
Ketika sampai rumah, Radit segera ke kamar Aleena. Dia tahu anaknya ini tengah berpura-pura tidur. Lampu tidur memang sudah dinyalakan. Namun, mata Aleena belum terpejam. Sang ayah pun duduk di samping ranjang putrinya. Mengusap lembut rambut putri pertamanya.
"Baba tahu kamu belum tidur," ucap Radit.
Aleena sudah menyangka akan terjadi seperti ini. Ayahnya adalah manusia sangat peka. Sang putri pun mulai membuka mata, menatap wajah ayahnya yang sudah tersenyum ke arahnya dengan begitu hangat.
"Apa yang sudah terjadi dengan kamu, Kakak Na?" tanya sang ayah. Tatapan Radit tidak mengintimidasi sama sekali. Malah sebaliknya, dia malah dibuat ingin bercerita banyak hal kepada ayahnya.
Anak perempuan berusia sepuluh tahun itupun merubah posisi. Tak segan dia memeluk tubuh Radit dengan begitu erat.
"Kakak Na takut, Ba," ujarnya.
Usapan lembut di rambut membuat Aleena merasa nyaman dan terlindungi. Semuanya Aleena ceritakan tanpa pengecualian. Termasuk anak yang menolongnya.
"Dia rela dipukuli agar Kakak Na terbebas dari anak-anak nakal itu," paparnya. "Wajahnya penuh luka, Kakak Na merasa bersalah."
Sudah Radit duga, terlihat anak Radit itupun memang ketakutan dan ketika ada Rangga dia merasa dilindungi.
"Kenapa kamu gak hubungi Baba?" tanya Radit. Aleena hanya menggeleng kecil. Radit pun sudah tahu alasannya apa.
__ADS_1
"Boleh Baba minta satu hal kepada kamu?" tanya Radit ketika melihat putrinya terus terdiam. Aleena hanya mengangguk.
"Jikalau ada apa-apa, hubungi Baba sebelum hubungi Om dan Uncle." Sebuah permintaan yang tulus dari seorang ayah kepada anaknya. Aleena pun menyetujuinya.
"Baba," panggil Aleena. Radit yang hendak pergi pun menghentikan langkahnya. Menoleh ke arah Aleena dengan mimik penuh tanya.
"Kakak Na ingin mengucapakan terima kasih kepada Rangga," terangnya, "Apa Baba bisa bantu Kakak Na untuk bertemu dengan Rangga?" Sesungguhnya Aleena tidak tahu di mana Rangga tinggal. Dia pernah bertemu, itupun dia lupa nama panti asuhannya.
"Tentu saja, Nak," jawab Radit. Lengkungan senyum pun terukir di wajah cantik Aleena.
.
"Kelak, tumbuhlah seperti Kak Rangga juga Mas Gavin ya, Nak," gumamnya.
Walaupun hanya sekadar gumaman mampu didengar oleh Aska. Dia pun tersenyum dan mengecup perut Jingga dengan begitu mesranya.
"Berkumpul lah dengan orang-orang baik, niscaya kamu akan tertular dengan kebaikan-kebaikan orang itu," lanjut Aska lagi.
Lengkungan senyum terukir di wajah Jingga. Dia pun berharapnya begitu. Keempat anaknya akan lahir dengan selamat dan menjadi anak yang baik dan berbudi pekerti yang luhur.
__ADS_1
.
Keesokan paginya, ruang makan berubah bising karena empat keponakan Aska sudah datang. Dahi Jingga dan Aska mengkerut karena mereka tidak diberitahu jikalau hari ini akan kedatangan empat biang kerok di rumah besar. Bukan tanpa alasan, jikalau mereka datang sudah pasti Aska akan dipalak habis-habisan oleh mereka berempat.
Gavin melihat Jingga langsung berlari dan segera memeluk perut Jingga dengan cukup erat. Kemudian, menciumnya juga mendoakannya.
"Semoga gantengnya kayak Mas." Doa yang selalu dia katakan setiap mencium perut buncit Jingga.
"Keponakan Anteu baik sekali," ucap Jingga dengan begitu lembut.
"Modus itu mah," sahut Aska.
Gavin menatap sang paman dengan tatapan tajam. Kedua tangannya sudah berkacak pinggang.
"Suudzon mulu," ujarnya.
...****************...
Komen dong ...
__ADS_1