Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
263. Bantal Dan Selimut


__ADS_3

Askara sedang menerima ceramah tiga puluh menit dari ibu kandungnya. Ucapan sang ibu sudah memenuhi telinganya.


"Kalau terjadi apa-apa sama menantu Mommy. Kamu tidur di luar!" Gavin tertawa meledek kepada sang paman.


"Butuh tikar atau guling gak?" goda Gavin. Aska sangat gemas kepada anak itu hingga tangannya menarik telinga Gavin.


"Mimo ... kuping Mas jadi panjang dijewer Uncle." Anak itu mengadu kepada Ayanda dan sontak ibunya malah menjewer telinga Askara.


"Sakit, Mom. Sakit!" Askara meringis. Namun, tak membuat Ayanda dengan mudah memberi maaf kepada putra bungsunya. Giondra hanya menggelengkan kepala melihat istri dan anak bungsunya itu.


"Selalu saja," gumam Giondra.


Gavin malah tertawa melihat pamannya disiksa oleh sang nenek. Dia bertepuk tangan ketika melihat sang nenek semakin menarik telinga Askara. Ponsel Aska berdering, sang mommy pun segera menghentikan jewerannya..


"Ayah, mana buahnya? Bunda lapar."


"Astaga, ASKARA!!!" Suara sang ibu memekik gendang telinga. "Kenapa kamu buat menantu Mommy kelaparan?"


Di balik telepon tersebut Jingga menelan ludahnya. Sungguh dia tidak tahu bahwa mertuanya sudah ada di rumah. Mau memaksa untuk turun, tubuhnya terasa lemah. Apalagi bagian bawahnya yang masih perih.


Ayanda bergegas naik ke lantai atas. Sedangkan Aska dia sudah menatap ayahnya dengan tatapan penuh permohonan.


"Berurusan dengan mommy kamu bahaya," ucap Giondra.


"Dad," rengeknya bagai anak kecil.


Giondra menghela napas kasar. Dia mulai bangkit dari duduknya dan mengikuti langkah sang istri ke kamar Askara.


"Astaghfirullah!" seruan sang ibu membuat dada Aska berdegup tak karuhan.


"Ada apa, Mom?"


"Menantu kita dihisap drakula," ujar Ayanda.


"Emang hantu luar negeri itu ada?" tanya Gavin. Keempat orang dewasa itupun menoleh. Ternyata anak itu mengikuti orang dewasa tersebut.


"Cucu Mimo yang tampan dan pintar. Lebih baik berangkat sekolah, ya. Nanti Mas terlambat," ujar Ayanda dengan begitu lembut. Dia juga memberikan uang saku sebanyak dua ratus ribu.


"Makasih, Mimo." Anak itupun berlari menjauhi kamar Aska dan Jingga. Giondra tertawa melihat tingkah cucunya sedangkan Aska mendengkus kesal dengan sikap Gavin.


Tatapan tajam Ayanda berikan kepada putra bungsunya. Sungguh dia sangat kesal dengan putra bungsunya ini. Maniak sekali anaknya itu, melebihi abangnya sendiri.


"Mommy akan hubungi dokter keluarga untuk memeriksa kondisinya. Terlebih **** * Jingga. Sudah pasti ada luka di sana."


Ya Tuhan ...


Sampai sebegitunya ibunya. Aska hanya menghela napas kasar. Dia menatap ke arah sang istri yang menggelengkan kepalanya dengan pelan. Menandakan dia tidak bisa berkutik sama sekali.


"Lebih baik kamu istirahat sekarang. Mommy akan masakin makanan buat kamu," tegas sang ibu mertua.

__ADS_1


"Tapi, Mom-"


"Jangan ngebantah!" seru Ayanda kepada Jingga.


Ayanda akan menjadi singa betina yang garang jika sudah menyangkut hal seperti ini. Kini, dia menatap ke arah Askara dengan penuh kemarahan.


"Kalau sampai terjadi apa-apa sama menantu Mommy, burung kamu Mommy sunat lagi." Sontak Aska menutupi bagian bawahnya. Dia meringis ngilu mendengar apa yang dikatakan sang ibu.


.


Di kantor Aska masih tidak fokus bekerja. Pikirannya tertuju pada sang istri juga keempat anaknya yang dia sendiri tidak tahu dititipkan kepada siapa. Pintu ruangan terbuka membuat Aska tersadar. Sang Abang sudah datang dengan wajah yang memang lebih tampan darinya.


"Kenapa?" tanya Aksa seraya menyerahkan sebuah berkas.


"Emak lu marah."


"Itu emak lu juga be go!" Kucing dan tikus sedang sama-sama mengumpat.


"Mommy gak akan marah tanpa sebab yang fatal." Aksa sudah mendudukkan tubuhnya di sofa seraya membuka kancing jas yang dia kenakan.


"Ya cuma gara-gara gua make istri gua doang," jawab Aska sok merasa tak bersalah.


Aksa pun tertawa terbahak mendengar jawaban sang adik. Dia menggelengkan kepalanya dengan pelan. Mana mungkin dia percaya begitu saja kepada Askara.


"Make sih make, kalau berlebihan mah gak baik juga," goda Aksa.


"Siyal! Ternyata Abang tahu," batinnya berkata.


