Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
Mencari Masa Lalu


__ADS_3

Malam pun tiba, cafe milik Ara sudah dipenuhi para teman Ara dan juga keluarganya. Para karyawan pun sangat sibuk dibuatnya. Tak terkecuali, Nindy.


Sebelumnya Nindy sudah mengabarkan kakaknya jika malam ini dia pulang agak terlambat. Karena ada acara di cafe tempatnya bekerja. Dirga pun hanya menjawab iya.


Seharian ini Dirga benar-benar keliling kota Malang, Menikmati suasana di kota Malang yang indah dan sangat menenangkan hatinya.


"Akan indah lagi jika, kamu ada di sampingku," gumamnya.


Entah sudah berapa lama Dirga menatap indahnya langit malam di sebuah taman kota seorang diri. Banyak para wanita yang memandangnya kagum. Namun, tidak pernah Dirga hiraukan. Hatinya benar-benar sudah tertutup untuk wanita lain.


Hingga suara ponselnya berdering, membangunkan Dirga dari lamunannya. Dirga pun bangkit dari duduknya dan menuju ke tempat adiknya bekerja. Sekarang sudah pukul 22.30.


Dirga hanya menunggu Nindy di parkiran. Suasana masih tampak ramai. Dan sebagian orang pun sudah banyak keluar dari cafe tersebut.


Dirga hanya memandangi keadaan di sekitar cafe. Hingga matanya terkunci pada satu sosok. Wanita yang sangat dia rindukan.


"Kak," panggil Nindy.


Dirga menoleh ke arah Nindy lalu matanya kembali ke tempat di mana si wanita itu berada. Mata Dirga terus mencari dan berkeliling. Namun, sosok itu sudah tidak ada.


Apa ini halusinasi ku saja? Karena aku terlalu merindukanmu, batin Dirga.


"Ada apa?" tanya Nindy.


Hanya gelengan kepala yang menjadi jawaban Dirga. Wajah Dirga kembali sendu jika, bayang tentang Niar kembali hadir.


Sesampainya di kosan, Dirga mendudukkan dirinya di lantai dengan menyandarkan kepalanya ke dinding. Matanya terpejam seakan dia sedang memikirkan sesuatu.


"Kak, cerita sama aku? Ada apa?"


Nindy memberikan susu cokelat hangat kepada sang kakak. Susu cokelat akan sedikit menghilangkan kegundahan hati Dirga.


"Kakak melihat dia."


Nindy tersedak susu yang diminumnya. Dia menatap tajam ke arah sang kakak yang hanya memegang gelas susu tanpa meminumnya.


"Dimana?" tanya Nindy penasaran.


"Di cafe tempat kamu kerja."


Nindy mengingat-ingat orang yang berada di cafe. Tidak ada satu pun yang wajahnya seperti mantan kekasih kakaknya. Atau mungkin wajah Niar sudah berubah. Lima tahun bukan waktu yang singkat, pasti banyak yang sudah berubah dari Niar.


"Kalo dia jodoh Kakak, pasti Kakak akan dipertemukan lagi dengannya. Jodoh gak akan kemana," imbuh Nindy.


Meskipun dalam hati Nindy sangat tidak mungkin jika, Niar berada di sini. Setahunya Niar dan keluarganya berasal dari kota Yogyakarta. Dan Dirga pun sudah mencari ke sana namun, hasilnya nihil.


"Kakak ingin sekali bertemu dengannya," lirihnya.


Hati Nindy sedih mendengar ucapan itu. Sudah lama kakaknya menyimpan perasaannya sendiri. Dan ternyata cinta kakaknya untuk Niar masih sangat besar.


"Kakak mending istirahat, mungkin itu efek kecapean."


Nindy sudah menggelar kasur lipat untuk sang kakak. Dirga tidur di ruang tamu sedangkan Nindy di kamarnya. Lampu sudah padam, Nindy pun sudah terlelap. Namun, Dirga masih terjaga. Matanya ini masih normal dan tidak mungkin dia salah orang.


Pagi harinya, ketika Nindy berangkat kuliah Dirga sudah siap untuk berkeliling kota Malang. Mengunjungi tempat yang belum pernah dia kunjungi. Entah kenapa, dia melajukan motornya ke cafe Kenangan Mantan. Seperti ada magnet yang menariknya ke sana.


Berjam-jam Dirga duduk dan menikmati menu yang tersedia di sana. Tidak ada yang istimewa dari tempat ini. Hanya saja, tempat ini membuatnya nyaman, seperti dekat dengan Niar.


"Selamat pagi," sapa sopan dan hangat si pemilik cafe.


Para karyawan pun membalas sapaan dari bos mereka. Mereka pun berbincang sebentar sebelum atasan mereka masuk ke ruangannya.


Kaki sang pemilik cafe sudah ingin menaiki tangga namun, panggilan dari salah satu karyawannya membuatnya menoleh.


Bertepatan dengan itu, Dirga melirik ke arah belakangnya. Seketika matanya melebar dan mulai nanar. Dadanya sangat berdegup kencang seperti orang yang baru merasakan jatuh cinta.


****


."Niar?"


Baru saja Dirga akan melangkahkan kakinya, ponselnya berdering. Langkah kakinya terhenti karena suara disambungan telepon itu adalah Nindy.


