Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
MUAL DAN MUNTAH


__ADS_3

Begitu juga dengan reaksi Pak Heri saat Ia tahu jika Putranya nekat menikah tanpa restunya


"Andi.. Kamu sudah gila, Kamu mau menikah tanpa restu Papah"


"Pah.. Aku sudah berulangkali katakan jika Aku akan tetap menikahi Kasih walau tanpa restu dari Papah"


"Andi Kamu sungguh..."


belum sempat menyelesaikan ucapannya Pak Heri merasakan sesak di dadanya, Bu Heni panik dan khawatir begitu juga Andi Dia berusaha bertanya kepada Papahnya mengenai kondisinya


"Pah.. Papah gak apa-apa"


"Heni.. usir orang ini, Saya sudah tidak sudi lagi melihatnya"


Bu Heni tak dapat berbuat apapun, mau tak mau Ia menyuruh Andi untuk pergi dari rumahnya, karena Andi tak tahu jika Heri juga mengalami penyakit jantung sama seperti istrinya yang telah meninggal


"Andi.. Tante minta maaf, tapi sebaiknya Kamu pulang ya, Tante takut Papah Kamu kena serangan jantung"


"Serangan jantung.. memang Papah punya penyakit jantung"


Lalu Pak Heri menyahuti pertanyaan Andi


"Kamu sekarang pergi dari sini, jangan pernah datang lagi kesini, kalau Kamu belum pergi meninggalkan perempuan itu"


Andi kini menjadi kesal dengan ucapan Papahnya, kenapa sepertinya sulit sekali menerima Kasih menjadi menantunya


"Baik.. Aku akan pergi, tapi yang Papah harus tahu, Aku sangat sayang dengan Papah, tapi Aku juga mencintai Kasih, Aku hanya berharap Papah bisa mengerti dengan pilihan Aku"


Andi pun pergi dari rumah Herman, Ia merasa bersedih melihat keadaan Papahnya yang seperti itu, tapi Heri sangatlah keras kepala dan egois tak ingin menerima Andi lagi.


Ketika Andi telah pergi Heni berbicara mengenai kesehatannya


"Heri.. harusnya Kamu beritahu Andi soal penyakit Kamu"


"Tidak mbak Heni, Aku tidak ingin Dia tahu soal ini, biarlah Dia menjalani hidupnya"


"Maksud Kamu, Kamu sudah mau menerima hubungan Mereka"


Heri terdiam terlihat kesedihan dalam wajahnya, sebenarnya keinginannya terbesarnya Andi dapat melanjutkan bisnisnya dan memegang alih perusahaan yang berada di Singapura, agar Ia tenang di masa tua karena usahanya ada yang menjalankan, tapi ternyata kedatangan ke Jakarta justru membuat dirinya dan Andi malah menjauh dan bermusuhan.


"Aku akan datang di hari pernikahannya"


ucap sontak dari mulut Pak Heri, membaut Bu Heni terkejut


"Itu artinya Kamu sudah mau merestui Mereka bukan"


"Bisa di bilang seperti itu"


"Tapi mengapa Kamu tidak katakan saja tadi saat Andi berada disini"


Heri masih gengsi ingin mengatakan jika dirinya mau merestui hubungan Andi dengan Kasih, jadi Heri berpikir akan datang langsung di acara, supaya terlihat lebih surprise, Bu Heni pun tersenyum mendengar pengakuan Heri


"Aku ikut bahagia, mendengar Kamu sudah merestui pernikahan itu"


"Ya Mbak Heni, Apa yang Mbak Heni ucapkan waktu itu, Aku sangat memikirkannya, dan mungkin benar, Andi lebih nyaman hidup sederhana di banding banyak tekanan dari Aku Mbak"


"Ya sudah.. mana obatnya Kamu harus minum obat, jangan sampai Kamu sakit di hari pernikahan Andi"


Kemudian Bu Heni membantu adik iparnya meminum obat.


Tini sedang duduk di teras rumah, Ia merasa bosan beberapa Minggu tinggal disini


"Rasanya ingin tinggal di Jakarta, tapi.. kalau Aku di Jakarta Sam pasti akan menemui perempuan itu lagi"


ucap keluh Tini pada dirinya sendiri.


Tiba-tiba datanglah Fahmi dengan mobil mewahnya, Fahmi turun dan menghampiri Tini yang sedang duduk sendiri, Tini sangat terkejut melihat kedatangan orang yang telah memperkosanya tempo hari


"Kamu tahu dari mana rumah Saya"


"Eits... tenang dong, jadi.. ternyata Kamu Istri Sam yah?"


