
Ketika Sam melewati sebuah daerah yang begitu sepi, para preman itu segera menyalip mobil Sam dengan cepat, membuat Sam menginjak rem dengan mendadak.
"Apa-apaan ini.. Mereka mau apa sih..?" tanya Sam dalam hatinya
Lalu salah seorang preman menggedor kaca jendela mobil Sam
"Keluar hey.. " ucap si preman dengan suara seramnya
Sam membuka pintu mobil dan berkata,
"Kalian mau apa..?" tanya Sam dengan rasa was-was
"Cepat serahkan semua harta Lo"
"Enak saja.." Sam merasa sudah tidak beres lalu Sam mendorong si preman tersebut dengan kakinya hingga preman itu terjatuh.
Lalu Sam langsung menutup pintu mobilnya dan segera menginjak gas untuk melaju, namun tiba-tiba salah seorang preman memecahkan kaca jendela dengan sebuah linggis hingga mengenai sedikit kepala Sam.
Setelah terbuka kaca mobil itu, si preman langsung membuka pintu mobil dari dalam, Sam memegangi kepalanya, terlihat ada darah bercucuran di bagian pinggir kepala, lalu di bawalah Sam keluar oleh si preman ke tempat yang lebih sepi.
"Kalian mau apa.. tolong lepaskan Gue" Sam bicara dengan terus memegangi kepalanya yang sakit akibat terbentur linggis
"Lo ambil semua barang yang ada di mobil, jangan lupa uang yang di tas itu" ucap di preman pada temannya
Sam terheran mengapa si preman tahu jika Sam sedang membawa tas yang berisi uang
"Bang.. tolong jangan uang itu, kalau Kalian mau Gue bisa Kasih uang untuk Kalian"
"Gue gak perduli, Kita cuma butuh uang itu" ucap si preman dengan suara tegasnya
Sam pun berusaha bangun lalu mengambil tas yang sudah berada di tangan si preman, tentu saja si preman tak ingin melepaskan tas tersebut, terjadilah tarik menarik antara Sam dan si preman.
Lalu si ketua preman menyuruh semua orang untuk menghajar Sam
"Hajar Dia, jangan biarkan Dia berhasil mengambil tasnya" 5 lawan satu tentu saja Sam kalah dalam bertarung, karena Mereka main keroyokan.
Sam yang kondisi wajahnya belum stabil, bahkan tenangnya saja belum sembuh total, kini Ia harus melawan 5 preman lagi dalam waktu yang berdekatan, sudah pasti Sam semakin babak belur, Sam terus memohon agar jangan mengambil uang tersebut.
"Saya mohon jangan ambil uang itu, itu untuk biaya operasi Orang Tua Saya" namun siapa yang perduli dengan kesusahan yang sedang Sam alami
"Gue gak perduli dengan keadaan Lo, yang pasti Gue cuma butuh ini" ketua preman pun tertawa senang, setelah rencananya berhasil Mereka semua pergi meninggalkan Sam dalam keadaan lemah tak berdaya.
Sam menangis layaknya anak kecil yang telah kehilangan sebuah mainan
"Ya Allah Ibu.. uangnya hilang Bu.. aku gak bisa biayakan operasi Ibu" ucap Sam yang sedang meratapi musibah ini
"Ya Allah kenapa ini semua terjadi, kenapa harus Aku" Sam merasa melemah, Ia bersedih sungguh terenyuh memikirkan bagaimana nanti kesehatan Ibunya.
Preman pun datang pada Dery dengan hati yang senang dan gembira
"Bos... ini Kita berhasil merampok uang ini, mana Bayaran Kita" pinta si preman sambil melemparkan tas tersebut.
Dery pun memberikan segepok uang yang sudah di janjikan jika pekerjaannya berhasil
__ADS_1
"Ini uang Kalian, setelah ini jangan muncul lagi di kota ini, Kalian semua harus menjauh dari korban, Gue gak mau dengar kalau salah satu dari kalian tertangkap, kalau sampai terjadi, Lo jangan bawa-bawa nama Gue atau ingat.. keluarga Lo akan jadi korbannya" ucap Dery sang mata-mata mengancam dengan tegas.
Setelah itu para preman pergi, waktunya Dery menghubungi Herman mengabarkan jika rencananya berhasil
"Bagus.. segera Kamu kirim uang itu ke rekening Saya" Pak Herman berbicara dengan sangat tajam, panggilan pun di akhiri.
Pak Herman tertawa puas sekali, Dia tinggal menunggu waktu sampai Sam meneleponnya dan meminta tolong padanya.