Mimik wajah Dirga terlihat sangat panik karena Nindy mengabarkan jika dia baru saja keserempet mobil. Dan sekarang sudah berada di salah satu rumah sakit tak jauh dari kampusnya.


Ketika sambungan telepon terputus, Niar yang Dirga lihat sudah tidak ada. Ingin rasanya dia bertanya kepada para karyawan cafe ini. Tapi, adiknya membutuhkannya sekarang. Dirga langsung meninggalkan cafe, dan setelah menemui Nindy dia akan kembali lagi ke tempat ini. Dirga penasaran dengan Niar yang dia lihat di cafe ini.


Di rumah sakit.


"Mas, kenapa bisa kaya gini sih?" tanya Niar yang sedikit panik.


"Tadi aku lagi angkat telepon dari klien," jawab Jicko.


"Korbannya gimana?"


"Masih di UGD," jawab Jicko.


Niar mengusap lembut pundak kekasihnya, memberikan sedikit ketenangan kepada Jicko. "Mas, pasti akan tanggung jawab," kata Jicko.


Niar mengangguk dan tersenyum ke arah Jicko. Dia pun melihat jam di tangannya. "Mas, sudah waktunya aku berangkat," ucap Niar.


"Hati-hati ya, Sayang," ucap Jicko pada Niar lalu mengecup kening sang kekasih.


"Mas, gak apa-apa kan aku tinggal sendiri?"


"Gak apa-apa, Sayang. Salam ya buat keluarga Bunda," sahut Jicko.


"Iya, Mas."


Niar pun meninggalkan Jicko di rumah sakit. Baru saja Niar masuk ke dalam mobil, Dirga baru saja sampai parkiran rumah sakit. Dengan sedikit berlari dia memasuki rumah sakit.


Dari kejauhan, Dirga melihat ada seorang pria yang berpenampilan rapi di depan UGD. Dia melewati orang itu dan masuk ke dalam ruangan. Dilihatnya adiknya sedang terbaring lemah dengan beberapa luka di tangan dan kaki.


"Kok bisa gini?"


"Ndy lalai, Kak. Tadi jalan sambil mainan hape. Terus yang nyerempet Ndy juga mengemudi sambil angkat telepon," jelasnya.


"Ck, kebiasaan," omel Dirga.


"Maaf, Kak," ucap Nindy.


"Permisi," ucap Jicko pada Dirga dan juga Nindy.


"Kamu yang nabrak adik saya?" tanya Dirga dengan wajah yang sulit dibaca.


"Nyerempet, Kak. Bukan nabrak," ralat Nindy.


"Iya, maaf Pak. Saya akan tanggungjawab semua pengobatan adik Anda sampai dia sembuh," jelas Jicko.


"Lain kali, jangan mengemudi sambil angkat telepon," ucapnya pada Jicko. Dijawab dengan anggykan oleh Jicko.


"Kamu juga, jangan jalan sambil main hape," ucap Dirga pada Nindy.


"Iya," jawab Nindy malas.


Jicko pun hanya tertawa. "Kenalkan saya Jicko," katanya yang sudah mengulurkan tangan pada Dirga.


"Angga," balasnya dengan menyambut uluran tangan Jicko.


"Sepertinya kita seumuran, kayaknya asyik kalo kapan-kapan kita nongkrong bareng," ajak Jicko.


Dirga hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju. Di ranjang pesakitan, Nindy melengkungkan senyum. Dia berharap Jicko akan menjadi teman sang kakak dan membuat kakaknya move on dari masa lalunya.


Setelah Nindy diperbolehkan pulang, Jicko mengantarkan Nindy ke kosannya. Sedangkan Dirga melajukan motornya ke cafe Kenangan Mantan.


Sudah dua jam Dirga berada di sana. Namun, wanita yang dia tunggu tak kunjung turun dari ruangannya. Hingga dia memanggil salah satu pelayan agar mendekat kepadanya.


"Yang punya cafe ini siapa, ya? Apa wanita yang tadi pagi?" tanya Dirga.


"Maaf, Kak. Saya sift sore jadi, tidak tahu wanita yang Kakak maksud itu siapa,' jawabnya sopan.


"Wanita yang berambut sepunggung dan bawah rambutnya dibuat sedikit  keriting. Rambutnya selalu digerai. Dia selalu naik ke lantai atas," imbuh Dirga.


Si pelayan mencoba mengingat-ingat, dan tak lama dia menganggukkan kepalanya. "Beliau atasan kami, Kak. Pemilik cafe ini," terang si pelayan.


"Apa dia Niar?"  tanya Dirga lagi.


"Bukan, Kak. Ada apa ya kok Kakak ingin tahu sekali dengan atasan saya?" kata si pelayan.


"Dia seperti sahabat saya yang sudah lama tidak bertemu. Makanya saya mencoba cari tahu dulu, takutnya ketika saya sapa saya salah orang."


"Oh begitu," sahut si pelayan.


"Atau nama pemilik cafe ini Niara?" tanya Dirga.


"Iya, dia Mbak Niara," jawab si pelayan.


