
Sesampainya Chandra dirumah Ia di sambut hangat oleh Rahma
"Chan... Kamu lembur.. kok gak beritahu Aku"
"Iya maaf ya..tadi tak sempat beritahu Kamu, karena pekerjaan Aku banyak sekali, Papah sudah pulang"
"Sudah.. pulang dari Jm 5 tadi"
"Ya sudah, Aku mau mandi dahulu ya" selagi Chandra mandi Rahma menyiapkan baju ganti Chandra juga makan malamnya.
Rahma pun menaruh baju kotor Chandra di tempat cucian baju, saat melemparkan baju di keranjang tiba-tiba berhembus aroma parfum wanita di pakaian tersebut, Rahma langsung mengambil balik pakaian yang baru saja Chandra pakai tadi, Ia mengendus dan memeriksa apakah penciumannya itu benar atau hanya aroma lewat saja
"Benar.. ini aroma parfum perempuan, tapi ini bukan parfum Aku" ucapan gerutu rahma dalam hatinya, namun karena Rahma berfikiran positif Ia pun menganggap mungkin saja wangi parfum ini dari rekan kerja wanita di Kantor, lalu Rahma pun menuju dapur dan mempersiapkan makan malam untuk Suaminya.
Sementara Kasih tengah Asik menikmati makan cendol Durian bersama Makmun, setelah merasa puas Makmun mengajak Kasih untuk kembali pulang
"Kita pulang yuk..." bicara sambil melihat jam tangan
"Ayo.. makasih Loh mas cendolnya"
"Iya.. sama-sama Aku juga terimakasih Kamu sudah menamami Aku"
Mereka pun saling berpandangan tiba-tiba pandangan Makmun saat melihat Kasih berubah menjadi Lia, Makmun pun mengusap-usap matanya, dan ternyata itu hanyalah khayalan Makmun saja, mungkin Makmun saat ini sedang rindu dengan Lia
"Mas... Kenapa..?"
"Ah.. tidak apa-apa, mari Kita pulang" dan Mereka pun kini pulang menuju Rumah.
Sesampainya di rumah, ternyata sebelum Mereka sampai, Bu Alya dan Pak Helmi sudah pulang terlebih dahulu
"Loh.. Mah, Mamah sudah pulang sama Papah?"
"Ya sudah dong, Kamu kok lama sekali sih cuma beli SOP durian saja" lalu Kasih langsung menyahuti
"Kita makan di tempat Bu.. Mas Makmun ingin merasakan berbagai menu di kedai ala durian itu" Bu Alya semakin khawatir dengan kedekatan Mereka yang semakin akrab
"Mun.. Mamah mau bicara sama Kamu sebentar, nanti kalau sudah ganti baju, Kamu ke kamar Mamah ya"
"Iya Mah.."
"Ya sudah Bu.. Aku kebelakang dulu ya, mau cuci piring" Bu Alya menjawab ya kepada Kasih dengan tersenyum.
Tak lama Makmun sehabis mandi langsung menghampiri kamar Bu Alya
"Mamah...katanya mau bicara sama Aku, memangnya Mamah ingin bicara apa sih?"
Bu Alya pun mendekati Putranya lalu Ia mulai menjelaskan mengenai isi hatinya tentang kedekatannya dengan Kasih, Makmun hanya tertawa kecil saat di nasihati Ia menjanjikan pada Bu Alya ketakutannya akan hal itu tidak akan pernah terjadi
"Mah.. Mamah ini bicara apa sih..? Mah...Aku tidak mungkin mengkhianati Lia, lagi pula Aku dekat dengan Kasih karena Dia kan sering membawakan baju ganti Lia, jadi Aku hampir bertemu terus dengannya" Makmun meyakinkan Bu Alya agar tak perlu risau lagi
"Mamah hanya takut Kamu khilaf Nak.. namanya juga manusia"
"Ya ampun Mah.. Mamah jauh sekali pemikirannya, sudah ya.. Mamah jangan khawatir lagi"
Sebenarnya hati Bu Alya belum merasa lega, namun... Dia percaya pada Putranya tidak akan melakukan hal yang aneh-aneh
"Ya sudah.. Aku mau istirahat ya Mah"
__ADS_1
Makmun pun beristirahat dan Bu Alya tidur dengan hati yang masih belum puas.
