
Pesta ulang tahun si quartet sudah dimulai. Keluarga semuanya hadir terkecuali Aksa yang sedang berada di Singapura. Dia menghadiri acara secara virtual saja. Namun, kadonya tidak pernah ketinggalan untuk keempat keponakannya.
"Sslamat ulang tahun kuartetnya Uncle. Sehat terus, jadi anak pintar, jadi anak sholeh dan solehah,yang paling penting jadi anak yang bisa membanggakan kedua orang tua kalian. Unclw sayang kalian. Love you all."
"mamacin antel," ucap mereka secara bersamaan.
Aska terkadang merasa malu kepada sang Abang yang banyak berkorban untuknya. Harusnya dia tidak terbang ke Indonesia karena perusahaan masih membutuhkannya. Namun, dengan senang hati Sang Abang menggantikannya, membantu Aska mengelola perusahaan di sana.
Pesta pun berjalan dengan sangat meriah walaupun hanya dihadiri oleh anak-anak yatim piatu. Juga anak panti asuhan. Serta keluarga terdekat karena Aska tidak ingin berfoya-foya hanya untuk hal seperti ini.
Keempat anak itu terlihat sangat gembira. apalagi mereka dikejutkan dengan kehadiran badut Ninja Hatori. Mereka berteriak girang, berlari menuju badut tersebut. Ada dua badut ninja, yang satu berwarna biru ada juga Ninja yang berwarna merah yang tak lain adalah adiknya dari Ninja Hatori.
"yeyeye ninda talohi." Begitulah teriakan mereka berempat.
"HATORI," ralat Gavin.
"Talohi," jawab mereka berempat. Davin menghembuskan nafas kasar. Susah sekali mengajarkan keempat sepupunya mengatakan Hatori.
Badut itu pun diserbu oleh para anak-anak yang ada di sana. Kehadiran badut itu menambah suasana ceria dan membuat semuanya bahagia. Semoga ini menjadi ulang tahun yang tidak akan pernah dilupakan oleh keempat anak Azka
Keempat Anak itu tidak mau terlepas dari badut Ninja Hatori. Mereka sangat suka dengan karakter film kartun yang tak pernah bosan Gavin tonton. Kini, demam Ninja Hatori pun menular kepada keempat anak Aska dan Jingga.
Bukan hanya badut ada juga delman dan odong-odong untuk mereka naiki. Bukan hanya mereka yang punya hajat, tapi untuk semua tamu undangan yang ada di rumah besar itu. Kebahagiaan anak-anak menghadirkan sebuah senyum yang begitu lebar di bibir anggota keluarga Giondraa Aresta Wiguna.
Apalagi ketika momen di mana si kuartet menaiki delman. Mereka hanya didampingi oleh si triplet. Ada juga Gavin dan Ghea. Mereka berteriak, mereka tertawa. Aska dan Jingga yang mengikuti mereka dari belakang dengan menggunakan motor ikut merasakan kebahagiaan yang anak-anak merasakan. Kebahagiaan yang mungkin sulit untuk terulang. Kebahagiaan yang sengaja mereka ukirkan.
Tiga tahun lagi waktu yang masih Aska perlukan untuk menstabilkan perusahaan. Bisa lebih atau bisa kurang. Setiap hari Aska selalu berharap jika waktunya di Singapura bisa lebih sedikit. Dia ingin kembali ke Indonesia. Dia ingin melihat anak-anak yang bahagia seperti sekarang ini karena melihat jelas bagaimana perbedaan sikap anak-anaknya ketika di Singapura dan di Jakarta. Rumah terasa sepi ketika Aska pulang sedangkan di sini keempat anaknya selalu ekspresif. Selalu menunjukkan jati diri mereka.
__ADS_1
Aska tahu keempat anaknya hanya tidak ingin membuat kedua orang tuanya lelah tapi terkadang sikap ekspresif anak-anaknya menimbulkan kerinduan ketika rumah seperti tidak berpenghuni
Terutama wajah istrinya yang teramat berbeda beberapa hari di Jakarta. Tubuh istrinya terlihat lebih berisi juga wajahnya yang selalu ceria membuat Aska ikut bahagia. Beda halnya berada di Singapura. Berkali-kali Aska menawarkan untuk mengambil orang agar bisa membantu pekerjaan rumah, tapi sehingga tetap menolak. Dia tidak mau, dia masih bisa mengerjakannya sendiri. Padahal Aska masih mampu membayar aepuluh sampai dua puluh orang untuk membantu istrinya di rumah. Hanya saja Jingga ingin menjadi ibu dan istri yang sesungguhnya seperti orang biasa pada umumnya.
Semua permainan yang sengaja disediakann untuk para tamu juga mereka sudah si quartet coba tidak ada yang terlewat satu pun. Mereka pun tertawa. Mereka nampak ceria. Keceriaan yang tidak pernah keluarga mereka lihat sebelumnya.
