
Chandra duduk sambil mengusap-usap wajahnya Dia begitu gelisah mendengar diagnosa Dokter
"Dokter lakukan apapun yang terbaik untuk Istri saya, Saya akan akan segera mengurus Administrasinya" setelah itu Chandra pergi ke tempat Administrasi untuk mengurus biaya operasi Rahma.
Sam masuk ke ruangan Asri, lalu Sam menatap Asri dengan wajah yang sedih kemudian Sam menggenggam tangan Asri
"Maafkan Aku ya, Aku harusnya selamatkan Kamu dari orang itu, lihat kondisi Kamu sekarang, Aku gak tega melihat kondisi Kamu seperti ini" Sam berbicara sambil menangis kecil, lalu Sam memeluk Asri
"Aku gak apa-apa Sam, Aku hanya syok dengan kejadian ini, Rahma bagaimana keadaanya, apa dia baik-baik saja, Dia yang selamatkan Aku Sam, kalau bukan Dia yang menghalangi orang itu, pasti Aku yang udah tertusuk pisau itu" bicara sambil menangis tersedu-sedu lalu Juvi menyahuti,
"Alhamdulillah Lo masih selamat, kalau Rahma Kita juga lagi menunggu kabar Dokter yang lagi menangani Rahma, semoga saja Rahma juga baik-baik saja, Kita doakan yang terbaik ya Asri"
setelah menyelesaikan administrasi, Chandra datang ke ruang Asri di rawat, Dia pun langsung menanyakan keadaan Asri
"Asri Kamu baik-baik saja, bagaimana lukanya apa masih sakit" tanya Chandra yang juga khawatir dengan Asri
"Aku gak apa-apa Chan, Aku lebih khawatir dengan Rahma, bagaimana keadaannya Chan?" Asri bertanya dengan wajah bersedih, lalu Chandra menjelaskan hasil diagnosa mengenai keadaan Rahma.
Semuanya kaget dengan hasil diagnosa Rahma
"Ya Allah apa benar begitu Chan, Aku merasa bersalah, seharusnya Aku yang terkena tusuk, bukan Rahma" Asri bicara sambil menangis, lalu Sam menaruh kepala Asri tepat di dadanya dan berkata,
"Cukup sayang, Kamu jangan menyalahkan diri Kamu terus, Kamu juga korban Kamu juga terluka" Sam meyakinkan Asri agar Asri tidak selalu menyalahkan dirinya terus menerus lalu Chandra mengatakan,
"Kamu jangan menyalahkan diri Kamu, ini musibah Asri, Aku juga sangat terpukul degan keadaan Rahma" setelah bicara lalu Chandra pamit untuk keluar, Juvi pun ikut keluar.
Sesampainya Pak Herman di Kantor Pak Herman pun menyuruh orang untuk memata-matai Sam dan Asri karena Pak Herman ingin tahu sebenarnya bagaimana hubungan Asri dan Sam jika terbukti kecurigaannya selama ini maka siap-siaplah Sam akan berhadapan dengan orang licik seperti Herman.
Chandra sedang duduk di kursi tunggu pasien, lalu Juvi datang menghampirinya
"Chan apa gak sebaiknya Lo ke kantor polisi, laporin ini semua"
"Pasti... Pasti Gue akan lapor polisi, tapi Gue harus tunggu Rahma selesai operasi Juv"
Sam datang dan duduk di sebelah Chandra, Sam melamun dan memikirkan siapa orang itu, kenapa Asri jadi incarannya, sambil berfikir mata Sam melihat ke kanan dan ke kiri.
Tak sengaja Sam melihat sosok yang pernah Dia temui orang itu sedang berdiri memakai kaca mata, dan memegang ponsel sambil menyender di tiang tembok tak jauh dari tempat Sam dan Chandra duduk.
Setelah di amati Sam mengenal orang tesebut, Dia adalah mata-matanya Pak Herman, dulu Sam pernah di kenalkan oleh Pak Herman sewaktu mengikuti tender besar, Sam pun langsung berdiri dan mengatakan,
__ADS_1
"Juv, Chan Gue harus pulang dulu, ada sesuatu yang harus Gue selesaikan"
"Urusan apa sih Sam" Chandra pun berdiri lalu melanjutkan ucapannya
"Lo masih mikirin kerjaan atau bazar, Asri lebih penting Sam, di tempat bazar banyak orang" ucap Chandra dengan nada meninggi, Sam pun langsung menjawab ucapan tak enak dari Chandra
"Lo kalau gak tahu ga usah asal ngomong Chan" lalu Sam mendekati Chandra juga Juvi dan berkata,
"Kalian lihat laki-laki yang lagi berdiri disana Dia itu Mata-mata Pak Herman, Gue gak tahu tujuannya apa itu orang, Gue takutnya orang itu suruhan Tini makanya Gue harus pulang tanyakan soal ini ke Tini ngerti kan sekarang" ucap Sam menjelaskan maksud dari kepulangannya.
