Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
KEHIDUPAN DALAM SEL


__ADS_3

Sam terdiam merasa ragu-ragu saat ingin bicara, ketika Herman ingin mengakhiri pembicaraannya Sam langsung menghentikan itu.


"Jangan di tutup dulu Pak.." Pak Herman tersenyum jahat Ia yakin pasti Sam akan mengutarakan niat pinjaman itu


"Ada apa Sam, Kamu bilang, Saya salah tempat bicara dengan Kamu" Sam kini tanpa ragu langsung bicara soal pinjaman uang


"Pak.. Saya ingin meminta bantuan"


"Bantuan apa Sam, bicara yang jelas Saya harus segera menghubungi Chandra"


"Saya ingin pinjam uang ke bapak 40 juta" Herman tertawa mendengar ucapan Sam


"Apa.. pinjam uang, tunggu waktu itu Kamu sangat sombong sekali, Kamu bilang Kamu tidak butuh sepeserpun uang dari Saya, dan sekarang Kamu mau pinjam" Herman pun tertawa lagi, lalu Sam mengatakan,


"Kalau soal itu memang benar, Saya tidak butuh uang Anda, tapi saat ini Saya sangat butuh untuk biaya operasi Ibu saya" Herman tersenyum jahat, inilah yang di tunggu-tunggu dari tadi, Sam meminta bantuan dan memohon padanya.


"40 juta bukanlah uang sedikit Sam, ada harga di balik itu semua" Sam mengerutkan keningnya Ia tak mengerti dengan maksud perkataan Herman


"Apa maksud anda..?"


"Saya bisa saja meminjamkan uang itu untuk biaya operasi Ibu Kamu, tapi Saya ingin Kamu cabut tuntutan kasus Tini"


"Sudah Saya bilang bukan Saya yang menuntut Tini Pak.."


"Ya.. itu terserah Kamu Sam kalau Kamu mau Saya akan transfer sekarang juga, kalau tidak mau juga gak masalah, Saya akan cari cara sendiri untuk membebaskan Anak Saya"


permintaan Herman sangatlah membuat Sam bimbang, saat ini Ibunya harus di operasi, sedangkan permintaan itu sangatlah tidak mungkin Ia lakukan.


Sam masih terdiam belum menjawab apa-apa, lalu Herman memberikan sedikit waktu untuk Sam berpikir mempertimbangkan permintaannya itu.


"Baik... kalau Kamu tidak bisa menjawab sekarang, Saya akan beri waktu hingga malam ini, Saya tunggu keputusan Kamu Sam" Herman pun langsung memutuskan panggilan tersebut.


Sam benar-benar bimbang, apa yang harus Ia lakukan saat ini, meminjam ke bank pun tidak mungkin bisa di ACC sebanyak itu, meminjam ke perusahaan tempat Ia bekerja pun pasti tidak akan di ACC karena Sam masih karyawan baru.


Sam pun menangis tanpa suara, sambil mengusap-usap wajahnya, tiba-tiba kondisi Bu Fatma kembali drop, lampu alarm menyala, suster pun dengan cepat masuk ke ruang ICU untuk melihat keadaan pasien.


Sam begitu panik apa yang terjadi hingga alarm itu menyala


"Sus... Ibu Saya kenapa?" tanya Sam dengan rasa khawatir


"Kondisi pasien drop Mas, Kita harus segera memeriksa pasien" Sam pun terenyuh hingga Ia duduk perlahan di kursi tunggu pasien


"Ya Allah apa yang harus Aku lakukan sekarang, apakah Aku terima tawaran itu"


Sebelum Sam menerima tawaran Herman, Sam berusaha meminta tolong pada Chandra, Dia pun menghubungi Chandra, namun Chandara yang sedang meeting dengan klien tak bisa mengangkat panggilan tersebut.


Dokter pun keluar dari ruang ICU dan memberitahu jika operasi harus segera di lakukan


"Pak Sam... operasi harus segera Kita lakukan, kondisi Bu Fatma semakin tidak baik" Sam pun mulai panik, Dia masih bimbang dengan keputusan yang harus Dia ambil.


Sesampainya di Rumah Sakit, Kasih langsung menunggu Lia, Dia menggenggam tangan Lia sambil berkata,


"Mbak.. cepat sadar ya, Kasian Mas Makmun Dia terus bersedih melihat kondisi Mbak Lia" Lia yang sedang berbaring tak sadarkan diri, tiba-tiba meneteskan air mata, spontan Kasih berteriak memanggil suster

__ADS_1


"Suster..." suster pun sigap datang menghampiri Kasih


"Ada apa Bu.. ?"