Hati Dirga sangat amat senang hari ini. Akhirnya, dia bertemu kembali dengan pujaan hatinya yang sudah sekian purnama tidak berjumpa.


Sebelum si pelayan pergi, Dirga menyelipkan uang seratus ribuan di saku baju si pelayan sebagai ucapan terimakasih.


Malam sudah tiba dan cafe pun sebentar lagi tutup. Namun, wanita yang Dirga tunggu tak kunjung turun dari lantai atas.


"Maaf, Kak. Kita sudah mau tutup," ucap salah seorang pelayan.


"Mas, apa Mbak Niara sudah turun?" tanya Dirga.


"Oh, Mbak Niaranya sudah pulang dari pagi, Kak. Karena harus pergi ke luar kota," jawab pelayan.


"Kemana? Berapa hari?"


"Kalo itu saya kurang tahu, Kak. Permisi."


Dirga harus menelan pil kekecewaan lagi. Apa mereka tidak ditakdirkan untuk bersama? Selalu saja ada halangan ketika Dirga sudah menemui titik terang tentang keberadaan Niar. Www


"Niar, aku di sini. Tolong cepat kembali, aku rindu kamu," gumam Dirga sambil menatap langit malam yang indah.


***


Setiap hari Dirga datang ke cafe milik Niar. Berharap Niar sudah kembali dari luar kota. Namun, yang ditunggu tidak juga menampakkan dirinya. Rindu yang terus menggebu harus tertahan kembali. Ingin sekali dia memeluk tubuh Niar.


"Gimana? Kak Niar udah pulang?" tanya Nindy pada Dirga yang sudah masuk ke dalam kosan.


"Belum pulang," jawabnya dengan nada lesu.


"Kak, apa Kakak yakin Kak Niar masih sendiri? Ndy takut jika Kakak akan kecewa lagi," ucap Nindy.


"Cari tahu dulu tentang Kak Niar sekarang. Jangan buru-buru menunjukkan diri Kakak ke Kak Niar. Pasti masih ada luka yang tersimpan di hati Kak Niar. Banyak yang sudah berubah juga dari Kak Niar."


Dirga hanya terdiam mendengar ucapan Nindy. Jika, Dirga langsung mendekat takutnya Niar yang akan semakin menjauh. Sudah di depan mata jangan sampai terlepas kembali.


"Dengan wajah Kakak seperti ini, pasti Kak Niar gak mengenali Kakak. Cobalah dekati pelan-pelan, cari tahu perlahan. Ketika kenyataannya Kak Niar sudah tidak sendiri, di situlah Kakak harus pergi menjauh dan melupakan Kak Niar," jelasnya.


Dirga mencerna baik-baik ucapan Nindy. Semua yang dikatakan Nindy benar adanya. Dia tidak boleh gegabah. Lima tahun bisa merubah segalanya termasuk sikap dan hati Niar.


"Besok Kakak akan mencoba melamar kerja di cafe dia," katanya.


Nindy menatap tajam ke arah kakaknya. Hanya keseriusan yang terpancar dari wajah tampan sang kakak.


"Dan memperkenalkan nama Kakak sebagai Angga,"  sambungnya.

__ADS_1


Nindy tersenyum tipis, betapa gigihnya kakaknya ini. Rela berjuang dan pantang menyerah demi sang kekasih. Masih adakah stok seperti kakaknya di muka bumi ini?


Pagi harinya, dengan pakaian rapi Dirga melajukan motornya menuju cafe Niar. Sebelumnya, dia mengantarkan Nindy terlebih dahulu ke kampus.


Setelah masuk ke dalam cafe, Dirga menghampiri salah satu karyawan. "Maaf, apa di sini ada lowongan pekerjaan?" tanyanya.


"Tidak ada, Mas."


"Gak apa-apa bagian cuci piring juga," imbuhnya.


Para karyawan lain saling pandang. Keputusan ada tidaknya lowongan pekerjaan ada pada atasannya. Langkah seseorang membelah keheningan. Hati Dirga berdegup dengan kencang melihat wanita yang sangat dia rindukan berada di depannya. Ingin sekali dia memeluk tubuh Niar.


"Ada apa?" tanya Niar.


"Ada yang mau melamar pekerjaan, Mbak," sahut salah seorang karyawan.


Niar menatap ke arah pria yang tidak memakai seragam. Seketika hatinya mula berdegup tak karuhan. Pandangan mereka saling terkunci hingga Niar memutuskan kontak mata kepada pria di depannya.


"Kamu yang mau melamar pekerjaan?" tanya Niar.


"Iya, Mbak."


Niar membeku, mendengar suara itu membuat rasa rindu yang perlahan hilang kini hadir kembali. Matanya mulai nanar, dan Dirga merasakan sorot kesedihan di mata pujaan hatinya.


"Ikut saya ke atas," titah Niar.


Dirga tersenyum sangat bahagia bisa dekat kembali dengan Niar. Niar yang dia rindukan dan sangat dia cintai.


"Silahkan duduk."


"Tidak, Mbak. Saya berdiri saja," jawab Dirga.


"Nama kamu siapa?"


"Anggara."


Ulu hati Niar sangat sakit mendengar nama itu. Nama belakang dari Dirga kekasihnya dulu. Ternyata dia belum mampu melupakan apapun yang berada di dalam diri Dirga.


