
Kehamilan Jingga disambut bahagia oleh semua anggota keluarga. Mereka menangis bahagia. Bukan tanpa sebab, baru dua Minggu ditinggal sang putri tercinta sekarang Jingga sudah diberikan hadiah terindah oleh Tuhan yang Maha Kuasa. Sungguh kebahagiaan yang tak terkira.
Ayanda menjelma menjadi mertua yang overprotektif. Begitu juga dengan Riana dan juga Echa. Mereka akan membawakan makanan yang bergizi dan bagus untuk perkembangan janin. Jangan ditanya bagaimana repotnya Askara menghadapi Jingga. Namun, dia malah bahagia. Walaupun waktu tidurnya harus terpotong karena setiap tengah malam Jingga meminta keluar untuk mencari makan.
Hari ini, ketiga keponakan Jingga diminta untuk datang ke rumah besar. Si triplets menurut saja, lagipula mereka tidak diperkenankan membantah ucapan ibu hamil oleh orang tua mereka
Kedatangan mereka disambut hangat oleh Jingga. Dia tersenyum ke arah ketiga keponakannya yang super cantik itu.
"Ada apa, Kak?" tanya Aleena.
"Nge-mall bareng, yuk."
Mata ketiga anak Echa melebar dengan sempurna. Sudah pasti mereka akan mengangguk dengan cepat. Kebetulan Aleena ingin mencari buku, Aleesa ingin mencari baju juga Aleeya ingin mencari aksesoris.
Kepergian Jingga dan si triplets ke mall sudah pasti atas seijin yang mulia. Siapa lagi jika bukan Askara. Demi untuk tumbuh kembang anak-anaknya, Aska mengijinkan istrinya pergi. Namun, dengan catatan ada pengawalan dari belakang. Aska hanya takut, terjadi sesuatu dengan Jingga.
"Kenapa sih kalau ke mana-mana itu pasti diikutin banyak orang," keluh Aleesa.
"Berasa presiden kalau begini terus mah," lanjut Aleeya.
Tiga anak Echa saja mengeluh akan keprotektifan keluarganya sendiri. Berbeda dengan Jingga yang merasa sangat senang. Maklum, dulunya dia hanya manusia dari kalangan rakyat jelata. Jadi, sekarang ini dia merasa dilindungi.
"Harusnya kalian itu bersyukur. Kedua orang tua kita melakukan ini semua pasti memiliki alasan yang jelas. Bubu dan Baba juga memberikan kita kebebasan, tetapi kebebasan yang harus dipertanggungjawabkan."
Dari ketiga anak Echa hanya Aleena yang bersikap dewasa. Dia mampu mengayomi kedua adiknya. Kedua adiknya pun menjadi manusia penurut jika Aleena sudah berkata.
Jingga mengajak mereka bertiga ke sebuah salon. Mata ketiga anak Echa melebar. Mereka bukan tidak terbiasa, tetapi feeling mereka mengatakan bahwa ada yang tidak beres nantinya.
"Ayo!" Jingga sudah sangat antusias. Sedangkan ketiga anak itu hanya saling pandang.
"Triplets, cepetan!"
Mau tidak mau, mereka bertiga masuk ke dalam salon. Sang Tante sudah duduk manis di kursi yang biasa digunakan untuk memotong rambut.
"Ini tiga ABG mau dipotong juga rambutnya," tanya selah seorang pekerja salon di sana.
"Eng-"
"Iya," potong Jingga. "Samain sama aku potongannya."
Bagai mimpi buruk bagi si triplets. Anak-anak yang senang dengan gaya rambut panjang harus mengikuti gaya rambut Tante mereka yang mereka sendiri tidak tahu sang tante mau dipotong seperti apa.
"Benar 'kan feeling aku," ujar Aleesa kepada adik dan kakaknya.
Ide licik sudah tercetus di kepala Aleeya. Kedua kakaknya sudah mengerti dan siap melaksanakan aba-aba dari Aleeya.
