
"Kamu mau ikut ke Bandung?"
Pertanyaan Echa membuat Jingga terkejut. Sekarang dia menatap ke arah sang suami tercinta dengan raut penuh ketakutan. Sejujurnya dia ingin healing sebentar. Dia ingin merasakan suasana sejuk kota Bandung agar kepalanya kembali fresh.
"Bunda mau liburan juga?" Aska malah balik bertanya. Namun, wanita itu hanya diam saja. Jika, dia mengatakan iya dia takut suaminya akan marah. Dia juga pesimis kalau Aska tidak akan pernah mengijinkan dan berujung dia akan sakit hati.
Tidak ada jawaban dari Jingga membuat Aska menghela napas kasar. Dia menatap intens wajah istrinya yang sepertinya menginginkan udara dan suasana yang segar.
"Boleh aja sih, tapi besok Ayah ada rapat penting. Gak mungkin Ayah membiarkan Bunda pergi sendirian." Jawaban Aska di luar ekspektasi Jingga.
"Ada Kakak, Dit," balas Echa. "Lagi pula di sana juga nanti Kakak sendirian. Babanya si triplets mau ke rumah sakit dulu. Kalau ada Jingga 'kan ada teman ngobrol dan jalan."
Jingga semakin meyakinkan suaminya ketika mendengar sang kakak ipar tengah meyakinkan Askara. Dia ingin kulineran di Kota kembang yang memiliki jajanan juga makanan yang enak-enak. Sedangkan Aska masih menimbang-nimbangnya.
"Ijinin ajalah, Dek." Sang ibu sudah membuka suara. "Ketika rapat selesai kamu bisa minta ijin dan langsung ke Bandung."
Apa yang dikatakan oleh ibunya memang benar. Dia bisa menyusul istrinya setelah urusannya di kantor selesai.
"Ibu hamil juga butuh liburan, Dek." Rion ikut mendukung kemauan Jingga.
"Ya udah." Aska pun akhirnya mengijinkan dan nampak Jingga teramat senang. Memeluk tubuh suaminya dengan begitu erat.
"Makasih, Ayah." Jingga pun tak malu mencium pipi suaminya di depan banyak orang.
Cukup lama mereka ada di luar hingga suara Gavin terdengar parau. "Anteu, Mas ngantuk."
Aska mencubit gemas pipi sang keponakan. Dia beranjak dari duduknya dan menggendong tubuh Gavin menuju kamar. Biarlah keponakannya itu tidur di tempat tidur berukuran besar sendirian. Tangan Aska pun menggenggam tangan Jingga dengan begitu erat.
"Ini ideal ya, Bun," ucap Aska. "Satu anak digendong dan satu lagi masih di dalam perut." Jingga pun tersenyum.
"Kalau udah empat bingung deh," lanjut Askara.
"Kudu di stroller semua." Askara setuju dengan ucapan dari Jingga.
Jingga menyuruh Gavin untuk cuci muka, kaki juga sikat gigi. Tak lupa mengganti pakaian sang keponakan agar terhindar dari bakteri dan kuman. Anak ini begitu baik. Tidur pun sangat mudah yang penting perut kenyang.
"Ayah yakin ngijinin Bunda ke Bandung?" Jingga menghampiri suaminya yang sedang duduk di sofa khusus untuk dirinya.
"Bunda ragu sama ijin Ayah?" Jingga menggeleng dengan cepat. Dia merangkul lengan suamianya agar Aska tak mencabut ijin ke Bandung.
"Kenapa Ayah ijinin? Perginya juga gak sendiri, sama Kak Echa dan ada si Bandit juga." Jingga pun mengangguk. Ternyata Aska sangat percaya kepada keluarganya untuk saling menjaga satu sama lain.
Sama halnya dengan Aksara yang mempercayakan dirinya untuk menjaga Gavin Agha Wiguna. Kepercayaan itu sangat mahal. Itu adalah salah satu kunci dari kekompakan keluarga mereka. Jingga salut akan hal tersebut.
Seperti biasa Aska menunggu Jingga untuk tertidur barulah dia memejamkan mata. Hembusan napas lega keluar dari mulutnya. Baru saja dia hendak terpejam, suara ponsel bergetar. Untungnya setiap malam Aska akan mengubah dering telepon ke nada getar saja. Dia tidak ingin mengganggu istrinya istirahat.
