
Chandra melepaskan baju yang terkena muntahan dan ditaruhnya di kursi belakang, namun saat memakai baju ganti, sepertinya Chandra kesusahan dalam mengancing bajunya
"Aduh.. Susan banget sih"
Asri pun langsung membantunya
"Sini Aku bantu, pantas susah.. ini kan masih baru"
"Ya, kemarin Aku beli"
Chandra memandangi wajah Asri yang begitu dekat dengannya, dalam hatinya berkata,
"Jika Aku berjodoh dengan Kamu, Aku janji tidak akan pernah menyia-nyiakan kamu seperti Sam yang saat ini sudah menyia-nyiakan Kamu"
Setelah selesai mengancing semua baju Chandra, Asri pun kembali duduk di kursinya, namun tiba-tiba tangan Chandra menggenggam erat tangan Asri
"Kenapa Chan?"
Chandra masih menatap Asri sepertinya ada yang ingin Ia katakan, dengan berani Chandra pun mengutarakan isi hatinya
"Asri.. kalau Aku ingin menikahi Kamu, apa Kamu mau menerima Aku?"
Asri sangat terkejut dengan pernyataan Chandra
"Apa.. Kamu sudah gak waras Chan?"
"Aku serius Asri, Aku ingin bertanggung jawab atas anak Kamu"
Sebenarnya di hati Asri masih menyimpan rasa cinta untuk Chandra namun, saat ini bukan masalah cinta yang Ia pikirkan melainkan bagaimana reaksi dan perasaan Rahma jika Chandra berpoligami
"Chan.. Aku rasa itu tidak mungkin"
"Kenapa.. Aku mampu, dan Aku ingin menikahi Kamu karena ingin membantu dan menolong bukankah itu tidak bertentangan jika berpoligami"
"Aku sangat hargai itu Chan dan mengerti maksud Kamu, tapi tidak untuk Rahma, Kamu yakin Rahma akan menerima semua ini, Aku rasa gak Chan"
"Aku akan beri pengertian pada Rahma Asri"
"Sudahlah Chan.. tidak perlu, tidak perlu Kamu kasihan kepadaku, lebih baik sekarang antar kan Aku pulang"
Tak dapat berdebat lagi dengan Asri, Chandra segera mengantarkan Asri pulang.
Sehabis dari rumah kediaman Herman Andi kini menuju rumah Makmun untuk memberikan undangan kepada Bu Alya dan keluarganya, Andi mengetuk pintu dan memberi salam, lalu di bukalah oleh Bu Alya
"Andi.. Kamu kesini?"
"Iya Tante, Kasih ada di dalam"
"Ada.. sebentar ya Tante panggilkan"
"Tante.. sebentar, ini Aku ingin memberikan ini"
Bu Alya menerima dana membacanya
"Akhirnya.. Kalian sudah tetapkan tanggal pernikahan, selamat ya Andi, kalau begitu Tante panggilkan Kasih dahulu"
sambil menunggu Kasih, Andi duduk di kursi teras depan, tak lama Kasih pun datang
"Andi.. ada apa Kamu kesini?"
"Hey sayang, lihat ini Kamu pasti suka"
Kasih menerima sebuah surat lalu Ia membacanya, Kasih pun tersenyum lalu mengatakan,
"Jadi lusa Kita menikah"
"Iya.. Kamu bahagia kan?"
Kasih sangat bahagia, namun rasanya masih mengganjal kejadian tempo hari yang telah Ia alami, dan hatinya belum tenang jika belum berkata jujur pada calon suaminya itu.
"Aku sangat bahagia, sangat bahagia, terimakasih Andi"
Kasih langsung memeluk Andi dengan erat, dan matanya tak dapat menahan air mata, hingga air mata itupun menetes di pipinya
"Kamu menangis? jangan menangis dong, ini kan impian Kita, bisa kembali berumah tangga"
"Iya Andi.. Aku menangis bahagia"
"Oh ya.. ini jangan lupa untuk Makmun, tadi Aku sudah ke Retro tapi Makmun belum datang, jadi ini Aku titipkan ke Kamu ya"
"Iya.. Papah Kamu bagaimana apa Dia mau datang di hari pernikahan Kita?"
"Aku sudah berusaha membujuk, dan merendah, tapi Papah kekeh dengan keputusannya, Dia tetap tidak mau merestui Kita Sayang"
__ADS_1
Kasih terdiam merasa kecewa, di hari yang bahagia nanti, ada hati yang terluka lagi, seperti dahulu.
Bu Alya memperhatikan Mereka dari kejauhan, Bu Alya pun ikut merasa bersedih, karena Makmun dengan tidak sengaja telah merusak Kasih yang kini milik Andi.
