Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
MABUK PARAH


__ADS_3

Tak terasa waktu pun hampir tepat jam 8 malam, Asri harus segera pulang karena sudah pasti Bu Anita akan mencarinya


"Juv.. Aku harus pulang, Mamah pasti mencari Aku"


Juvi sebenarnya belum ingin pulang hatinya masih ingin menemani Lia di sampingnya, namun melihat Makmun sudah berada di sisi Lia, Dia pun sadar diri siapa dirinya


"Baik.. Tante Irma, Kami pulang ya"


"Iya Juv.. terimakasih ya untuk Kalian semua"


Chandra dan Rahma pun ikut pamit pulang, saat di parkiran Chandra menawarkan untuk Asri ikut dengannya


"Asri lebih baik Kamu naik mobil bersama Aku dan Rahma, nanti kalau sakit lagi kaki Kamu bagaimana"


sebenarnya Asri ingin sekali menerima tawaran itu, namun Ia tak ingin jika Rahma marah dan cemburu nantinya, jadi Ia menolak ajakan Chandra


"Aku naik taksi saja"


"Loh.. kok naik taksi"


lalu Rahma menyahuti


"Asri Aku tidak masalah kok jika Kamu ikut dengan Kami, sudahlah jangan membuat Chandra selalu khawatir"


Asri semakin yakin jika Rahma tidak ingin dirinya ikut, dari cara bicaranya saja sudah terlihat itu hanya sindiran


"Sudahlah Aku tidak mau berdebat, Juvi ayo Kita pulang, Aku ikut dengan Kamu saja"


setelah itu Asri berusaha naik ke atas motor juvi, Ia mengambil nafas untuk berjaga menahan rasa sakit kakinya, Chandra tidak bisa melihat Asri kesusahan seperti itu, Ia pun mencoba membantu, namun Asri langsung menjawab,


"Aku bisa..."


Chandra kaget Asri berkata seperti itu


"Aku hanya ingin membantu Kamu"


"Aku bilang tidak perlu, sudahlah lebih baik Kalian pulang saja"


Asri terlihat kesal, Rahma hanya terdiam melihat hal ini, Juvi berusaha menenangkan Asri


"Asri.. sudah, Aku bantu Kamu"


akhirnya Juvi turun dahulu motor pun di standar dua dan Asri barulah naik di bantu Juvi


"Chan.. Gue duluan ya"


Candra hanya menganggukkan kepalanya tanpa bicara, setelah motor Juvi sudah jauh barulah Chandra memasuki mobilnya, Chandra terlihat lelah dan capek sekali hingga Ia mengusap-usap wajahnya, Rahma berusaha mengajak ngobrol Chandra dengan berbasa-basi


"Chan.. Kamu capek ya"


Chandra hanya menggelengkan kepalanya tak menjawab ucapan Rahma, Rahma sedikit bingung mengapa sikap Chandra menjadi diam seperti ini.


Makmun benar-benar frustasi dengan keadaan Lia, Dia sungguh sangat merindukan Lia, apalagi dengan di berhentikan nya Lia dari pekerjaannya, sungguh membuat Makmun merasa bersalah


"Kenapa Kamu tidak mau bangun sayang, Aku rindu sekali sama Kamu"


Bu Irma melihat ini sudah larut malam, namun Makmun belum ingin pulang, dari sehabis pulang kerja tadi Ia belum kerumahnya, Bu Irma pun menyuruh Makmun untuk pulang agar kedua orang tuannya tidak khawatir


"Makmun sebaiknya Kamu pulang ini sudah malam, biar Lia Mamah yang jaga disini"


"Tapi Mah.. Aku ingin dekat dengan Lia terus"


"Iya Mamah mengerti, tapi Kamu kan harus bekerja besok, jangan menyiksa badan Kamu, sudah pulang sana"


akhirnya Makmun pun pulang menuruti perintah dari Bu Irma.


Sementara Bu Alya mendapat panggilan dari keluarga di Bekasi


"Apa... kecelakaan, astagfirullah Iya saya dan Mas Helmi akan segera kesana"


"Ada apa Mah.. Kok sepertinya berita penting sekali"


setelah panggilan di akhiri Bu Alya menjelaskan jika kakaknya yang tinggal di Bekasi mengalami kecelakaan parah


"Astagfirullah jadi bagaimana Mah"


"Ya Kita harus kesana Pah, Makmun mana sih sudah jam segini belum pulang juga"


"Makmun sepertinya masih di rumah sakit menunggu Lia"

__ADS_1


"Ya sudah Kita saja Pah yang kesana, ayo"


Bu Alya terlihat panik ketika saudaranya mengalami kecelakaan


"Mah.. yang tenang, semoga Mbak Maya keadaannya tidak parah"


Bu Alya segera membangunkan Kasih untuk menjaga rumah


"Kasih Saya pergi dulu ya, Makmun mungkin sebentar lagi pulang"


"Loh.. memang Ibu mau kemana?"


