Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
TAK BISA BERJALAN


__ADS_3

Lia dan Makmun kini sampai di Cafetaria, Makmun memesan meja untuk Makan bersama sang Istri


"Mas.. Saya pesan satu meja, tapi Saya ingin meja Saya ada di belakang Cafe dekat sama danau, kira-kira bisa Mas?"


"Bisa Mas, langsung ke belakang saja ya Mas" Lia dan Makmun pun ke belakang mengikuti sesuai apa kata Pelayan.


Namun saat sampai di belakang Cafe Lia terkejut melihat pemandangan yang sangat indah dan romantis


"Ya ampun, sayang... Ini Kamu yang pesan semua" wajah Lia terlihat gembira Ia tersenyum bahagia di wajahnya


"Iya.. Ini untuk Kamu spesial Malam pengantin Kita, bagaimana Kamu suka?" tanya Makmun sambil tersenyum, Lia begitu senang dan Lia sangat suka surprise dari Suaminya itu


"Aku suka, suka banget, makasih ya sayang, tapi Kita kan baru datang, masa sudah siap seperti ini" Makmun pun tertawa melihat kebingungan di wajah Lia, lalu Ia memeluk Lia dengan hangat


"Menurut Kamu Aku melakukan sulap seperti tukang sihir begitu" Makmun berbicara sambil cengengesan. Lia pun kini mengerti, bahwa sbelumnya Makmun sudah mempersiapkan ini terlebih dahulu


"Aku tahu, jadi Kamu sudah persiapkan ini sebelumnya kan, Kamu bilang ingin mengajak Aku ke Cafe baru ternyata... padahal Kamu sebelumnya sudah tahu Cafe ini, iya kan" Lia berbicara sambil mencubit hidung Makmun dengan manja, Mereka pun tersenyum bahagia lalu berpelukan dan saling memadu kasih sambil menyantap makanan lezat.


Asri tengah ingin mandi pagi, namun saat bangun dari tidur Ia merasakan sakit pada kakinya


"Auw.... Ya ampun kok jadi sakit begini ya, sepertinya harus berobat" tak lama Bu Anita mengetuk pintu kamar Asri dan memanggil,


"Sayang Kamu sudah bangun belum, kalau sudah langsung sarapan ya"


"Iya Mah.. Sebentar Aku baru mau mandi" Asri pun mandi dan berjalan dengan pelan pelan.


Setelah selesai mandi Asri menuju ruang makan, dengan jalan yang begitu pelan pemandangan itu pun terlihat oleh Bu Anita


"Sayang, kaki Kamu masih sakit, coba Mamah lihat" setelah di perhatikan luka di kaki Asri sudah membengkak, Bu Anita terkejut melihat luka itu kini mejadi lebam


"Asri sebaiknya Kita ke Rumah Sakit, Luka ini harus di obati sama Dokter" Bu Anita pun kini memaksa Anaknya agar mau pergi ke Dokter


"Iya Mamah, Aku akan ke Dokter tapi sore nanti"


"Ya sudah, nanti sore kabari Mamah ya, nanti Mamah antar Kamu" setelah sarapan selesai, Asri bersiap berangkat kerja.


Baru saja keluar dari pintu, ada panggilan masuk dari Sam, lalu Asri mengangkat panggilan itu


"Halo Sam, Kamu sudah sampai mana?"


"Maaf sayang, Kamu berangkat sendiri dulu ya, tadi Pak Fadli telepon Aku, Dia mau ketemuan bahas soal bazar untuk Minggu besok, jadi Aku gak bisa jemput Kamu, maaf ya sayang gak apa-apa kan"


"Oh.. Ya sudah gak apa-apa kok, Kamu hati-hati ya, semoga lancar Meeting nya" ucap Asri menyemangati sang kekasih, panggilan pun di putus, lalu Asri berkata pada dirinya sendiri

__ADS_1


"Aduh.. saat seperti ini, Sam malah gak bisa jemput Aku" tak lama ada mobil yang mendekat, lalu Ia membuka kaca jendela, ternyata itu mobil Chandra