"Sus tadi.. Saya lihat Ibu Lia menangis Sus, apa ini artinya Bu Lia sebentar lagi akan sadar" suster langsung mengecek kondisi Lia


"Kondisinya bangus Bu.. tapi kalau untuk sadar, Kami belum bisa memastikan cepat atau lambat, karena jika pasien mengalami koma, saraf dan ototnya mati, hanya otak yang bekerja, mungkin Ibu Lia tadi mendengar sesuatu yang menyentuh hatinya, itu juga bisa jadi pemicu untuk kesembuhan Ibu Lia" Suster menjelaskan begitu detail mengenai reaksi Lia tadi.


Setelah selesai menjelaskan Suster pun kembali melanjutkan pekerjaannya


"Kalau begitu Saya permisi Mbak.." Kasih pun kembali menjadi sedih, tapi reaksi tadi membuat Kasih yakin, kalau Lia bisa sembuh dan segera sadar.


Tini masih mendekam di penjara, selama dua malam ini, Ia tak bisa tidur nyenyak, Dia pun sering di ganggu oleh tahanan lain, tapi Tini selalu bisa melawan siapa saja yang mengganggunya.


Makan siang pun tiba, para tahanan di berikan nasi bungkus dan satu minuman dalam plastik, semua terbagi rata mendapatkan satu bungkus nasi, namun jatah Tini di ambil oleh salah satu tahanan yang memang tida suka dengan gaya Tini yang sok menguasai di dalam sel.


"Mana makanan Gue" tanya Tini dengan suara lantang


"gak tahu, semua dapat kok gak mungkin Lo gak dapat" jawab salah seorang tahanan


Tahanan yang mengambil jatah nasi Tini hanya tersenyum jahat di wajahnya


"Rasain Lo.. gak makan siang ini, suruh siapa Lo semalam, mengambil selimut Gue" ucap salah satu tahanan dalam hatinya


Tini pun geram Dia mengamuk dan mengancam seluruh tahanan di dalam sel


"Heh.. cari dimana jatah nasi Gue, kalau Gue liat ada yang sembunyikan jatah Gue, Dia akan terima akibatnya" semua tahanan terdiam, namun ada saja yang berbisik berkata,


"Dimana ya, siapa ya yang ambil, Perempuan ini bahaya sekali, semalam saja, Rara di hajar habis-habisan karena gak mau kasih selimut untuk Dia"


"Eh.. Lo bicara apa, Lo tahu siapa yang ambil jatah makan gue"


"Gak.. gak tahu Tin... sumpah"


"Terus kenapa lo bisik-bisik"


"Kita cuma menyangka saja kalau Rara yang ambil jatah nasi Lo, soalnya semalam kan Lo ambil paksa selimut Dia" Tini pun langsung melirik Rara dengan tajam.


"Apa Lo yang ambil jatah nasi Gue"


"Apa-apaan Lo nuduh gue"


"Gak usah bohong Lo"


Lalu di tariknya Rara dengan kasar oleh Tini, sehingga nasi bungkus yang Rara simpan di dalam perutnya pun terjatuh, Tini semakin marah saat melihat jatah nasi bungkus jatuh dari perutnya, hingga Tini mengeluarkan kata-kata kasar


"Bangsat Lo... tadi Lo bilang gak ambil makanan Gue, ini apa buktinya" Rara pun di dorong dengan kencang hingga ia terjatuh di lantai.


Rara semakin membenci Tini hingga akhirnya saat Tini tengah ingin mengambil jatah nasinya Rara langsung menginjak makanan itu di hadapan semua tahanan satu sel.


Lalu rambut Tini di tariknya dengan keras sehingga wajah Tini di hadapkan di depan wajah Rara


"Heh.. Lo semalam mengambil selimut Gue tanpa izin, dan saat ini Gue pun akan mengambil jatah nasi Lo tanpa izin, silahkan Lo ambil nih.." kepala Tini langsung di turunkan ke arah makanan yang sedang di injak-injak Rara

__ADS_1


Tini semakin murka, lalu Ia menampar wajah Rara dengan keras hingga terjadi baku hantam antara Rara dan Tini, semua para tahanan pun beramai-ramai mendukung perkelahian itu.