"Kakak Saya mengalami kecelakaan, Saya harus segera kesana melihat kondisi Kakak Saya"


"Astagfirullah.. semoga keadaannya tidak parah ya Bu, ya sudah hati-hati ya Bu"


Bu Alya segera bergegas pergi bersama Pak Helmi dan meninggalkan Kasih sendirian di rumah.


Setelah mobil Pak Helmi sudah menjauh, Kasih segera menutup pintu dan mengunci semua pintu, tidak lupa memasang alarm berjaga-jaga agar tak terjadi lagi perampokan seperti waktu itu.


Perasaan yang tak karuan membuat Makmun membawanya ke klub malam, Ia pun meminum banyak miras untuk menghilangkan rasa rindunya terhadap Lia, Dia minum hingga beberapa botol, 2 jam berlalu, Makmun merasa sudah cukup waktunya untuk pulang, keadaannya pun kini tak baik Dia berjalan sempoyongan sambil menyebut nama Lia di sepanjang jalan


"Lia.. Aku rindu Kamu, sayang Aku kangen.."


Makmun tersenyum tertawa sendiri seperti orang gila, mungkinkah Makmun depresi karena Lia tak kunjung sadar hingga saat ini.


Menyetir mobil dalam keadaan mabuk membuat Makmun tidak stabil dalam mengemudi, Ia hampir menabrak tapi untungnya Dia masih selamat


"Aduh.. pusing banget"


Makmun memegangi kepalanya sambil mengeluh, tak lama Ia menyebut lagi nama Lia sambil mengemudi


"Lia.. kapan Kamu sadar sayang"


tak lama Makmun pun sampai di depan rumah, pagar rumah terkunci, Ia teriak memanggil Kasih untuk membukakan pintu gerbang


"Kasih.. buka Kasih.." bicara dengan sempoyongan


Kasih yang mendengar teriakan Makmun langsung keluar rumah dan membukakan pintu gerbang, melihat Makmun yang keadaannya seperti itu Kasih pun kaget


"Astagfirullah.. Mas Makmun, Mas mabuk"


"Buka Saya mau masuk, Saya mau ketemu Istri Saya" bicara tak jelas sambil senyum-senyum


"Ya Allah Mas.. kenapa harus mabuk sih" Kasih menggerutu, sedangkan Makmun terus menyebut-nyebut nama Lia


"Iya Mas.. Mbak Lia pasti cepat sadar, Mas sabar dong"


Kasih memopong Makmun hingga ke kamar, Ia pun membukakan baju Makmun yang kotor terkena muntahan tadi, tiba-tiba Makmun menggenggam tangan Kasih


"Lia.. Kamu jangan pergi lagi ya, Aku gak bisa jauh dari Kamu"


Kasih bingung namun sebenarnya Ia merasa kasihan melihat keadaan Makmun yang seperti ini


"Mas.. Aku Kasih, bukan Lia... Mas yang sabar Mbak Lia pasti sembuh"


lalu Kasih berusaha untuk melepaskan tangannya dari genggaman Makmun, tapi Makmun enggan melepaskan genggaman itu, Dia malah marah dan mengira Kasih adalah Lia


"Kenapa, Kamu ingin melepas genggaman tangan Aku, Kamu gak rindu Aku sayang"


"Mas.. Aku Kasih.. bukan Lia, lepaskan ya Mas"


"Gak.. Kamu gak boleh pergi, Kamu harus temani Aku sampai maut memisahkan Kita"


Kasih mulai panik Makmun tak mau melepaskan genggaman tangannya


"Mas... lepas.."


Kasih berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan genggaman itu, tiba-tiba Makmun menarik Kasih hingga Kasih jatuh tepat di atas dada Makmun, hal itu pun membuat Kasih terdiam kaget, karena wajah Mereka kini berdekatan, mata Kasih terbelalak lebar, namun Makmun tersenyum pada Kasih membuat Kasih sedikit merasa gugup.


"Mas.. lepaskan Aku"


"Aku ingin di temani Kamu, Aku rindu Kamu"


"Tapi Aku Kasih bukan Lia"


lalu Kasih spontan berdiri menjauh dari Makmun, hal itu pun membuat Makmun menjadi marah.


Makmun berdiri lalu berkata,

__ADS_1


"Kenapa Kamu menolak Aku, pasti karena Juvi iya Kan"


"Mas.. Aku bukan Lia"


berkali-kali Kasih menjelaskan bahwa dirinya bukanlah Lia, Kasih pun hendak ingin melangkah pergi dari Makmun, namun Makmun menarik Kasih dengan kasar


"Ya ampun Mas.."