Mendegar nama Tini Chandra kini mengingat kalau Rahma waktu itu pernah melihat Tini bertemu pria misterius itu bahkan sampai mengobrol, lalu Chandra memberitahukan soal itu kepada Sam
"Sam Gue gak bermaksud untuk menuduh, tapi Gue harus kasih tahu Lo kemarin Rahma pernah melihat Tini bertemu dengan pria misterius dekat supermarket, dan Rahma menjelaskan sosok laki-laki itu, dan orang itu mirip sekali dengan orang yang Gue lihat saat Dia lewat dari pohon besar itu, Gue jadi berpikir mungkin Tini adalah orang di balik semua ini" Sam terdiam mendegar cerita dari Chandra, lalu Dia mengingat Tini pernah berkata kalau Dia akan membuat hidup Asri tidak tenang, Sam beranggapan bisa saja ini ulah Tini yang ingin menyakiti Asri, wajah Sam kini menjadi sangat marah.
"Chan.. sebaiknya Lo sekarang lapor polisi, biar polisi cari orang itu, Kita gak bisa tuduh Tini tanpa bukti, Gue harus pulang sekarang"
"Juv Gue titip Asri ya, nanti Lo kasih tahu Asri kalau Dia tanya soal Gue"
"Ok Sam, Gue pasti menjaga Asri dengan baik, Tante Anita bagaimana Lo sudah kasih tahu Dia?"
"Gue belum kasih tahu Tante Anita, Juv Lo saja ya yang kasih tahu, Gue gak punya banyak waktu" Juvi pun menganggukkan kepalanya, lalu Chandra mengatakan,
Setelah Sam pergi Juvi pun berbicara pada Chandra
"Chan.. sebaiknya Lo pergi sekarang ke kantor polisi, soal Rahma dan Asri kan masih ada Gue yang menjaga Mereka, Gue bisa kok" Juvi berusaha meyakinkan Chandra agar tak menunda untuk melapor polisi, merasa yakin dan percaya pada Juvi, akhirnya Chandra bergegas pergi ke kantor polisi.
Setelah itu si Mata-mata Pak Herman pun ikut pergi, melaporkan segala sesuatu yang Ia dengar dan Ia lihat di Rumah Sakit Dia pun menelpon Pak Herman
"Halo Pak saya mau memberikan informasi tentang Sam dan Asri" tak sabar ingin mendengar informasi itu Pak Herman pun berkata,
"Informasi apa cepat katakan...!! Saya ingin informasi yang akurat"
"Ternyata pak Sam dan juga Asri memang punya hubungan lebih Pak, Mereka berpacaran tapi Saya tidak tahu sejak kapan, dan Saya ini sedang di Rumah Sakit, karena Rahma istri dari Chandra tertusuk pisau di perutnya, sedangkan Asri mengalami luka di tangannya Pak, dan sekarang ini pak Chandra sedang menuju kantor polisi untuk melaporkan insiden ini, Sepertinya hanya itu yang saya dengar"
Pak Herman terkejut dengan informasi yang dikatakan si Mata-mata, lalu telepon pun di putus, Pak Herman bertanya-tanya pada dirinya sendiri,
"Ini adalah kasus pembunuhan, Siapa dalang dari semua ini, dan Asri adalah pacar Sam artinya Sam berselingkuh dari Tini" Pak Herman merasa tak terima Anaknya di selingkuhi, lalu Pak Herman bergegas untuk pulang dan menanyakan kepada Tini soal hubungan Asri dan Sam.
Chandra pun sampai di kantor polisi, Dia masuk lalu langsung melaporkan apa yang Dia lihat di tempat kejadian
__ADS_1
"Mohon kesabarannya Pak, secepatnya Kita akan cari dan tangkap si pelaku" ucap Pak polisi dengan suara yang tegas, lalu Chandra pulang kembali ke Rumah sakit.