Sam kini terpikirkan Asri, Dia merindukan Asri, ingin sekali rasanya Ia menghubungi Asri, namun semenjak kepergok bertemu di hotel itu, sampai saat ini Ia tak mempunyai kontak Asri.
Bertanya dengan Chandra atau Juvi pun pasti Mereka tak akan memberikan, karena pasti Mereka kini membenci Sam, Bu Fatma merasa kasihan dengan Sam yang dari tadi melamun saja Ia mencoba bertanya,
"Sam... Kamu kenapa.. sepertinya dari tadi Ibu lihat Kamu melamun saja"
"Tak ada apa-apa Bu.. Aku hanya... sedang merindukan Asri" Bu Fatma ikut bersedih dengan kesedihan yang Sam alami
"Kamu yang sabar ya, bukankah Kamu punya foto Asri Kamu kan bisa pandangi itu Nak" Bu Fatma bicara sambil tertawa kecil
"Oh iya.. Aku sampai lupa Bu.." Sam langsung membuka isi dompetnya, Ia pun menciumi foto Asri di depan Bu Fatma, hal itu membuat Bu Fatma menjadi iba dengan keadaan Sam
"Kamu rindu sekali ya Sam?" Sam tertawa sedih
"Ya Bu.. Aku sangat merindukannya, namun Ia pasti saat ini sedang membenci Aku" Bu Fatma kini meminta maaf lagi untuk kesekian kalinya pada Sam dengan alasan yang sama
"Gak Bu.. Ibu jangan bicara seperti itu, Aku ikhlas kok Bu.. hanya saja Aku masih sulit menjalani ini semua" tiba-tiba Dokter datang cek rutin setiap hari
"Malam Bu Fatma..." sapa Dokter dengan ramah
"Malam Dok... Kapan Dok Saya bisa pulang, sudah rindu Rumah" Bu Fatma berbicara sambil tersenyum
"Sebentar ya Bu.. Saya periksa dulu" setelah pemeriksaan selesai Dokter memberitahu bahwa keadaan Bu Fatma semakin membaik
"Baik... Ibu besok sudah boleh pulang, kondisi Ibu sudah membaik.. semoga kedepannya tidak terjadi masalah ya Bu" Bu Fatma tersenyum senang
"Alhamdulillah... terimakasih kasih ya dok.."
"Baik...kalau begitu Saya permisi dulu"
"Alhamdulillah ya Bu.. Ibu sudah boleh pulang besok.. Ya sudah Ibu istirahat ya.. Aku mau merokok sebentar"
Sam merasa tak tenang hatinya sebelum Ia tahu bagaimana keadaan Asri saat ini.
Lalu Ia mencoba menghubungi Juvi, sahabat terdekatnya, terdengar ponsel Juvi berdering kencang Juvi melihat siapa yang menelponnya, sempat terkejut ternyata panggilan itu dari Sam
"Ingin apa Sam menelepon Aku" ucap gerutu Juvi dalam hatinya, karena penasaran Ia pun mengangkat panggilan tersebut
"Halo..."
"Halo Juv.. apa kabar?" Sam mencoba berbasa-basi dengan Juvi
"Lo ada apa telepon Gue" Sam terdiam ragu-ragu ingin bertanya tentang keadaan Asri
"Sam.. Lo dengar suara Gue kan..? ada apa Lo telepon"
"Juv.. Gue.. ingin tahu kabar Asri"
"Apa.. Gue gak salah dengar, bukannya Lo sudah gak mau berhubungan dengan Dia"
"Tidak ingin berhubungan bukan berarti tidak ingin tahu kabarnya kan?" Juvi pun tertawa sinis kepada Sam
"Tunggu.. sebenarnya Gue gak paham sama Lo, untuk apa Lo tahu keadaan Dia.. sedangkan Lo sendiri sudah menyatakan tidak ingin berhubungan dengan Dia lagi, Sam.. Gue sahabat Lo, Lo cerita dong sama Gue apa yang terjadi sebenarnya sama Lo"
Sam masih ragu-ragu apakah Juvi harus tahu masalah yang sedang Dia alami atau belum saatnya Juvi mengetahui, setelah dipikir-pikir Juvi adalah sahabat paling amanah yang pernah Ia temui, akhirnya Sam ingin mengatakan semuanya Sam juga tak ingin Juvi malah mempunyai prasangka buruk dengannya.
