
Banyak hadiah yang sii kuartet dapatkan ketika di hari ulang tahun mereka yang kedua. Mereka teramat bahagia ketika membuka satu persatu kado dari para tamu undangan. Namun, kebahagiaan itu harus menguar ketika sang ayah mengatakan bahwa besok mereka harus kembali ke Singapura, Anak-anak itu ingin menolak, tapi mereka seakan mengerti apa yang dibicarakan oleh sang ibu ketika mereka baru menginjakkan kaki di negeri Singa itu.
Diurus sendiri oleh sang ibu membuat mereka menjaga sikap. Walaupun usia mereka masih kecil, mereka seakan tahu kondisi ibunya yang sesungguhnya. Ditambah sang ayah tidak memiliki banyak waktu untuk mereka sekarang. Mereka harus mandiri terutama Abdalla anakkedua dari Aska dan Jingga
Ketika adik-adiknya sedang menangis atau bertengkar, Abdalla tidak pernah bicara, tapi usapan lembut di kepala mampu membuat tangis itu reda. Tangan Abdalla seperti memiliki sihir karena mampu membuat mereka merasa nyaman.
Ahlam si penebar senyum, senyumnya tidak terlalu merekah ketika berada di Singapura. Seperti ada yang sedang dia tahan. Beda halnya ketika dia berada di Jakarta, senyumnya terus melengkung dengan begitu lebar, begitu tulus dan begitu manis. Arfan si bocah biang onar menjelma menjadi anak baik ketika berada di Singapura. Dia tidak akan pernah menjahili Balqis juga menjahili Ahlam atau Abdalla. Dia bermain dengan mainan yang dia punya. Dia tidak ingin melihat ibunya kelelahan padahal ia ingin main lari-larian ke sana kemari di halaman depan yang luas. Namun, dia harus mengerti ibunya hanya sendiri.
Balqis si anak perempuan yang biasanya manja kepada ayahnya perlahan mulai belajar mandiri. Terkadang dia mengigau menyebut ayahnya. Di rindu digendong sang ayah, dicium sang ayah, tapi dia harus mengerti ayahnya sedang sibuk. Ayahnya bekerja untuknya dan juga ketiga kakaknya serta ibunya. Balqis harus jadi anak baik, Itulah pesan dari sang Bunda setiap malam sebelum mereka tertidur.
"Nanti kalau Ayah dapat libur lagi kita main lagi ke sini. Oke."
Sebuah kalimat yang sebenarnya penuh kesedihan, tapi diucapkan dengan senyum penuh kepalsuan. Keempat anaknya pun ikut memalsukan anggukan mereka. Padahal mereka masih ingin tinggal di sini bermain di sini bersama kakak-kakak sepupu mereka.
"Dengar Bunda ya, Nak. Bunda janji ketika pekerjaan ayah selesai di Singapura ... kita akan kembali ke rumah ini. Kita akan berkumpul bersama kakak-kakak di sini, ataupun kakak-kakaknya yang akan datang ke rumah kita. Mereka bisa bermain bersama kalian dan kalian bisa tertawa bersama mereka. Bunda janji."
Keempat anak Aska pun tersenyum. Namun, di dalam hati mereka ada kesedihan yang mereka rasakan terlebih sang ibu mengatakan dengan mata yang berkaca-kaca. Seolah ibunya pun tidak rela meninggalkan rumah besar ini. Rumah di mana mereka dibesarkan dari pertama lahir hingga berusia satu tahun.
Gavin yang sudah mendengar sang ayah akan kembali ke Jakarta meminta diantarkan Pak Joe untuk pergi ke rumah sang Mimo. Otak anak itu sangat cerdas. Ketika ayahnya kembali pasti sang Paman pun akan kembali lagi ke Singapura, termasuk keempat sepupuny. Baru tiga hari mereka bersama, tapi sudah harus dipisahkan lagi
"Mas, udah malam," ujar sang ibu kepada Gavin yang sudah memakai jaket. Di dalamnya dia hanya menggunakan piyama tidur
"Boleh ya, My. Nginep di rumah Mimo. Mas ingin tidur bersama si kuamplet," pintanya. Mata Gavin sudah nanar. Riana sangat merasakan bahwa anak itu sedang sedih karena akan ditinggalkan.
"Boleh, tapi Mas nggak boleh nakal ya. Janji sama Mommy." Anak itu pun mengangguk. Sebelum pergi dia mencium tangan ibunya dan juga mencium kening sang adik yang tengah menghenggam tangan sang ibu. Adiknya ingin ikut, tapi Gavin melarangnya.
__ADS_1
Di rumah besar itu pun Ayanda dan Gio belum tertidur. Mereka masih berada di ruang keluarga yang kini sudah tertata seperti semula. Ayanda tersenyum perih, baru saja rumah ini ramai besok sudah sepi lagi. Begitulah batinnya. Suara daru mesin mobil membuat Ayanda dan Gio saling tatap. Siapa malam-malam begini yang datang. jam dinding sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Semua anaknya sudah pulang ke rumah masing-masing. Aksa tidak mungkin kembali karena Aska masih di sini.