"Ada satu posisi yang kosong di sini. Yaitu pelayan, kamu harus mengantar pesanan ke meja para pengunjung." Dirga hanya menganggukkan kepala.


"Besok kamu boleh kerja di sini," ucap Niar.


"Tapi, kalo untuk pelayan bekerja dari jam 12 siang sampai jam 10 malam. Apa kamu siap?"


"Siap Mbak," sahut Dirga dengan semangat. Senyuman manis melengkung di bibirnya.


Senyum itu ....


Niar terpaku melihat senyum indah Dirga. Senyum yang sudah lama ini sangat dia rindukan dan tak pernah bisa dia lupakan.


"Kamu boleh pergi." Dirga pun mengangguk pelan dan menjauhi Niar.


Baru saja Dirga meraih gagang pintu, isakan kecil terdengar di ruangan itu. Dirga melirik ke arah belakang, Niar sedang menangis. Membuat hati Dirga teriris.


Aku di sini Niar, sayang. Apa kamu menangisi ku juga? Sama seperti aku yang selalu menangisi mu.


****


Dirga menatap wajahnya di cermin, tangannya menelusuri setiap inchi wajahnya. Wajah yang dulu terurus kini berkumis tipis dan juga brewok tumbuh di rahangnya. Badannya lebih kurus dan rambutnya pun sedikit dipanjangkan. Ditambah penampilannya dibuat sesederhana mungkin. Kulit yang dulunya putih bersih kini berubah menjadi kecokelatan karena dia sengaja melakukan tanning (pencokelatan warna kulit). Ini semua dia lakukan sebelum dia berangkat ke Malang.


Tujuan Dirga ke Malang hanya ingin berlibur dan melupakan semua yang telah terukir bersama Niar. Namun, takdir berkata lain. Di sinilah dia bertemu dengan Niar. Kekasihnya yang telah lama hilang.


"Lima tahun ternyata banyak yang merubah diri kamu, begitu pun diriku. Tapi, apakah cintamu masih tetap sama?" gumamnya.


Pukul sembilan malam Dirga ke luar rumah dengan alasan ingin mencari angin malam. Ternyata dia berada di depan cafe Niar. Dia menunggu Niar pulang. Setelah setengah jam menunggu, wanita pujaannya pun keluar.


Niar berdiri di depan cafe dengan ponsel di tangannya. Dirga memberanikan diri menghampiri Niar. Dengan stelan serba hitam dan sendal jepit legendaris di kakinya, Dirga menyapa Niar.


Niar nampak kaget dan memegang dadanya. "Maaf Mbak, saya mengagetkan, ya," ucap Dirga sambil tertawa.


"Mbak nunggu siapa?" tanya Dirga lagi.


"Saya lagi nunggu pacar saya."


Deg.


Betapa sakitnya hati Dirga mendengar ucapan dari Niar. Lima tahun telah merubah perasaan Niar untuknya. Ingin rasanya Dirga menjerit kencang.


"Kamu lagi ngapain di sini?" tanya Niar yang melihat wajah Dirga sendu.


"Saya mau cari makan, Mbak," jawabnya pelan.


"Kamu kenapa Angga?" tanya Niar yang menyentuh pundak Dirga. Ya, Niar mengenal Dirga sebagai Angga.


Dirga menatap tangan Niar yang sedang berada di atas pundaknya. Tangan yang selalu membuat hatinya hangat dan nyaman.


"Saya cuma kesepian, apa Mbak mau menemani saya makan malam? Sambil nunggu pacar Mbak," ujarnya.


Niar menatap wajah Dirga penuh dengan kesedihan. Karena tidak tega Niar pun menemani Dirga. Tak jauh dari cafe Niar ada tukang nasi goreng. Dirga pun mengajak Niar ke sana.


"Gak apa-apa kan kalo makan di sini?" tanya Dirga.


"Gak apa-apa, kan kamu yang bayarin," jawab Niar seraya tertawa.


Tawa yang sangat Dirga rindukan selama ini, dan kini dia bisa melihat lagi tawa itu. Dirga memesan dua porsi nasi goreng ekstra pedas. Dirga akan menguji seberapa berubahnya Niar. Apakah Niar di hadapannya ini masih seperti Niar yang dia kenal dulu?


"Angga, kamu tinggal di mana?"


"Saya tinggal di kosan kecil, Mbak. Bersama adik saya," jawab Dirga. Matanya tak lepas memandangi wajah yang kini berubah sangat cantik.


Nasi goreng pun sudah tersedia di meja. Ketika Niar merasakan nasi goreng ini matanya nanar. Mulutnya berhenti mengunyah.


"Kenapa Mbak? Gak enak? Atau terlalu pedas?" tanya Dirga.


Dirga mengambil tisu lalu mengusap ujung mata Niar yang sudah berair. "Jangan menangis, Mbak. Jika, ada beban di hati Mbak keluarkan saja. Jangan dipendam sendiri," ucap Dirga.


Niar pun tersenyum ke arah Dirga. Hatinya mulai menghangat dengan perlakuan Angga yang ternyata Dirga.


Mereka berbincang ringan dan sesekali Niar tertawa dengan tingkah Angga yang menurutnya sangat menghibur. Hingga seseorang turun dari mobil.


