
Beberapa hari telah berlalu sejak kepergian ibu Arumi untuk selama-lamanya. Keterpurukan akan kesedian membuat Arumi terlihat sangat menyedihkan. Rasanya tidak ada semangat hidup untuknya. Semua orang yang disayangi pelahan pergi meninggalkannya.
Dulu Gilang, suami pertamanya. Pergi meninggalkannya dengan begitu saja, tanpa mengucapkan perpisahan walau hanya sekata. Sekarang ibunya, sosok yang selalu ia banggakan, ia sayangi, selalu ada disampingnya baik susah maupun senang dan semangat hidup bagi dirinya. Namun, sosok itu telah tiada lagi untuk selamanya. Hanya tinggal kenangan yang melekat erat di dalam hati Arumi.
Bukan hanya itu saja, suami tercintanya juga sama. Ia tak menginginkan Arumi lagi untuk berada disampingnya, juga membiarkan Arumi pergi begitu saja, hingga sekarang pun tak ada satupun ia berniat untuk menjemput atau bahkan memberi kabar pada Arumi. Sakit rasanya jika diabaikan dan tak dianggap, tapi apalah dirinya hanya mampu memendam saja.
Namun, Arumi masih bersyukur. Meski semua pergi satu persatu dari sisinya tapi ia masih memiliki anak yang masih berada dalam perutnya. Cukup itu yang mampu menguatkannya untuk saat ini. Jika suatu saat nanti ia tak mampu lagi untuk bertahan maka ia rela pergi dengan tenang bersama calon anaknya.
Matanya terasa panas karena cairan bening itu terus mengalir membasahi pipinya. Rindu, saat ini ia sangat merindukan suaminya. Ia juga membutuhkan suaminya disaat-saat keterpurukannya. Rasa rindunya membuncah hingga tak dapat ia tahan. Walau hampir sebulan lamanya ia tak tinggal bersama, tapi ia tetap selalu merindukannya.
Hari ini Arumi pun memutuskan untuk bertemu suaminya. Walau tak bisa secara langsung, setidaknya cukup melihatnya dari jauh dan itu sudah cukup mengobati rasa rindunya.
Disinilah Arumi sekarang, disebuah kafetaria yang terletak di seberang rumah sakit tempat suaminya bekerja. Ia yakin suaminya akan berada disana karena seingatnya ini masih hari kerjanya. Sebenarnya ia bisa saja pulang kerumah yang dulu pernah mereka tempati bersama, tapi ia sangat takut bertemu mertuanya.
"Sayang, sebentar lagi kamu akan melihat papa. Yang sabar ya, kita pasti akan melihatnya walau dari jauh, nggak apa-apa kan." ucap Arumi. Ia mengelus perutnya yang membuncit dan terus berbicara pada sang janin.
Arumi sengaja duduk tepat dekat jendela kaca yang berukuran besar agar dapat melihat suaminya dari sana. Meski kemungkinan bertemu hanya 30% saja, Arumi tetap akan menunggu dan itu mungkin untuk yang terakhir sebelum ia pergi jauh.
Ya, Arumi memang sudah memutuskan untuk pergi keluar kota, karena jika tetap tinggal disana ia akan selalu di hantui oleh kesedian yang terus menerus.
Tepat seperti yang Arumi perkirakan, seorang lelaki dengan tubuh tegapnya dan terlihat masih sama seperti saat terakhir mereka bertemu. Terlihat ia sedang melangkah menyeberangi jalan dan berjalan kearah kafetaria tempat yang ia datangi.
Sedikit senyum terulas pada bibir Arumi. Tapi tunggu, siapa wanita yang sedang menggelayut manja pada tangan suaminya? Wajahnya sangat cantik dan mereka juga terlihat seperti pasangan. Apakah itu alasan suaminya tidak mencari dirinya? Sungguh ia tak bisa menerima jika itu sebuah kenyataan. Hati Arumi seperti tertusuk oleh jarum tak terlihat, sakit sangat sakit menyaksikan kemesraan mereka.