Sesampainya Sam di rumah Dia langsung ke kamar untuk menemui Tini, saat sudah di kamar ternyata Tini sedang tidur, sontak saja Sam membangunkan Tini dengan teriakan kecil
"Tini bangun... bangun Tin..." mendegar suara Sam Tini pun bangun Dia yang belum begitu sadar berkata,
"Ada apa sih Sam Kamu membangunkan Aku dengan berteriak segala" ucap Tini sambil mengusap-usap kedua matanya dan merapihkan rambutnya
"Kamu suruh orang untuk memata-matai Aku iya kan" nyawa belum terkumpul mendapat pertanyaan seperti itu Tini pun tak mengerti dengan ucapan Sam
"Kamu bicara apa sih Mata-mata, siapa yang suruh orang untuk memata-matai Kamu Aku gak pernah melakukan itu"
"Kamu gak usah pura-pura Aku tahu sifat Kamu Tin, Kamu tidak pernah terima kalau Aku mencintai wanita lain, sampai-sampai Kamu juga kan yang merencanakan untuk mencelakai Asri" mendegar perkataan Sam, Tini merasa kaget mengapa Sam bisa tahu soal ini, tentu saja Tini mengelak dan berkata,
"Kamu jangan asal bicara Sam, kamu gak punya bukti kalau Aku yang melakukan itu" Tini bicara dengan suara meninggi, lalu Sam tertawa sinis dan mengatakan,
"Aku memang gak ada bukti sekarang, tapi Kita sudah melaporkan kasus ini ke polisi, karena bukan cuma Asri yang jadi korban, Rahma juga saat ini sedang terbaring tak sadarkan diri karena tertusuk pisau di perutnya, dan Aku sangat yakin Kamu dalang dari semua ini" ucap Sam dengan suara yang membuat Tini menjadi merasa takut.
Lalu tiba-tiba Pak Herman masuk kamar Tini dan langsung berkata,
"Kamu berani mengancam Anak saya Sam" Sam dan Tini menoleh ke arah Pak Herman, lalu Pak Herman melanjutkan perkataanya,
"Saya sudah tahu semuanya, Kamu berhubungan dengan Asri bukan hanya sekedar Atasan dan bawahan tapi Kalian berpacaran iya kan?" ucap Pak Herman dengan mengecilkan kedua matanya dan melihat Sam dengan sinis.
Merasa semua orang sudah tahu tentang perselingkuhan, Sam pun akhirnya berkata jujur
"Kalau Papah sudah tahu semuanya lalu buat apa Aku mengelak, iya Aku menjalin hubungan yang lebih dengan Asri, karena Aku sangat mencintai Asri" Sam sedang meyakinkan bahwa dirinya tak pernah mencintai Tini, lalu Tini mulai gelisah, mengapa Papah nya tahu soal ini padahal Dia sama sekali tak pernah memberitahu apapun tentang ini
"Pah, papah tahu dari mana soal ini"
"kamu kenapa menyembunyikan kebusukan Sam, Dia sudah mengkhianati Kamu Tini, lelaki ini harus di kasih pelajaran" lalu Pak Herman pun mengusir Sam untuk pergi dari rumahnya
"Sekarang juga Kamu pergi dari rumah Saya, Kamu tidak ada hak apapun disini, Kamu harus ceraikan Anak Saya secepatnya, dan Saya pastikan Kamu tidak akan mendapatkan harta Gono gini apapun dari Tini" merasa di injak-injak Harga dirinya lalu Sam menjawab,
"Baik, Saya akan pergi dari sini, Saya juga sudah lama menunggu untuk menceraikan Tini, dan harus Anda tahu Herman yang terhormat, Saya tidak butuh sepeserpun uang dari Anda" Sam berkata dengan nada emosi, lalu Sam membereskan pakaiannya, Tini pun menjadi semakin gelisah
"Pah Aku mohon biar ini jadi urusan Aku" ucap Tini dengan wajah sedih lalu Tini memegang tangan Pak Herman dan memohon pada Papahnya
"Pah.. Aku sangat mencintai Sam, Aku gak mau kehilangan Dia, yang harus disingkirkan itu Asri Pah bukan Sam" ucap Tini kini memohon dan memelas kepada Papahnya, lalu Bu Heni pun datang karena mendengar suara keributan di kamar Tini.
__ADS_1