Fahmi datang ke kantor Papahnya, lalu Ia mengunjungi ruangan Sam
"Selamat Siang Pak Sam"
Sam yang hendak bangun dan pergi dari ruangan pun terkejut melihat Fahmi mendatanginya
"Ada apa Kamu kesini?"
"Lo kemarin berani mengusir Gue dari perusahaan orang tua Gue, hebat banget ya, Lo itu siapa sih.. Lo disini cuma Manager Umum, bukan Direktur apalagi ajudannya bokap Gue"
"Saya memang bukan siapa-siapa disini, tapi Saya punya tanggung jawab memberikan kenyamanan untuk semua karyawan yang ada di kantor ini"
"Gue sakit hati dengan apa yang Lo lakuin kemarin, bahkan Lo rebut tempat ini pun, Gue gak pernah terima, Gue akan buat perhitungan dengan semua ini"
Sam merasa di ancam oleh seorang yang levelnya masih di bawahnya, Sam pun mendekati Fahmi dan berkata,
"Silahkan Lo buat perhitungan itu, Gue gak takut, permisi Gue lapar mau makan, jangan sampai Lo yang Gue makan"
Sam berjalan melewati Fahmi dengan gagahnya
"Dasar penjilat, Istri Lo sudah ada di genggaman Gue, baru tahu ternyata Sam tidak mampu memuaskan Istrinya"
Fahmi pun tertawa seakan meledek Sam jika Sam lemah dalam bercinta, yang Fahmi tak tahu sebenarnya kalau hubungan Rumah tangga Tini dan Sam sudah tidak ada lagi keharmonisan.
Sam yang hendak makan jadi teringat kata-kata Fahmi
"Dia itu sebenarnya mau apa sih, sakit hati dan ingin beri perhitungan kepada Aku"
ucap Sam dalam hatinya, Ia pun kini jadi tak selera makan, sebab hari ini rasanya isi kepalanya begitu banyak masalah apalagi jika mengingat hal semalam, yang sama sekali Ia tak inginkan.
Bu Anita sudah sampai di cafe, dan Ia menunggu kedatangan Dokter Farhan. Tak lama Dokter Farhan pun datang lalu menghampiri meja Bu Anita, sungguh kaget ternyata Dokter yang mencarinya adalah Dokter yang waktu itu Ia jumpai di rumah sakit saat mengantar Asri cek kesehatan kaki.
"Ini dengan Ibu Anita?
Bu Anita menatap wajah Farhan dengan seksama lalu Ia menjawab,
"Iya Saya Anita"
Bu Anita berdiri lalu menyodorkan tangan perkenalan
Merekapun duduk dan Bu Anita langsung menanyakan gerangan apa yang sangat ingin menemuinya dari kemarin
"Begini Bu Anita, sebelumnya Saya minta maaf, kalau Saya banyak tanya, Saya hanya memastikan apakah Bu Anita ini adalah orang yang Papah Saya cari"
Semakin besar rasa penasaran Bu Anita ketika Dokter Farhan mengatakan hal itu
"Papah.. memang siapa nama Papah Kamu?"
Kini Bu Anita yang malah balik bertanya
"Sebelum Saya menjawab, apakah Ibu punya seorang putri"
"Ya.. Saya punya satu Putri?"
"Dan apakah Ibu pernah menikah lalu bercerai"
Bu Anita ragu ingin mengatakan yang sebenarnya karena di zaman sekarang ini kejahatan yang tak terduga banyak sekali
"Bu.. Saya mohon Papah Saya ingin sekali mencari Putrinya yang sudah lama sekali terpisah"
"Iya Saya akan bicara jujur, tapi siapa Nama Papah Kamu yang ingin mencari Saya"
"Saya sudah mencari semua yang bernama Anita di Jakarta ini, tapi semuanya nihil, tidak ada yang cocok dengan Anita yang Saya cari, nama Papah Saya adalah Ferry Tanoto"
Bagai di sambar petir ketika Bu Anita mendengar nama Fery Tanoto mantan suaminya sekaligus Papah Asri
"Tunggu.. Kamu anaknya, berarti Kamu anak dari Dian"
Dokter Farhan tersenyum, tanpa harus Ia ceritakan Bu Anita sudah bertanya hal ini
"Ibu tahu nama Mamah Saya, berarti Ibu benar orang yang Saya cari"
"Jadi benar Kamu Anak Dian"
"Iya dan... "
Belum selesai Farhan berbicara Bu Anita bangkit dari duduknya
"Katakan pada Papah Kamu, sampai kapanpun Saya tidak akan memberitahu dimana Putrinya berada, itu kan yang sedang Pak fery cari, Dia ingin menemui Putrinya yang sudah Ia sia-siakan belasan tahun"
__ADS_1
Bu Anita bergegas bangun dan hendak ingin pergi, namun sebelum melangkah Farhan mengatakan sesuatu,
"Maafkan Papah Mah.."
