
Bu Yanti menangis bersedih melihat keadaan putrinya yang terbaring tak sadarkan diri
"Ya Allah Nak.. cobaan apalagi untuk Kamu, baru saja Mamah melihat Kamu bahagia sebentar kini Kami harus menjalani operasi, cepat sadar Nak" ucap Bu Yanti dengan suara tersedu-sedu, lalu Chandra masuk dan mengusap-usap pundak Bu Yanti untuk menenangkan hati Ibu mertuanya.
"Mamah yang sabar ya, Maafkan Chandra ya Mah, Chandra gak bisa melindungi Rahma waktu saat kejadian itu"
"Mamah percaya Kamu pasti sudah berusaha untuk menyelamatkan Rahma, mungkin ini cobaan untuk Kalian dalam rumah tangga" Chandra pun terdiam mendegar ucapan Bu Yanti, Chandra merasa tak mau berbohong lagi soal vonis Dokter lalu Chandra berkata,
"Mah.. sebenarnya Rahma di vonis Dokter kalau Rahma akan sulit hamil, karena tusukan itu merobek hingga terkena rahim Rahma" begitu kagetnya Bu Yanti mendengar pernyataan dari Chandra
"Apa Chan sulit hamil" lalu Bu Yanti menangis sejadi-jadinya dengan tangisan kecil, yang menyesakan dadanya
"Mah.. sudah dong Mah, Mamah harus sabar Rahma hanya sulit hamil, bukan tak bisa hamil" tangisan Bu Yanti tak berhenti
"Mamah kasian sama Rahma, dulu setelah kejadian terbongkarnya kebohongan Rahma, Dia selalu mengidam-idamkan ingin hamil Anak Kamu Chan, dan sekarang malah Rahma susah untuk hamil, apa ini karma dari perbuatannya yang sudah membohongi Kamu" Chandra hanya terdiam, tak menjawab apa-apa.
Kemudian Chandra keluar dari ruangan Rahma, Ia berdiri sambil mengusap air matanya yang jatuh menetes, pemandangan itu dilihat oleh Sam juga Juvi
"Lo kenapa Chan" tanya Sam
"Gak.. Gue gak kenapa-kenapa" ucap Chandra meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja, padahal Dia sedang merenungi ucapan Bu Yanti tentang Rahma.
Karena Asri sudah terbangun dari tidurnya, Sam pun mendatangi ruangan Asri
"Sorry Gue harus ke tempat Asri dulu"
Lalu Juvi memberikan support untuk sahabatnya itu
"Chan.. sudah Lo jangan bersedih terus, lebih baik Lo makan deh, Lo belum makan kan?"
"Bagaimana Gue bisa makan, sedangkan orang yang begitu penting di hidup dan di hati Gue sedang dalam masa penyembuhan" Juvi tak mengerti dengan ucapan Chandra Dia pun bertanya,
"Di hidup dan hati Lo maksudnya gimana?"
"Di hidup Gue itu adalah Rahma, dan di hati Gue itu adalah Asri" Mereka pernah ada di hati Gue dan Mereka berdua saat ini adalah orang yang penting untuk Gue" Juvi hanya diam mendengar curahan hati Chandra.
kemudian Juvi menawarkan ingin dibelikan makanan atau tidak, dan Chandra hanya menjawab terserah saja, Juvi pun pergi membelikan makanan untuk Chandra juga Sam.
Sam masuk ke ruang Asri lalu Ia tersenyum melihat kekasihnya itu
"Kamu sudah bangun sayang" ucap Sam dengan suara lembut
__ADS_1
"Kamu dari mana kata Mamah tadi Kamu gak ada di luar"
"Aku tadi habis ke tempat Rahma, Dia sudah selesai operasi tapi belum siuman, Kamu tahu gak..?" Sam bertanya kepada Asri
"Gak tahu kenapa memang?" Sam menggenggam tangan
"Aku bersyukur Kamu cuma luka kecil, Aku gak bisa bayangin kalau Kamu yang terkena tusuk di perut itu, mungkin nasib Kamu akan seperti Rahma sekarang" mendegar hal itu Asri kini malah bersedih
"Sayang, tapi Aku merasa bersalah dengan Rahma, Dia sudah berkorban besar untuk menyelamatkan Aku"
"Aku tahu.. tapi Kamu jangan menyalahkan diri Kamu, ini kehendak Tuhan Asri, oh ya.. Tante Anita dimana?"
"Mamah lagi di toilet, kenapa?"
"Aku mau bicara sesuatu sama Kamu, tapi nanti ya, tunggu Mamah Kamu pulang atau gak besok-besok Aku ceritakannya"
"Pengen ngomong apa sih, kok Aku jadi penasaran"
"Yang pasti ini soal Kita" Asri kini dibuat lebih penasaran dengan ucapan Sam, lalu Bu Anita keluar dari toilet dan melihat Sam berada di dekat Asri
"Sam, Kamu disini.. Mamah pikir Kamu lihat Rahma tadi"
"Nah itu dia Tante belum tahu dokter belum kesini sih untuk periksa Asri lagi, tapi kalau Mamah pulang Kamu yakin Sam bisa jaga Asri" sambil tersenyum Sam menganggukkan kepalanya dan berkata,
"Bisa dong Tan, Aku pasti jagain Asri terus" Bu Anita tersenyum melihat kedekatan Asri dan Sam
"Sam.. Asri Kalian kenapa sih ga langsung menikah saja, Kalian ini cocok loh, terus sudah sama-sama suka, jadi Kalian tunggu apalagi" Sam dan Asri hanya saling memandang ketika mendegar perkataan Bu Anita, lalu Asri menjawab,
"Mamah sabar ya, Sam harus pulang dulu ke Rumah ibunya untuk minta ijin, juga urus hal yang lain" saat sedang asik mengobrol tiba-tiba Bu Anita menerima telepon dari rekan bisnisnya untuk segera datang ke toko organik karena ada sedikit masalah, Bu Anita berpamitan pada Asri juga Sam untuk keluar sebentar
"Mamah pergi dulu ya Nak, Sam tolong jaga Asri ya" ucap Bu Anita sambil tersenyum kemudian pergi dari ruangan.