Tini semakin bingung mengapa Ia tahu nama suaminya


"Kamu mau apa kesini?, tolong jangan ganggu Saya"


"Tidak.. Aku tidak ingin mengganggu Kamu, Aku hanya ingin memastikan jika benar Kamu adalah Istri dari Ray Sam Saputra"


Tini semakin terkejut mengapa Fahmi tahu nama lengkap suaminya


"Heh.. Kamu jangan macam-macam ya"


"Aku hanya satu macam kok, yaitu Aku ingin bercinta lagi dengan Kamu"


merasa jijik juga benci dengan Fahmi, Tini menampar Fahmi dengan sekuat tenaga


"Tamparan ini untuk orang yang telah berani berhadapan dengan Seorang Tini"


Fahmi terdiam menatap Tini dengan tajam, Dia bersumpah akan terus mengganggunya juga akan membalas Sakit hatinya terhadap Sam melalui Tini.


Bu Fatma mendegar keributan di luar hingga Bu Fatma keluar dan Ia melihat ada seorang pria yang tengah berbicara dengan menantunya

__ADS_1


"Tini.. siapa Dia..?"


Tini kaget mendengar suara Ibu mertuanya, sebelum Tini menjawab pertanyaan Bu Fatma , Fahmi terlebih dahulu berkata,


"Saya Fahmi Bu, anak Pak Faris pemilik perusahaan tempat Sam bekerja"


Fahmi menyodorkan tangannya kepada Bu Fatma


"Oh.. ada apa ya datang ke rumah Sam, apa Sam melakukan kesalahan?"


"Tidak Bu, Saya hanya ingin menitipkan ini untuk Pak Sam, katakan saja ini hadiah karena Pak Sam telah membantu Papah Saya mendapatkan proyek dari Retro"


"Retro.. Tini.. bukankah Retro itu perusahaannya Papah Kamu ya"


Fahmi terkejut mendengar pernyataan jika Tini Putri dari Anak pemilik perusahaan ternama di Jakarta


"Apa.. jadi Anda ini, Anak dari klien Papah Saya"


"Kalau Ia kenapa?"


Dengan sombongnya Tini bicara kepada Fahmi


"Tidak kenapa-kenapa, Bu Saya pamit dan Mbak Tini, terimakasih telah menyambut Saya dengan baik"


Fahmi tersenyum genit kepada Tini, Bu Fatma hanya memperhatikan Mereka berdua


"Iya Pak, nanti Saya akan sampaikan hadiah ini kepada Anak Saya"


Fahmi pun masuk ke dalam mobil, dan Ia tersenyum jahat kepada Tini dari dalam mobil.


Bu Anita sampai juga di tokonya, Ia masuk ke dalam dan langsung bicara dan bertanya mengenai Dokter yang mencarinya kemarin


"Tika.. hari ini bagaimana sudah dapat supplier banyak"


"Alhamdulillah Bu.. Kita sudah atur kerjasama dengan toko agen di simpang jalan itu"


Bu Anita tersenyum senang


"Oh ya.. Dokter itu apa sudah datang lagi?"


"Belum Bu, tapi Dia menitipkan Nomor kontaknya, katanya ingin bertemu ibu saat jam makan siang jika Ibu bisa"


"Dia itu siapa sih Tika, kok seperti ingin sekali bertemu Saya"


"Mungkin berondong penggemar rahasia Ibu"


Tika dan rekanya tertawa kecil, dan yang lainya hanya senyum-senyum mendengar gurauan Tika


"Ya maaf Bu, biar gak kaku dan stres"


"Ya sudah, Saya mau melanjutkan pekerjaan Saya, ada faktur yang harus Saya tandatangani?"


Tika dan Bu Anita pun memasuki ruangan memeriksa pekerjaan bersama.


Arif yang mengagumi akan kecerdasan dan sikap Dokter Farhan mendatangi Dokter Farhan yang sedang duduk di meja mengerjakan pekerjaannya


"Pagi Dokter Farhan"


"Pagi.. eh.. Arif, kenapa?"


"Tidak ada apa-apa Dok, Aku hanya ingin mengajak Dokter makan siang bersama nanti"


"Makan siang"


"Iya Dok.. tapi bayarnya masing-masing ya Dok"


Dokter Farhan tertawa kecil mendengar ucapan Arif


"Ya ampun Arif, iya Saya mengerti kok, Saya hanya mau bertanya kenapa dari sekian banyak Dokter, Kamu ingin mengajak Saya"


"Karena Saya mengagumi kepribadian Dokter, Saya juga ingin banyak belajar tentang kedokteran dengan Dokter"


"Oh.. iya Arif.. boleh saja, Kita makan bersama, tapi siang ini Saya harus bertemu seseorang, kalau Kamu tidak keberatan bisa ikut gabung"


"Teman Dokter juga yang ikut makan?"


