
Aska baru saja naik ke atas tempat tidur di mana sang istri sudah bersandar di kepala ranjang dengan ponsel di tangan. Kecupan hangat Aska berikan di kening sang istri dan Jingga membalas dengan kecupan singkat di bibir sang suami. Dia meletakkan ponselnya. Kemudian, memeluk pinggang Aska dengan sangat erat. Menelusupkan wajahnya ke dada bidang sang suami.
"Bagaimana hari ini?" Pertanyaan sama yang selalu keluar dari mulut Askara ketika membuka obrolan di atas tempat tidur.
"Seperti biasa."
Jawaban yang terdengar datar. Aska tersenyum tipis mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya. Dia tahu istrinya tengah menyembunyikan kesedihannya. Perihal ayah mertuanya yang datang dan membuat Jingga menangis, Aska pun tahu. Hanya dia pura-pura tidak tahu saja.
"Jangan banyak pikiran dan hindari stres," ucap Aska seraya membelai lembut rambut istrinya.
Hembusan napas kasar keluar dari mulut Jingga. Ada rasa sedih yang masih tersimpan di relung hati terdalamnya. Ada amarah yang masih menggebu di dalam hatinya.
"Apa ada sesuatu yang terjadi dengan kamu?"
Deg.
Jingga terdiam sejenak. Dia terkejut akan perkataan suaminya tersebut. Namun, dia tidak ingin mengungkapkan apa yang tengah dia rasakan. Jangan sampai suaminya tahu dan ikut membenci ayah mertuanya.
"Jangan sembunyikan apapun dari aku. Aku akan berusaha menjadi pendengar yang baik untuk kamu. Juga, akan selalu ada di samping kamu dalam suka maupun duka."
Sebuah perkataan yang membuat hati Jingga terenyuh begitu dalam. Dia merasa Aska adalah malaikat tak bersayap yang Tuhan kirimkan untuknya.
"Jangan pendam semuanya sendirian. Itu akan berpengaruh pada perkembangan anak-anak kita nantinya."
Bulir bening menetes begitu saja membasahi wajah Jingga. Suaminya seakan tahu apa yang tengah dirasakan oleh dirinya. Jingga memberanikan diri untuk mendongakkan wajahnya dengan linangan air mata yang sudah membasahi wajah.
Tangan lebar Aska mengusap wajah Jingga. Dari sana Aska sangat merasakan hati istrinya sudah sangat terluka.
"Kenapa dia harus datang lagi? Aku tidak ingin bertemu dengannya lagi."
Suara lirih nan berat yang keluar dari mulut Jingga. Aska semakin mengeratkan pelukannya dan mengecup ujung kepala Jingga dengan begitu dalam.
"Aku sudah menganggapnya mati. Dia sudah mati."
Kalimat yang penuh dengan penekanan. Mengandung kesakitan yang luar biasa. Baru kali ini Aska melihat istrinya seperti ini. Menangis cukup keras dan air mata Jingga sudah membasahi dada bidang Aska.
__ADS_1
"Aku tidak ingin bertemu dia lagi, Bang. Gak mau."
"Iya, Sayang," balas Aska.
"Suruh dia pergi jauh dari hidup kita. Aku benci dia."
Suara Jingga bergetar cukup hebat. Rasa sakit, kecewa, dan perih yang Jingga rasakan mampu Aska rasakan sekarang. Jingga seakan mentransfer apa yang tengah dia rasakan kepada Askara.
Tangan Aska mengusap lembut perut Jingga yang sudah terlihat membukit. Jingga sedikit merasa terkejut dan dia mulai melihat ke arah tangan suaminya yang membelai hangat perutnya.
"Apa kamu tidak kasihan kepada mereka?" tanya Askara. "Ketika kamu sedih, mereka juga pasti ikut sedih."
Tangis Jingga pun reda. Kini, pikirannya beralih pada janin yang tengah tumbuh diperutnya. Dia teringat akan perkataan dokter Gwen perihal stress yang akan berimbas pada janin.
"Sekarang kamu istirahat, ya." Aska menyuruh istrinya untuk tidur. Dia tidak ingin kesehatan istri dan calon anak-anaknya terganggu karena ini. Apalagi dokter Gwen mewanti-wanti agar Jingga tidak banyak pikiran.
