
Semenjak punya empat anak Aska sudah jarang melakukan hubungan suami-istri. Pasti ada saja kendalanya. Terutama keempat anaknya yang seakan tidak mau berbagi dengan ayah mereka. Sama halnya dengan Jingga yang terkadang merindukan sentuhan lembut dari sang suami tercinta.
"Ayah, apa Ayah udah gak punya hasrat kepada Bunda?" tanya sang istri tercinta. Aska yang tengah sibuk dengan laptopnya pun menoleh. Gurat lelah sangat terlihat dengan begitu jelas.
"Bohong kalau Ayah tidak memiliki hasrat. Terkadang Ayah ingin melakukannya, tapi melihat Bunda yang kelelahan membuat Ayah tidak tega."
Jingga memeluk tubuh Aska. Dia merasa bersalah dan jujur hampir setahun ini mereka jarang bermesraan. Untung saja suaminya bukan tipe lelaki liar yang suka jajan di luar.
"Maafkan Bunda, Ayah." Aska tersenyum dan mengecup lembut kening sang istri. Inilah cobaan di awal memiliki anak. Aska banyak mendengar hal itu.
Banyak alasan yang menyertakan perselingkuhan terjadi karena sang istri sudah tidak sanggup melayani kebutuhan biologis sang suami. Sang istri kumel, dan tidak secantik ketika pacaran. Anak selalu diprioritaskan sedangkan suaminya diabaikan. Padahal tidak begitu kenyataannya.
Aska juga selalu memantau istrinya melalui cctv kamarnya dan juga kamar sang anak yang selalu tersambung ke ponselnya. Seringnya Jingga lupa makan karena sibuk mengurus keempat buah hatinya. Jangankan untuk berias, untuk mandi saja pun sungguh harus gerak cepat. Belum lagi jika keempat anaknya bangun di tengah malam. Jingga tidak akan pernah membangunkan Aska. Dia menemani si quartet seorang diri. Melihat seperti itu apakah dia harus egois?
Kejadian ini memang hanya dialami Aska saja dari semua anggota keluarganya. Wajar saja karena anak Aska tidak sedikit. Empat orang anak kembar. Para keluarganya pun tidak pernah menyalahkan Jingga. Mereka juga tahu bagaimana perjuangan Jingga mengasuh keempat anaknya seorang diri. Bukan perkara mudah dan sudah pasti sangat lelah. Itulah yang membuat mereka salut kepada sosok Jingga.
.
"Lu mending quality time deh berdua." Sebuah ide yang tercetus dari Aksara. "Anak-anak lu biar di rumah gua. Nanti gua suruh si triplets jagain mereka di rumah."
Fahri pun setuju dengan ucapan Aksara. Adik dari atasannya ini sudah seperti bunga layu dan nyaris mati.
Aksara mengeluarkan dompetnya dan memberikan sebuah kartu untuk adiknya itu. "Pakailah ini!
Abaikan anak-anak lu. Belilah apa yang ingin lu dan istri lu beli."
Aska tercengang, dia kira sang Abang sudah tidak peduli lagi dengan dirinya. Akan tetapi, dia masih tetap sama seperti yang dulu.
"Malam Minggu nanti lu gantiin gua ke Bandung. Ada acara ulang tahun pernikahan dari salah satu kolega kita. Gua udah booking hotel di sana. Lu bisa berbulan madu kedua di sana."
"Apa Riana gak marah?" Aksara hanya tersenyum.
"Katanya bosan ke Bandung, dia ingin ke Paris." Aska terkejut begitu juga dengan Fahri.
"Istri Sultan mah emang beda." Fahri pun menggelengkan kepala.
"Entar gantian lu yang jaga anak-anak gua selama gua honeymoon kelima ke Paris."
.
Kembalinya Aska ke rumah disambut hangat oleh keponakan tampannya. Sepertinya anak itu sangat merindukan Askara.
"Uncle!"
__ADS_1
Sama halnya dengan Gavin. Aska pun sangat merindukan bocah pecinta Ninja Hatori. Dia mencium gemas pipi putih Gavin.
"Mau maltabak, boleh?" Baru datang sudah ditodong seperti ini. Namun, Aska malah tertawa dan mengangguk. Sang keponakan pun terlihat bahagia.
"Anak-anak udah tidur?" Aska mendekat ke arah Jingga. Dia mengecup kening istrinya dengan begitu lembut.
"Baru aja tidur," sahut Jingga.
"Mas loh yang bantu Anteu nidulin si kuamplet."
"QUARTET, bukan kuamplet," ralat Askara. .
"Susah ngomongnya." Anak itu malah berlalu begitu saja. Membuka lemari pendingin di mana tersedia minuman kesukaannya
"Tuh bocah mau nginep di sini?" Aska menatap ke arah istrinya.
