya ketika dia kecil, tetapi ketika dia beranjak remaja ayahnya menyakitinya lagi hingga sebuah penyakit bawaan yang diderita Kak Echa kambuh lebih parah," jelas Aska. "Hampir Kak Echa dinyatakan meninggal oleh dokter." Mata Jingga melebar mendengar apa yang dikatakan oleh Aska. Apa separah itu luka yang dibuat oleh ayah dari kakak iparnya? Lalu kenapa sekarang mereka sangat dekat?
"Semua dokter sudah didatangkan dari seluruh dunia. Kakek dan Daddy berusaha untuk terus memberikan kesempatan hidup untuk Kak Echa karena nyawa Mommy pada waktu itu adalah Kak Echa." Aska masih melanjutkan ceritanya. Jingga masih setia mendengarkan cerita tentang kakak iparnya itu.
__ADS_1
"Berbulan-bulan Kak Echa koma hingga dokter menyerah dan sudah waktunya seluruh alat yang dipasang di tubuh Kak Echa harus dilepas. Kamu tahu bagiamana hati Mommy?"
"Pasti sangat sakit," jawabnya dengan begitu lirih.
"Ya, tapi Mommy tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Hanya pasrah," balas Aska. "Namun, ketika alat itu hendak dilepas, ayah datang dan memeluk tubuh Kak Echa. Kamu tahu apa yang terjadi?" Jingga menggeleng.
"Kondisi Kak Echa mulai stabil lagi dan Kak Echa bisa membuka mata." Jingga tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh suaminya.
"Ikatan batin tidak bisa berdusta. Itu yang terjadi pada kisah hidup Kak Echa dan Ayah."
Jingga merenungi kisah hidupnya. Dia kira hanya hidupnya yang terlihat pilu. Ada yang lebih pilu dari dirinya. Apa sekarang dia harus lebih bersyukur?
"Jika-"
Dahi Jingga mengkerut mendengar ucapan Aska yang tidak dilanjutkan. Dia menunggu lanjutan dari ucapannya.
"Jika, Ayah sakit keras dan menginginkan bertemu dengan kamu. Apa kamu mau?"
Jingga tidak bisa menjawab. Mulutnya tertutup dengan begitu rapat. Dia mengalihkan pandangannya pada suaminya.
Aska semakin menggenggam erat tangan Jingga. Dia menginginkan sebuah jawaban dari mulut istrinya.
"Kamu sudah tahu jawabannya, Bang."
Kalimat yang sangat datar yang Jingga katakan. Dia sudah membalikkan tubuhnya untuk meninggalakan suamimu. Untuk saat ini dia hanya ingin hidup tenang dan tidak mau pusing perihal apapun. Dia hanya ingin fokus pada kehamilannya dan juga calon anak-anaknya.
Aska pun tidak bisa memaksa istrinya. Dia tidak ingin membuat istrinya stres. Melihat istrinya yang sudah merebahkan tubuhnya di atas sofa membuat Aska iba. Dia menghampiri istrinya dengan duduk di bawah samping sofa tersebut.
"Maafin Ayah ya, Bunda."
Aska menjadi manusia yang selalu mengalah sekarang ini. Terlepas dia salah atau tidak, pasti dia yang lebih awal meminta maaf. Itu demi kesehatan istri juga calon buah hatinya.
Tidak ada jawaban dari Jingga membuat Aska menghela napas berat. Apalagi Jingga sudah memejamkan mata.
"Ya udah, Bunda tidur, ya." Aska mengusap lembut rambut Jingga. " Bunda Sayang." Kecupan hangat Aska berikan di kening Jingga.
__ADS_1
"Selamat tidur anak-anak Ayah," ucap Aska ke arah perut istrinya yang sudah membesar.
Sebelum terdengar dengkuran halus, Aska tidak akan memejamkan mata. Menunggu istrinya terlelap terlebih dahulu barulah dia masuk ke alam mimpi. Selelah apapun dia, pasti akan menunggu istrinya tidur lebih dahulu. Dia sangat senang ketika melihat keempat anaknya yang bergerak-gerak di perut Jingga. Itu adalah penghilang lelah yang paling mujarab.
.
Fahri menatap nanar ke arah pria yang terbaring lemah tak berdaya di ranjang pesakitan. Dia mendengar sendiri pria itu semalam mengigau memanggil nama Jingga.
Pria itu terus mengecek ponselnya, dan tidak ada balasan dari Aska. Dia juga tidak ingin memaksa adik dari atasannya itu. Dia tahu bagaimana hubungan ASka dengan mertua laknatnya itu. Suami mana yang akan tinggal diam ketika istrinya disakiti berkali-kali. Untung saja Aska masih memiliki hati. Jika, kembaran Aska yang menjadi menantu dokter Eki sudah dipastikan mertuanya itu sudah tidak akan ada di dunia ini. beda halnya dengan Aska yang masih mau merawat dokter Eki juga membiayai hidup mertuanya.
Pintu kamar perawatan dokter Eki terbuka. Seorang wanita datang dan Fahri menghela napas kasar.
"Aku ke sini disuruh Pak Aska." Fahrani membuka suara. Fahri hanya menganggukkan kepala.
Setelah istrinya terlelap, Aska menyuruh Fahrani untuk ke Bandung dan wanita itu tiba ketika menjelang pagi.
"Pasti gak mudah Jingga memaafkan orang itu," tunjuknya ke arah dokter Eki yang sudah terbaring lemas dengan berbagai alat medis di tubuhnya.
"Suruh siapa dia kejam banget," timpal Fahrani. "Sekarang dapat karmanya 'kan," lanjutnya lagi.
"Dia terlalu mendewakan kesempurnaan. Rela membuang saudaranya, menyumpahi cucunya hanya karena fisik mereka tidak sempurna, dan sekarang dia sendirian dan menerima karma buruk. Juga harus hidup sendirian di saat ajal mendekat." Fahri menatap tubuh dokter Eki yang tidak segagah dulu.
"Bunga yang segar pun bisa layu. Tubuh yang kuat juga bisa jompo." Fahri setuju dengan apa yang dikatakan oleh adiknya itu.
Fahrani duduk di samping sang kakak. Dia menatap kakaknya penuh tanya. "Pak Aksa sudah tahu?"
Fahri menegakkan duduknya dan memandang balik ke arah sang adik tercinta. Kepalanya pun mengangguk pelan.
"Apa responnya?" Fahrani bertanya lebih lanjut kepada sang kakak. Tidak mungkin Aksa akan diam saja.
"Suruh disuntik mati."
...****************...
Komen dong
__ADS_1