
Keempat anak Azka dan Jingga dibawa berkeliling mall oleh kedua kakek dan neneknya ayahnya dan Gio juga sudah menyewa 4 baby sitter untuk mengawasi keempat cucunya. Kondisi fisik mereka sudah tidak sanggup untuk mengejar anak yang baru menginjak satu tahun lebih yang sedang aktif-aktifnya. Terlebih Arfan atau cimol yang tidak bisa diam dan selalu saja membuat onar.
Ayanda dan Gio terus tertawa ketika melihat keempat cucu mereka berlarian di dalam mall. Inilah yang mereka inginkan mengasuh di kuartet. Keempat anak Aska tertawa ketika melihat patung botak. Arfan juga sering mengajak adik dan kakaknya berlari bersama, saling mengejar. Kemudian mereka tertawa sangat lepas. Langkah Balqis terhenti ketika melihat gambar es krim. Tangannya sudah menunjuk-nunjuk, dan matanya sudah menatap ke arah kakek dan neneknya. Menandakan dia ingin memakan es krim tersebut.
Tanpa ragu Ayanda dan Gio membelikan apa yang diinginkan oleh sang cucu perempuan. Gio membiarkan Balqis memilih. Anak perempuan itu begitu senang dan bertepuk tangan ketika sang pelayan memberikan es krim kepadanya. Namun, sang kakak Arfan menjahili Balqis hingga anak itu menangis. Arfan mengambil es krim yang ada di tangan Balqis dan membawanya lari.
sang kakek bukannya marah malah tertawa. sungguh cucunya itu sangat jahil melebihi Gavin. Ketika Balqis sudah menangis Arfan pun kembali ke arah adiknya itu. Dia memberikan es krim tersebut seraya tersenyum seolah dia hanya ingin menjahili adiknya saja tidak menginginkan es krim milik Balqis.
"Jahilnya cucu Mimo," gemes sang nenek. cucunya itu malah tertawa dan kembali berlari. Arfan membawa keceriaan tersendiri di keluarga Aska. Dia yang paling berbeda, paling aktif
Sedangkan Mas Abdalla, anak pertama dari Aska kebalikannya Arfan. Dia terlalu pendiam, dia hanya akan memperhatikan ketiga adik-adiknya. Dia juga yang akan selalu menjaga adik-adiknya. Jika salah satu diantara adik-adiknya ada yang terjatuh, Abdalla lah yang akan membangunkannya. Dia yang paling sigap membantu adiknya untuk bangun lagi. Ketika adiknya menangis pun tangan Abdalla yang akan mengusap lembut air mata yang membasahi wajah adik-adiknya. contohnya seperti sekarang ini, Abdalla mengusap lembut air mata yang membasahi wajah Balqis. Tangannya pun mengusap lembut ujung kepala Balqis. Pemandangan itu membuat kakek dan nenek adalah tersenyum bangga.
"Mas, mau juga es krim sama kayak adek?" tanya sang nenek.
Abdalla mengangguk, menandakan dia mau. Akhirnya sang kakek memberikan 4 es krim dengan varian rasa yang berbeda-beda untuk keempat cucunya. Ayanda mengajak keempat cucunya untuk duduk di foodcourt membiasakan mereka untuk tertib dalam kegiatan makan. Makan tidak boleh berdiri dan harus duduk. Itulah yang tengah Ayanda ajarkan.
Ayansa dan Gio merasa terpana ketika melihat putra pertama Aska yang berbagi es krim dengan Ahla, Arfan dan juga Balqis. Padahal ketiga adiknya itu sudah memiliki es krim masing-masing, tapi dengan senang hati anak itu membagi mereka tanpa mengambil apa yang adiknya punya.
"Kenapa kamu baik banget, Mas?" anak itu hanya tersenyum ke arah sang nenek. Dia belum lancar berbicara tapi mampu merespon apa yang dikatakan oleh para orang dewasa.
Setelah es krim habis mereka berjalan berkeliling mall kembali. Mereka masih terlihat senang dan ceria, apalagi ketika melewati toko mainan. Empat anak itu sudah menghampiri nenek dan kakek mereka lalu menarik tangan kakek dan nenek mereka untuk masuk ke dalam.
