
Fajar, dia adalah mantan dari Jingga ketika berada di Jogja. Dia yang selalu menyakiti Jingga dan kerap kali menyiksanya. Memoroti uang hasil kerja keras Jingga pula. Sedangkan dia memiliki kekasih lain selain Jingga, istri dari Askara saat ini.
Pria itu datang lagi karena ada sebuah peluang. Di mana lapas yang dia huni terbakar dan akhirnya dia bisa membalaskan dendam pada Askara. Sialnya, dia salah sasaran. Malah Aksa yang kena imbasnya. Hingga menyebabkan dia kena tusukan benda tajam yang dibawa oleh Fajar.
"Jangan salahkan Aska jika dia bertindak kriminal." Sang ayah mertua mencoba memperingatkan.
"Anak itu tidak akan tinggal diam jika saudara kembarnya dilukai oleh orang lain." Arya pun menambahkan.
Wajah Jingga sudah terlihat pucat. Dia benar-benar ketakutan kaki ini. Dia tidak ingin menjadi janda. Dia tidak ingin suaminya menjadi narapidana.
"Dad, aku mau ketemu Bang As." Jingga sudah berkata dengan sangat lirih. Penuh permohonan.
"Tempat itu berbahaya." Gio mencoba untuk memperingatkan. "Kamu sedang hamil. Daddy tidak mau terjadi apapun dengan cucu-cucu juga menantu Daddy."
"Tapi, Bang As-"
"Dia sudah didampingi pada ahli di bidang kriminal." Santai sekali ucapan dari Giondra. Beda halnya dengan Jingga yang amat terkejut mendengarnya.
"Sudahlah," ucap Riana. "Aku sudah harus sudah biasa dihadapkan seperti ini." Wajah kakak iparnya nampak pilu sekali. "Ini bukan kali pertama Bang Aksa mengalami penusukan."
"Risiko pengusaha bertangan dingin ya seperti ini," lanjut Gio. "Lengah sedikit, kematian mengintai.
Perkataan mertuanya terdengar sangat menyeramkan di telinga. Berbeda dengan yang lainnya seakan sudah terbiasa.
"Tanpa kamu ketahui, banyak orang yang menjaga kamu. Namun, mereka tidak nampak." Gio tersenyum hangat ke arah menantunya tersebut.
.
Bogeman mentah terus dilayangkan ke wajah Fajar. Penuh amarah juga dengan kekuatan super. Manusia itu sudah tak berdaya sama sekali. Wajahnya sudah berlumuran darah segar
"Mati Kau!"
Bertepatan dengan itu, di dalam ruang operasi semua dokter bisa bernapas lega. Kondisi Aksara sudah mulai stabil. Itu berkat pertolongan dari Rangga. Darah yang anak itu donorkan sangat membantu Aksara.
"Akhirnya." Sebuah kata yang terdengar melegakan di telinga. Bagaimana tidak, jika operasi ini gagal dan menyebabkan kamatian mereka semua yang menangani Aksara akan dihukum mati. Mereka tahu siapa Aksara juga keluarganya.
Kabar baik itu sudah diterima oleh para keluarga Aksa di depan. Tangis haru menjadi sambutan atas kabar yang sangat menenangkan. Walaupun masih dilanda rasa galau, Jingga ikut senang ketika mendengar Aksa selamat dari maut.
"Uncle itu punya punya nyawa banyak kaya kucing." Kalimat Aleesa mendapat pukulan dari sang ibu.
"Apa sih, Bubu?" sergah Aleesa. "Uncle itu adalah sosok pelindung keluarga. Makanya Tuhan masih memberikan umur panjang untuknya." Anak itu mencoba untuk menjelaskan. Semua orang hanya tersenyum mendengarnya.
__ADS_1
"Makasih Kak Langga." Gavin mengucapkannya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Sama-sama." Jawaban Rangga pun teramat tulus.
"Makasih ya, Rangga. Kamu adalah anak yang baik." Ayanda sudah menghampiri Rangga yang tengah bersama Gavin. Anak itu hanya mengangguk dan mengukirkan senyum.
Riana memeluk tubuh Rangga. Dia menangis bahagia. Ratusan kata terimakasih meluncur terus-menerus dari bibirnya.
"Jangan berlebihan, Bu Aku hanya menolong Pak Aksa saja," tukas anak itu. "Orang baik seperti Pak Aksa pasti akan diberikan umur panjang karena masih banyak ribuan kebaikan yang akan Beliau berikan kepada semua orang."
Pemikiran yang luar biasa dan mampu membuat semua orang takjub. Berbeda dengan Aleena yang sedari tadi hanya terdiam membisu. Rangga pun sama sekali tak menatapnya. Seperti ada luka yang telah Aleena goreskan di hati anak itu.
"Apa yang kamu inginkan. Katakan!" Gio sudah menawarkan sesuatu kepada Rangga. Namun, dengan cepat anak itu menggeleng.