Kedipan mata Aleeya yang pertama menandakan mereka harus bersiap. Kedipan mata kedua menandakan mereka harus segera ambil ancang-ancang, dan kedipan mata ketiga mengharuskan mereka kabur. Namun, tiga orang kekar sudah menghadang mereka di pintu salon tersebut.
"Tuan Aska tidak mengijinkan kalian pergi. Kalian harus mengikuti apa yang diperintahkan oleh Nyonya Jingga."
"Om Aska!"
Mereka bertiga bagai anak-anak kesetanan. Bagaimana tidak, sekarang rambut panjang mereka sudah dipotong bagai Dora the Explorer. Film kartun yang selalu memanggil peta jika mengalami kesulitan mencari jalan.
"Kok kaya pacarnya si Boboho jatuhnya," keluh Aleeya.
__ADS_1
"Udah pasti nih si Dev ketawa tanpa ampun," ujar Aleesa.
"Ini kaya enci-enci. Mana poninya setengah begini," keluh Aleena.
Jingga sudah bertepuk tangan gembira melihat keponakannya yang memiliki wajah serupa dengan gaya yang sama pula.
"Kalian imut banget," puji Jingga.
Ketiga anak Echa mendengkus kesal. Andai, sang ibu tidak menyuruh mereka menurut kepada Jingga, sudah pasti Jingga akan kena bogem mentah dari ketiga anak itu.
Setelah selesai, Jingga mengajak anak-anak itu menuju toko baju merk ternama. Si triplets hanya pasrah saja. Namun, hatinya menggerutu dengan begitu lantang. Apalagi melihat mata semua orang tertuju pada mereka. Ingin rasanya mereka menenggelamkan tubuh mereka ke laut merah.
Jingga sudah memilihkan baju yang sangat cantik. Namun, tak sesuai dengan selera ketiga keponakan kembarnya. Dress berwarna soft yang Jingga pilihkan. Belum lagi aksesoris yang sudah Jingga pilih juga.
"Ondel-ondel," gumam Aleeya. Anak yang memang sekarang tumbuh sedikit tomboy.
"Atuhlah," keluh Aleena.
Mendengar kata itu membuat mata Jingga berkata-kata. Aleesa menyenggol lengan Aleena. Wajah Aleena kini menunjukkan rasa bersalah tak terkira.
"Maaf," sesal Aleena.
"Ini tuh bukan kemauan Tante, kemauan anak-anak Tante yang ada di dalam sini." Jingga mengusap lembut perutnya.
Aleesa hanya mendelik kesal. Selalu saja anak yang ada di dalam kandungan yang dibawa-bawa. Padahal, mereka tidak salah. mereka tidak menginginkannya.
Akhirnya ketiga anak Echa itu menuruti apa saja kemauan Jingga. Sungguh tidak pantas sekali mereka memakai dress selutut yang dibelikan Jingga. Ditambah jepitan ala-ala Korea yang tersemat di rambut mereka.
"Jepitan mahal sama jepitan goceng sama aja. Sama-sama gatel di rambut," oceh Aleesa.
Nyaman tidak nyaman ketiga anak itu tetap memakai semua yang dibelikan oleh Jingga.
"Jalannya jangan kaya cowok gitu dong," protes sang Tante.
"Astaga!"
Mereka bertiga menjerit dalam hati. Ditambah mereka disuruh berpose dengan finger love ala Korea. Sungguh membuat mereka geli.
.
Aska tertawa terbahak-bahak melihat ketiga keponakannya. Selama sepuluh tahun ini dia tidak pernah melihat keponakan-keponakannya itu girly, kecuali jika ada acara-acara tertentu. Mereka akan memakai kebaya dengan kain bawahannya selalu mereka angkat setinggi mungkin. Lipstik yang MUA bubuhkan di bibirnya pun sering kali mereka hapus.
"Kaya abis makan da-rah orok."
"Kaya orang kena penyakit tipes. Pucat banget."
"Gak pantas."
Banyak sekali alasan dari ketiga keponakannya itu jika menyangkut dandan mendandani. Mereka itu memang sudah cantik sedari bayi. Jika, mereka memakai riasan mereka akan geli sendiri melihat bayangan mereka di cermin.
