Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
158. Laksa


__ADS_3

Menjaga Gavin ternyata berbeda dengan menjaga almarhum Dea. Anak ini masih tetap aktif walaupun jarum infus masih menancap di punggung tangannya. Berkali-kali Jingga menghembuskan napas kasar.


Sang suami sudah tepar karena seharian ini dikerjai oleh Gavin. Di mana wajah Aska dibubuhkan bedak bayi yang banyak. Punggung Aska yang sakit karena Gavin meminta bermain kuda-kudaan. Belum lagi sang keponakan meminta makanan yang sulit dicari membuat Aska harus banyak-banyak mengucapkan istighfar. Dia seperti menghadapi ibu hamil. Padahal hanya keponakannya sendiri.


Bukan hanya Aska yang tepar, Gavin pun sudah tertidur. Sudah dua kali darahnya naik ke selang infus, tapi anak itu malah tertawa-tawa.


"Badus walnana


Sungguh Jingga ingin memarahi anak dari kakak iparnya. Di mana dia tengah panik, Gavin malah berkata seperti itu.


Setelah perawat membenarkan selang infus dan meminta Gavin untuk diam, anak itu menurut. Namun, hanya setengah jam. Setelah itu sudah mulai aktif lagi, Bun.


Jingga duduk di tepian tempat tidur sang keponakan. Kali ini, di wajah Gavin terdapat siluet wajah sang putri tercinta, Dea. Air mata Jingga menetes begitu saja. Dadanya terasa sesak karena teringat akan anak difabel yang dia rawat sedari bayi.


"Bunda rindu kamu, De."


Namun, pergerakan Gavin membuat Jingga buru-buru menyeka ujung matanya. Dia mengusap lembut rambut lebat Gavin.


"Ketika kamu tidur kamar ini malah sepi," gumamnya.


Jingga melihat ke arah bayi gede yang tengah tertidur di sofa. Suaminya nampak kelelahan. Aska benar-benar totalitas dalam menjalankan peran sebagai ayah pengganti untuk Gavin. Ada kebahagiaan yang Jingga rasakan. Dia sangat yakin, Aska akan menjadi sosok suami dan ayah yang luar biasa nantinya.


"Nak, ayah kamu pasti akan menjadi ayah yang luar biasa untuk kamu." Jingga mengusap lembut perutnya yang masih rata.


Selang setengah jam, tiba-tiba Jingga menginginkan sesuatu. Sepertinya makanan itu sudah ada di ujung lidahnya. Sebenarnya dia tidak tega membangunkan Aska. Namun, dia benar-benar ingin memakan makanan tersebut.

__ADS_1


"Bang As," panggil pelan Jingga kepada Aska. Sang suami masih terpejam.


"Bang," panggilnya lagi. Kini, dia mengguncang tubuh Askara.


"Hem."


Hanya deheman yang keluar dari mulut Aska. Tanpa dia membuka mata.


"Bang, bangun ih," ucapnya.


Terpaksa Aska membuka mata dan menatap sang istri dengan mata yang masih merah dan pikiran yang belum fokus. Masih setengah sadar.


"Aku pengen laksa."


Aska mulai menyandarkan punggungnya di kepala sofa. Matanya mulai terpejam kembali.


"Gak mau!" seru Jingga.


Mata Aska pun mulai terbuka kembali. Dia menatap ke arah sang istri.


"Terus?" tanyanya. Dia menutup mulutnya karena tengah menguap.


"Bang As yang nyarinya." Hembusan napas kasar keluar dari mulut Aska. Namun, dia tak kuasa menolak. Apalagi dia melihat Jingga sudah mengusap perutnya.


"Ya udah aku cuci muka dulu." Jingga mengangguk seraya tersenyum.

__ADS_1


"Tuh 'kan Nak, ayahmu adalah ayah yang siaga."


Wajah Aska sudah segar. Dia segera mengeluarkan ponselnya dan mencari tempat penjual laksa dengan rating tinggi.


"Aku gak mau laksa yang ada di Jakarta," ucap sang istri.


Aska pun terdiam sesaat. Tak lama berselang, dia menatap sang istri.


"Aku maunya laksa khas Tangerang yang banyak dikunjungi banyak orang."


What The fuckk!


Hanya untuk sebuah laksa harus mencari hingga ke Kota tetangga. Sungguh luar biasa. Melihat Aska yang masih terdiam, Jingga mulai memasang wajah sendu.


"Aku cuma minta laksa Tangerang, gak minta mas batangan."


Hembusan napas kasar keluar dari mulut Aska. Dia mengusap lembut rambut sang istri tercinta.


"Iya aku akan ke Tangerang untuk mencari apa yang kamu mau. Tadi aku lihat juga ratingnya bagus." Senyum pun terangkat dengan lebar di bibir Jingga. Padahal, hati Aska tengah mendumal tak karuhan.


"Lebih baik kamu minta mas batangan daripada harus mencari laksa ke Tangerang."


...****************...


Komen dong ...

__ADS_1


__ADS_2