
Gavin masih mendiamkan Askara. Padahal Aska sudah meminta maaf kepada keponakannya itu.l Namun, Gavin masih terlihat cuek. Dia malah asik bermain dengan keempat sepupunya yang baru saja tiba di Singapura.
"Atuhlah, Mas ... Uncle minta maaf," ujar Aska yang sudah mendekati Gavin. Akan tetapi, anak itu masih terdiam tidak menjawab apapun perkataan dari sang paman.
Semua orang hanya mengulum senyum. Sifat aslinya Gavin ya seperti ini. Ketika dia kecewa dia sulit untuk memaafkan, dan dia juga paling benci dengan yang namanya ingkar janji. Janji adalah hutang. Hutang berarti harus dibayar. Itulah yang Gavin sesalkan dari sang paman.
"'Kan tadi udah denger sendiri dari Ante kalau Uncle itu sibuk bukan sengaja." Lagi-lagi Aska menjelaskan kepada sang keponakan.
Anak itu masih bergeming, dia masih fokus melihat keempat sepupunya yang tengah bermain.Aska berkali-kali meminta maaf. Namun, hati anak itu teramat keras.
"Uncle punya uang seribu dolar. Mas, mau?" Aska mulai menyogok Gavin. Dia tahu anak itu menyukai uang dengan nominal seribu dolar.
Ternyata tidak semudah itu. Gavin masih terdiam, dia tidak menimpali ataupun menolak. Anak itu pun tidak menatap ke arah Askara.
"Coba Mas jelaskan kenapa Mas marah," pinta Aska. "Tadi 'kan Uncle juga bilang nggak sengaja. Uncle tidak menepati janji karena Uncle sibuk bekerja. Makanya Uncle tidak bisa menjenguk Mas di sini." Suara Aska sudah mulai melemah. Dia hampir saja putus asa meyakinkan Gavin.
"Uncle tahu Uncle salah, Uncle minta maaf," lanjut Aska lagi.
"Uncle juga kangen sama Mas. Uncle kangen colotehan, Mas. Uncle kangen sama Mas. Uncle juga kangen bercanda sama Mas. Ketika rasa rindu yang Uncle rasakan tidak bisa Uncle curahkan, Uncle bisa apa? Uncle berharap Mas datang menjenguk Uncle, tapi mas tidak mau 'kan." Anak itu pun terdiam mendengar penuturan dari Aska.
__ADS_1
"Kedua orang tua Mas juga bilang,mereka ingin sekali bertemu dengan si quartet, tapi mas selalu menolak untuk ikut. Mereka tidak tega meninggalkan Mas sendirian di sini."
"Bukan hanya Uncle yang merindukan Mas. Tante dan anak-anak Uncle pun merindukan, Mas. Kami semua kangen Mas Gavin. Kami juga semua ingin dekat dengan Mas. Andai Singapura-Jakarta bisa ditempuh dengan mobil, mungkin Uncle akan bolak-balik Singapura-Jakarta hanya untuk bertemu dengan Mas. Menjenguk Mas setiap hari." Betapa tulusnya perkataan Aska kali ini.
"Mas tahu, kenapa Uncle bisa ke sini? Ini semua karena Daddy, Mas. Daddy Aksara. Daddy Mas rela menggantikan posisi uncle di sana. Kalau tidak ada Daddy pasti Uncle tidak akan pernah bisa ke sini karena pekerjaan Uncle sangat banyak di sana."
Uncle ingin memeluk Mas. Uncle ingin bermain bersama Mas, Uncle ingin--" Gavin berhambur memeluk erat Askara. Sontak Askara pun terkejut. Namun, kali ini Senyum pun terukir di wajah Askara. Matanya pun berkaca-kaca. Ada desiran hebat yang mengalir di darahnya ketika tubuh kecil itu memeluk dirinya. Memendam rasa rindu selama 1 tahun tidak bertemu, inilah yang Aska rasakan. Sama halnya dengan yang Gavin rasakan. Anak itu menangis cukup keras tak seperti biasanya, menandakan bahwa Gavin pun memang merindukan sang paman. Tidak ingin jauh darinya. Namun, sebuah keputusan yang tidak bisa diubah harus dijalankan, membuat mereka harus terpisah untuk sementara waktu.
"Mas juga kangen sama Uncle," ucapnya begitu lirih dan menyayat hati. Semua orang menyeka ujung mata mereka melihat keharuan yang ada antara keponakan dan sang paman.
Ada kebahagiaan tak terkira yang Aska rasakan malam ini. Dia sangat berterima kasih kepada sang Abang yang mau menggantikan posisinya untuk sementara waktu selama dia berada di Jakarta. Inilah pengorbanan seorang ayah sekaligus seorang kakak. Aksa tidak ingin berlama-lama melihat adiknya dan juga putranya bermusuhan dia ingin dua laki-laki beda usia itu akur seperti dulu
"Mas selalu nunggu Uncle datang. Mas, selalu nunggu Uncle meminta maaf. Mas, selalu menunggu Uncle," ucapnya dengan nada yang masih lirih. "Setiap hari, tanggal semakin banyak tapi Uncle tak kunjung datang. Kalender di meja Mas sudah berganti Yang baru Yang lama sudah dibuang, tapi Uncle tetap tidak datang. Mas, sedih Uncle. Mas, kecewa."