Aska segera bangkit dari duduknya. Dia akan menjemput istrinya di mall. Sebelumnya dia ke ruangan sang Abang. Hanya untuk menunjukkan foto si triplets. Aksa tak berhenti ketawa. Sungguh anak itu kena karma sekarang.
"Riana pas ngidam gak pernah minta yang aneh-aneh sama tuh bocah," ucap Aksa.
"Biarin lah, Bang. Biar dikerjain mereka sama empat bayi yang ada di dalam perut," sahut Aska. Aksa pun tertawa.
__ADS_1
Aska masih ingat jelas bagaimana jahilnya si triplets kepadanya. Selalu menjadi tukang palak makanan-makanan mewah. Belum lagi jika diajak ke angkringan, membuat kantong Aska jebol. Hampir semua sate-satean pasti mereka habiskan.
Apalagi jika ke kafe, Ken akan selalu mengeluh karena ketiga keponakan Aska seperti rampok.
.
Jingga mengikuti arahan sang suami. Sekarang mereka berada di tempat makan ala Jepang kesukaan mereka. Huk Ben, itulah nama kedainya. Jingga menggelengkan kepala ketika mereka memesan makanan dengan jumlah yang sangat banyak. Jingga malah tertawa dan mengusap lembut perutnya yang masih rata.
"Apa kalian nantinya akan seperti kakak triplets."
Membayangkannya saja dia sudah sangat bahagia. Dia benar-benar ingin segera melihat bentuk janin yang tumbuh di perutnya.
Kecupan hangat di ujung kepala Jingga membuatnya terkejut. Sang suamilah yang melakukannya dan tersenyum ke arah istrinya yang sudah memotong rambut menjadi sebahu. Aska menahan tawa melihat ketiga keponakannya bagai boneka Dora.
"Yang satu kaya si Dora," tunjuknya pada Aleena.
"Yang satu kaya Chibi Maruko Chan," tunjuknya pada Aleesa.
"Yang satu kaya pacarnya si Boboho." Tawa Aska menggelegar membuat raut wajah si triplets berubah masam.
Jingga mencubit perut Aska hingga tawanya berhenti. Dia memberikan kode kepada sang suami karena raut si triplets sudah tidak bersahabat.
"Peace!" Aska sudah membentuk jarinya seperti huruf V.
Aleesa melihat ada yang kurang dari penampilan mereka. Ide cemerlang muncul di kepalanya.
"Kak Jing-jing, abis ini kami mau beli sepatu. Masa iya sepatu kami gak sama," ucap Aleesa.
Aleena dan Aleeya melihat ke arah sepatu mereka. Apa yang dikatakan oleh Aleesa benar.
"Oke."
Namun, Aska memiliki perasaan yang tidak enak. Ingin sekali dia menolak, dan berbicara kepada Jingga. Namun, dia tidak ingin merusak kebahagiaan istrinya.
Uang yang harus Aska keluarkan untuk makan berlima bagai menanggung tiga puluh orang. Aska hanya menggelengkan kepala.
Kini, mereka menuju ke tempat sepatu sport ternama. Aska bisa bernapas lega ketika mengetahui merk sepatu yang diinginkan di triplets.
"Gak mahal-mahal amat."
Begitulah batin Aska berbicara. Dia pun hanya mengikuti ketiga keponakannya. Namun, langkahnya terhenti ketika Aleesa dengan kakak juga adiknya kompak menanyakan merk sepatu Adi das Yee zy. Sontak matanya melebar. Dia tahu harga sepatu itu di atas sepuluh juta.
"Cantik sekali," ucap Jingga. Dia juga jatuh cinta pada sepatu yang limited edition itu.
"Bang, aku mau satu, ya."
Aska seperti manusia yang kena Asma. Dadanya mulai terasa sesak. Detak jantungnya mulai melambat.
"Lima puluh sembilan juta enam ratus tujuh puluh dua ribu rupiah."
"Nak, kenapa masih di dalam kandungan saja kalian sudah membuat Ayah bangkrut?"
...****************...
Komen dong ...
__ADS_1