Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
202. Terpojokkan


__ADS_3

Kedatangan empat makhluk kecil ini ternyata memiliki maksud dan tujuan. Mereka juga tidak nakal juga tidak memalak sang paman. Mereka bersikap baik hari ini. Namun, itu membuat Aska semakin harus waspada. Jika, seperti ini pasti akan ada kerugian yang lebih besar lagi.


"Nanti pulang sekolah kami bertiga mau pulang ke sini ya, Mimo." Aleena berkata dengan begitu lantang, sambil mengunyah roti bakar ovaltine kesukaannya. Ayanda mengangguk pelan. Sedangkan mata Aska sudah memicing tajam. Dia sangat yakin keempat keponakannya memiliki rencana terselubung.


"Matanya ental Mas colok nih," sungut Gavin kepada sang paman. Sedari tadi anak itu terus memperhatikan Askara. "Dali tadi bawaannya culiga mulu," omel Gavin lagi. Sang istri pun mencubit perut sang suami yang ada di sampingnya hingga Aska menoleh ke arah sang istri.


"Tahu nih, Bang. Gak boleh gitu ih," tambah Jingga dengan tatapan tak bersahabat.


"Bukannya begitu, Sayang." Aska mencoba membela diri. "Tuh bocah empat 'kan biang kerok, selalu buat aku bangkrut," jelasnya.


Jingga dan kedua mertuanya tertawa terbahak. Giondra menggelengkan kepala pelan mendengar ucapan dari putra bungsunya. Selama kehamilan Jingga Aska sudah mengeluarkan uang di atas lima puluh juta hanya untuk ganti rugi kepada sang keponakan. Bukannya tidak punya uang, dia adalah pria yang tidak suka pemborosan.


"Mereka gak salah, mereka cuma menuntut ganti rugi, Dek," terang sang ayah. Ayanda mengangguk setuju begitu juga dengan Jingga.


"Apa yang dikatakan Aki benar," ucap Aleeya. Aleesa pun setuju dengan ucapan sang adik.

__ADS_1


"Kami selalu jadi korban kejahilan anak-anak yang masih berbentuk kecebong di dalam perut Kak Jing-jing." Aleesa berkata dengan cukup lantang sekali.


"Benal itu," tambah Gavin. "Masih untung aku selalu doain yang baik-baik buat anak Uncle." Gavin pun ikut bersungut-sungut.


Ayanda dan Giondra malah tertawa. Mereka hanya ingin tahu bagaimana reaksi Aska ketika diserang oleh empat keponakannya yang sangat pintar.


"Tahu, bukannya berterima kasih," lanjut Jingga.


Bukan hanya diserang empat orang melainkan lima orang yang menyerang Aska sekarang ini. Dia tidak habis pikir kini istrinya berkubu pada keponakannya. Padahal, dialah yang selalu mengerjai empat keponakannya tersebut.


"Sepertinya anak kita ini disuruh kamu kali ya, Bang," ujar Jingga. "Makanya mereka senang banget ngerjain keponakan-keponakan kita."


"Wah ketahuan," ucap tiga keponakan cantik Aska. Mereka sudah menabuhkan genderang perang.


"Jahat nih Uncle," kata Gavin. "Halus dilapolin Daddy bial dipecat."

__ADS_1


Tawa semua keluarga yang berada di ruang makan itupun terdengar sangat renyah. Gavin sangat tahu kelemahan sang paman yakni ayahnya. Aska lebih takut kepada Aksara dibandingkan ayahnya jika menyangkut pekerjaan.


"Jangan dong, Anteu 'kan lagi hamil. Butuh biaya besar untuk pemeriksaan kandungan. Belum lagi butuh biaya besar untuk lahiran. Kalau Uncle dipecat nanti kami makan apa?" Aska menunjukkan wajah melasnya.


"Kele!"


Jawaban yang membuat Aska mengusap dada. Sedangkan Jingga sudah memegang perutnya karena sedari tadi puas tertawa karena ucapan dan tingkah keempat keponakannya.


"Makanya kelja kelas kayak Daddy-nya Mas. Jangan santai-santai pas masih muda. Ketika punya isteli begini 'kan."


Ayanda tertawa hingga mengeluarkan air mata dan Giondra hanya bisa menggelengkan kepala karena ucapan sang cucu. Sedangkan Aska semakin terpojokkan dan kini dia mengucapkan istighfar.


"Boleh gak sih aku karungin nih bocah."


...****************...

__ADS_1


Komen dong ...


__ADS_2