Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
PELUKAN RINDU


__ADS_3

Sam memandangi Asri dengan wajah yang terenyuh, Ia merasa sangat amat bersalah, dalam hatinya hanya bisa mengucapkan kata maaf berkali-kali, namun disisi lain betapa bahagianya karena doanya terkabulkan ingin bertemu Asri, bahkan Ia sempat memeluknya yang menjadikan kenangan tersendiri baginya.


"Sam, Ayo jalan.. mau sampai kapan Kamu disini memandangi Asri terus-terusan"


Sam sungguh kesal terhadap Tini yang bawel dan penuh ancaman


"Iya, Kamu sabar dong"


Mesin mobil dinyalakan kini Sam melaju dan meninggalkan Asri yang masih berlutut di tengah hujan deras.


Sementara air mata Asri terus mengalir bersamaan dengan derasnya hujan


"Asri.. tolong, Kamu harus masuk gedung"


"Apa Aku gak pantas untuk Kalian, kenapa orang yang Aku cinta selalu pergi dari Aku"


Chandra pun kini ikut berlutut mendekati Asri dan mengatakan,


"Aku gak pernah pergi dari Kamu, Aku sayang Kamu, tolong Asri Kamu jangan siksa diri Kamu seperti ini"


Tak lama Asri merasakan pusing yang luar biasa, pandangan Asri kini mulai gelap, tiba-tiba Asri pingsan di pangkuan Chandra


"Astagfirullah, Asri... bangun Asri"


Chandra menaruh payung dan menggendong Asri membawanya ke tempat teduh, Chandra langsung mengambil minyak angin di dalam mobil, kini Ia pun basah-basahan karena kehujanan, minyak angin di sodorkan ke arah hidung supaya Asri dapat menghirup dan bisa tersadar.


Tak lama Asri tersadar, membuka mata perlahan, Ia melihat sekeliling dan Chandra yang ada di sampingnya


"Chan.. Aku"


"Sudah.. Kita pulang ya, Aku akan pamit dengan Pak Ammar, Aku gak bisa lihat kondisi Kamu seperti ini, Kamu basah kuyup Asri"


"Tapi Sam"


"Cukup bicarakan soal Sam, Dia sudah pergi jauh.. meninggalkan Kamu"


Tanpa bicara lagi, Chandra memasuki gedung lalu pamit kepada Pak Ammar untuk pulang saat ini juga.


"Baik Pak Chandra, tidak apa-apa terimakasih sudah datang kesini, dan semoga Ibu Asri cepat sembuh"


"Baik, kalau begitu Saya pamit, permisi"


Chandra menuntun Asri masuk ke mobil, setelah itu Mereka pun kembali ke Jakarta.


Pak Faris sampai di pabrik tekstil, Ia sungguh kaget melihat gudang dan sekitarnya habis terbakar api,


"Ya Allah habis semua... habis, hey ini bagaimana kronologinya kenapa bisa terjadi kebakaran di gudang"


Pak Faris bertanya pada pengelola pergudangan


"Maaf Pak.. Saya juga tidak mengerti, kejadiannya sangat cepat, Kita semua sedang makan siang, selang beberapa waktu tiba-tiba banyak orang teriak kebakaran, Kami langsung kesini tapi api itu sungguh besar Pak"


Pak Faris frustasi melihat semua ini, entah berapa kerugian yang Ia terima karena kebakaran ini.


Sam kini sampai di pabrik, Ia langsung menghampiri Pak Faris, dan Sam pun terkejut melihat keadaan gudang yang habis terbakar api, tiba-tiba seorang Karyawan bagian mesin datang mengadukan jika semua mesin produksi dan mesin operasional seluruhnya hampir rusak.


"Apa... rusak, bagaimana mungkin, kemarin semua bagus"


lalu Sam menyahuti perkataan karyawan yang mengadu tadi


"Lalu tadi sebelum kebakaran apakah mesinnya baik-baik saja?"