Namun, dahinya mengkerut ketika melihat nomor yang tidak dia kenal. Ingin dia tolak, tapi sepertinya dia tidak asing dengan nomor tersebut.
Aska keluar dari kamar untuk menjawab panggilan tersebut. Dia berjalan sangat hati-hati agar istrinya tidak terbangun.
"Halo!"
"Temui gua di luar."
"Siapa ini?"
Tut!
Sambungan telepon pun berakhir. Askara bingung sendiri, dia tidak buru-buru keluar sesuai perintah orang itu. Dia memilih untuk melacak nomor tersebut terlebih dahulu. Dia takut hal yang mengerikan terjadi kepadanya.
Orang yang dia andalkan adalah Fahri. Manusia yang menjadi orang kepercayaan dua anak kembar Giondra. Tanpa bisa membantah Fahri akan melaksanakan perintah dari adik atasannya tersebut.
Lima menit berselang, Fahri menyerahkan hasil lacakannya melalui pesan singkat. Aska melarang Fahri untuk menghubunginya karena hari sudah malam.
__ADS_1
"Rifal Addhitama," gumamnya.
Hembusan napas kasar keluar dari mulut Askara. Dia memijat keningnya yang teras berdenyut.
"Ngapain lagi sih ini orang," keluhnya.
Aska pun terpaksa keluar dari rumah. Dia menuju pos keamanan terlebih dahulu untuk melihat cctv area luar rumahnya. Jantung security yang bertugas sudah dag dig dug tak karuhan. Jika, sudah begini sudah pasti tengah terjadi hal yang tidak diinginkan.
Terdengar decakan kesal dari mulut Askara. Dua security yang ada di dalam pos saling pandang dengan tubuh yang bergetar.
"Buka pintu pagar."
Aska maupun Aksara adalah dua orang yang tidak banyak berinteraksi dengan pegawai di rumahnya. Maka dari itu, para karyawan yang ada di sana segan kepada mereka berdua.
"Perlu ditemani, Pak?" tanya security yang membukakan pagar.
"Pantau saja di cctv." Jawaban yang terdengar sangat dingin sekali.
Aska melangkahkan kakinya menuju mobil hitam yang terparkir tak jauh dari pagar rumahnya. Dia mengetuk kaca jendela dan pintu jendela itupun terbuka.
"Keluar kalau lu mau ngomong mah." Aska masih bersikap dingin kepada Rifal. Mantan kekasih dari sang sepupu, yakni Keysha.
Rifal pun keluar dari dalam mobil dan terlihat wajah orang itu sangat kusut bagai benang layangan.
"Gak sekalian gila aja biar makin heboh," cibir Askara yang sudah duduk di bagian depan mobil Rifal dengan tangan yang terlipat di depan dada.
"Gua pengen ketemu Keysha."
"Bosan gua!" bentak Askara.
"Please, Ka. Gua mohon?"
Rifal sudah bersimpuh di depan Askara. Namun, Aska masih bersikap diam saja. Terlihat punggung Rifal pun bergetar hebat.
Decakan kesal pun keluar dari mulut Askara. Dia menggelengkan kepala tak habis pikir dengan pria yang lebih tua darinya itu.
"Kapan sih lu sadarnya?" hardik Askara. Dia masih dengan posisi awal.
"Gua hanya ingin bahagia, Ka," timpalnya.
Askara tersenyum tipis mendengar ucapan dari kakak kandung dari Raditya Addhitama itu. Hembusan napas kasar keluar dari mulutnya.
"Andai adik dan Abang lu tahu kelakuan lu, gua sih yakin banget lu akan ditampar bolak-balik." Aska sudah tersenyum sinis ke arah Rifal yang masih bersimpuh di depannya.
Belum juga kering ucapan dari Askara suara Barito terdengar menggema di heningnya malam.
"Rifal!"
Tubuh Rifal menegang mendengar suara sang Abang. Dia tidak berani membalikkan tubuhnya. Namun, dia mampu mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekat ke arahnya.