"Maaf Sayang, Mas telat," ucap Jicko.


Mata Dirga melebar, kekasih Niar ternyata Jicko yang menabrak adiknya beberapa hari yang lalu.


"Gak apa-apa, Mas," jawab Niar.


Mata Jicko dan juga Dirga bertemu. Jicko menyapa hangat Dirga. "Angga," sapa Jicko. Dirga pun menjawab sapaan Jicko dengan senyuman yang amat terpaksa.


"Mas kenal dia?" tanya Niar heran.


"Iya, adiknya itu yang gak sengaja Mas serempet kemarin," jelas Jicko.


Jicko memakan nasi goreng Niar, dan sesekali dia menyuapi Niar. Di bawah meja, tangan Dirga mengepal dengan sangat keras. Melihat kemesraan antara Jicko dan juga Niar.


"Angga, karena pacar saya udah jemput. Saya duluan, ya," pamit Niar.


"Makasih sudah menjaga pacar saya, dan nasi goreng ini sudah saya bayar," ucap Jicko.


Tidak ada jawaban apa-apa dari Dirga. Hanya tatapan yang menyiratkan akan banyak kesedihan di wajahnya. Apa ini lah waktunya untuk Dirga menyerah dan mundur secara perlahan?


****


Dirga pulang dengan wajah yang lesu. Seperti tidak ada gairah hidup di dalam dirinya.


"Kenapa?" tanya Nindy.


"Dia udah punya pacar," lirih Dirga sambil merebahkan diri di atas kasur.


"Ck, baru pacar Kak," balas aiknya.


"Pacarnya orang yang nabrak kamu kemarin," imbuh Dirga.


"What? Takdir apa ini?" Nindy benar-benar terkejut.


Tidak ada jawaban dari mulut Dirga. Nindy sangat melihat raut kesedihan di wajah sang kakak.l


"Sebelum para saksi bilang sah dan buku nikah belum di tangan, masih ada harapan Kak. Pepet terus kalo bisa tikung dia di perempatan jalan," oceh Nindy.


Dirga memejamkan matanya, Niar sudah di depan mata. Apa dia harus menyerahkan dengan mudah? Dirga bangkit dari tidurnya, lalu menghubungi seseorang.


Keesokan paginya, Dirga mengantarkan Nindy terlebih dahulu ke kampus. Setelah itu dia menemui dokter spesialis yang semalam dia hubungi. Setelah berkonsultasi dan menyuntikkan cairan, Dirga pun pamit dan menuju cafe Niar. Hari ini hari pertama Dirga bekerja di sana.


Sapaan hangat dari Niar membuat Dirga melengkungkan senyum. "Kamu sudah makan?" tanya Niar pada Dirga.


"Sudah, Mbak," jawab Dirga.


Meskipun baru kali ini bekerja sebagai pelayan, tapi Dirga tidak kikuk sama sekali. Dia bekerja sangat baik, Niar yang terus memperhatikan Dirga dari kejauhan melengkungkan senyum di bibirnya. Dirga kembali ke belakang dengan keringat yang sudah membanjiri wajahnya.


Niar memberikan sapu tangan yang dipegangnya membuat Dirga menatap manik mata cantik Niar. Jantungnya berdegup tak karuhan. Dia pun mengambil sapu tangan itu dam tersenyum manis ke arah Niar.


"Makasih, Mbak," ucapnya.


Niar hanya menganggukkan kepala lalu memberinya kotak berisi makanan restoran terkenal. "Terimalah, kamu sudah bekerja keras hari ini," kata Niar.


Dirga menerima makanan pemberian Niar lalu dia izin makan sejenak kepada para karyawan lain. Di saat hatinya sedang bimbang ternyata Niar yang meyakinkan hatinya kembali untuk terus berjuang mendapatkan wanita yang selama ini dia cari.


"Kok makan sambil senyum-senyum," ucap Niar yang menghampiri Dirga.


"Lagi teringat seseorang, Mbak," sahut Dirga sambil melanjutkan makannya.


"Pacar kamu?"


Dirga memandang wajah Niar dengan intens. "Saya masih menganggap dia pacar saya. Tapi, saya juga gak tau apa dia masih menganggap saya pacarnya atau bukan," jelas Dirga.


"Kok gitu?"


"Kita sudah lima tahun gak ketemu, dan pertemuan terakhir kita dia mengatakan rela melepaskan saya."


Kisah cinta Angga yang dia  kenal sama seperti kisah cintanya dengan Dirga. Niar menatap wajah Angga, manik matanya bertemu dengan manik mata Angga. Mereka saling pandang dengan sorot mata yang penuh dengan rindu.


"Mata kamu mengingatkan saya kepada seseorang," lirih Niar.


"Siapa?"


"Orang yang selalu saya rindukan, dan saya harapkan," jawab Niar.


"Pacar Mbak?"


"Bukan, dia mantan pacar saya," sahut Niar.


Dirga tersenyum tipis, ternyata Niar masih mengharapkannya sama sepertinya yang masih mengharapkan Niar.


"Mungkin dia sudah bahagia sekarang dengan istri dan anaknya," imbuh Niar.


