Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
KALUNG CANTIK


__ADS_3

Asri pun masuk ke ruang meeting, disana terlihat Sam tengah berbicara soal konsep untuk bazar Minggu depan


"Asri.... mana konsepnya?" lalu Asri memberikan konsep tersebut


setelah mengobrol dan menyepakati kerja sama meeting pun selesai, Pak Fadli pamit untuk kembali ke kantornya


"Terimakasih Pak Sam, senang bisa bekerja sama dengan Retro" Sam dan Asri pun berjabat tangan dengan Pak Fadli.


Sam sangat senang proyeknya semua sukses yang di Bandung dengan Pak Ammar, lalu Pak Andi dari PT Filma, dan ini yang terakhir Sam pegang proyek bazar bersama Pak Fadli dari PT Asahi


"Aku senang banget Sayang 3 Proyek yang Aku pegang berjalan dengan baik, Aku ada kejutan buat Kamu" ungkap kegembiraan Sam, namun Asri tak begitu mendengar curahan hati Sam justru Dia malah melamun masih memikirkan soal foto yang ada di dompet Chandra.


"Sayang.... Kamu lagi mikirin apa sih.. Kamu dengar Aku ga tadi, Aku ada kejutan untuk Kamu" Asri masih diam menatap ke arah bawah kakinya, lalu Sam spontan mencium pipi Asri, Asri pun kaget


"Sam... ya ampun, kalau ada yang lihat bagaimana?" ucap Asri sambil melihat ke luar ruangan


"Habisnya Kamu sih... di ajak ngobrol malah ngelamun, Kamu lagi mikirin apa sih, apa soal Mamah Kamu yang tiba-tiba nangis itu" Asri bingung mau menceritakan yang sesungguhnya atau tidak usah


tapi karena Asri takut Sam marah, jadi Dia memilih tidak mengatakan soal foto itu, dan mengiakan saja apa yang tadi Sam ucapkan.


"Iya nih Sam, Aku masih kepikiran Mamah, oh iya tadi Kamu bilang ada kejutan, Kejutan apa?" lalu Sam menunjukan ponselnya kepada Asri


"Kamu lihat bonus Aku sudah turun... sebagian uang ini mau aku kirim untuk Ibu, buat tabungan Ibu kalau sakitnya kambuh" melihat hal ini Asri jadi terharu dengan apa yang dilakukan Sam, Sam begitu mencintai Ibunya sampai-sampai Dia harus menunggu mendapatkan uang yang banyak dulu supaya nanti kedepannya, Dia tak di persulit oleh Pak Herman mertua Sam


"Aku senang sekali lihat Kamu bahagia Sam, semoga apa yang Kamu Impikan selama ini bisa terwujud ya" Asri berbicara dengan penuh kasih sayang terhadap Sam.


Tak lama ponsel Sam berbunyi ternyata itu panggilan dari toko baju couple yang kemarin Sam pesan untuk di pakai di acara pernikahan Lia dan Makmun


"Halo iya Mbak.."


"Pak bajunya sudah jadi dan siap untuk di pakai, kapan Bapak mau ambil bajunya"


"Mbak... tolong bajunya kirim ke alamat ini ya, Sam menyebutkan alamat Asri" dan panggilan pun di tutup, mendengar Sam menyebutkan Alamatnya, Asri pun bertanya,


"Sam... kok alamat rumah Aku"


"Masa alamat Kantor sayang, nanti kalau Papahnya Tini tau bagaimana? dan gak mungkin juga Aku kasih alamat rumah Tini, yang ada nanti malah jadi perkara" ucap penjelasan Sam terhadap Asri.


Sedangkan Chandra di dalam ruangannya Ia masih memandangi foto Asri di dompetnya

__ADS_1


"Asri... walaupun lidah ini pernah bicara akan menerima Rahma dan mencintai Rahma, tapi itu hal yang mustahil bagi hati Aku, foto ini sampai kapanpun akan ada selalu di dompet Aku, karena Aku mencintai Kamu, tapi sekarang bukan lagi untuk pribadiku, asal Kamu bahagia Aku ikut senang melihat itu Asri, sebisa Aku, Aku akan bayar semua rasa sakit hati Kamu, karena pernah Aku kecewakan" Chandra bicara pada dirinya sendiri, lalu Ia mencium foto Asri kemudian ditaruh lah dompetnya di dalam saku celana.


Tini yang masih marah karena Sam tak ingin membelikan keinginannya, lalu Ia memesan bubur ayam lewat go food saja.


Jam makan siang tiba, Juvi baru membereskan meja kerjanya, lalu Chandra masuk dan mengajak makan bersama


"Hay Juv, Lo mau makan siang di luar atau gimana?"


"hey Chan... dimana saja sih yang penting makan" lalu Ia menawarkan makanan yang di buat Rahma agar dimakan bersama


"Rahma tadi pagi buat makanan ini, Lo mau gak ikut makan juga" Chandra bicara agak ragu-ragu karena takut Juvi menolak, lalu tiba-tiba Juvi tertawa


"Hahaha, kenapa Chan... Lo takut ya Rahma taruh guna guna di makanan itu" mendegar hal itu Chandra pun ikut tertawa


"Haha.. bisa ajah Lo, ya gak lah bukan itu, ini makanan banyak Juv, gak mungkin Gue habisin sendiri" Chandra berkata sambil membuka kotak makan


yang tadinya Juvi meledek Chandra, setelah melihat isi kotak makan milik Chandra Juvi pun tak bisa menahan rasa lapar


"Wah... ini sih enak Chan... ayo lah kita maka bareng" Juvi pun bersemangat untuk menyantap makanan tersebut, sambil makan mereka sambil mengobrol.