"Semua normal Pak Sam, tapi Kami juga heran, kenapa malah sekarang semua hampir rusak"


Sam mulai mencium bau kecurigaan, tidak mungkin dalam waktu yang bersamaan masalah datang secara tidak normal


"Pak... sepertinya ini ada sabotase"


Pak Faris kaget mendengar Sam berkata seperti itu, Tini yang berada di samping Sam, merasa gugup karena takut Sam dapat menemukan dalang di balik musibah ini, karena Tini sepertinya tahu ini semua pasti adalah rencana Papahnya.


Untuk menghilangkan rasa curiga Sam, Tini berpura-pura menasehati Sam agar tidak su'udzon, namun melihat wajah Tini Sam merasa ada sesuatu yang beda


"Kamu kenapa, kok sepertinya ada sesuatu yang Kamu sembunyikan?"


"Aku..tidak ada Sam, Aku hanya menasehati Kamu saja, supaya jangan berpikiran negatif dulu, bisa saja ini memang kesalahan dari Karyawan, dan atau arus listrik yang menyebabkan kebakaran"


Tapi Sam tak mau ambil pusing dengan sikap Tini


"Pak Faris.. Kita harus selidiki ini dulu, sebaiknya bapak urus asuransi gudang ini, terutama barang-barang milik klien"


"Iya Sam Kamu benar"


Sam pun pamit, untuk pulang terlebih dahulu, beristirahat sejenak nanti setelah ashar Ia akan kembali lagi kesini, untuk membantu membereskan barang-barang yang masih bisa di selamatkan.


Tini mendapatkan pesan dari sang Ibu, jika besok Andi akan menikah


"Apa.. menikah, cepat sekali mendadak pula"

__ADS_1


"Kenapa Tini siapa yang menikah?"


"Andi dan Kasih, Mereka menikah dan besok acara pernikahannya"


"Besok, kenapa mendadak sekali"


"Kata Mamah sih, sudah dari kemarin undangannya, tapi Mamah baru kasih tahu Aku sekarang, menurut Kamu Kita datang atau tidak?"


"Ya datang lah, Dia kan sepupu Kamu?"


"Aku malas sebenarnya, terlebih Dia itu harus menikah dengan Kasih, lalu disana pasti Asri ada, dan Kamu pasti akan mencuri waktu lagi, untuk bertemu Asri"


Sam terdiam hanya melirik Tini seperti jengkel dengan ucapannya itu.


Kasih sungguh gugup karena besok adalah hari pernikahannya, pikiran itu membuatnya semakin tak tenang, dalam hati Kasih memutuskan jika sebelum pernikahan Ia akan mengatakan sejujurnya jika dirinya sudah tidak suci lagi.


Dalam perjalanan Asri kedinginan akibat kehujanan tadi, ia pun sampai menggigil


"Asri, Kamu kedinginan ya, Aku matikan AC nya ya"


Chandra memarkirkan mobilnya ke pinggir jalan, kemudian menyelimuti tubuh Asri dengan jasnya


"Kamu pakai ini ya"


Chandra memegangi kening Asri sepertinya Asri demam, badannya pun bergemetar melihat kondisi Asri yang tidak memungkinkan Chandra pun memutuskan membawa Asri ke klinik terdekat, setelah sampai klinik Chandra hendak menggendong Asri


"Aku bisa jalan Chan"


"Tidak, kondisi Kamu lemah, sudah Aku gendong saja ya"


Lagi-lagi dan lagi, Chandra lah yang selalu menolong Asri dalam keadaan genting, setelah sampai Asri di bawa ke ruangan untuk di periksa, Dokter pun mengatakan,


"kondisinya begitu lemah Pak, Bu Asri demam tinggi memangnya habis kehujanan Pak sepertinya basah kuyup"


"Ya Dok.. Tadi Kami kehujanan karena mobil Kami jauh dari tempat dimana Kami berada tapi, bagaimana dengan kandungannya baik-baik saja kan?"