Tubuh Rifal ditarik dengan sangat kasar oleh Rindra Addhitama hingga dia terjengkang. Tatapan tajam dan membunuh yang Rindra layangkan mampu membuat Rifal menundukkan kepalanya dengan sangat dalam.
"Mau lu apa?" Kini suara Rindra sudah melemah. Dia sudah terlalu lelah menghadapi sikap Rifal.
"Selesaikan di rumah aku aja, Bang." Ternyata ada Radit juga di sana.
Biang kerok dari ini semua adalah Askara. Ketika dia mengetahui bahwa nomor yang menghubunginya adalah nomor dari Rifal Addhitama. Dia segera menghubungi adik dan kakak dari Rifal. Sekarang, mereka berdua sudah ada di depan rumah Askara.
Rifal dibawa ke ruang kerja milik Radit yang kedap suara. Dia tidak ingin mengganggu istri dan ketiga anaknya yang tengah beristirahat. Aska pun ikut ke rumah sang kakak.
Rifal tidak berani menegakkan kepalanya. Dia sungguh tidak sanggup melihat kemurkaan sang Abang. Suasana di dalam ruangan itupun terasa sangat hening sekali.
"Sekarang mau kamu apa?"
__ADS_1
Suara sang Abang tidak tinggi, tetapi terdengar menakutkan di telinga Rifal. Ditambah Radit yang tidak membuka suara sama sekali. Keadaan ruangan kembali hening dan dingin.
"Kamu bukan anak kecil lagi yang bisa Abang atur," jelasnya. "Kamu punya kaki dan juga punya otak yang bekerja untuk mencari cara agar kamu bisa pergi."
Itu seperti sindiran untuk Rifal. Langsung menusuk ulu hatinya tanpa ampun. Mulut Rifal langsung Kelu dan terkatup dengan sangat rapat.
"Kalau kamu mau begini terus. Lebih baik ceraikan istri kamu yang sudah sangat sabar menghadapi tingkah laku kamu yang jauh berbeda dari Rifal yang Abang kenal. Sudahi kesakitannya. Biarkan dia bahagia dengan pria yang memang tulus mencintainya. Bukan hidup dengan pria yang terus menyia-nyiakannya."
Jleb!
Perkataan dari Rindra sangat menusuk. ternyata apa yang dia lakukan diketahui oleh Rindra juga adiknya. Selama ini dia sudah sangat jahat kepada wanita yang tidak salah sama sekali. Hanya permintaan ayahnya lah yang salah.
"Abang emang bejat, tapi ketika Papih menjodohkan Abang dengan mamihnya Rio, tidak pernah sekali Abang bersikap juga berkata kasar kepada dia sekalipun Abang tidak suka."
Lagi-lagi Rifal hanya diam mendengar ucapan dari sang Abang. Dia juga tidak berani menegakkan kepalanya.
"Selama ini Abang galak sama kamu karena Abang tidak ingin membuat Papih sedih di atas sana, tapi sekarang ... Abang sadar jika kamu bukan anak kecil lagi. Kamu bebas menentukan pilihan hidup kamu."
Hati Rifal sedih mendengar ucapan sang kakak. Dia pun mulai berani menegakkan kepala dan menatap ke arah Rindra. Sebuah senyuman yang memiliki banyak arti yang Rindra tunjukkan.
"Maafkan Abang yang selalu ikut campur dalam rumah tangga kamu. Sekarang, kamu bebas menentukan hidup kamu. Tugas Abang sudah selesai."
Rindra beranjak dari duduknya dan memilih untuk keluar dari ruangan sang adik. Rifal menatap nanar ke arah punggung yang semakin menjauh. Kini, malah sudah tidak terlihat karena sang Abang sudah menutup pintu.
"Sebenarnya aku dan Abang berharap kakak dan Mbak Elyna langgeng hingga akhir hayat. Ternyata itu hanya sebuah harapan yang tak bisa kami berdua paksakan." Radit berkata dengan sangat jelas. Ucapan Radit pun memiliki makna yang dalam.
"Kalau Kakak ingin menceraikan Kak Elyna, sekarang kami berdua persilahkan. Terlalu besar kesabaran yang Kak Elyna miliki. Lebih baik sekarang dia pergi dan meniti masa depan yang baru dengan imam yang mampu membimbingnya ke jalan yang benar."