Dirga terdiam, ternyata Niar menyangka jika dia masih bersama istri pilihan orangtuanya.


"Kalo mantan Mbak kembali lagi, apa Mbak mau nerima dia?" tanya Dirga.


Niar tersenyum kecut. "Aku sudah memiliki Mas Jicko begitu pun dia, sudah memiliki istri," jawabnya.

__ADS_1


"Jika, sekarang dia sendiri? Apa Mbak mau menerimanya kembali?"


Niar memandang wajah Dirga, terlihat sekali sorot kesedihan di mata Niar. "Jika, aku belum terikat dengan Mas Jicko mungkin aku akan memilihnya. Tapi, aku sudah bertunangan dengannya. Sebentar lagi kita akan menikah."


Seperti tersambar petir di siang bolong. Pengakuan Niar yang awalnya membuat Dirga bahagia namun, pada akhirnya membuat hatinya kecewa. Ingin sekali dia menunjukkan siapa dirinya sebenarnya.


Apakah dia bisa menikung Niar?


****


.Semenjak Niar mengatakan dia akan segera menikah, Dirga semakin gencar mendekati Niar. Seringnya mereka makan dan hangout membuat Niar semakin nyaman berada di samping Dirga. Terlebih, Jicko sedang tugas ke luar kota.


Tawa Niar selalu menghiasi hari-hari Dirga membuat Dirga semakin jatuh cinta kepada Niar. Sekarang sudah tidak ada kekakuan diantara mereka. Niar sudah menganggap Angga seperti sahabatnya sendiri. Angga yang bisa membuat Niar nyaman.


"Kulit kamu semakin putih sih, Ngga. Perawatan di mana?" tanya Niar yang sedang jalan bersama Angga.


"Masa sih, Mbak. Padahal cuma pake krim racikan doang," jawabnya sambil terkekeh.


Niar pun tertawa sambil memukul pundak Angga. Mereka semakin akrab dan dekat seperti seorang kekasih. Mereka sudah berada d salah satu food court di sebuah mall. Niar memberikan undangan kepada Angga.


Wajah bahagia Dirga berubah menjadi sendu, dengan sedikit gemetar tangannya membuka undangan yang diberikan Niar. Matanya nanar, tanggal itu adalah tanggal di mana Dirga harus kembali ke Jakarta. Harapannya untuk menggenggam tangan Niar dan membawanya ke Jakarta musnah sudah.


"Aku gak nyangka akan secepat ini menikah dengan orang yang tidak benar-benar aku sayang." Mendengar ucapan dari Niar membuat Dirga melihat wajah Niar dengan ekspresi datar.


"Angga, apa menikahi orang yang tidak kita sayang akan membuat rumah tangga bahagia?" tanya Niar.


"Nggak akan, Mbak. Malah rumah tangga itu akan hancur karena penuh dengan kebohongan," jawab Angga.


"Ingin sekali aku menolak. Tapi, ayahku memaksa ku untuk segera menikah dengannya. Karena ayahku ingin menyaksikan pernikahanku sebelum dia menutup mata," lirih Niar.


Dirga bangkit dari duduknya dan duduk di samping Niar. Dia pun memeluk tubuh Niar dan kini air mata Niar tumpah. Ini kali pertama Dirga memeluk Niar setelah lima tahun berpisah, tidak ada penolakan dari Niar. Malah Niar semakin memeluk erat tubuh Dirga.


"Aku akan tunjukkan sesuatu ke Mbak. Pasti akan membuat Mbak senang," ujar Angga.


"Apa?"


Angga menggenggam tangan Niar dan membawanya ke sebuah barbershop. Niar menatap Angga, hanya seulas senyum yang Angga tunjukkan.


"Mbak tunggu di sini," titahhya.


"Kamu mau potong rambut?" Hanya anggukan yang menjadi jawaban dari Angga.


Niar terus memandangi Angga dari belakang. Kegiatan memotong rambut Angga teramat lama, membuat Niar bosan dan memilih memainkan ponselnya.


Ketika telah selesai, Angga menatap wajahnya di cermin. "Tampan," ucap si pemotong rambut.


Angga menghampiri Niar yang sedang fokus pada ponselnya. "Niar," panggil Angga.


Suara yang sangat Niar rindukan, perlahan Niar mendongakkan kepalanya. Matanya berkaca-kaca tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Dirga," lirihnya.


"Iya, Sayang. Aku Dirga," sahut Dirga.


Niar berhambur memeluk tubuh Dirga dan Dirga pun tak kalah erat memeluk tubuh Niar. "Aku sangat merindukanmu, Sayang," bisik Dirga.


Hanya Isak tangis yang menjadi jawaban dari Niar. Tangan Niar dengan eratnya melingkar di pinggang Dirga. Air matanya sudah membasahi kaos Dirga.


Dirga melonggarkan pelukannya lalu, menghapus air mata Niar. "Aku tidak suka kamu menangis," kata Dirga.


Mata Niar yang sudah memerah dan sembab hanya dapat menatap wajah Dirga. Lalu dia memeluk tubuh Dirga kembali. Meluapkan rindu yang selama lima tahun ini Niar pendam seorang diri. Tak peduli, Dirga sudah memiliki istri dan juga anak. Dia ingin bersikap egois malam ini. Menumpahkan semua rasa rindu dan cinta yang dia miliki untuk Dirga. Dia masih sangat mencintai Dirga.