Dokter Farhan saat ini sedang berada di klinik milik temannya, karena ingin pamit, Ia pun memasuki ruangan dimana Asri sedang di periksa, baru saja Dokter akan menjelaskan tentang kandungan Asri, namun Dokter Farhan memanggil


"Dokter Galih, Saya pamit sudah sore Saya harus kembali ke Bandung"


Tak senagaja Ia melihat sosok Asri wanita yang pernah Ia temui waktu itu di Rumah Sakit


"Dok.. itu pasien Dokter"


"Iya Dia mengalami demam tinggi"


Chandra yang mendengar percakapan Mereka dan menjawab,


"Namanya Asri, memangnya kenapa Dok"


"Asri.."


Dokter Farhan terkejut, Ia dapat bertemu dengan Asri Anak dari Ibu Anita yang artinya Asri adalah Adiknya


"Apa Dia anak Ibu Anita?"


Chandra menganggukkan kepalanya namun, wajah Chandra menunjukan wajah yang bingung


"Ya Allah Asri, akhirnya Saya bertemu Kamu lagi"


Chandra memperhatikan Dokter Farhan merasa tak mengerti dengan sikap si Dokter


"Dokter Farhan memangnya pasien ini siapa?"


Tanya sang Dokter yang menangani Asri


"Dia adik Saya Dok?"


Chandra terkejut mendengar pernyataan Dokter Farhan, sementara Asri tak mendengar sebab Ia tertidur


"Adik.. maaf Anda ini siapa, kenapa mengatakan jika Asri Adik Anda?"


"Saya anak dari Pak Fery dan Bu Dian, Papah Asri yang artinya, Asri adalah Adik Saya"


Chandra baru teringat jika sewaktu di Bandung Asri pernah meminta untuk di temani mencari Makam Ayahnya


"Tapi, bukankah Papah Asri sudah meninggal?"


"Belum.. itu mungkin hanya kebohongan dari Mamah Anita"


" Jadi Pak Fery masih hidup, Asri pasti senang sekali bisa bertemu keluarganya yang sangat Ia rindukan"


"Kalau boleh tahu, Kamu ini siapa Asri, pacar, atau Suaminya?"


"Saya hanya sahabatnya Dok, Asri belum menikah, nama Saya Chandra"


Chandra menjulurkan tangan tanda perkenalan, namun ada satu hal yang membuatnya penasaran yaitu kehamilan Asri

__ADS_1


"Saya Farhan, Chandara Saya ingin ikut ke rumah Asri boleh? tadi Saya sempat dengar Asri hamil, lalu mana Suaminya"


Chandra tak dapat menolak, sebab ini adalah kesempatan bagus untuk Asri bisa mengenal keluarganya. kemudian Chandra hanya menjawab pertanyaan Dokter Farhan dengan mengatakan,


"Soal kehamilan Asri, itu urusan Asri, biar Dia yang menjelaskan nanti pada Dokter Farhan"


Dokter Farhan tak ingin ambil pusing soal kehamilan, baginya kini bertemu Asri itu saj sudah berita bahagia untuk Papahnya.


Sementara Sam saat ini sedang membantu para karyawan lainnya membereskan barang-barang yang masih bisa di selamatkan


"Pak Faris, hanya tinggal ini yang tersisa?"


Pak Faris terlihat bingung Diapun berkata,


"Sam.. sepertinya Saya mengalami kebangkrutan"


"Pak Kita kan belum menghitung keseluruhannya"


"Sudah Sam, Saya sudah menghitung semuanya, kerugian yang Saya alami, sudah pastikan Saya bangkrut, Saya tidak tahu bagaimana akan menggaji karyawan bulan ini, lalu Saya harus mengganti barang produksi, dan membeli alat yang baru, uang yang Saya punya tidak akan cukup Sam"


Sam terdiam ikut prihatin atas musibah ini, Ia pun tak dapat membantu apa-apa untuk Pak Faris


