
Asri menghela nafas, melihat Tini yang begitu membencinya
"Belum ketahuan saja sudah segitunya benci sama Aku, bagaimana kalau ketahuan" ucap Asri dalam hatinya, lalu Asri memanggil OB
"Mas... tolong ya di ruang pak Sam ada pecahan gelas, tolong di bersihkan ya, soalnya tadi tangan Saya terluka sedikit kena pecahan, jadi mas yang lanjutin ya"
"Ya ampun... maaf ya Bu, harusnya Ibu panggil saja Kami" lalu si OB memberi tahu kotak obat pada Asri
"Makasih ya mas" Asripun masuk ke pantry, saat Ia mencari cari dimana kotak obatnya tiba tiba Chandra datang
"Kamu cari apa Asri" Asri kaget mendengar suara Chandra, tak sengaja kepalanya terbentur pintu lemari kotak obat
"Aduh" Chandra langsung menghampiri
"Ya ampun Asri, sakit ya" Asri memegangi kepalanya yang tadi terbentur
"Aduuhh... sial banget deh Gue"
"Maaf ya Aku ngagetin Kamu"
"Lain kali kalau masuk ke ruangan tuh ketok pintu dulu kenapa?"
"Ini kan pantry Sri, masa iya Aku harus permisi, kalau misal gak ada orang berarti Aku permisi sama hantu dong" Chandra bicara sambil tertawa kecil, Asri pun ikut tertawa mendegar ucapan Chandra.
"Kamu mau buat kopi ya untuk Sam" Asri menggeleng-geleng kan kepalanya
"Terus....."
"Aku cari ini" sambil menunjukan kotak obat, lalu Chandra melihat Asri dari atas hingga bawah
"Kepala kamu terluka, gara gara tadi terbentur, berdarah gak Sri..?" bertanya sambil meraba raba kepala Asri
"Aduh.... Chan... kepala Aku gak papa, tapi ini yang luka" menunjukan luka di tangannya, saat melihat luka Asri Chandra langsung terkejut
"Ya ampun, ini lumayan lukanya, sini Aku bantu" dibantu lah Asri oleh Chandra mengobati lukanya.
Sepanjang Chandra yang sedang mengobati luka bekas pecahan tadi, Asri memandangi wajah Chandra, Ia terus memandang tak berkedip, setelah selesai tangan Asri di perban, Chandra pun sadar bahwa Ia sedang di pandangi
"Asri... halo..."
"Iya Chan... sudah ya di perbannya, makasih ya"
"Tapi ngomong-ngomong kok kamu bisa luka begini kenapa..?"
"Oh...tadi itu Aku gak sengaja nyenggol gelas di atas meja, terus jatuh pecah deh, Aku coba bersihin pecahan kacanya, terus ya...kena deh"
"Terus Sam mana, kok Dia ga bantu Kamu mengobati lukanya" Asri terdiam lalu menundukkan kepala dan mengatakan,
"Kan ada Tini di dalam, jadi Dia gak mungkin dong menyusul Aku kesini" Chandra mendengarnya merasa sedih dengan apa yang di alami Asri.
"Sudah dong, jangan sedih lagi, kalau Sam ga bisa obati Kamu, kan masih ada Aku yang batu Kamu" Chandra berusaha mencoba menghibur hati Asri, Asri pun tersenyum dan melirik Chandra
"Ya Kamu harus tahu resiko Soal hubungan yang kamu jalani ini" kini Asri hanya terdiam kemudian Dia mengatakan,
__ADS_1
"Iya Aku paham kok, oh ya Kamu mau buat kopi ya" Chandra menganggukkan kepalanya "Ya sudah Aku yang buatkan ya, Kamu tunggu sebentar" tak lama Lia pun datang
"Eehh... Kalian... Lo ngapain Sri berduaan disini" tanya Lia dengan nada yang meledek
"Gak liat nih Gue lagi apa" bicara sambil mengaduk kopi
"Ini tuh kopi buat Chandara, sama Sam"
"Oh... kalau gitu bikinkan teh untuk Gue dong sekalian" pinta Lia sambil nyengir
"Jadi sekarang tugas Gue tukang bikin kopi, sama teh ni" ucap Asri dengan tertawa kecil, Mereka pun jadi tertawa bersama.
Setelah membuat kopi untuk Chandra juga membuatkan teh untuk Lia, Asri pun kembali ke ruang kerja dengan membawa kopi untuk Sam.