"Asri Kamu lagi tunggu Sam ya" Chandra bertanya berbasa-basi terhadap Asri


"Gak Chan.. Aku lagi tunggu taksi, Sam hari ini gak jemput Aku, ada meeting sama Pak Fadli katanya" Chadra pun menawarkan pada Asri untuk berangkat bersama


"Asri Kalau Kamu mau, Kita bisa bareng" Chandra berkata dengan sopan, Asri kemudian berfikir dengan kondisi kaki yang sedang sakit, sebaiknya Dia ikut saja dengan tawaran Chandra


"Tapi apa gak merepotkan Kamu Chan"


"Ya ampun Sri, ya gak lah, kenapa harus repot, dari pada Kamu naik taksi, nanti terlambat lagi" Chandra sengaja berkata seperti itu agar Asri mau ikut bersamanya, Asri pun naik mobil lalu mobil pun melaju.


Saat di perjalanan Asri mulai merasakan sakit kaki lagi


"Aduh... " Asri mengeluh sedang merasakan sakit, lalu Chandra memperhatikan Asri dan bertanya,


"Asri, Kaki Kamu kenapa, apa masih sakit gara-gara hampir kena tabrak kemarin siang"


"Bukan karena kemarin siang Chan, ini tuh Aku keserempet lagi saat pulang kerja di depan rumah" lalu Chandra kini terfikir dengan cerita Rahma tentang Tini yang semalam di ceritakan


"Asri, sepertinya ada yang mau mencelakakan Kamu" Chandra berbicara dengan mimik wajah yang serius


"Maksud Kamu apa Chan, Aku gak mengerti, siapa yang mau mencelakai Aku memangnya" lalu Chandra menceritakan apa yang di ceritakan oleh Rahma semalam, respon Asri pun agak bingung


"Masa sih Chan, tapi iya sih kemarin juga yang serempet Aku sepertinya orang yang sama, hanya saja Aku gak sempat lihat plat nomornya, Aku hanya memikirkan kaki Aku yang luka ini" Chandra melirik ke kaki Asri yang terluka itu, dia pun terkejut saat melihat luka itu


"Iya Chan niat Aku juga mau ke Dokter tapi nanti habis pulang kerja saja, biar Sam yang antar"


"Kalau Aku yang antar Kamu sekarang bagaimana Kamu mau..?" Asri merasa tak enak jika selaku merepotkan Chandra


"Ga perlu Chan.. Aku gak mau merepotkan Kamu" tentu saja Chandra saat ini merasa bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa bagi Asri, jadi Chandra tak ingin memaksa lagi untuk menawarkan dirinya mengantar Asri.


Sesampainya di Retro Asri ingin turun dari mobil, namun rasa sakit di kakinya sudah tak tertahankan lagi, Asri pun berteriak kecil "Aduh..." Chandra melihat Asri sedang kesakitan pun berkata,


"Sakit banget ya Sri, Kamu yakin kuat sampai sore, lebih baik Kita ke Dokter sekarang, Aku takut luka Kamu malah tambah parah" kekhawatiran Chandra membuat Asri menjadi tak enak.


Asri memikirkan kata-kata Chandra Ia juga merasa takut jika lukanya semakin parah, setelah itu Asri mencoba berjalan, namun malah hampir terjatuh


"Aduh" teriak Asri, Chandra pun geram dengan Asri lalu Ia berkata,


"Asri... Aku mohon kali ini tolong jangan tolak, Kamu harus ke Dokter" Chandra kini berbicara dengan nada meninggi.


Asri memandangi wajah Chandra dengan wajah meringis kesakitan, karena Asri tak mau ambil resiko dengan lukanya, Asri pun mengiakan ajakan Chandra, Chandra pun senang akhirnya Asri mengerti juga dengan kondisinya

__ADS_1


"Kamu tenang soal Sam biar nanti Aku yang jelaskan" Asri hanya diam tak menjawab, lalu Chandra dan Asri kini menuju Rumah Sakit.