"Kalau Uncle tidak bisa ke Jakarta, Uncle tidak usah janji kepada Mas. Uncle tahu Mas paling benci sama orang yang suka ingkar janji. Mas nggak suka Uncle."
"Maafkan Uncle ya Mas. Uncle janji Uncle akan selalu tepati janji Uncle, walaupun tidak Uncle akan menghubungi Mas terlebih dahulu supaya Mas tidak kecewa lagi sama Uncle." Anak itu pun menggangguk. Aska merasakan pundaknya basah anak yang tidak pernah cengeng ternyata bisa menangis juga.
.
__ADS_1
"Kenapa nggak tinggal di sini aja sih? Di sini ada Mommy, ada kita yang pasti akan ngebantu kamu jaga anak-anak," ujar Echa kepada Jingga.
"inginnya seperti itu, Kak, tapi kewajiban seorang istri harus dilaksanakan 'kan." Jingga menatap ke arah kakak ipar pertamanya. "Aku harus mengikuti ke mana langkah kaki imanku pergi. Ke mana nahkoda kapal yang aku tumpangi membawaku. Aku tidak akan meninggalkan dia sendirian. Bagaimanapun, suamiku masih memiliki aku. Aku harus menurut kepadanya, Kak. Walaupun Bang as memang tidak memaksaku untuk ikut dengannya, tapi aku yang tidak tega. Biarkanlah batinku tersiksa sejenak. Aku yakin kedepannya pasti akan ada kebahagiaan yang akan mengikuti kemana langkah kami berpijak."
"LDR-an juga sebenarnya tidak enak sih," ungkap Riana. Dia pernah merasakan bagaimana rasanya menjalani hidup rumah tangga long distance relationship. Setiap malam tidur hanya bertemankan guling. Sebelum tidur hanya bisa berbincang melalui sambungan video. itupun sudah larut malam baru baru terlaksana. Kesibukan suami yang tidak bisa ditunda.
Jika dulu Riana diperbolehkan mengikuti suaminya, mungkin dia akan menyusul Aksa, tapi posisinya dulu berbeda. Riana tengah hamil dan dia tidak diperbolehkan untuk terbang menggunakan pesawat oleh dokter sehingga ldr-an lah jalan satu-satunya. Pada saat itu juga perusahaan yang baru didirikan oleh Aksa harus dipantau langsung oleh pemiliknya, ditambah Wiguna grup Aussie
tengah mengalami kendala
"Kita memiliki cerita rumah tangga masing-masing," ujar Echa. Sama halnya dengan dirinya dan Radit. Mereka hanya menjalankan ldr-an semasa pacaran tidak untuk setelah menikah. Namun, ada badai cukup keras yang menghantam rumah tangganya yang hampir berujung dengan kata cerai. Itu semua tidak pernah Echa beberkan kepada siapapun. Hanya dirinya, Radit, sang ayah mertua juga dua Kakak Radit yang tahu akan hal itu. Kedua kakak iparnya yang memang menutup rapat semuanya bukan untuk menutup-nutupi tapi hanya ingin menjaga privasi itu pun atas permintaan Echa bukan tanpa sebab jika kabar itu sampai ke telinga kedua orang tua Echa baik itu Rion maupun Gio. Sudah pasti mereka akan disuruh berpisah sedangkan mereka berdua masih memiliki rasa cinta yang sama-sama kuat. Apalagi ada tiga anak yang harus mereka urus dan besarkan secara bersama-sama Echa juga tidak ingin nasib anaknya sama seperti dirinya
"Mommy bangga kepada kalian semua," ucap Ayanda yang baru saja datang dengan membawakan minuman dan juga buah-buahan untuk anak dan menantunya.
"Mommy berterima kasih kepada kalian Kalian bisa menjadi wanita yang kuat wanita yang mandiri juga wanita yang tangguh. Makasih sudah mau menjadi menantu Mommy maafkan mommy jika mami belum bisa memberikan arahan yang baik pada kalian."
Ketiga wanita itu pun berhambur memeluk tubuh Ayanda. Setiap kata yang ayanda ucapkan pasti akan menyayat hati siapapun yang mendengar.
"Aku malah yang harusnya mengucapkan terima kasih karena Mommyi mau menerima aku menjadi menantu Mommy juga menerima aku dengan tangan terbuka meniadi bagian dari keluarga Giondra Aresta Wiguna Itu adalah sebuah kehormatan terbesar dalam hidup aku," tutur Jingga.
__ADS_1
"Harusnya kami yang malu karena kami belum bisa menjadi menantu yang baik untuk Mommy. Kami selalu merepotkan Mommy," tambah Riana.
"Mama adalah ibu sekaligus mertua yang paling baik untuk Echa Riana dan Jingga. Banyak di luaran sana yang iri kepada kami karena memiliki merttua rasa ibu kandung. Mama selalu bilang kepada para menantu Mama untuk menganggap Mama seperti ibu kandungnya sendiri, dan mama juga tidak pernah membeda-bedakan antara menantu satu dan menantu lain anak satu dengan anak yang lain Mama adalah ibu yang terbaik yang kami miliki."