"Mbak Riana lagi di rumah Kakak. Empin ingin main sama si quartet katanya."
Pantas saja dia tidak melihat sopir Gavin di luar. Mobil anak itupun tidak ada. Selesai membersihkan tubuh, dia dikejutkan dengan kehadiran keponakannya yang lain. Si triplets sudah memasang wajah bak boneka.
"Kami ikut!"
"Ya udah." Pasrah, itulah yang dilakukan oleh Aska. Jingga hanya tertawa.
"Tunggu sebentar." Jingga masuk ke kamar dan memberikan uang sebanyak sepuluh lembar kepada Askara.
"Kebanyakan," ucapnya. Aska mengembalikan lima lembar uang kertas kepada istrinya. Namun, Jingga tolak.
Jingga tertawa terbahak-bahak ketika sang suami membawa motor matic dengan empat penumpang cilik. Gavin berada di depan.
"Belajar jadi Ayah empat orang anak, ya." Aska malah mendengkus kesal
Selama di perjalanan keempat anak itu malah berdendang gembira. Aska pun ikut tertawa. Benar saja dugaan Aska. Ketika menunggu pesanan martabak, keempat keponakannya mengelilingi aneka tukang makanan. Banyak yang mereka beli. Untung saja di tempat itu makanan yang dijajakan dari harga seribu hingga lima belas ribu. Jadi, tidak terlalu menguras kantong.
Uang lima ratus ribu hanya menyisakan kembali dua puluh ribu. Kembalian itupun Aska berikan kepada badut yang sedang mengamen. Nampak, badut itu kelelahan. Ketika dibuka penutup kepalanya ternyata pria paruh baya.
Gavin tidak langsung naik ke motor. Dia menghampiri pria paruh baya itu. Dia tersenyum dan mengeluarkan uang dari saku celana.
"Ini buat Kakek badut." Gavin langsung mengepalkan uang itu kepada sang kakek. Anak itu hanya tersenyum dan melambaikan tangan ke arah sang badut.
Tibanya di rumah, mereka berlima disambut oleh si quartet yang sedang merangkak ke sana ke mari. Di rumah itu juga sudah ada Ghea yang sedang asyik minum susu.
"Katanya anak-anak Ayah tidur. Kenapa malah main?" Balqis segera merangkak cepat ke arah sang ayah. Tangannya sudah meminta agar Aska menggendongnya.
__ADS_1
"Si manjanya Ayah." Aska mencium gemas pipi Balqis berulang hingga anak itu tergelak.
Mereka semua menikmati makanan yang Aska beli bersama-sama. Aksa, Radit, Echa dan Rion pun ikut bergabung. Rumah yang biasa sudah sepi kini terdengar sangat ramai.
Seperti biasa si triplets dan Gavin akan berebutan makanan. Terlebih telur gulung.
"Mas minta, Yaya!" Keempat keponakan Aska pasti akan berebutan akan jajanan pinggiran itu.
Baru saja hendak merebut telur gulung, si quartet sudah menggelayuti tubuh Gavin hingga anak itu berdecak kesal.
"Ental dulu, kuamplet!" seru Gavin. "Mas mau ambil ini dulu."
Namun, empat anak Aska makin menjadi. Menarik kerah baju Gavin dari arah kiri dan kanan. Tubuh Gavin pun oleng ke sana ke mari.
"Ih!" Gavin mulai kesal. Anak itu seperti memiliki magnet untuk si quartet.
"Uncle, Anteu, jangan ketawa-ketawa aja. Ini anaknya ambil." Seorang Gavin Agha Wiguna terlihat sangat kesal.
Aska dan Jingga sudah menarik keempat anak mereka. Tetap saja mereka merangkak menuju su tampan yang sedang menikmati satu tusuk telur gulung. Belum juga telur gulung ditelan, Ahlam atau Abang cireng mendekat. Dia sudah berada membelakangi Gavin dalam posisi merangkak. Tiba-tiba dia mengangkat bokongnya.
Dutt!
Si triplets dan Gavin terdiam sejenak. Kemudian, mereka berempat berlarian ke kamar mandi karena bau yang menyengat membuat telur gulung yang berada di dalam mulut tak bisa mereka telan.
"Mail!!!"
Ahlam malah bertepuk tangan seraya tertawa. Ketiga saudaranya pun ikut-ikutan bertepuk tangan.
"Huek!"
"Huek!"
"Huek!"
"Huek!"
Mereka berempat kompak mengeluarkan isi perutnya. Sungguh aroma kentut Ahlam seperti racun.
"Anteu, besok-besok si Mail jangan dikasih makan bangkhe tikus."
...***To Be Continue***...
Komen dong ....
__ADS_1