Sam yang tak nyaman dengan keberadaan Tini, Ia pun berusaha membujuk Tini supaya menunggunya di loby atau diruang Papahnya, asal yang penting Dia tak di ruangan ini
"Tin... lebih baik Kamu tunggu Aku di loby kalau gak di ruang Papah, Aku merasa gak nyaman tau gak lagi kerja di tunggu seperti ini, Aku gak lupa kok sama janji Aku" Tini pun mengiakan permintaan Sam, lagi pula Ia merasa bosan di sini, karena Sam tak bisa mesra layaknya suami suami yang lain
"Ok... Aku tunggu di ruang Papah, lagian Aku malas juga lama lama liat wajah perempuan itu" lalu Ia pun pergi dan saat membuka pintu ternyata Asri pun sedang ingin masuk, akhirnya kopi pun tumpah ke baju Asri brush.... suara air kopi yang tumpah mengenai baju Asri
"Astagfirullah.... " ucap Asri yang reflek terkena tumpahan kopi, Tini melihat itu bukanya minta maaf malah marah marah dengan Asri
"Astaga... Kamu lagi kamu lagi selalu deh bikin ulah, ceroboh banget ya Kamu, Aku heran deh kenapa ya, Sam mau menerima Kamu jadi karyawannya apalagi sampai jadi Asistennya" merasa kesal dari tadi dihina sekali oleh Tini akhirnya Asri langsung menjawab ucapan Tini
"Bu... Saya punya salah apa si sama Ibu, Ibu dari tadi marah marahin Saya terus, harusnya Ibu tuh yang minta maaf sama Saya, Ibu yang nabrak saya, kenapa jadi saya yang di salahkan" Asri kini menjadi kesal dengan sikap Tini, seketika Tini membelalakkan matanya hingga lebar lalu berkata,
"Kamu berani beraninya bicara seperti itu sama Saya, Kamu tahu siapa Saya, Saya Anak dari pemilik perusahaan ini jangan sampai Saya berbuat kasar ya" Sam melihat kejadian itu pun langsung melerai pertikaian antara Tini dan Asri
"Sudah... cukup... Tini, Kamu gak malu apa dilihat orang orang" Tini tertawa sinis kemudian mengatakan,
"Kamu sebaiknya ke ruang Papah Kamu sekarang, Tini Kamu tahu sifat Kamu ini lah yang buat Aku selalu gak nyaman dengan Kamu, dan tingkah Kamu ini juga yang buat aku gak pernah mencintai Kamu" setelah mengucapkan kata itu, Sam pun masuk kedalam, Asri hanya Diam dan melirik Tini lalu Ia juga ikut masuk kedalam.
Seperti di tampar di depan umum Tini mendengar kata kata itu
"Sam... Kamu keterlaluan, kenapa Kamu sangat membela perempuan itu" ucap Tini dalam hatinya dengan raut wajah kebencian Ia pun langsung menuju ruangan papahnya.
Melihat hal tadi Sam langsung menghampiri Asri dan menanyai lukanya
"Sayang Kamu gak apa-apa" Asri melihat ke depan pintu sudah tak ada Tini, lalu ia masuk lagi dan menjawab,
"Aku gak papa kok" cuma baju ini jadi kotor, lalu Sam mengambil sapu tangannya dan mengusap-usap baju Asri
"Maaf ya Sayang, Kamu liat sendiri kan sifat dan tingkahnya jauh banget sama Kamu, yang sopan, lembut, penuh kasih"
"Sudah deh semuanya ajah di borong" Asri berkata sambil tersenyum, Sam menatap wajah Asri dan Ia pun ikut tersenyum
"Mau aku buatkan kopi lagi" Asri bicara sambil terus membersihkan baju yang terkena tumpahan kopi tadi
"Sudah Sayang... Kamu mau bersihin sampai besok pagi juga, baju ini ga akan bersih bersih, sudah biarin, bentar lagi juga pulang" lalu Sam meminta maaf lagi dengan membelai pipi Asri.
jam pulang pun tiba, lalu Sam meminta maaf kepada Asri karena hari ini Asri harus pulang sendirian
"Kamu pulang sendiri dulu ya, nanti kabari Aku, kalau sudah sampai rumah" Sam berbicara dengan sangat perhatian
__ADS_1
"Iya Sam... gak apa-apa kok, Aku pulang ya" Asri pamit, namun Sam menarik tangan Asri "Tunggu"
"Kenapa Sam..?" Sam melihat situasi, menurutnya aman Sam pun langsung mencium pipi Asri, Asri merasa kaget lalu tersenyum
"Nakal ya... ya sudah Aku pulang ya Sayang" Sam pun tersenyum melambaikan tangan.