"Maaf, Pak," tolaknya lembut. "Ibu selalu mengajarkan untuk tulus membantu orang lain. Itu adalah benih yang nantinya akan aku tuai ketika waktunya tiba."
Gio tersenyum dan dia mulai mendekat ke arah Rangga. Menantu, cucu juga istrinya memberikan ruang kepada Gio untuk berbincang dengan Rangga.
"Silahkan meminta apapun yang kamu mau. Saya hanya ingin memberikan hadiah kecil untuk kamu." Wajah Gio sangat serius. Rangga pun mampu melihat jika perkataan dari kakeknya Gavin tidak main-main. Tidak bisa juga dia tolak.
"Ngomong aja, Ga," ucap Rion. "Apapun yang kamu minta pasti akan dikabulkan sama Bapak itu. Minta pesawat terbang pun pasti akan dia belikan."
Rangga menggeleng lagi. Kini, dia tujukan kepada Rion. Dia bukanlah orang yang gila akan pujian juga uang. Rangga hanya ingin menjadi baik. Walaupun terkadang kebaikannya tidak pernah dihargai.
Rangga pun terdiam. Jika, teringat akan panti barang tentu panti membutuhkan uluran tangan dermawan untuk memperbaiki bangunan rumah panti yang mulai lapuk. Juga Menyumbangkan uang mereka untuk kebutuhan anak-anak panti lainnya. Namun, jiwa Rangga bukan jiwa pengemis. Mentalnya adalah mental pekerja keras.
"Katakan saja jangan ragu." Gio terus memaksa.
Sekilas dia menatap ke arah ibu panti. Wanita paruh baya itu hanya tersnyum. Juga menggelengkan kepalanya pelan. Ada makna yang tersirat dari pergerkan kepalanya tersebut.
"Sekalipun mahal, saya akan membelikannya untuk kamu."
Bukannya bahagia Rangga malah menghembuskan napas kasar. Memilih panti atau yang lainnya.
"Tenang, saya tidak akan ingkar janji dengan apa yang telah saya janjikan." Begitulah uang Gio katakan.
Lama anak itu terdiam. Dia seperti tengah menimbang-nimbang dan pada akhirnya dia mengatakan, "aku ingin berteman dengan cucu Anda."
Dahi orang dewasa itu mengkerut mendengar permintaan Rangga. Bukankah anak itu sudah berteman dengan cucunya. Malah sangat dekat dengan Gavin.
Aleena hanya menundukkan kepala. Dia tahu maksud ucapan Rangga. Mulutnya kelu. Aleesa yang mengerti akan hal itu hanya menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Tak patut, tak patut," ejeknya.
"Kamu boleh main dengan cucu-cucu saya. Tidak ada yang melarang. Malah saya sangat senang."
Rangga hanya tersenyum tipis. Seklias dia melihat ke arah Aleena yang tengaj tertunduk.
"Iya, Kak. Mas senang main sama Kakak. Mas belasa punga kakak."
Bukan Gavin yang diinginkan Rangga melainkan Aleena. Dia ingin berteman dengan Aleena tanpa ada yang membedakan kasta. Walaupun dia tahu dia dan Aleena bagaikan langit dan bumi.
"Apakah ada di antara empat cucu Oma yang tidak ingin berteman dengan kamu." Ayanda mencoba menyelidiki. Dia memanggil dirinya Oma agar tidak terlalu formal.
Hati Aleena berdegup sangat cepat. Dia sudah tahu bahwa Rangga akan menyebut namanya. Pada nyatanya Aleena mau berteman dengan siapa saja. Hanya saja Kalfa selalu membuatnya menghindari Kalfa.
"Apa anak-anak, Om?" tanya Radit.
Tubuh Aleena semakin menegang. Tatapan dua saudaranya pun mulai tertuju pada Aleena.
"Tidak, Om. Anak-anak Om baik-baik semua."
Deg.
Apa tidak salah Aleena mendengarnya? Rangga tidak menyebut namanua.
Suara dering ponsel Gio mengalihkan suasana. Dia menjawab panggilan itu tanpa menghindari mereka semua.
"Sudah mati?"
"Suruh Remon urus pemakamannya.
Mata Jingga melebar. Dadanya berdegup hebat.
"Apa Bang As yang membunuh Fajar?" Hatinya sudah tak karuhan hingga derap langkah kaki terdengar dan Jingga buru-buru melihat ke arah yang tengah melangkahkan kaki ke arah mereka.
Terlihat jelas di mata Jingga bahwa ada bercak darah yang menempel di kemeja yang pria itu gunakan. Terlebih kemeja yang Aska gunakan berwarna terang.
"Bang As."
...***To Be Continue***...
Boleh minta tolong gak? Jangan ditimbun-timbun ya bacanya. Bacanya sampai akhir. Jangan discroll-scroll aja.
__ADS_1
Lesu bestie, level turun.😠Ingin rasanya aku menangis kencang.