"Chan.. gimana Rahma, apa iya Dia bener berubah sekarang" pertanyaan itu membuat Chandra menghentikan makannya


"Lo gimna sih Juv, ga hati-hati makanya" selesai minum Juvi mengatakan


"Eh.. Gue batuk gara-gara tadi ucapan Lo soal foto Asri, Lo masih nyimpen foto Asri, parah Lo"


"Gue gak bisa buang foto Asri, perasaan Gue dan hati Gue belum bisa lepas dari Asri, Lo tahu kan Juv, gimana sayang dan cintanya Gue sama Asri dulu" Juvi pun terdiam dan memikirkan masa-masa dahulu


"Chan... Gue tau itu berat, tapi Lo juga harus bisa hargain Rahma dong, hargain perubahan Dia, kalau memang benar-benar Dia berubah" Juvi kini jadi menasihati sahabatnya itu


"Entah lah, sudah lah untuk apa sih kita bahas soal perasaan Gue, mau bagaimanapun Lo minta Juv, Gue gak akan buang foto Asri, tolong berhenti suruh Gue untuk move on dari Asri, karena itu hal ya gak mungkin, dan soal rumah tangga Gue, biar itu jadi urusan Gue Juv" Chandra dengan tegas menjelaskan mengenai perasaannya.


Juvi hanya menggelengkan kepalanya lalu mengangguk dan mengiakan ucapan Chandra.


Di saat perjalan pulang Sam mengajak Asri pergi ke Toko perhiasan


"Sam... kita mau apa ke tempat ini?"


"Ya beli perhiasan dong sayang" setelah itu Sam memilih dan memilah sebuah kalung

__ADS_1


"Mbak.. coba yang itu Saya mau lihat" lalu di ambilkan nya sebuah kalung yang sangat indah


setelah itu Sam mengajak Asri untuk berdiri di depan kaca besar yang ada di samping etalase perhiasan


"Sam mau apa sih..." lalu Sam langsung memasang kan kalung di leher Asri, kemudian Sam berkata,


"Bagaimana, Kamu suka.. cantik kan?" Asri pun tersenyum dan meraba Kalung yang di pasangkan Sam di lehernya


Asri terus memandangi kalung tersebut begitu lama, lalu Asri mengatakan,


"Sam... ini bagus sekali, cantik, apa ini untuk Aku?" tanya Asri sambil melirik Sam dengan senyuman kecil


"Iya... ini untuk Kamu, bonus itu sebagian Aku simpan, dan sebagian Aku akan belikan apapun yang kamu Mau" Sam bicara sambil memegang tangan Asri dari belakang yang masih menghadap cermin.


Asri pun memandangi Sam dari cermin, dan Asri merasa terbang melayang di sanjung Sam, Dia di manjakan oleh Sam Dia sangat bahagia


"Sam.. Aku sangat bahagia, Aku mencintai Kamu, Aku harap Kamu segera menyelesaikan hubungan Kamu dengan Tini, agar semua orang tidak berfikir kalau Aku yang merusak rumah tangga Kamu" saat mendengar ucapan Asri Sam langsung melepas genggaman tangannya, Asri heran lalu menatap Sam


"Kenapa Sam, kok sepertinya ucapan Aku tadi membuat Kamu kaget" Asri berkata dengan raut wajah bingung, Sam hanya diam memikirkan jawaban apa yang harus Dia katakan pada Asri.


Karena sebenarnya masih ada sesuatu yang belum Asri tahu, dan hal itu membuat Sam takut memberitahunya, untuk mengalihkan pembicaraan itu Sam pun langsung ke kasir untuk membayar kalung yang sudah Dia pesan.


"Sayang.. Aku bayar kalung dulu sebentar ya" lalu Sam sambil membelai rambut Asri, Asri hanya terheran melihat Sam yang agak berbeda reaksinya saat ditanya soal kelanjutan hubungannya.


Lia sangat gugup akan acara pernikahannya besok Dia pun mengobrol dengan Mamahnya


"Mah... dulu waktu Mamah mau menikah rasanya bagaimana sih Mah?"


"Kenapa..? Kamu gugup ya sayang" Bu Irma tersenyum dengan Putrinya.


Sedangkan Makmun sedang mencoba pakaian pengantinnya, melihat di cermin Dirinya merasa sangat tampan hingga tertawa sendiri


"Hahaha... Aku pasti orang tertampan besok, dan Lia adalah wanita tercantik" Kini Mereka tak sabar untuk acara besok pagi, tiba-tiba Makmun merasakan sakit kepala


"Aduh... kepala ku" Makmun mengeluh sambil memegang kepalanya, lalu datang Ayah Makmun dan melihat Anaknya sedang kesakitan sambil memegang kepala


"Makmun Kamu kenapa..? apakah kepala Kamu masih sakit, Kamu bilang rasa sakitnya sudah tak berasa lagi"


"Aku gak tahu Pah... kemarin sudah ga berasa sakit, tapi tak tahu kenapa malam ini terasa sakit lagi"

__ADS_1


"Lalu bagaimana besok, Kamu yakin akan kuat jika sakitnya terasa lagi" Makmun hanya diam mendegar ucapan Ayahnya, lalu Dia meyakini bahwa Dia akan baik baik saja.


__ADS_2