Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
229. Lagu Lama


__ADS_3

Begitu mulia sekali hati Aska. Jingga sangat beruntung dan juga bahagia karena memiliki suami yang luar biasa seperti Askara.


"Makasih, Ayah." Mata Jingga masih berkaca-kaca. Aska hanya tersenyum dan mengusap lembut pipi chubby sang istri.


"Tidak perlu berterima kasih," ucap Aska. "Ini adalah salah satu kewajiban seorang suami yang harus Ayah penuhi."


Senyum lebar tersungging di wajah Jingga. Tangannya pun sudah memeluk erat pinggang Ghattan Askara Wiguna.


"Bunda, menantu Bunda satu ini sangatlah baik sekali. Mau membiayai pengobatan Ayah tanpa aku pinta. Bunda pasti sangat bahagia di sana melihat aku bersanding dengan pria yang luar biasa."


Mereka berdua menjadi pusat perhatian semua orang yang berada di restoran. Mereka pun memutuskan untuk makan malam di sana terlebih dahulu sebelum kembali ke rumah sakit.


Aska terus menyunggingkan senyum ketika melihat istrinya sangat lahap menyantap makanan yang ada di sana.


"Mau makan apa lagi?" tanya Askara. Jingga pun menggeleng. Dia ingin segera ke rumah sakit, menemui ayahnya. Begitulah keinginan hati kecilnya.


Setelah selesai makan, Aska menggandeng tangan Jingga dan meninggalkan restoran tersebut. Aska mengangguk kecil ke arah orang yang sedari tadi memantau istrinya dari kejauhan. Jingga hanya terdiam ketika berada di dalam mobil. Tidak ada satu patah katapun yang keluar dari mulutnya.


"Bun," panggil Aska. Dia sudah meraih tangan sang istri hingga membuat Jingga menoleh.


"Apa yang sedang Bunda pikirkan?" Aska bagai cenayang yang tahu akan apa yang dipikirkan Jingga.


Namun, istrinya itu hanya menjawab dengan sebuah gelengan kepala. Aska pun harus mengerti akan hal itu. Mimik wajahnya tidak bisa berdusta bahwa Jingga belum siap bertemu dengan ayahnya. Masih terselip luka di hatinya. Juga ego masih memenuhi hatinya saat ini.

__ADS_1


Mobil yang Aska kendarai masuk ke area parkir rumah sakit. Dia membukakan pintu untuk istrinya dan menggandeng tangan Jingga dengan begitu erat.


"Capek gak, Bun?" Lagi-lagi Jingga menggeleng. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Jingga.


Lift sudah menuju lantai tiga di mana dokter Eki dirawat. Aska masih menggandeng tangan istrinya dan berjalan hati-hati agar istrinya tidak merasa kelelahan. Sesekali Aska melihat ke arah Jingga yang masih terdiam membisu.


"Ayah gak akan maksa Bunda untuk bertemu atau menemani Ayah Eki di sini." Jingga pun menghentikan langkahnya dan menatap ke arah sang suami tercinta. "Ayah sudah sangat bahagia ketika Bunda mau membuka hati Bunda untuk sedikit demi sedikit memaafkan kesalahan ayah kandung Bunda sendiri."


Sudah berapa kali Aska membuat Jingga tidak bisa berkata-kata hari ini. Kebaikannya bukanlah hanya di mulut saja.


"Kita ke Kakak sekarang," ucap Aska dengan senyum yang sangat menawan. "Pasti Kakak dan yang lainnya khawatir dengan keadaan kita."


Tibanya mereka di depan ruang perawatan dokter Eki, Fahri dan Fahrani menghembuskan napas lega. Sungguh beban di pundak mereka hilang begitu saja melihat Aska sudah kembali bersama Jingga.


"Aku kira bakal ada drama," timpal Fahrani. Fahri menatap tajam ke arah adiknya. Fahrani pun berdecak kesal melihat tatapan Fahri tersebut.


"Enggak yang seperti Kakak pikirkan," sanggah Fahrani. "Aku sudah mendapatkan kekasih yang sempurna, dan sudah tidak mengharapkan Pak Askara juga."


"Baguslah!" Fahri menjawab dengan begitu dingin.


"Dua F sangat mengkhawatirkan kalian," ujar Echa. Aska malah acuh dan Jingga mencoba untuk tersenyum.


Suara langkah kaki sl membuat mereka semua yang ada di sana menoleh. Dua orang pria dewasa juga seroang anak laki-laki berjalan menuju ke arah mereka.

__ADS_1


"Uncle!"


Siapa lagi jika bukan keponakan tampan dan menyebalkan yang datang. Anak itupun berlari dan segera memeluk kaki sang paman. Memamerkan senyuman manisnya.


"Ngapain ke sini?" Aska sudah mensejajarkan tubuhnya dengan Gavin.


"Lindu," jawab anak itu. Aska berdecih dengan senyum yang merekah.


Anak itu kini memeluk perut buncit sang Tante. Menciumnya empat kali sesuai dengan anak yang ada di dalam perut Jingga.


"Anteu jangan sedih." Jingga terkejut dengan apa yang diucapkan oleh keponakannya. "Mas akan selalu ada untuk Anteu." Mata anak itu tidak berdusta dan mampu membuat hati Jingga menghangat. Juga matanya berkaca-kaca.


Sikap Gavin itu membuat semua orang bangga sekaligus terharu. Anak sekecil Gavin sudah sangat peduli dengan keluarganya.


"Makasih, Mas tampan." Jingga memeluk tubuh Jingga dengan begitu eratnya. Mencium ujung kepala Gavin dengan sangat lembut. Namun, Aska menaruh curiga pada sikap keponakannya tersebut. Dia menatap tajam ke arah Gavin yang tengah dipeluk Jingga.


"Uncle, ini gak glatis, ya." Anak itu malah menarik turunkan kedua alisnya.


"Lagu lama!"


...****************...


Komen dong ...

__ADS_1


__ADS_2