Lia bangun kesiangan, Dia bergegas mandi lalu bersiap, Dia tak sempat membuat sarapan untuk suaminya.


Jika Lia masak sudah pasti Lia terlambat, langsung saja Lia berpamitan dengan Makmun.


"Sayang Aku berangkat kerja dulu ya"


"Jadi Kamu tetap mau kerja Lia" Makmun berkata dengan raut wajah seperti tak ingin jauh dari sang Istri


"Iya dong sayang, Aku mohon Kamu mengerti Aku masih mau bekerja, Kita kan sudah bicarakan ini semalam sayang" Lia berbicara dengan nada yang lembut agar tak menyinggung Makmun, Makmun pun tak bisa berbicara apa-apa lagi, lalu Makmun mencium kening Lia


"Aku pasti akan sangat rindu kamu hari ini, cepat pulang ya, salam untuk semua orang Kantor" Lia pun berangakat, saat melewati teras rumah ternyata Ibu mertuanya sedang menyirami tanaman


"Kamu jadi tetap mau bekerja Lia"


"Iya Mah, Aku sudah bicarakan ini sama Makmun kok, Aku berangakat ya Mah" Sontak saja, ibu mertuanya berkata,


"Harusnya Istri itu nurut suami, lah Kamu malah lanjut, Kamu gak hargai dong suami Kamu" Bu Alya berbicara dengan ketus


"Mah, Maaf tapi Makmun gak keberatan kok kalau Aku tetap kerja, yang penting kan Aku urus suami dengan baik" ucap Lia dengan sopan terhadap Mertuanya, lalu Mertuanya menjawab lagi,


"Mengurus suami, bangun saja Kamu kesiangan Kamu pasti belum siapkan sarapan untuk suami Kamu"


"Mah.. Aku memang kesiangan hari ini, tapi besok-besok Aku janji gak akan ada kesiangan lagi, Aku memang belum masak karena gak sempat" lalu Makmun mendegar perdebatan Lia dengan Mamahnya, Makmun pun menghampiri Mereka


"Ini kenapa sih, Kamu belum berangakat sayang" tanya Makmun kepada Istrinya, Ibu Makmun hanya melirik Lia juga anaknya


"Ini Aku mau berangkat kok, tadi Mamah ajak ngobrol sebentar, Ya sudah Aku berangkat yah" Lia pun pamit, dan bersalaman dengan Ibu Mertuanya.


Sesampainya di Rumah Sakit, Asri mencoba turun dari mobil, namun rasa sakit kakinya kini malah bertambah.


Chandra pun mengajak Asri untuk masuk kedalam, saat ingin berjalan Asri meringis kesakitan


"Ya ampun sakit sekali" melihat hal itu Chandra pun bertanya,


"Kamu kuat jalan gak" Asri tak menjawab hanya memperlihatkan wajah yang terus kesakitan, lalu Chandra menawarkan untuk menggendongnya, Asri pun terkejut dengan tawaran Chandra


"Kalau Kamu gak Aku gendong bagaimana mau masuk ke dalam, sedang kan berjalan saja Kamu sudah gak kuat Asri" Chandra kini merasa khawatir terhadap Asri


"Aku minta maaf, tapi Aku harus gendong Kamu" tanpa meminta persetujuan Asri, Chandra pun langsung menggendong Asri.


Asri kaget namun apa yang bisa Asri lakukan, Asri menerima dirinya di gendong untuk sampai ke ruang Dokter.

__ADS_1


Sepanjang jalan menuju ruang Dokter Asri memandangi wajah Chandra, Kini sepertinya getaran rasa cinta yang dulu hilang kini tumbuh kembali, begitu pun Chandra, Dia merasakan gugup dalam hatinya jantungnya kini berdebar, Dia berkata dalam hati,


"Ya ampun kenapa jadi gugup begini, harusnya sih Aku biasa saja, apa Asri bisa dengar jantung aku yang berdegup kencang seperti ini" Mereka pun saling menatap dan berpandangan.


__ADS_2