"Gak tahu," jawab Aska bingung. "Bini gua juga sama-sama kuat dan bergairah." Ujung-ujungnya Aska curhat kepada sang Abang.


"Istri lu gak KB?" tanya Aksa. Biasanya jika wanita KB hasratnya akan berkurang.


"Dia minum pil tiap malam." Aksa pun hanya menjawab dengan oh saja.


Aska mulai mengecek berkas yang diberikan oleh Aksa. Sedangkan sang Abang tengah sibuk dengan ponselnya. Aska teringat akan sesuatu.


"Bang, kok anak lu tahu sih kalau gua gak pernah bikin istri gua tidur dengan nyenyak ketika anak-anak gua dibawa Mommy," tanyanya kepada sang kakak.


"Mungkin tuh anak dengar obrolan mommy-nya sama Jingga." Aska sedikit terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Aksa.


"Emang Jingga sering curhat sama bini lu?" Aksara mengangguk dengan mata yang masih menatap layar ponsel.


"Itu yang ngajarin banyak gaya ketika ikeh-ikeh siapa? Ya, istri gua," lanjut Aksa.


Aska menggelengkan kepala. Dia tidak menyangka bahwa istrinya bisa seterbuka itu kepada Riana. Namun, ada segelumit bahagia juga ketika dia mengetahui bahwa istrinya dekat dengan sang ipar.


.


Dokter sudah memeriksa kondisi Jingga. Sekarang, tubuh Jingga demam. Dokter hanya menggelengkan kepala melihat apa yang ada di dada Jingga. Sungguh rakus sekali. Ditambah Jingga mengeluh poetingnya sakit.

__ADS_1


"Pantas saja, kalau ininya lecet pasti terasa panas dingin," ujar dokter. Untung saja dokter yang menangani Jingga adalah perempuan.


Jingga diminta untuk membuka kakinya dengan lebar. Dia terkejut, tapi dokter mengatakan ini hanya untuk pemeriksaan. Ingin dia menolak, tapi ibu mertuanya ada di sampingnya. Pada akhirnya, Jingga membuka kedua kakinya dengan begitu lebar.


"Ya ampun!" seru sang dokter.


"Kenapa, dok?" tanya Ayanda panik.


"Ini sih lecet parah," jawabnya. Kini, dokter pribadi keluarga itupun menatap serius ke arah Jingga.


"Sepertinya kalian baru saja melakukannya?" Pertanyaan dokter membuat Jingga menelan ludah. Dia pun mengangguk pelan.


"Berapa kali kalian melakukan dalam sehari?" tanya dokter itu lebih rinci.


"Gak tahu, Dok." Jingga sendiri lupa karena terlalu banyak.


"Delapan kali?" Jingga menggeleng. "Sepuluh?" Lagi-lagi Jingga menggeleng. "Lalu?"


"Seingat saya ... semalam kami melakukannya dari jam sembilan malam dan selesai jam tiga pagi. Itu hanya jeda sepuluh menit. Kemudian, kami melakukannya lagi. Tadi pagi pun ... sebelum berangkat kerja suami saya meminta jatah lagi."


"Ya Tuhan!" pekik Ayanda.


"Kalian benar-benar," geramnya lagi. "Itu baru semalam, kemarin malam?" Ayanda mulai menginterogasi menantunya.


"Dari jam tujuh malam sampai jam empat pagi."


"Astaghfirullah Al adzim!" Ayanda menggelengkan kepalanya tak percaya.


.


Aska menghela napas kasar, dia baru saja bertemu dengan keempat anaknya yang ternyata diungsingkan ke rumah Rindra dan Nesha. Kakak dari Radit. Mereka berempat nampak anteng dan tidak mau pulang karena Rio sangat telaten menjaga anak-anak itu. Ditambah Balqis yang dekat sekali dengan Rio.


"Mbak, kalau begitu aku pulang dulu, ya. Kalau malam ada apa-apa langsung telepon aku atau Jingga aja." Nesha tersenyum. Dia malah senang sekali karena empat anak Aska ada di sini.


"Kamu tenang saja," sahut Nesha. "Semangat bikin adik baru buat si quartet." Aska terperangah dengan apa yang dikatakan oleh Nesha. Apa maksudnya?


"Tante bilang, kalau kamu dan Jingga ingin menghabiskan waktu berdua dulu karena semenjak ada mereka waktu kalian berdua sangat sedikit." Aska hanya tersenyum kecut. Bisa saja ibunya ini.


Aska pun bergegas pulang. Seharian ini istrinya tidak bisa dihubungi. Juga cctv kamarnya seakan ada yang mematikan. Dia tahu siapa pelakunya. Baru saja masuk ke dalam rumah, tatapan sadis Ayanda layangkan untuk Aska.


"Istri Adek mana, Mom?"


Ayanda mengambil sesuatu di ruang keluarga dan menyerahkannya kepada Aska. Sontak mata Aska melebar.


"I-ini a-pa?"


"Bantal dan selimut," tegas sang ibu. "Satu Minggu ini kamu tidur di ruang keluarga. Kamar kamu Mommy gembok."


...***To Be Continue***...

__ADS_1


Komen dong ...


Komen dong ...


__ADS_2