Askara hanya menghela napas kasar ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Rindra juga Radit. Dia menyimpulkan betapa kecewanya kakak beradik itu atas sikap Rifal. Namun, mereka berdua juga tidak bisa memaksa. Biarlah Rifal menentukan pilihannya sendiri.
"Kalau lu masih bersikukuh menginginkan Keysha. Lebih baik lu telepon bapaknya."
Aska sudah menghubungkan panggilan video kepada Azkano. Mata Rifal pun melebar. Ternyata Aska tidak main-main dengan ucapannya.
.
Di sebuah rumah besar, tetapi hanya dihuni oleh seorang wanita yang memakai hijab. Wajah cantik dan tubuh mungil tidak membuat si penghuni rumah yang berjenis kelamin laki-laki itu jatuh hati kepadanya.
"Aku tidak menginginkan dia jatuh hati kepadaku, Ya Allah. Setidaknya, lihatlah aku sebagai istrinya."
Kalimat nan lirih yang keluar dari mulut wanita tersebut sembari mengaduk-aduk kopi untuk dia minum. Sebenarnya dia memiliki riwayat penyakit lambung. Namun, demi menunggu sang suami yang tak kunjung pulang membuatnya harus mengkonsumsi kopi agar tidak tertidur. Meskipun pada akhirnya dia harus pura-pura tidur terlebih dahulu. Setidaknya dia sudah memastikan suamianya kembali ke rumah dengan selamat.
Dia menunggu sang suami di ruang tamu bertemankan sebuah pena dan juga buku diary. Wanita itu sangat senang sekali menulis. Hanya buku itu yang menjadi teman curhatnya selain dia bercerita kepada sang maha kuasa.
Dead Diary.
Sudah hampir empat bulan aku berstatus istri orang. Hanya status yang aku dapatkan. Tidak dengan kasih sayangnya. Aku tidak mengerti bagaimana dia menganggap ku? Tapi aku selalu berbaik sangka kepadanya. Aku yakin, Allah akan membukakan pintu hatinya yang sekarang masih terkunci.
Sebagai manusia, ada kalanya aku ingin marah kepada ketentuan Allah. Namun, aku takut Allah murka kepadaku. Allah sudah menggariskan bagaimana jalan hidupku. Allah sudah menjodohkan aku dengan seorang pria yang sangat baik juga tampan. Hanya saja Allah belum memperbolehkan aku mencintainya lebih dalam lagi. Allah menyuruhku untuk terus bersabar dan berikhtiar, yakni meminta kepada Allah siang dan malam agar hati suamiku terbuka dan mau manganggapku sebagai istrinya sungguhan. Bukan hanya istri pajangan.
Hembusan napas kasar keluar dari mulut si wanita yang memakai jilbab Maryam polos berwarna gelap itu. Tak pernah sedikit pun wanita itu memperlihatkan auratnya di depan sang suami karena pada nyatanya mereka berdua tidak tidur dalam satu kamar yang sama.
Aku selalu yakin bahwa Allah telah mempersiapkan hadiah yang begitu indah untukku di hari esok dan lusa. Maka dari itu, aku tidak berhenti berdoa meminta hadiah itu. Aku juga selalu meminta kepada Allah dalam setiap sujudku, jangan pisahkan aku dan suamiku dengan cara yang dibenci oelh-Nya. Namun, pisahkan lah kami dengan cara yang indah.
Teruntuk suamiku, aku menyayangi kamu. Walaupun kamu belum bisa menyayangiku. Semoga ke depannya kamu akan menjadi imam yang baik untukku dan juga keluarga kecil kita.
Terdengar suara deru mesin mobil. Wanita itu segera membawa cangkir kopi juga buku diary ke kamarnya. Dia tidak ingin suaminya mengetahui bahwa dia telah menunggunya. Dia tidak ingin suaminya marah untuk kesekian kalinya.
Terdengar suara langkah kaki yang gontai. Wanita itu mengintip dari celah pintu yang dia buka sedikit.
"Bagaimana caraku membuat kamu bahagia, Mas? Apa aku harus ikut mencari wanita yang kamu cintai itu? Agar kamu bisa kembali menjadi pria yang ceria."
...****************...
__ADS_1
Komen dong ...