"Oh bukan, ini seseorang yang sedang Saya cari dari awal Saya ikut seminar di sini"


"Kalau begitu lain kali Dok Kita makan siang, Saya takut mengganggu Dokter, lagi pula bertemu seseorang itu kan pasti ada tujuannya sangat tidak etis jika Saya mendegar percakapan Dokter dengan orang itu"


Dokter Farhan tersenyum melihat sikap Arif yang begitu sopan


"Arif.. Kamu itu sopan sekali, Ramah.. Saya doakan semoga impian Kamu menjadi Dokter yang terbaik bisa Kamu raih"


"Amin Dokter Farhan, terimakasih banyak doanya"


setelah berbincang Arif kembali ke kelasnya.


Tak terasa jam makan siang pun tiba, Dokter Farhan melihat ponselnya terus menerus, berharap seorang yang bernama Anita itu, menelponnya.


Bu Anita yang baru saja melihat jam tangan Ia teringat dengan Dokter yang mencarinya, merasa penasaran Ia pun menghubungi nomor yang telah Dokter itu berikan kemarin, Dokter Farhan langsung mengangkat nomor baru yang meneleponnya

__ADS_1


"Halo..."


"Halo Assalamualaikum"


"Wa'alaikum salam, maaf apa ini dengan Dokter Farhan?"


"Iya Bu.. ini Ibu Anita ya"


"Iya Dokter, Saya Anita pemilik toko organik"


Dokter Farhan sangat senang sekali, titik terang sepertinya mulai terlihat, walaupun Dia belum tahu apakah Anita ini yang Ia cari


"Begini Bu Anita, Saya ingin bertemu sebentar saja, jika Ibu ada waktu"


"Bisa.. siang ini Kita bisa bertemu, memangnya Dokter ingin bicara apa dengan Saya?"


"Lebih baik, Kita bicara di tempat, Karena Saya agak bingung ingin menjelaskannya"


"Ok baik, Kalau begitu, Kita bertemu di cafe di samping Toko Saya bagaimana?"


"Baik Bu.. Saya akan segera kesana sekarang"


akhirnya Dokter Farhan bisa bertemu juga dengan Bu Anita, Dokter Farhan segera pergi menuju tempat yang sudah di janjikan.


Sementara Asri masih belum mendapat pekerjaan, saat ini Dia beristirahat di pinggir jalan berteduh di bawah pohon yang cukup rindang, tiba-tiba Chandra melintasi tempat tersebut, lalu Ia melihat Asri tengah duduk dengan wajah yang begitu lelah, Chandra memarkirkan mobilnya lalu Ia turun menghampiri Asri.


"Asri.."


"Chandra, Kamu sedang apa disini?"


"Harusnya Aku yang bertanya, Kamu sedang apa disini?"


"Oh.. Aku sedang mencari pekerjaan"


"Lalu.. dapat..?"


Asri hanya menggelengkan kepalanya dengan raut wajah yang kecewa


"Mana tongkat Kamu?"


"Aku sudah bisa berjalan Chan.. lihat"


Asri berdiri lalu Ia berjalan di hadapan Chandra, sungguh Chandra sangat bahagia melihat orang yang sangat dicintainya kini bisa berjalan kembali


"Alhamdulillah.. Kamu bisa berjalan dengan normal"


"Iya.. Aku juga sempat gak percaya Sam"


Yang tadinya Chandra tersenyum kini Ia menarik senyuman itu saat Asri mengucapkan nama Sam


"Chan... maafkan Aku, Aku tidak bermaksud untuk...."


"Tidak apa-apa, Kamu rindu dengan Sam, iya?"


Asri terdiam, lalu duduk kembali dan Asri menjawab,


"Chan.. kenapa Sam tidak bisa lepas dari pikiran Aku"


Chandra duduk di samping Asri dan berkata,


"Ya wajar, karena Kamu mencintainya"


tiba-tiba Asri mual dan muntah di hadapan Chandra hingga sedikit baju chandra terkena muntahan Asri


"Chandra.. maafkan Aku, sungguh mual tadi reflek sekali"


"Ya gak apa-apa, Kamu mual, lalu Kamu mau kemana sekarang?"


"Gak tahu, mungkin pulang"


"Aku antar ayo"


Asri menatap Chandra seakan tak enak jika Chandra mengantarnya


"Sudah.. ayo, Kamu mual, pasti pusing kepala Kamu"


Chandra seakan tahu saja dengan apa yang dirasakan Asri saat ini


"Kamu kok tahu Aku pusing"


"Ya tahu lah..Kamu kan sedang hamil"


Lalu Asri pun menerima tawaran Chandra untuk mengantarnya pulang.


Saat di dalam mobil, Chandra mengganti bajunya dihadapan Asri


"Maaf Aku ganti baju sebentar ya"


"Chan baju kotor itu, biar di taruh di rumah Aku ya, nanti Aku kembalikan jika sudah bersih"


"Tidak usah, nanti Kamu capek cuci baju ini"

__ADS_1


Asri tersenyum mendegar ucapan chandra.


__ADS_2