"Ayo.. Rara hajar, Ayo Tini lawan"


kebisingan itu pun mengganggu kenyamanan Polisi, polisi pun datang dan melerai pertikaian itu


"Hey.. Kalian ada apa ini" semua jadi terdiam, Rara juga Tini pun berhenti berkelahi


"Gak ada apa-apa kok Bu" jawab Rara dengan sigap


Ketika Tini ingin membela diri, tiba-tiba salah seorang Polisi memberitahu jika Tini ada yang menjenguk


"Ibu Tini ada yang membesuk, silahkan temui" lalu polisi yang tadi bertanya insiden pertikaian mengeluarkan tini untuk menemui keluarga yang membesuk nya.


Tini melihat Rara dengan sangat tajam


"Heh.. urusan Kita belum selesai" Tini langsung berjalan dengan cepat.


Ketika tahu yang membesuk dirinya adalah kedua Orangtuanya, Tini pun tersenyum senang.


"Mamah.. Papah.." Tini langsung memeluk sang Ibu, Dia menangis di pelukan Bu Heni, Bu Heni pun ikut menangis melihat keadaan Putrinya.


"Tini... Kamu bagaimana kabarnya Nak.." Tini mengatakan jika kehidupan dalam sel sangatlah tidak enak.


"Kamu sudah makan ini Mamah bawakan makanan kesukaan Kamu, Kamu makan sebentar ya Nak" Tini tertawa bahagia, Bu Heni seperti tahu saja, jika dirinya belum makan, lalu Tini langsung memakan makanan tersebut dengan lahap.


Melihat Tini makan dengan rakus membuat hati Bu Heni terenyuh sedih dengan nasib Tini


"Ya Allah Nak.. pelan-pelan"


"Aku lapar sekali Mah, di dalam penjara jatah nasi Aku di ambil orang, tapi Aku gak akan biarkan, orang itu akan Aku balas" Tini bicara sambil mengunyah makanannya


Pak Herman hanya memperhatikan kelakuan Anaknya itu, setelah selesai makan Pak Herman pun menceritakan rencananya yang sudah berhasil itu, dan Herman berkata hanya menunggu keputusan Sam sampai malam ini


"Papah serius.. itu artinya Aku akan bebas Pah.. Mah.." Bu Heni yang menyimak ucapan Suaminya itu kini ikut berkomentar


"Pah.. Papah melakukan itu sama Sam, ya Allah Pah.. kasian Sam Pah, Ibunya akan operasi, mana Dia belum sembuh dan wajahnya babak belur seperti itu, Papah ko jadi jahat seperti ini sih.." Bu Heni merasa tak terima dengan rencana jahat Herman


"Mah.. hanya ini jalan satu-satunya untuk menyelamatkan Anak Kita, Papah yakin Sam pasti akan lebih mementingkan nyawa Ibunya dari pada perempuan murahan itu" lalu Tini menyahuti ucapan Pak Herman


"Iya Mah.. lagi pula dengan rencana Papah ini, Aku bisa kembali lagi sama Sam" Bu Heni semakin bingung dengan ucapan Tini


"Tini.. maksud Kamu apa Mamah gak mengerti..?"


Tini pun menjelaskan jika Papahnya membantu biaya operasi Ibunya Sam..namun harus memenuhi 2 syarat yang pertama syaratnya tuntutan kasus Tini di cabut, yang kedua rujuk kembali dengan Tini.


Bu Heni hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Anak dan Suaminya yang sudah gila ini.


"Tini untuk apa sih Kamu masih menginginkan Sam lagi, jikalau Kamu kembali lagi dengan Sam, kehidupan Kamu tetap akan seperti dulu" namun Tini kekeh dengan keputusannya, Dia mengatakan,


"Aku gak akan menyesal Mah, justru hidup Aku gak akan pernah tenang jika Asri dan Sam sampai bisa menikah, Aku gak terima hal itu Mah.."


Lalu Pak Herman pun memberikan penjelasan kepada Istrinya mengapa Ia menyetujui syarat yang Tini minta, karena Tini pernah mengatakan jika tidak rujuk dengan Sam lebih baik Tini mati saja di dalam penjara, Bu Heni pun terkejut mendengar hal itu.

__ADS_1


"Mamah tahu sendiri kan Tini itu nekat orangnya, Dia saja bisa melukai Asri dengan rencananya yang keji itu, apalagi kalau hanya sekedar bunuh diri, Mamah mengerti kan... dan Mamah sayang bukan dengan Tini" ucap Pak Herman dengan wajah memelas


Walau dalam hatinya tidak menyetujui hal ini, tapi demi kebahagiaan Putrinya Bu Heni hanya menuruti semua rencana itu.


__ADS_2