Setelah dirasa Bu Anita sudah jauh pergi, Sam pun langsung membicarakan mengenai keguguran Tini dan pengusiran dirinya dari rumah Herman
"Sayang Aku mau ngobrol, Aku mau kasih tau Kamu sesuatu" Asri semakin penasaran dengan apa yang ingin Sam sampaikan
"Kamu mau ngomong apa sih, sepertinya penting sekali" Sam menghela nafas untuk mengatur bicaranya kemudian Sam mengatakan,
"Aku sudah di usir dari rumah Herman dan Aku memutuskan untuk pergi, yang kedua yaitu... barusan Tini keguguran" Asri kaget mendegar sesuatu yang Sam katakan terutama tentang keguguran
"Apa Sam Keguguran" Asri sepertinya ikut bersedih dengan berita itu,
__ADS_1
"Aku ikut bersedih Sam, terus kalau Kamu di usir Kamu mau tinggal di mana?" Asri bertanya dengan raut wajah melas, Sam memandangi wajah Asri, Ia pun tertawa
"Kamu itu lucu banget sih sayang, wajah Kamu itu loh, Aku tuh baik-baik saja, terus kalau soal tinggal dimana, Aku sudah ada tempat kok, Aku tinggal di apartemen tapi lumayan jauh si sayang, di Kebayoran dekat tempat bazar kemarin"
"Hah.... Kebayoran, apartemen.. Kamu beli Sam" lalu Sam menjelaskan jika Dia di beri hadiah dari Pak Ammar karena sudah menangani proyeknya dengan baik
"Ya anggaplah ini semacam bonus gitu Sayang" Asri pun meminta untuk di ajak kesana melihat apartemen yang di hadiahkan dari Pak Ammar
"Ya.. tenang nanti Aku ajak Kamu kalau sudah sembuh ya, sekarang Kamu harus sembuh dulu biar bisa cepat jalan normal dan lukanya cepat kering"
Asri tersenyum mendegar kata-kata perhatian dari kekasihnya itu, namun entah apa yang sedang Asri pikirkan, kemudian Asri tiba-tiba berhenti tersenyum dan malah merenung
"Kamu kenapa, kok berenti tersenyum, padahal Kamu manis sekali.. kalau sedang tersenyum, Aku saja betah lihatnya" Sam sedang berusaha menggoda Asri
"Aku hanya bingung, kalau di usir kamu bagaimana kerjanya, lalu Tini dan Pak Herman apa Mereka menyebar luaskan tentang hubungan Kita" Asri merasa khawatir dengan pekerjaannya, lalu Sam berusaha untuk meyakinkan Asri jika semuanya akan baik-baik saja
"Jangan sedih dong, kalau menurut Aku sih Pak Herman gak akan berani bikin berita heboh seperti itu, karena Dia sangat menjaga sekali namanya bahkan kalau melakukan kesalahan ya harus ada orang yang di umpan kan setahu Aku Pak Herman begitu orangnya, kecuali ya Tini Dia memang agak urakan menurut Aku, tapi sudahlah Kamu gak perlu takut, Aku yakin semua akan baik-baik saja" ucap penjelasan Sam kepada Asri, lalu Sam dan Asri berpelukan.
Saat ini Pak Herman sedang meeting mengenai saham, lalu Pak Herman melihat daftar nama pemilik saham yang berinvestasi di perusahaannya, Dia pun melihat nama Anita Rosadi.. dilihat dari CV dan profilnya Pak Herman merasa kenal dengan orang ini, kemudian Pak Herman menanyakan soal siapa Anita Rosadi ini
"Maaf Aldo Kamu yang pegang dokumen investor bukan?" Pak Aldo menganggukkan kepalanya lalu bertanya,
"Iya pak.. kalau boleh tahu ada apa Pak.. apakah ada masalah?" Pak Herman terdiam dan terus memandangi dokumen file milik Bu Anita
"Anita Rosadi Dia ini siapa sepertinya investor baru" kemudian Pak Aldo menjelaskan profil Anita dengan detail
"Dan Saya juga dengar Ibu Anita mempunyai Anak yang bekerja juga di perusahaan Bapak"
"Oh ya Siapa Dia..?" Pak Aldo memberitahu bahwa Anak dari Anita Rosadi adalah Asri Antasari, Pak Herman pun kaget mendengar nama Asri
"Asri Asisten Pak Sam" dan Pak Aldo menjawab Ya sambil menganggukkan kepalanya.
Langsung saja Pak herman memperlihatkan wajah bencinya itu Dia jadi mempunyai ide untuk memutus kontrak dengan Bu Anita
"Saya mau Kita putuskan kontrak dengan Anita Rosadi ini" Pak Aldo dan yang lain bingung ketika Pak Herman memberikan perintah itu
"Maaf Pak... tapi alasannya apa Pak? bukan kah Bu Anita ini memberikan investasi sesuai aturan
"Jalankan saja perintah Saya, Kalian cari saja alasan yang masuk akal, yang penting Saya tidak mau Dia jadi investor untuk perusahaan Saya, lagi pula dana yang Dia kasih hanya 20% saja"
semua terheran dengan perintah Pak Herman, tapi mau bagaimana lagi, Mereka harus taat dengan perintah Herman, jika tidak diikuti konsekuensinya adalah Mereka yang akan di pecat dari perusahaan.
__ADS_1