Pintu rumah pun terbuka, suara sang cucu laki-laki pertama terdengar. Ayanda terkejut, cucunya datang seoran diri.
"Mommy mana?"
"Mas hanya ditemani Pak Joe, Mimo," sahutnya.
"Ada apa Mas ke sini lagi?" tanya sang Pipo.
"Mas ingin tidur bersama si kuamplet. Besok mereka akan berangkat lagi 'kan? Akan kembali ke sana lagi 'kan?"
Hati siapa yang tidak sedih mendengar ucapan dari anak yang baru berusia 6 tahun itu. Anak itu tengah merasakan betapa sedihnya ketika akan ditinggalkan lagi oleh sepupunya. Walaupun negara itu tidak jauh, tapi sulit untuk dijangkau. Terlebih dia sudah sekolah, dia tidak mungkin meninggalkan sekolahnya.
"Pipo, suruh si kuamplett tinggal di sini aja." Anak itu sudah memohon dengan mata sudah nanar
"Tidak semudah itu, Mas," sahut sang kakek. Senyumnya masih mengembang seakan sang kakek ikhlas ditinggalkan oleh empat cucunya.
"Mereka masih membutuhkanu kedua orang tua mereka. Sama halnya dengan Mas. Walaupun Mas sudah besar, sudah berusia 6 tahun pasti mas tidak akan pernah mau jauh sama Mommy dan Daddyi kan." Anak itu berpikir sejenak. Kemudian, dia mengiyakan apa yang dikatakan oleh sang kakek.
"Kita tidak boleh melarang mereka untuk pergi. Hanya sebentar kok, tinggal tiga tahun lagi," jelas sang kakek.
"Tiga kalender lagi yang harus ganti." Ayansa sudah tidak bisa berkata. Cucunya ini sangat pandai.
"Iya, untuk sekarang kita sabar dulu. Nanti kita akan berkumpul bersama lagi."
__ADS_1
Anak itu hanya mengangguk dengan menyimpan rasa sedih yang tak terkira. Rasa sedih yang harusnya hilang kini datang lagi dan entah kapan dia akan bertemu lagi dengan keempat sepupunya.
"Ya sudah, yuk Mimo anter kamu ke kamar si quartet." Ayanda tidak ingin melihat Gavin bersedih. Mimik wajahnya pun terlihat amat jelas bahwa anak itu tengah menyimpan kesedihan.
Aska dan Jingga berpapasan dengan sang ibu merasa terkejut ketika ada Gavin di sana.
"Loh, Mas ngapain?" tanya Jingga.
"Mas mau tidur sama si kuamplet, boleh?" Dia masih tetap meminta izin dan masih menyebarkan senyum. Walaupun hatinya dilanda kesedihan yang tidak bisa diungkapkan.
"Mereka sudah tertidur. Mas masuk aja ke dalam." Gavin pun mengangguk ketika mendapat ijin dari sang tante.
Setelah anak itu masuk, ketiga orang dewasa itu saling tetap. Hembusan nafas kasar keluar dari mulut Askara. Bukan hanya Gabin yang sedih, dia pun sedih meninggalkan rumah ini
"Inilah yang membuat aku berat meninggalkan rumah ini. Gavin, dia alasan terbesarku," ucap jingga dengan begitu lirih.
"Masih kecil saja anak itu sudah memberikan respect yang luar biasa kepada saudara-saudaranya. Bagaimana jika dia sudah dewasa? Mungkin kelak dia akan menjadi penerus ayahnya yang ketenarannya melebihi ayahnya sendiri," ujar Aska dengan senyum yang dipaksakan. Jujur dia juga tidak rela meninggalkan Gavin
Di dalam kamar, Gavin menatap keempat sepupunya yang tidur berpelukan. Bibirnya mampu tersenyum, tapi hatinya tengah menangis. Namun, dia tidak menunjukkan. Cukup dia yang tahu perasaannya yang sesungguhnya.
"Kalian udah tidur, ya," ucapnya begitu lemah.
Tak Gavin sangka ternyata keempat anak itu membuka mata. Mata mereka sudah berkaca-kaca melihat ke arah Gavin. Tangan mereka pun direntangkan, meminta Gavin untuk memeluk mereka.
Mereka dipaksa dewasa oleh waktu dan juga keadaan. Itulah mereka berlima. Gavin dipaksa menjadi dewasa ketika memiliki adik dan si kuartet dipaksa berpikir dewasa ketika melawan waktu dan juga keadaan.
__ADS_1
"Jangan sedih, ya. Mas juga nggak nangis kok."
Gavin masih pura-pura kuat dan terus menguatkan keempat sepupunya. Mereka menangis bersama. Mereka menangis tanpa suara dan berpelukan hingga pagi menjelang.