__ADS_1
"Ok.. Gue akan cerita semuanya kenapa Gue memutuskan untuk pergi meninggalkan Asri"
Juvi gugup dalam benaknya apa alasan yang sebenarnya, Sam sudah merasa siap untuk bicara namun ternyata Tini menyusulnya ke Rumah Sakit
"Sebenarnya Gue waktu itu..." tiba-tiba Tini memanggil Sam
"Sam.. " Sam kaget bukan main dengan kehadiran Tini
"Kamu.. Kamu mau apa kesini?" tanya Sam terus memegang ponselnya di telinga
"Kamu telepon siapa.." Sam menaruh ponselnya di paha, sementara Juvi teriak kecil memanggil Sam dari telepon
"Sam.. Sam.. Lo sedang mengobrol sama siapa sih..." Tini pun bertanya lagi
"Sam...Kami telepon siapa" Tini merasa curiga Sam sedang menghubungi teman-temannya di Jakarta, Sam masih terdiam belum menjawab apa-apa
"Aku.. sedang.. " belum selesai bicara Tini langsung mengambil ponsel Sam dengan paksa, lalu Ia melihat ternyata panggilan itu dari Juvi
"Oh.. Juvi.. Kamu menghubungi Dia untuk mencari tahu kabar Asri kan..?" Sam langsung mengambil kembali ponselnya, namun Tini malah menaruh tangannya di belang dan masih terus memegang ponsel Sam
"Jawab pertanyaan Aku dulu Sam.."
"Kamu itu kenapa sih.. Aku ada perlu sama Dia.."
"Bohong..." Tini langsung berbicara pada Juvi
"Halo Juv.. ini Aku Tini.. Sam pasti sedang ingin menanyakan kabar Asri Ia kan..?"
"Lo jangan tanya Gue.. tanya Sam saja, Gue saja gak tahu Dia menelepon Gue ingin apa.. karena dari tadi Dia gagu dalam bicara, gak jelas..." Tini langsung menatap mata Sam dengan tajam
"Ok.. kalau gitu Gue tutup teleponnya, malam" ucap Tini dengan nada ketus
Juvi terheran mengapa Sam sekarang sepertinya menurut sekali dengan Tini.
Sam marah pada Tini yang dengan paksa mengambil ponselnya dan mematikan panggilan dengan tiba-tiba
"Kamu apa-apaan Tini.. Aku sedang bicara"
"Bicara apa... Kamu masih ingin menanyakan tentang Asri kan.. tidak.. Kita sudah punya perjanjian Kamu harus benar-benar mengakhiri hubungan Kamu dengan Dia tanpa komunikasi, Kamu masih ingat kan perjanjian itu" Sam merasa benci dan marah dengan ucapan Tini
"Aku tidak bertanya soal Asri, Aku hanya bicara pada Juvi ada hal yang belum Aku selesaikan" namun Tini tetap tak terima karena tetap saja baginya Ia masih berhubungan dengan orang-orang terdekat Asri.
"Tidak Sam.. kalau Kamu melanggar semua itu, Aku akan biang pada Papah, dan cepat meminta uang itu sekarang juga, apa Kamu sanggup" Sam terdiam tak bergeming saat Tini berkata seperti itu, kalau saja Ia dapat uang jatuh dari langit, sudah pasti Sam akan membayar lunas uang pinjaman itu.
"Keterlaluan Kamu Tini" tiba-tiba Bu Fatma kelaut dari kamar karena meras terganggu dengan suara Mereka
"Ini ada apa Sam... Tini... Kamu disini?"
"Ya Ibu..maaf Aku menyusul, Aku merasa bosan Bu di rumah"
"Baik.. Kamu mau menemani Mamah, kalau begitu Aku yang akan pulang"
"Apa Sam..lalu Aku hanya berdua dengan Ibu"
"Iya lah.. dengan siapa lagi" jawab Sam dengan sinisnya
"Sam.. tidak usah.. Aku saja yang pulang" Tini tidak mau berdua saja dengan Bu Fatma, Ia datang menyusul justru ingin bersama Sam
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu silahkan Kamu pulang"
Sam langsung masuk kamar Bu Fatma dan pergi begitu saja meninggalkan Tini, Bu Fatma juga hanya terdiam tak berbicara apapun dengan Tini, lalu Tini pergi dengan hati yang hampa.