
Bang, beliin mangga muda sama sambal rujaknya.
Dahi Aska mengkerut membaca pesan dari sang istri tercinta. Tidak seperti biasanya Jingga menginginkan makanan yang masam dan juga pedas. Apalagi semenjak melahirkan dia selalu menjaga pola makan sesuai dengan anjuran dari ibu mertuanya.
Aska hanya menjawab dengan kata iya. Dia tengah sibuk dan tidak bisa berlama-lama memandangi ponselnya. Dia harus profesional dalam bekerja.
.
Kepala Jingga sangat terasa berat. Sudah tiga malam ini dia merasa ada yang aneh dari putrinya. Dia juga merasa selalu ada Dea di samping boks bayi Ayna.
"Dea, jangan ganggu Ayna ya, Nak. Kasihan dedeknya," gumam Jingga.
Ayna masih kecil. Dia masih sensitif perihal hal-hal yang tak terlihat. Dia hanya takut terjadi apa-apa dengan putrinya. Walaupun Ayna tidak sempurna, kasih sayang Jingga kepada putri pertamanya tidak akan bisa diungkapkan dengan kata-kata. Dia menyayangi Ayna lebih dari nyawanya sendiri.
Setelah menghubungi suaminya, Jingga kembali terlelap. Matanya seakan enggan terbuka.
"Bunda."
Suara anak kecil membuatnya terbangun. Namun, kini dia berada di tengah padang rumput yang hijau. Banyak anak-anak bermain di sana. Mereka nampak ceria dan bermain dengan bebasnya. Menggunakan baju satu warna, yakni putih.
"Bunda."
Suara itu memanggil lagi. Jingga mencari suara yang dia rindukan. Suara yang sudah lama tidak dia dengar. Ketika dia menoleh ke arah belakang, seorang anak kecil memakai dress berwarna putih juga bandana berwarna putih tersenyum ke arahnya.
"Dea!"
Jingga benar-benar tidak menyangka dengan apa yang dia lihat saat ini. Putrinya ini sangat cantik.
Jingga ingin memeluk Dea, tetapi Dea melarangnya. "Belum bisa, Bun. Belum waktunya."
Dahi Jingga pun mengkerut mendengar ucapan dari Dea. Namun, dia melihat wajah Dea yang berbinar. Seakan dia tengah merasakan kebahagiaan yang tak terkira.
"Sebentar lagi kita akan berkumpul," ucapnya.
Melihat Dea tersenyum membuat Jingga ikut melengkungkan senyum. Baru kali ini dia melihat Dea tersenyum dengan begitu cantiknya. Senyumnya benar-benar lepas. Sepertinya dia tengah menunggu sesuatu yang akan membuatnya bahagia.
"Kakak!"
Suara anak perempuan membuat Jingga menoleh. Matanya melebar ketika melihat wajah anak itu mirip sekali dengan Ayna. Bibir Jingga terasa kelu, apalagi dia ditatap begitu lembut oleh anak perempuan itu.
__ADS_1
"Kita berpisah sebentar dulu ya, Bun. Nanti kita akan hidup bahagia."
Bun, berarti benar anak itu adalah Ayna. Apa maksudnya berpisah sejenak? Mulut Jingga terkatup dengan begitu rapatnya. Dia sama sekali tidak bisa berbicara.
"Tunggu kita ya, Bun."
Mereka berdua kompak mengatakan itu semua. Sedangkan Jingga dilanda kebingungan yang menjadi. Wajah mereka berdua amatlah bahagia.
Suara ketukan pintu membuat Jingga terbangun dari tidurnya. Keringatnya bercucuran begitu derasnya. Dia mencoba untuk bangkit dari atas tempat tidur. Kepalanya masih terasa berat dan dia berusaha menuju pintu untuk membukanya.
"Mommy ganggu gak?" tanya Ayanda sambil menggendong Ayna.
"Ayna rewel, Mom?" tanya Jingga.
"Sepertinya dia ingin bersama kamu. Kasihan nangis terus."
Jingga melihat jejak air mata di wajah cantik putrinya. Dia segera mengambil Ayna dari gendongan sang ibu mertua.
"Mommy ambilkan buah potong, ya." Jingga pun mengangguk.
"Mom, ada Sunkist gak?" Dahi Ayanda mengkerut mendengar permintaan menantunya. Sunkist adalah buah yang masam segar. Ada apa ini?
