
Waktu cepat sekali berlalu, usia kandungan Jingga sudah memasuki lima bulan. Sudah terlihat baby bump. Sedangkan usia kandungan Riana sudah menginjak sembilan bulan. Tinggal menghitung hari untuk sang bayi melihat indahnya dunia.
Sekarang ini mereka tengah berkumpul bersama. Semua keluarga sudah berkumpul sambil bercanda. Jingga sangat gemas melihat Gavin yang tidak mau meninggalkan ibunya barang sedetik pun.
"Mas, mau jada Mommy."
Itulah yang selalu dia katakan. Kalimat yang mampu membuat hati Jingga meleleh. Apalagi Gavin selalu menciumi perut Riana.
"Ri, udah kerasa cenat-cenut belum?" tanya Rion. Dia nampak khawatir sekali.
"Belum, Yah. Masih biasa aja," jawab Riana.
Ada sebuah keirian yang Jingga rasakan. Kakak iparnya itu sangatlah beruntung sekali. Beda dengan dirinya.
Jingga ingin merasakan hal yang sama seperti itu. Merasakan diperlakukan baik oleh ayahnya. Namun, itu seperti hal yang mustahil.
Pernah sekali dia menghubungi sang ayah melalui sambungan video. Kata-kata kasar yang Jingga terima.
#Flashback.
"Mau apa kamu hubungi saya? Anak durhaka kamu!"
Kalimat itulah yang keluar dari mulut dokter Eki. Hati Jingga semakin sakit mendengarnya. Namun, tak sedikit pun Jingga menitikan air mata. Biarlah dia pendam hingga dadanya amat terasa sesak.
"Ayah, aku hamil."
__ADS_1
Bagaimanapun ayahnya harus mendengar kabar gembira ini. Akan tetapi, respon sang ayah di luar dugaannya.
"Gugurkan!"
Mata Jingga melebar mendengar ucapan dari dokter Eki. Dia tidak menyangka dengan apa yang dikatakan oleh ayah kandungnya.
"Anak itu pembawa sial!"
Hati calon ibu mana yang tidak sakit hati mendengar perkataan itu. Air mata Jingga menetes begitu saja. Sekuat apapun dia menahannya ternyata dia tak mampu. Hatinya sangat sakit, tetapi tak pernah dia laporkan kepada suaminya. Sudah pasti Aska akan murka. Apalagi Aska menjadi suami yang siaga untuknya.
"Kenapa Ayah begitu jahat?" Suara Jingga sudah bergetar hebat. "Tidak ada anak pembawa sial. Mereka terlahir ke dunia ini dalam keadaan suci."
"Jangan menggurui saya! Iris kuping saya jika anak kamu membawa kebahagiaan untuk kamu."
Semenjak itulah Jingga tidak pernah menghubungi dokter Eki lagi. Dia tidak ingin sakit hati untuk kesekian kalinya. Dia kira ayahnya akan sadar, ternyata masih sama saja. Malah semakin gila.
Jingga tak masalah kalau dia yang dikatai seperti itu. Jangan calon anaknya yang tidak tahu apa-apa. Ucapan adalah doa. Jingga takut ada malaikat lewat dan mencatat apa yang dikatakan oleh ayahnya.
#off.
"Sayang," panggil Aska. Dia melihat Jingga tak henti memandang interaksi antara Riana dan juga Rion.
"Kamu rindu Ayah?" Dengan cepat Jingga menggeleng. Tidak ada gunanya dia merindukan seseorang yang selalu menyakiti hatinya.
Aska melihat ada siluet kesedihan di wajah istrinya. Dia mengusap lembut pundak Jingga membuat air muka Jingga berubah. Tangan Jingga segera melingkar di pinggang Aska.
__ADS_1
"Jangan sedih terus, kasihan anak kita." Aska tahu bagaimana hubungan Jingga dengan ayahnya. Dia juga tahu jika istrinya ingin seperti Riana.
"Jingga," panggil seseorang.
Jingga yang merasa asing dipanggil oleh suara itu mengendurkan pelukannya. Dia melihat ayah dari Riana sudah tersenyum ke arahnya.
"Kamu ingin Om peluk juga?"
Jingga terdiam, air matanya menetes begitu saja. Dia tidak menyangka pria yang terlihat judes itu memiliki hati yang luar biasa. Rion menatap ke arah Aska meminta ijin kepada suami dari Jingga tersebut. Sebuah anggukan Aska berikan dengan sebuah senyum.
Tangan Rion pun mengusap lembut perut Jingga yang sudah terlihat membukit. Desiran aneh mengalir di tubuh Jingga. Air mata semakin deras meluncur dari pelupuk matanya.
"Apapun jenis kelaminnya, bagaimanapun kondisinya, anak dalam kandungan ini adalah anugerah Tuhan." Petuah yang diberikan oleh duda karatan.
"Om yakin, kamu akan menjadi ibu yang hebat."
Jingga berhambur memeluk tubuh Rion. Air matanya tak berhenti mengucur deras. Biarkanlah ayahnya tidak peduli dengan dirinya. Ada orang lain yang masih peduli dengan dia.
"Kamu sudah banyak terluka. Kamu juga mengingatkan saya kepada anak pertama saya," tuturnya. "Saya sempat mengabaikan anak saya. Namun, setelah Tuhan menyentil saya, saya langsung tersadar. Beda dengan ayah kamu."
Riana tersenyum bahagia melihat Jingga merasa nyaman berada di pelukan sang ayah. Riana lebih beruntung dibandingkan Jingga. Adik iparnya itu bisa dibilang anak sebatang kara. Dia juga ingin merasakan kasih sayang dari seorang ayah. Orang tua yang masih ada bersamanya. Namun, sampai sekarang dia seakan tidak memiliki seorang ayah.
...****************...
Komen dong ...
__ADS_1