Bu Anita terdiam ketika mendegar Farhan menyebutnya Mamah, Bu Anita menoleh dan berkata,
"Mamah.."
"Iya.. Mamah, itu artinya Anak Ibu adalah Adik Saya, dan Ibu adalah Mamah Saya, Saya mohon Mah.. biarkan Papah bertemu anaknya, Papah sedang sakit di pesan terakhirnya Dia hanya ingin bertemu dengan Putrinya yaitu Anak dari Anita Istri kedua Papah dahulu"
"Tapi.. Dian bagaimana, Saya tidak ingin hadir lagi dalam kehidupan Mereka"
"Soal Mamah Aku, Kita bisa rencanakan pertemuan antara Putri Mamah dan Papah"
Bu Anita terdiam memikirkan apakah Ia harus menerima permintaan mantan suaminya atau tidak, tak lama Dokter Farhan teringat, pernah bertemu di rumah sakit tempo hari
"Tunggu.. Mamah bukankah pernah datang di rumah sakit Harapan Bunda bersama wanita yang duduk di kursi roda itu"
"Iya.. Dia adalah Adik Kamu, namanya Asri"
"Asri.. nama yang indah, pantas saja saat Aku melihatnya waktu itu, Kami merasa akrab sekali, dan Aku juga ingat, Mamah Anita kaget saat melihat Aku, pasti karena Aku mirip dengan Papah benarkan?"
Bu Anita tersenyum tipis mendengar ucapan Farhan
"Farhan, ini tak semudah seperti permintaan Kamu, Saya masih harus memikirkan, apakah Asri harus bertemu Ayahnya atau tidak, tolong berikan Saya Waktu, Saya akan menghubungi Kamu lagi"
"Iya Mah.. Farhan bisa mengerti bagaimana perasaan Mamah saat Papah meninggalkan Mamah dahulu, Papah sudah banyak cerita dengan Farhan tentang Mamah Anita"
Bu Anita tak berbicara lagi, Dia langsung pergi tanpa pamit dengan Farhan, meninggalkan Farhan di cafe.
Tak terasa jam pulang kerja tiba, Chandra segera pulang karena sudah punya janji dengan Rahma.
Rahma baru saja pulang dari salon Dia kini terlihat cantik dan rapih
"Nah.. kalau begini Chandra pasti semakin cinta sama Kamu Nak"
"Makasih ya Mamah, kalau bukan ide Mamah, Aku gak kepikiran deh mau ke salon"
Akhirnya yang di tunggu-tunggu datang juga, suara mobil Chandra terdengar dari dalam rumah
"Mah.. Chandra sudah pulang"
"Ya sudah Kamu ke kamar sana, beri pelayanan untuk suami Kamu ya"
Rahma segera memasuki kamarnya dan duduk di atas kasur menunggu kedatangan sang suami
"Assalamualaikum"
"wa'alaikum salam, sudah pulang Chan, tumben sore begini sudah pulang?"
"Ya Mah.. kan tidak ada lembur, lagi pula Aku ada janji dengan Rahma, Aku masuk ke kamar dulu ya Mah"
Chandra pun membuka pintu kamarnya dan Ia mencium bau parfum yang hampir mirip dengan parfum milik Asri
"Wangi ini.."
"Chan.. Kamu sudah pulang"
Chandra langsung menoleh, dan Ia melihat Rahma dengan tampilan yang berbeda, Chandra tersenyum dan mengatakan jika dirinya sangatlah cantik
"Jadi Kamu suka penampilan Aku"
"Suka.. Aku mau mandi dulu ya"
Rahma menghalangi langkah Chandra
"Kenapa..?"
Rahma mendekati Chandra dan mengatakan sesuatu
"Aku gak ingin dinner, Aku hanya ingin Kita bercinta"
Sungguh permintaan Rahma di luar dugaan Chandra, situasi seperti ini bagaimana Ia mau menolaknya, lalu Chandra beralasan jika bisa di lakukan nanti malam.
"Tidak Chan.. nanti malam, Kamu pasti menolak Aku lagi, dengan alasan Kamu harus bangun pagi karena besok ke Bandung"
"Tapi kalau sekarang Aku belum mandi"
"Kan bisa sekalian mandi wajib"
Tak ada lagi alasan untuk Chandra menolak, mau tak mau, Chandra menuruti keinginan Rahma, dan akhirnya hubungan asmara penuh gairah di mulai, Rahma begitu bersemangat, namun Chandra hanya biasa-biasa saja.
Setalah selesai melakukan kewajibannya, Chandra segera mandi dan membersihkan dirinya, Rahma begitu senang dan bahagia kesekian kalinya Chandra mau melakukan hubungan itu dengan ikhlas.
__ADS_1