Jingga pun menuruti perintah dari sang suami. Asal Askara tetap berada di sampingnya hingga dia benar-benar terlelap. Tangan Aska terus mengusap lembut rambut Jingga. Itulah cara satu-satunya agar istrinya terlelap dengan damai.
Setelah dirasa istrinya tidur dengan nyenyak, Aska perlahan turun dari tempat tidur. Dia harus menemui ayahnya di ruang kerja. Ketika tangannya menekan gagang pintu, dia terkejut karena sudah ada Aksa di sana. Abangnya itu hanya memasang wajah datar bak papan bangunan.
Jika, sudah begini Aska tahu apa yang harus dia lakukan. Menceritakan semuanya tanpa terkecuali.
Aksa menggelengkan kepala mendengar cerita dari adik kandungnya itu. Cerita Aska benar-benar membuatnya heran.
"Dia itu jahat," tekan Aksara.
"Sejahat apapun dia, dia tetap mertua gua, Bang," balas Aska. Kini, dia menatap teduh ke arah sang Abang. "Gua sangat yakin, di dalam hati kecil Jingga dia itu masih sayang sama ayahnya. Jingga bukan manusia pendendam. Dia hanya sedang emosi saja saat ini."
Giondra tersenyum mendengar ucapan dari anak bungsunya. Aska masih bisa mentolerir kesalahan seseorang jika itu masih masuk ke dalam logikanya. Berbeda dengan Aksara.
"Jingga sudah gak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Hanya ayahnya yang dia punya. Tidak ada salahnya 'kan gua rawat ayahnya dengan cara gua sendiri."
Aksa pun terdiam. Gio melengkungkan senyum lebar mendengar ucapan dari putranya tersebut.
"Kamu gak salah, Dek. Satu hal yang harus kamu ingat, membiayai ayah Jingga tanpa sepengetahuan Jingga akan menimbulkan masalah lain," ucap Gio dengan begitu bijak.
__ADS_1
"Jingga akan marah sama Adek?" tegasnya. Gio mengangguk.
"Adek akan jelasin semuanya, Dad. Daddy tidak perlu khawatir. Adek tahu bagaimana karakter Jingga."
Kalimat yang penuh percaya diri yang keluar dari mulut Askara. Itulah yang membuat Gio sangat bangga.
Ponsel Aksa berdering. Senyumnya terukir indah ketika nomor sang istri menghubunginya. Ketika digeser ke gagang telepon berwarna hijau wajah putranya yang terlihat jelas. Matanya memicing ketika melihat rambut sang putra yang terlihat aneh.
"Kenapa dengan rambut kamu, Mas?" tanya Aksara.
"Daddy, kasih hapenya ke Uncle," pinta Gavin.
Aska meraih ponsel yang diberikan oleh abangnya. Wajah Gavin yang ditekuk terlihat sangat jelas.
"Hai," sapa Aska. Tak ada jawaban dari anak itu. Malah tatapan tajam yang Gavin berikan kepada Askara.
"GANTI LUGI!"
Aska mengerutkan dahi ketika mendengar ucapan keponakannya. Dia terkadang bingung kepada keponakannya tersebut. Setiap bertemu dengannya pasti meminta rugi. Padahal dia tidak merasa membuat kerugian kepada sang keponakan.
"Ganti rugi apaan? Jangan ngadi-ngadi," balas Aska.
Wajah anak itu sudah semakin marah. Aska melebarkan mata ketika melihat Gavin menyisir poninya. Di sana Aska baru sadar ternyata poni Gavin sangat pendek sekarang ini.
"Itu dicukur di mana?" Aska malah meledek keponakannya yang sudah terlihat marah dengan dada turun-naik. Sekarang Aska malah tertawa terbahak.
"Itu perbuatan istri kamu, Dek."
Suara sang ibu yang baru saja masuk membawa nampan berisi tiga cangkir kopi membuat Aska melebarkan mata. Aksa dan Gio malah tertawa puas.
"Kata anteu ini bukan kemauan Anteu, tapi kemauan anak-anak anteu," terang Gavin. "Anak Uncle ada empat. Belalti ganti luginya empat puluh dolal." Aska menepuk dahinya dengan cukup kuat.
Aska baru membuka mulut sudah dipotong oleh anak berusia empat tahun itu. "Gak ada tawal-menawal. Cabe di pasal aja lagi mahal.
...****************...
__ADS_1
Komen atuh ..