"Pak, maafkan Saya, Saya tidak dapat membantu bapak, sedangkan Saya masih punya hutang, yang harus Saya bayar"


"Sudah, tidak apa-apa Sam, mungkin jalan satu-satunya adalah Saya harus menjual saham dan perusahaan Saya"


"Di jual Pak.. apa tidak ada jalan lain selain menjual perusahaan, lalu bagaimana nasib Karyawan"


"Saya juga belum tahu Sam, sebaiknya Kamu pulang, dan cepat cari pekerjaan baru untuk Diri Kamu"


Untuk saat ini Sam hanya bisa menuruti perintah Pak Faris, namun besok Ia akan tetap akan tetap datang ke kantor membantu mencari jalan solusi untuk Pak Faris.


Saat sudah berada di rumah, Fahmi menanyakan mengapa baru pulang semalam ini kepada Papahnya


"Kantor Fahmi, kantor mengalami musibah, gudang penyimpanan pabrik Papah hangus terbakar, dan mesin operasional semua rusak tak ada yang bisa di selamatkan"


Pak Faris bercerita pada Fahmi dengan suara yang bersedih, tentu saja Fahmi kaget mendegar kabar itu,


"Apa Pah.. kebakaran besar, jadi Perusahaan bagaimana Pah?"


"Papah tidak tau, mungkin akan bangkrut"


"Hah.. bangkrut, Pah lalu bagaimana hidup Kita, Kita jatuh miskin?"


Pak Faris hanya menggelengkan kepalanya, lalu Ia masuk ke kamar untuk beristirahat, namun Fahmi terus memanggilnya dan mengatakan apakah Kita jatuh miskin, selalu itu yang di tanyakan.


Fahmi merasa khawatir jika Ia hidup dalam kemiskinan, Ia takut akan hidup luntang-Lantung seperti gembel di jalanan.


Setelah itu Asri terbangun, Ia sadar dan langsung menanyakan dimana Ia berada,


"Chan.. ini dimana?"


"Kamu di klinik, tadi Kamu demam tinggi makanya Aku bawa kesini"


"Apa Mamah kabarin Aku?"


"Gak belum.."


Dokter Farhan yang menunggunya dari tadi akhirnya dapat kesempatan untuk bicara pada Asri


"Asri.. bagaimana kondisi Kamu, sudah enakan?"


"Alhamdulillah Dok, demam Aku sudah turun, Aku ingin pulang Chan?"


"Iya Asri, tapi Kamu ganti baju dulu, baju Kamu basah, pasti hawanya akan dingin, tadi Aku beli baju sebentar sambil menunggu Kamu sadar"


"Makasih ya Chan, Kamu selalu perhatian dengan Aku"


Asri pun segera mengganti bajunya, setelah itu, Dia mengajak Chandra untuk pulang segera


"Tunggu, Kamu gak ingin bicara sama Kakak Kamu"


Asri terdiam tak mengerti dengan apa yang diucapkan Chandra


"Kakak..?"


"Asri, Aku Farhan, Kakak Kamu... Anak dari Pak Fery dan Dian istri pertama Papah"


Asri terkejut tak percaya


"Papah Fery?


"Iya.. Fery Tanoto, Papah Kita.. ini, kalau Kamu tidak percaya, Aku punya foto Papah"


Tanpa ragu Farhan menunjukkan foto kebersamaannya bersama Pak Fery, Asri mengenali wajah sang Papah, Ia pun kini menangis bahagia


"Ini benar Papah, jadi Kamu Kakak Aku?"

__ADS_1


Farhan menganggukkan kepalanya, Dia pun bersedih karena akhirnya pencariannya ke Jakarta tidak sia-sia, lalu Farhan meminta untuk di peluk sebagai bentuk rasa rindunya karena kini telah bertemu sekian lamanya terpisah, tanpa ragu Asri pun memberikan pelukan hangat itu kepada Farhan, Candra ikut senang dan bahagia melihat Asri bahagia.


__ADS_2