Apalagi ketika mereka naik odong-odong, mereka tertawa. Apalagi Arfan yang terus berteriak kencang. Balqis Selalu tertawa ketika tubuhnya maju mundur maju mundur karena gowesan Abang odong-odong.
Melihat keempat cucu mereka bahagia seperti ini, kakek dan nenek si quartet pun ikut berbahagia. Setidaknya mereka pulang tidak sia-sia dan akan kembali dengan membawa kenangan yang mungkin tidak akan pernah terlupakan oleh mereka hingga mereka dewasa nanti.
Dua badut Ninja Hatori masih dikerumuni oleh anak-anak. Mereka bergantian meminta foto, dan yang menjadi tukan foto kali ini adalah Beeya.
"Hadduh! Dari tadi emggak beres-beres," kata Beeya.
Namun, bibirnya melengkung dengan sempurna ketika ada beberapa orang yang memberikannya uang. Walaupun hanya lembaran yang berwarna abu-abu, tapi Beeya merasa senang karena ada yang mebghargai kerjanya.
Kebahagiaan pun Beeya rasakan ketika melihat senyum yang begitu lebar para anak panti tunjukkan ketika berfoto ria bersama dua badut Ninja. Dari anak-anak itu dia merasa sangat bersyukur karena terlahir dari keluarga yang bisa dibilang kaya. Tidak seperti mereka. Walaupun mereka hidup dalam keterbatasan bahkan hidup tanpa didampingi kedua orang tua, mereka tetap tersenyum menghadapi semuanya. Mereka selalu bilang semuanya akan baik-baik saja.
Acara pun sudah selesai. Tidak ada yang tidak bahagia di sini. Delman pun bukan hanya dinaiki oleh anak-anak, para orang dewasa pun ikut bersenang-senang menaiki dalam Walau hanya berkeliling komplek.
Dua badut yang sedari tadi ramai diajak foto oleh para anak kecil pun mulai terlihat kelelahan. Mereka terduduk di lantai dengan nafas yang ngos-ngosan. Semua orang penasaran siapa sebenarnya dua badut itu. Gio tidak merasa memesan badut di acara ulang tahun si quartet. Apalagi badut Ninja Hatori. Dia tidak kepikiran akan hal itu. Sedangkan cucu laki-laki pertamanya sudah tertawa melihat dua badut yang sudah terkulai lemas di lantai.
"Memangnya itu siapa, Mas?" tanya sang Pipo.
"Memangnya Vivo tidak kenal?" dahi Gio pun mengkerut. "Coba ingat-ingat, Siapa yang tidak hadir di sini sekarang," ujar Gavin.
Anak itu seolah memberikan tebak-tebakan kepada sang kakek. Dia mengingat-ingat siapa saja yang tidak hadir di acara cucunya hari ini.
__ADS_1
"Daddy kamu kan di Singapura."
"Bukan Daddy," balasnya.
Gio pun melihat ke sekelilingnya semua keluarganya ada di sana. Dia pun teringat akan duo pria yang seumuran yang tidak ada di sana. Pantas saja suasana rumahnya ada yang kurang.
"Apa itu Engkong dan Wawa?" Anak itu tertawa serta mengangguk dengan begitu semangat.
Gio terheran-heran kenapa dua orang pria baru bayar super resek itu mau menjadi badut di acara ulang tahun keempat cucunya.
"Kok bisa?" Lagi-lagi Gavun menjawab hanya dengan tawanya.
Diamenghampiri kedua badut itu dan membuka paksa kepala badut tersebut. Benar ternyata, yang ada di balik kepala badut itu adalah Arya dan Rion. Mereka sudah bercucuran keringat karena kepanasan.
"AX lu kok nggak nyala? Lu belum bayar listrik?" oceh Rion.
"Bee, Papah mau minum air dingin ... kasih es batu yang banyak," teriaknya.
Aska dan yang lainnya pun tertawa terbahak-bahak melihat penderitaan dua pria paruh baya itu. Sungguh keponakannya sangat luar biasa mampu membuat dua makhluk itu takluk dan menurut.
"Dibayar pakai apaan tuh aki-aki dua bisa sampe nurut begitu?" Aska sangat penasaran. Gavin pun melangkahkan kaki menuju ke arah Engkong dan wawanya.
"Uncle pengen tahu?" Anak itu seakan ingin menunjukkan kehebatannya. Aska pun menggangguk dengan cepat.
Gavin merogoh saku kanan dan saku kirinya dengan kedua tangannya, dan mengeluarkan dua lembar uang dolar Singapura dengan nominal masing-masing 1000 dolar.
Mata Aska hampir keluar dari tempatnya. Dia pun berteriak, "KALAU BAYARANNYA SEGITU MAH GUA MAU!!"
__ADS_1
"The real anak Sultan." Anak itu memegang kerah bajunya dengan gaya sombong. Kedua alisnya dia gerakkan turun naik.