****


Setelah tangis Niar sedikit mereda, Dirga melonggarkan pelukannya. Menggenggam tangan Niar dan membawanya keluar dari mall. Genggaman hangat yang lima tahun ini sangat Niar rindukan.


Baru saja Dirga menghidupkan mesin mobil, suara berat Niar terdengar. "Istrimu?"


Dirga melihat ke arah Niar, hanya seulas senyum yang Dirga berikan. Dan Dirga pun melajukan mobilnya, dengan satu tangannya yang terus menggenggam Niar.


Tibalah mereka disalah satu apartment mewah di kota Malang. Niar hanya membeku, sejurus kemudian Dirga menarik lembut tangan Niar untuk ikut dengannya.


"Kamu percaya kan sama aku?" Niar memandang Dirga dengan penuh tanda tanya.


"Aku tidak akan berbuat aneh-aneh," kata Dirga.


Dengan hati yang sedikit takut, Niar pun mengikuti langkah Dirga dengan tangan Dirga yang tidak melepaskan tangan Niar. Dirga takut jika Niar akan pergi lagi darinya.


Setelah pintu apartment terbuka, Niar masih mematung di depan pintu. Enggan untuk masuk karena ini kali pertama Niar dibawa ke sebuah apartment pribadi oleh seorang pria.


"Sayang, kemarilah," pinta Dirga yang sudah duduk di sofa.


Mendengar suara Dirga seperti sihir baginya. Kini, Niar menghampiri Dirga dan duduk di sampingnya. Mereka saling menatap, manik mata mereka menyiratkan akan kerinduan yang mendalam.


Dirga meraih tangan Niar lalu menciumnya. "Aku gak bisa hidup tanpamu," lirihnya dengan wajah sendu.


Air mata Niar pun menetes mendengar ucapan jujur Dirga. Tidak dipungkiri, dia pun sangat merindukan Dirga.


"Jangan pernah pergi lagi dari aku, aku sangat mencintai kamu," ucap Dirga.


Niar pun memeluk tubuh Dirga, tangisnya kembali pecah. Begitu pun Dirga, rasa rindunya kini terobati sudah.


"Kamu sudah memiliki istri, Dirga," lirih Niar.


Dirga hanya menggelengkan kepala lalu menggenggam kembali tangan Niar dengan erat. "Di malam pertama kami, aku langsung menjatuhkan talak padanya," imbuh Dirga.


Niar melebarkan matanya tak percaya, dia menatap lebih intens mata Dirga. Menginginkan penjelasan lebih lagi.


"Setelah malam itu kamu melepaskan aku, aku sebenarnya sudah ingin mengejar kamu. Namun, kedua orangtua ku memaksa aku, dan mengancam aku jika aku tidak mau menuruti permintaan mereka," ungkapnya.


"Dengan paksa orangtua ku membawa ku ke Bogor. Di mana pernikahan itu berlangsung."


"Aku bingung Niar," lirihnya, menatap sendu wajah Niar.


"Orangtuaku mengancam akan melukaimu jika aku tidak menuruti mereka. Aku takut ... aku takut kalo kamu terluka," ucap Dirga dengan air mata yang sudah menganak.


"Ketika pernikahan itu berlangsung hatiku sangat hancur, hatiku sakit karena orangtuaku dengan teganya menukar aku dengan tahta."


"Di hari itu juga, aku mendapat kabar jika, kamu telah pergi dari Jakarta membuat aku semakin frustasi. Aku marah ... aku menangis ...."


"Di saat pengantin baru menikmati malam pertama, aku mengucapkan kata cerai kepada istriku. Dan aku pergi menjauh dari keluargaku."


"Hanya satu alasanku, aku ingin mencarimu, aku hanya ingin menikah denganmu," jelas Dirga.


Niar tak kuasa menahan tangisnya, ternyata bukan hanya dia yang menderita. Dirga pun lebih menderita.


"Aku mohon, jangan tinggalin aku lagi," pinta Dirga dengan sangat tulus.


"Aku sudah mau menikah," jawab Niar dengan air mata yang sudah membanjiri wajahnya.


"Tapi, kamu tidak mencintainya. Kamu hanya mencintai aku," tukas Dirga.


Niar hanya bisa menunduk dalam, hatinya benar-benar bimbang saat ini.


"Aku akan berterus terang kepada Ayah dan Bunda mu tentang perasaan kita masing-masing. Kita tidak boleh membohongi hati kita lagi. Itu akan membuat aku dan kamu semakin menderita," imbuh Driga.


Akhirnya, Niar pun mengangguk pelan. Hatinya mulai menghangat kembali. Dia sangat merasakan ketulusan dari Dirga.


Dirga mulai mendekatkan wajahnya ke arah Niar, hingga napas mereka beradu. Niar pun memejamkan matanya ketika bibir Dirga menempel ke bibir Niar. Dengan lembut Dirga menyapu bibir mungil Niar. Mereka saling berbalas dengan hangat, melepas rindu yang sudah menggunung. Suara dering ponsel pun mengakhiri penyatuan bibir mereka.