Lalu Ia menghampiri ruangan kerja Pak Herman, setelah masuk Sam langsung bicara
"Pah... Aku mau ajak Tini untuk berobat, katanya Dia sedang sakit" Tini pun langsung menyahuti
"Sam, datang juga, ya sudah Ayo Kita berangkat Aku Merasa sudah ga enak badan, mual terus bawaannya" Tini sengaja mengeluh supaya Sam perhatian padanya.
Namun Sam tak pernah peka terhadap Tini, karena memang rasa cinta untuk Tini tak pernah ada dalam hatinya, Tini hanya diam merasa kesal pada Sam dan Merekapun langsung menuju Rumah Sakit.
Asri sedang menunggu Taksi di pinggir jalan, lalu Ia bertemu Chandra yang juga ingin pulang, Chadra pun menawarkan untuk pulang bersama
"Asri.... tidak pulang bersama Sam?"
"Tidak Chan, Sam harus mengantar Tini ke Rumah Sakit"
"Kita bisa pulang bersama kalau kamu mau, Aku akan Atar Kamu pulang" Asri sebenarnya tak mau tapi mengingat Taksi yang jarang lewat di jam segini, akhirnya Ia mengiakan ajakan Chandra.
Di dalam mobil Chandra bertanya mengenai Sam yang mengantar Tini ke Rumah Sakit "Memangnya Tini sakit apa Sri?"
"Aku juga tak tahu Chan, katanya sih demam, Biarlah lagi pula Sam kan masih Suaminya" Asri jawab dengan nada sedih
"Asri aku minta maaf sebelumnya, bukan Maksud apa apa, tapi Aku merasa janggal saja kalau belum bertanya"
"Kamu mau tanya apa, langsung saja Chan, jangan buat Aku penasaran seperti ini"
"Begini, kamu sudah yakin dengan perasan Kamu untuk Sam, Maaf.... Tapi kan Dia masih beristri, apa Kamu mau di gantung terus statusnya seperti ini Sri?" Chandra bertanya dengan mimik wajah yang serius.
Asri bingung harus menjelaskan dari mana dulu lalu Ia menceritakan semuanya yang terjadi di hidup Sam.
Sesampainya Sam dan Tini di Rumah Sakit Mereka langsung menuju antrian, sambil menunggu antrian Sam bertanya pada Tini
"Kamu itu sakit Apa sih sebenarnya?"
"Aku juga gak tau, kadang lemas badanku, mual terus muntah muntah, Aku sendiri ga tahu Sam" Sam hanya diam tak berkata apa apa lagi, kini giliran nama Tini di panggil
"Ibu Tini silahkan masuk" Tini berdiri ingin masuk, namun Sam tetap duduk dan tak mau ikut kedalam
"Sam kok Kamu diam saja, ayo ikut masuk ke dalam, biar Kamu tahu apa penyakit Aku" karena Sam tak ingin berdebat, akhirnya Ia bangun dan ikut masuk kedalam, lalu Tini langsung di periksa oleh Dokter dan Dokter bertanya,
"Keluhannya apa Bu bisa jelaskan"
"Saya sering pusing, kemarin sempat demam, terus juga agak mual hingga muntah" Dokter langsung memeriksa perut Tini, tak lama Dokter tersenyum dan mengatakan,
"Selamat ya Bu, Pak" bicara sambil tersenyum, Sam dan Tini hanya diam kebingungan
"Kenapa ya Dok"
"Selamat Ibu Tini sedang hamil, dan kehamilannya memasuki usia 2 Minggu" tentu saja ini kabar bahagia untuk Tini, namun lain dengan tanggapan dari wajah Sam, Ia sangat kaget hingga syok.
__ADS_1
Sam hanya diam tak percaya kenapa bisa Tini hamil, Dia berfikir hal ini akan mempersulitnya untuk bercerai nanti, Sam pun langsung keluar dari ruangan, Tini yang melihat itu langsung menyusul
"Dokter terimakasih ya untuk kabar bahagia ini, Saya sangat bahagia" Tini berbicara dengan tersenyum senang, setelah itu Tini berlari menyusul Sam.