"Kamu gak boleh pergi dari Aku, Kamu pasti ingin menemui Juvi iya kan.. kenapa sih Juvi, Juvi saja yang selalu kamu utamakan"


Makmun bicara tak karuan hingga marah-marah tak jelas, membuat Kasih sedikit takut dengan sikap Makmun, merasa kelakuan Makmun sudah tidak beres, Kasih berusaha ingin menghubungi Bu Alya agar segera pulang, tapi sayang saat sedang menunggu panggilan ponsel Kasih di ambil paksa oleh Makmun


"Astagfirullah Mas.. Mas sadar.. Aku bukan Lia"


"Kamu ingin telepon siapa..? Juvi pasti iya kan, pokoknya Kamu gak boleh kemanapun Kamu harus disini layanai Aku sebagai suami Kamu"


Kasih sungguh terkejut mendengar ucapan Makmun, Ia kini merasa takut akan ucapan itu, Makmun semakin terlihat marah Dia pun menarik Kasih dan mendorong Kasih hingga tertidur di atas kasur


"Mas... ingat sadar.. Aku bukan Lia Mas, Aku tidak mungkin melayani Kamu Mas"


Kasih mundur perlahan menjauh dari Makmun, hal itu pun semakin membuat Makmun marah, yang Ia rasakan jika Lia sedang menjauhinya karena sudah tidak mencintainya lagi


"Sayang.. Kenapa Kamu ketakutan dengan Aku, Aku suami Kamu, tolong jangan pergi, jangan temui Juvi"


Kasih tak mengerti dengan apa yang di katakan Makmun, saat ini yang Ia rasakan hanyalah ketakutan akan sikap Makmun yang menjadi brutal


"Mas.. Aku mohon Aku mau keluar dari Kamar ini"


Kasih terlihat takut sekali, namun Makmun terus mendekatinya dengan tatapan penuh kemarahan.


ternyata panggilan itu masih aktif, Bu Alya pun mengangkat panggilan dari Kasih, namun saat di ajak bicara Kasih tak menjawab


"Kasih.. Kamu ada di situ gak sih"


Bu Alya memandangi ponselnya dengan rasa bingung


"Kasih... Kamu sedang apa? jawab Kasih"


pikiran Bu Alya kini khawatir terhadap Kasih, Ia memikirkan takut akan kejadian perampokan itu terulang kembali


"Pah.. Kasih menelepon Mamah, tapi kenapa Dia gak jawab suara Mamah ya, aduh Pah.. Mamah jadi khawatir takut rumah di rampok lagi"


karena Kasih bersikeras tak ingin di sentuh, lalu Makmun pun menampar wajah Kasih dengan keras, hingga Kasih berteriak kesakitan


"Aaaauuu"


Bu Alya mendengar teriakan itu


"Kasih.. Kamu kenapa?"


merasa sudah tidak beres akhirnya Bu Alya memutuskan untuk kembali pulang, Ia merasa khawatir terjadi sesuatu terhadap Kasih.


"Ya sudah Kita pulang Mah"


"Mas.. Kami pulang ya, Kami Doakan semoga Mbak Maya cepat sadarkan diri, nanti Kita kesini lagi"


"Ya Mas... terimakasih sudah mampir menengok Kami, salam dengan Makmun"


Bu Alya dan Pak Helmi pun bergegas kembali pulang.


Dengan paksa Makmun melepaskan pakaian Kasih


"Mas.. hentikan.. tolong jangan lakukan ini Mas"


Kasih kini menangis, melihat Kasih menangis Makmun pun menjadi iba


"Kamu kenapa menangis, tolong jangan menagis, Aku mencintai Kamu"


"Tapi Aku tidak mencintai kamu"


Kasih kini marah, sedangkan Makmun yang menganggap itu Lia, Makmun pun marah balik pada Lia


"Kamu bisa-bisanya bicara seperti itu, Aku suami Kamu, Kamu harus menuruti Aku, cepat layani Aku sekarang, itu perintah Lia"


harus bagaimana lagi caranya menyadarkan Makmun jika dirinya bukanlah Lia


"Mas.. Aku bukan Lia"


Kasih kini semakin menangis, pintu sudah di kunci rapat oleh Makmun, kini Kasih tak tahu harus berbuat apa lagi, Makmun semakin memaksanya sehingga Kasih mendapat tamparan untuk kedua kalinya, tamparan ini sungguh kuat, hingga Kasih pun pingsan, Makmun kaget dengan apa yang Ia sudah lakukan

__ADS_1


"Lia.. Sayang... Bangun.."


karena pakaian Kasih yang setengah sobek akibat di robek paksa oleh Makmun tadi, membuat Ia terpanah melihat keindahan tubuh Kasih yang Ia sangka itu adalah Lia.


__ADS_2