"Mas Jicko," gumam Niar.


****


Niar menatap ke arah Dirga, Dirga menganggukkan kepalanya. Hanya jawaban iya dan iya dari Niar. Sedangkan Dirga, kini sedang menyandarkan kepalanya di sofa dengan mata yang terpejam.


Sembari menjawab panggilan dari Jicko, mata Niar tak pernah berhenti menatap ke arah Dirga. Ada rasa bersalah di hatinya. Tak lama, Niar mengakhiri panggilan dari Jicko dan mematikan ponselnya.


"Maaf," ucap Niar dengan tangan yang sudah memeluk Dirga dari samping.


Mata Dirga terbuka dan dia mencoba untuk menyunggingkan senyum. Walau hatinya sedang dilanda cemburu.


"Bantu aku untuk mengakhiri semua ini," pinta Niar.


Dirga mengecup ujung kepala Niar. "Kita sama-sama berjuang demi hati dan cinta kita," tutur Dirga.


Niar pun tersenyum dengan mendongakkan kepalanya tanpa melepaskan pelukan tangganya di pinggang Dirga.


Kemudian, Dirga mengecup singkat bibir mungil Niar dan membalas pelukan Niar tak kalah eratnya.


"Sayang, temani aku tidur di sini, ya."


Niar menatap Dirga dengan tatapan membunuh. Kontak fisik antara dirinya dan Dirga tidak lebih dari ciuman bibir. Apalagi dengan Jicko, selama berpacaran dua tahun dengannya bisa dihitung dengan jari mereka melakukan kontak fisik berciuman. Itu juga Jicko yang mencuri-curi.


"Aku tidak mau," tolaknya.


"Aku hanya ingin memelukmu, Sayang. Aku masih bisa menjaga nafsuku karena aku tidak ingin merusak mu. Aku hanya ingin kamu menjadi yang pertama dan terakhir untukku," terangnya.


Hati Niar pun luluh, dia sangat percaya dengan Dirga. Bertahun-tahun berpacaran dengan Dirga, Dirga tidak pernah berbuat hal yang aneh kepada dirinya. Dia selalu menjaga Niar dan juga kehormatan Niar.


Setelah Dirga dan Niar membersihkan tubuh dan berganti pakaian, mereka naik ke atas tempat tidur.


"Aku sangat bahagia bisa bertemu kamu lagi, Sayang," kata Dirga. Dia pun mengecup kening Niar sangat dalam dan meletakkan tangannya di pinggang Niar.


"Masih seperti mimpi bagiku," sahut Niar yang kini sudah menelusupkan wajahnya di dada bidang Dirga.


Tak henti-hentinya Dirga menciumi puncuk kepala Niar. Sedangkan Niar terus mengeratkan tangannya di pinggang Dirga. Hingga mereka pun terlelap dengan saling berpelukan.


Pagi harinya, Dirga tersenyum lebar. Ketika dia membuka mata di pagi hari, Niar lah yang pertama kali dia lihat.


"I love you, Sayang," ucapnya sambil mengecup singkat bibir mungil Niar.


Senyum Dirga tak henti melengkung dengan sempurna ketika memandangi wajah kekasihnya di depannya. Mata Niar pun mengerjap pelan. "Morning, Sayang," ucap Dirga.


"Morning, Ay," balasnya.


"Kamu kenapa ngeliat akunya kayak gitu? Muka aku bangun tidur jelek, ya," sergahnya.


Dirga pun tergelak, lalu menangkup kedua pipi Niar. "Kamu sangat cantik, Sayang." Dirga langsung mengecup kening Niar sangat dalam. Hingga pipi Niar terlihat memerah.


Mereka pun bersiap untuk keluar dari apartment. Sebelumnya, Dirga memesan makanan terlebih dahulu untuk mereka sarapan.


Setelah mereka selesai sarapan, Niar menarik tangan Dirga yang hendak keluar membuka pintu. "Kamu aku pecat," tegas Niar.


"Kenapa?" tanya Dirga dengan kening yang berkerut.


"Aku gak suka kamu dideketin dan diliatin banyak karyawan cewek dan juga pengunjung cewek. Apalagi sekarang kamu semakin tampan. Kamu yang dekil kayak kemarin aja banyak banget yang menatap kagum kamu. Apalagi sekarang?" ungkapnya.


Dirga pun tertawa dan mencubit pelan pipi Niar. "Cemburu?"


"Pake nanya," sinisnya.


Dirga pun memeluk tubuh Niar. "Aku tidak akan tergoda dengan wanita manapun, Sayang. Hanya kamu dan cuma kamu yang aku cintai," jelasnya.


Niar pun tersenyum dalam pelukan Dirga. "Tapi, udahan ya kerja di cafe aku," pinta Niar.


"Iya, Sayang. Apa sih yang nggak buat kamu," balas Dirga ketika meleonggarkan pelukannya.


Mereka pun sangat berbahagia, begitu pun seseorang yang sedang berada di luar kota sana. Senyum terus mengembang di bibirnya karena telah berhasil mendapatkan kehormatan seseorang yang tak lain adalah istrinya yang baru kemarin dia nikahi.

__ADS_1


****


Happy reading ....


__ADS_2