Sam pun langsung pulang dengan kondisi wajah dan tubuh yang lemah, ketika sampai di rumah Bu Fatma terkejut melihat keadaan Sam
"Astagfirullah Sam... Kamu kenapa Nak..?"
Sam langsung memeluk Ibunya dengan tangisan kecil, membuat Bu Fatma bingung dengan hati yang ikut bersedih melihat keadaan Anaknya.
"Kamu kenapa Sam, jawab Nak?"
"Ibu.. uang itu sudah hilang, Aku gak bisa bayar untuk operasi Ibu" Sam menagis terenyuh sambil menggenggam tangan Ibunya
"Hilang.. di curi siapa?" tanya Bu Fatma dengan wajah sedih
"Aku di rampok Bu.. Aku gak bisa selamatkan uangnya" Bu Fatma kaget mendegar uang itu lenyap begitu saja
"Astagfirullah.." Bu Fatma terdiam memikirkan, jikalau hanya membuat kesusahan pada Anaknya Bu Fatma rela tak perlu melakukan operasi
"Sam.. sudah.. Kamu jangan menangis lagi Nak.. Ibu putuskan untuk tidak melakukan operasi" Sam langsung menatap wajah Ibunya dengan kesedihan
"Bu.. tapi kesehatan Ibu"
"Ibu...." belum selesai berbicara Ibu Fatma mendadak terkena serangan jantung lagi, Sam menjadi panik, melihat Ibunya merasakan sakit dan terus memegang dadanya.
Ketika Sam melihat Arif Ia langsung meminta untuk menyalakan mesin mobil, sementara Sam menggendong Bu Fatma dan langsung membawanya ke Rumah Sakit.
Di dalam mobil Arif bertanya mengapa Ibu sampai pingsan, dan juga Arif bertanya mengenai kondisi wajah Sam yang lebam seperti habis kena pukul.
"Mas.. habis di rampok Rif.. uang untuk operasi Ibu hilang, dan Mas sekarang gak tahu harus bagaimana, itu uang sudah Mas kumpulan selama 2 tahun ini, dan sekarang Mas cuma punya pegangan 10 juta Rif.." Sam menjelaskan dengan panjang lebar pada Arif mengenai biaya operasi
"Ya Allah Mas.. Aku juga bingung.. Aku belum bekerja, Aku mana bisa bantu biaya Ibu, terus sekarang bagaimana Mas" Sam tak menjawab pertanyaan Arif, saat ini pikiran Sam sedang kacau dengan keadaan ini.
Setelah sampai di Rumah Sakit Bu Fatma langsung di periksa oleh Dokter yang biasa menanganinya.
kondisi Bu Fatma kritis, jantungnya hampir tak berdetak, Dokter mulai panik
"Sus.. siapkan alat kejut jantung" suster pun mengambil alat itu dan memberikan pada Dokter
"Kita mulai... satu.. dua.. tiga.." alat itu ditempelkan di dada Ibu Fatma, kejut jantung dilakukan hingga 2 kali, namun detak jantung Bu Fatma semakin melemah.
"Kita lakukan sekali lagi" dan yang terakhir kalinya kejut jantung di lakukan akhirnya detak jantung Bu Fatma kembali normal
"Alhamdulillah..." Semua tim medis lega melihatnya, dan Dokter pun keluar untuk memberi informasi keadaan Bu Fatma.
"Pak Sam...Kita harus segera melakukan operasi cangkok jantung, kalau tidak segera dilakukan, Saya tidak bisa memastikan jantung Bu Fatma bertahan sampai besok" Sam begitu rapuh mendengar berita ini, rasanya Sam ingin berteriak kencang namun tak bisa Ia lakukan
Setelah itu Dokter pergi melanjutkan pekerjaannya lagi, Sam kini harus memutar otak bagaimana caranya Ia mendapatkan uang sebanyak itu dalam 20 jam, Arif melihat kegelisahan di wajah Sam, saking tak bisa membantu Sam Ia pun berusaha menghubungi Asri, kekasih Sam yang selalu Sam ceritakan kepada Ibunya
__ADS_1
"Mungkin Mbak Asri bisa bantu Mas Sam" ucap Arif dalam hatinya
"Mas.. Aku boleh pinjam ponsel Mas, ponsel Aku tertinggal di rumah, Aku ingin menghubungi teman sebentar" Arif sengaja berbohong yang sebenarnya Ia ingin menghubungi Asri untuk meminta bantuan
"Ya.. ini Kamu pakailah.. " Sedangkan Sam sedang berpikir harus meminta tolong pada siapa, untuk menyelesaikan masalahnya ini.