__ADS_1
Benar, mereka ternyata memasuki kafetaria yang Arumi datangi. Arumi berusaha menyembunyikan diri agar tak di kenali dan untung saja mereka duduk membelakangi dirinya.
"Mas mau aku pesankan apa?" tanya wanita itu. Ia terlihat sangat akrab dengan suami Arumi hingga memanggilnya 'Mas'.
"Terserah, saja."
Ah, akhirnya Arumi dapat mendengar suara suaminya yang selama ini ia rindukan. Bahagianya dirinya, airmatanya pun ikut menetes perlahan bersama seulas senyum ia kembangkan.
"Mas, aku senang kita bisa bertemu lagi setelah sekian lama. Aku sangat merindukanmu."
"Bagaimana kabar suamimu?"
"Ah, aku telah lama bercerai dengannya. Aku tidak tahan hidup bersamanya karena dia selalu main tangan dengan ku. Hampir setiap hari dia memukulku."
"Sudah. Semua usaha telah aku lakukan tapi sia-sia karena dia memiliki banyak koneksi. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk melarikan diri dan bercerai."
"Lalu apa kamu sudah memiliki anak?"
"Belum, aku selalu memakai alat kontrasepsi saat berhubungan. Aku tidak sudi memiliki anak bersama dirinya. Mas, aku tahu kita saling mencintai sejak dulu dan aku sangat berharap bisa menjadi istrimu."
"Maaf, tapi aku sudah memiliki seorang istri."
"Tidak apa-apa. Aku rela jadi yang kedua, yang terpenting aku bisa bersamamu."
__ADS_1
"Aku tak bisa memutuskan sendiri, aku akan bertanya pada istriku jika ia setuju atau tidak."
Mereka tak tahu jika sedari tadi ada setetes demi setetes airmata selalu terjatuh, saat mendengar percakapan mereka. Hatinya begitu sakit dan hancur. Awalnya ia datang kesana ingin melihat suaminya, tapi ia tak menyangka akan mendengar sebuah pengakuan cinta. Rasanya menyesal ia telah datang.
Dengan tubuh bergetar, ia beranjak dari duduknya dan berniat untuk pergi. Ia melangkah dengan pasti keluar dari kafetaria. Namun, saat ia hendak mencapai pintu ia tak sengaja menabrak seseorang.
Brukk...
"Maaf, saya tidak sengaja." ucap Arumi.
"Mbak kalau jalan lihat-lihat dong untung saja saya nggak jatuh kan."
"Sekali lagi saya minta maaf saya tidak sengaja." ucapnya sekali lagi. Lalu ia segera meninggalkan kafetaria itu dengan langkah tergesa-gesa. Ia takut jika suaminya akan mengenali dirinya.
Seperti yang dipikirkannya, Akhtar segera beranjak dari duduknya saat mendengar sebuah suara yang sangat ia kenali dan dirindukannya. Tindakan Akhtar membuat wanita yang duduk bersamanya tadi merasa terheran. Ia pun mencoba menghentiakan Akhtar agar tidak pergi.
"Mas, kamu mau kemana, jangan pergi Mas. Kita bahkan baru saja bertemu kamu mau meninggalkanku sendiri?"
Akhtar tak memperdulikannya, saat ia melihat sosok wanita yang sangat ia rindukan berjalan dengan tergesa-gesa, Akhtar pun berusaha mengejarnya. Kenapa dia disini? Apa dia mendengar percakapan kami? Hati Akhtar sungguh tak tenang saat melihat wanita yang ia cintai semakin menjauh dari pandangannya dan berjalan menyebarangi jalan.
"AWAS.!!" pekik Akhtar. Saat ia melihat sebuah mobil melaju dan menabrak seorang wanita yang baru saja menyeberangi jalan.
Brakk...
__ADS_1
****