Ayanda keluar dari kamar Jingga dengan sejuta tanya di dalam hatinya. Tidak biasanya Jingga meminta buah yang masam. Ada apa gerangan?
Dari pada bergelut dengan kebingungan. Ayanda memilih ke dapur dan mengambilkan buah yang menantunya inginkan. Namun, dia juga mengambil buah yang lainnya.
Ayanda melihat betapa sayangnya Jingga kepada Ayna. Dia juga sepertinya sudah terbiasa dengan keadaan Ayna. Gurat sedih masih terlihat samar di wajahnya. Namun, Jingga sudah bisa berdamai dengan keadaan.
"Buahnya Mommy letakkan di atas meja, ya." Jingga pun mengangguk.
Ayanda duduk di pinggiran tempat tidur. Tepat di samping kaki Jingga yang tengah diluruskan.
"Sudah membaik?" tanya Ayanda dengan penuh kekhawtiran. "Apa perlu Mommy panggilkan dokter?" Jingga dengan cepat menggeleng.
"Sepertinya aku kurang tidur, Mom. Kalau ada Mbak Riana aku tidak bisa tidur siang. Tidak enak meninggalkan Mbak Riana."
Ayanda mengerti, dia juga ketika memiliki si kembar sering pusing dan masuk angin.
"Minta kerokin ke suami kamu. Siapa tahu kamu masuk angin."
__ADS_1
"Jangan deh, Mom. Bukannya dikerokin malah dikerjain. Bukannya keluarin angin malah keluarin susu kental manis."
Begitulah batinnya berkata. Dia sangat tahu bagaimana watak suami tercintanya.
Berada di tangan Jingga, Ayna malah terlelap dengan damainya. Ketika dia memandang wajah Ayna, dia teringat akan mimpinya tadi. Anak perempuan yang bernama Dea sangat mirip dengan Ayna. Namun, kakinya sudah sempurna sama seperti Dea.
"Jangan tinggalkan Bunda ya, Nak. Bunda tidak malu dengan keadaan kamu. Bunda malah bahagia bisa memiliki kamu." Sebuah kalimat yang teramat tulus dari seorang ibu.
Seharian ini Jingga tidak mau memakan apapun. Dia hanya ingin memakan buah-buahan yang masam. Ayna pun terus terlelap dengan begitu damainya.
Malam menjelang, Aska pulang dengan tangan kosong. Dia melupakan permintaan istrinya karena hari ini jadwalnya benar-benar padat sekali.
Ketika dia membuka pintu kamar, sang istri tengah terlelap dan di sampingnya Ayna pun tertidur. Biasanya ketika dia datang Ayna segera terjaga. Akan tetapi, malam ini tidak seperti itu.
Aska mengecup kening Jingga hingga sang istri terbangun. Terlihat wajahnya yang masih pucat.
"Masih pusing?" Jingga pun mengangguk lemah.
"Maaf ya, Sayang. Aku lupa gak beli mangga muda." Aska takut jika istrinya marah. Namun, Jingga malah tersenyum. Dia memeluk tubuh suaminya dengan begitu erat.
"Gak apa-apa."
Aska merasa lega dan dia kembali mencium kening Jingga. Kini, Aska mendekat ke arah Ayna. Dia mencium kening putra tercintanya.
"Jangan rewel ya, Nak. Kasihan Bunda lagi gak enak badan," ucap Aska. "Nanti kita main bersama lagi ya, Nak. Ayah mandi dulu."
Jingga tersenyum ke arah suaminya. Juga dia meminta Aska untuk mencium bibirnya. Sungguh manja sekali sikap istrinya akhir-akhir ini. Aska pun menuruti apa yang diinginkan istrinya. Barulah dia masuk ke kamar mandi.
"Ah, sungguh tampan sekali Kang Tae Mo ku," gumam Jingga.
Baru saja dia hendak memejamkan matanya. Dia melihat ke arah sang putri yang sudah kejang-kejang.
"Ayna!" seru Jingga. "Kamu kenapa, Nak?"
Jingga meletakkan jarinya di mulut Ayna. Dia segera berteriak memanggil-manggil sang suami. Di dalam kamar mandi, Aska yang baru mencopot kancing kemeja pun segera keluar. Dia melihat istrinya sudah bergerak histeris dan mata Ayna sudah mendelik ke atas dengan bola mata putih semua.
"Ayna!"
...****************...
__ADS_1
Komen dong ...