Arif pun mencari kontak Asri di ponsel Sam, namun Ia tak menemukan nama Asri di kontak penyimpanan
"Mana...tidak ada nama Asri disini" Arif pun menyerah Dia tak bisa membantu apa-apa untuk Ibunya, ponsel pun di berikan lagi kepada Sam.
Sedangkan Asri saat ini tengah berlatih berjalan bersama Bu Anita
"Pelan-pelan sayang.. Kamu pasti bisa"
Asri terus berusaha berjalan dengan pelan, walupun rasanya sakit sekali tapi Ia tak menyerah, dalam hatinya Ia harus semangat untuk dapat berjalan normal kembali.
Makmun tengag sarapan pagi bersama keluarga, Dia tak menyapa atau bahkan menegur Ibunya dari semalam, Bu Alya berusaha untuk menegur duluan namun tetap tak ada jawaban apapun dari Makmun.
Setelah selesai sarapan Makmun bersiap berangkat ke kantor, Ia berpamitan dengan Papahnya juga dengan Kasih, namun tidak dengan Bu Alya.
"Pah.. Aku berangkat, Kasih Aku duluan ya, nanti kalau Kamu sudah selesai mengerjakan tugas rumah secepatnya Kamu ke Rumah Sakit menjaga Lia"
"Iyaa Mas.. Saya mengerti"
ketika Bu Alya ingin bicara pada Makmun, Makmun malah berlalu begitu saja, Bu Alya pun terdiam sedih melihat sikap Anaknya yang kini acuh pada dirinya.
"Pah.. Papah lihat sendiri kan.. bagaimana Makmun memperlakukan Mamah"
"Mamah yang sabar, Makmun mungkin hanya syok karena keadaan Lia sekarang" lalu Kasih menyahuti ucapan Bu Alya
"Bu.. nanti sebisa Saya.. Saya akan bicara sama Mas Makmun supaya bisa berlapang hati memaafkan Ibu"
"Iya Kasih.. terimakasih ya.. oh ya nanti Ibu siapkan pakaian ganti Lia, nanti Kamu lap saja untuk membersihkan badan Lia" Kasih tersenyum dan Ia paham akan ucapan Bu Alya.
Di sepanjang jalan Makmun memikirkan sikapnya pada Ibunya, sebenarnya Ia tak ingin seperti itu, namun.. jika ingat kejadian kemarin rasa-rasanya Ia membenci Ibunya karena Ibunya lah yang telah membuat keadaan Lia seperti ini.
Dia pun tak berhenti berdoa untuk kesembuhan Istrinya, baru sehari Ia tak di temani tidur, Makmun sudah merindukan Lia bahkan Ia rindu suara dan kelakuan konyolnya.
Pak Herman menunggu Sam menghubunginya namun sampai saat ini Sam belum juga mengabarinya, Ia pun berinisiatif menghubungi duluan supaya Sam terdesak dalam situasinya.
Sam terheran ketika melihat panggilan masuk dari Herman, Dia pun ragu ingin menerima panggilan itu atau tidak, namun Herman terus menghubunginya hingga hati Sam tergerak untuk menerima panggilan itu.
"Halo...."
"Akhirnya Kamu angkat juga Sam"
"Ada apa Pak Herman" tanya Sam dengan nada jutek
"Sam Saya ingin meminta tolong, tolong cabut tuntutan Kamu pada Tini, tolong bebaskan Anak saya sekarang juga, Dia sangat menyesal telah melakukan kejahatan itu"
"Maaf Pak.. kalau Anda meminta hal itu, Anda salah tempat, yang menuntut Tini itu Chandra bukan Saya, jadi lebih baik Anda katakan itu pada Chandra"
"Chandra.. kenapa Dia ikut campur masalah Asri"
__ADS_1
"Karena Dia yang menyelamatkan Asri waktu itu, dan Saya sedang dalam masa penyembuhan karena orang suruhan Anak Anda itu, jadi bukan Saya yang melaporkan kasus ini" Pak Herman tak menyangka ternyata Chandra ikut campur urusan Tini Sam dan Asri, kini Dia mulai membenci Chandra karena Dialah yang sudah melaporkan Tini hingga Tini saat ini mendekam di penjara.
Tiba-tiba Sam terpikir untuk meminjam uang pada Herman, Ia pun berusaha mengutarakan permintaannya, walaupun sebenarnya hati Sam menolak, namun saat ini operasi Ibunya lah yang harus diprioritaskan.