
"Bang As jahat!"
Jingga berkata dengan suara yang serak. Tangan Jingga sudah memukul dada Aska berulang kali dengan air mata yang membasahi wajahnya. Namun, Aska masih diam membiarkannya saja.
Pukulan itupun semakin lemah dan pada saat itu Aska memeluk tubuh istrinya. Tangis Jingga pun semakin pecah.
"Ayah, jahat!" Jingga masih berkata seperti itu.2q
"Iya, Bunda. Ayah emang jahat."
Aska mencoba untuk mengerti perasaan sang istri. Sudah pasti istrinya syok melihat keadaan ayah kandungnya seperti itu. Dia juga sangat tahu jikalau Jingga tidak benar-benar membenci ayahnya.
Setelah tangis istrinya reda, Aska membantu Jingga untuk duduk. Dia pun bersimpuh di depan Jingga seraya mengusap lembut air mata yang membanjiri pipi chubby istrinya.
"Maafkan Ayah, ya." Aska benar-benar tulus meminta maaf kepada Jingga. Harusnya dia berterus terang kepada istrinya sedari awal. Padahal sang Abang sudah mewanti-wanti. Namun, dia tetap tak mendengarkan.
Aska meraih tangan Jingga. Dia menatap penuh sesal ke arah istrinya yang juga tengah menatapnya.
"Ayah melakukan ini semua karena Ayah Eki adalah mertua Ayah. Masih menjadi tanggung jawab Ayah selagi Ayah mampu."
Jingga masih mendengarkan apa yang Aska jelaskan. Dia tidak menyela ucapan Aska barang sedikitpun. Namun, matanya terlihat berembun.
"Sesakit hati apapun Ayah kepada Ayah Eki, tetap saja beliau adalah mertua Ayah. Ayah kandung Bunda, kita tidak bisa memungkiri itu." Aska berucap sembari menggelengkan kepalanya pelan.
"Suatu saat nanti kita pasti akan menua. Ketika kita senja yang kita inginkan pasti diurus oleh anak-anak kita. Itulah yang Ayah lakukan kepada Ayah Eki. Mengesampingkan rasa sakit hati yang pernah Ayah rasakan. Memberikan yang terbaik selagi Ayah mampu memberikannya."
Tes.
__ADS_1
Bulir bening menetes begitu saja membasahi wajah Jingga untuk kesekian kalinya. Aska masih menatap istrinya dengan lekat.
"Kita mencoba untuk belajar memaafkan, meskipun masih sulit untuk kita lupakan," ujar Askara. "Manusia itu tidak luput dari salah dan khilaf, walaupun khilaf yang Ayah Eki lakukan adalah khilaf yang disengaja. Namun, sebagai manusia kita harus menerimanya dengan lapang dada supaya hati kita tenang dan damai."
"Jangan pernah menjadikan diri kita berdua sebagai anak durhaka," lanjutnya lagi.
Jingga berhambur memeluk tubuh Aska dengan begitu erat. Punggungnya bergetar hebat mendengar penjelasan yang sangat tulus yang keluar dari mulut suaminya. Dia sungguh tidak bisa berkata apapun.
"Ayah Eki sudah tua, Bun. Sudah waktunya Beliau hidup bahagia." Aska masih mencoba membuka hati istrinya. "Terlepas Beliau tidak mengurus Bunda dan durhaka kepada Bunda, biarlah itu semua Tuhan yang membalasnya. Tugas kita sebagai anak adalah merawatnya."
Jingga masih belum bisa berkata. Dia masih tidak menyangka bahwa suaminya akan sebaik ini. Padahal, dia tahu watak suaminya sama seperti Aksara.
Perlahan Aska mengurai pelukannya. Menatap wajah istrinya dengan dalam. Mengecup kening Jingga dengan begitu lembut dan penuh cinta. Aska tersenyum dan tangannya mengusap lembut air mata yang membasahi wajah istrinya.
"Kita mulai semuanya dengan Ayah Eki dari nol, ya." Jingga pun mengangguk.
"Anak-anak Ayah yang baik, yang Soleh dan Solehah. Kita mulai semuanya dari nol ya, Nak. Jangan ada dendam kepada Opa, ya."
Aska tersenyum bahagia ketika mendapat respon yang baik dari anak-anaknya. Mereka bergerak-gerak.
"Bunda." Jingga tersenyum, tapi dia juga meringis. Baru kali ini dia merasakan keempat anaknya bergerak bersamaan.
"Sakit?" Jingga mengangguk kecil. Bertepatan dengan itu ponsel Jingga berdering.
"Tolong jawab, Yah. Bunda ingin duduk." Aska pun menuruti apa yang dikatakan istrinya. Dahinya mengkerut ketika melihat nama Wiliam yang tertera di ponsel tersebut.
"Bu, uang saru Milyarnya mau kapan ditransfer?"
__ADS_1
"Satu milyar?" Aska menatap tajam ke arah istrinya yang juga menatapnya.
"Pak Askara-" Wiliam pun ketakutan.
"Bunda." Tatapan penuh keingintahuan Aska berikan. Sambungan telepon pun tak Aska akhiri.
"Jawab Ayah, Bunda." Ucapan Aska mulai penuh penekanan. Apalagi Jingga hanya terdiam membisu.
"Untuk membayar biaya rumah sakit Ayah." Helaan napas kasar keluar dari mulut Aska. Apalagi kepala Jingga mulai menunduk. Namun, ada terselip kebahagiaan di hatinya.
"Batalkan transferan itu," perintah yang tak bisa terbantahkan yang mampu Wiliam dengar.
"Ba-baik, Pak."
Reaksi Jingga malah terkejut sekali. Aska bersimpuh kembali di hadapan Jingga. Tangannya sudah menggenggam tangan sang istri tercinta.
"Jangan keluarkan uang milik Bunda sepeserpun untuk biaya pengobatan Ayah."
"Ta-tapi-"
"Biaya pengobatan Ayah Eki adalah tanggung jawab Ayah."
...****************...
Komen dong ...
Kalau aku sering Up jangan bosan, ya. Aku lagi tetapi menulis biar bisa konsisten lagi.
__ADS_1