"Memangnya Kalian mau beli apa?" tanya sang Pipo.
"Nge-ngeng."
"Tuk."
"Doll."
Jawaban yang berbeda-beda keluar dari ketiga anak Aska. Sedangkan anak pertamanya hanya diam seribu bahasa memperhatikan sekeliling toko saja.
Ayanda dan Goo pun masuk ke toko mainan tersebut. Reaksi mereka tramat bahagia dan senang mereka berlarian kesana kemari melihat mainan yang dipajang di sana. Mereka nampak bingung karena terlalu banyak mainan yang ada di sana. Mereka masih berkeliling belum menemukan apa yang mereka inginkan.
Arfan anak yang sangat aktif tidak sengaja menjatuhkan sebuah mainan yang termasuk ke dalam mainan pecah belah. Peraturannya, Siapa yang menjatuhkan harus mengganti rugi. Anak itu terkejut dan Hampir saja menangis. Gio segera menghampiri Arfan dan memeluk tubuh cucu kecilnya itu.
"Anak ini sudah menjatuhkan mainan ini, Pak," terang salah satu penjaga toko.
"Berapa harganya?"
"Tiga ribu tujuh ratus delapan puluh dollar," jawab penjaga toko.
dia menyerahkan kartu hitam kepada penjaga toko itu sontak mata penjaga toko itu sedikit melebar. Ketika membaca nama yang ada di kartu tersebut, penjaga toko itu nampak shock. Siapa yang tidak kenal Giondra Aresta Wiguna.
Balqis sedang memilih-milih mainan alat make up. Dia sangat antusias dan ingin membeli semuanya.
__ADS_1
"Tidak, Sayang. Hanya dua saja," kata Sang nenek.
"Tli, Mo," tawar Balqis.
"No, hanya dua. Okay." anak itu pun mengangguk pasrah. Namun, raut wajah gembiranya tidak bisa dipungkiri.
Ayanda menukikkan kedua alisnya ketika melihat Arfan digendong oleh suaminya. "Kenapa dengan Arfan, Dad?" tanya sang istri.
"Dia tidak sengaja menyinggung mainan yang mudah pecah. Akhirnya mainan itu rusak dan harus ganti rugi." Anak itu menunduk dalam seakan tahu dia itu salah.
"Lain kali hati-hati, ya. Jangan sampai terulang lagi. Kasihan kan kalau ayah dan bunda harus ganti rugi." Arfan pun menunduk dalam dan mengganggu kecil.
"Ya sudah, sekarang kamu mau beli apa? Silakan pilih." Sang kakek tersenyum manis ke arah Arfan, dan mulai menurunkannya dari gendongannya. Membiarkan cucunya itu memilih mainan yang dia inginkan.
"Andai Gavin ikut pasti suasana akan lebih seru," ucapan Ayanda.
"Anak itu memiliki sifat keras sama seperti Daddy-nya. Semakin dipaksa dia semakin keras kepala." Ayana setuju dengan ucapan sang suami. Gavin adalah fotokopian dari aksara putra pertama mereka.
Gio dan sang istri masih mengawasi keempat cucunya dari belakang. Baby sitter yang menjaga mereka berempat pun tidak pernah meninggalkan mereka. Apapun yang keempat cucunya inginkan akan Gio turuti. Dia tidak akan pernah pelit untuk segala hal. Apalagi perihal untuk membahagiakan, dia tidak tanggung-tanggung memberikan apa yang bisa dia berikan.
Selesai memborong semua mainan yang diinginkan, keempat anak itu merengek meminta makan. Ternyata waktu sudah menunjukkan pukul satu siang lebih. Gio dan juga ayanda mengajak keempat cucunya untuk makan siang di sebuah restoran yang diakui enak. Mereka berdua sangat senang ketika melihat keempat cucunya makan dengan begitu lahap. Terlihat mereka sangat kelaparan.
"Apakah 4 tahun itu tidak terlalu lama?" tanya Ayanda yang sudah menatap wajah sang suami.
Gio meletakkan sendok yang ada di tangannya Kemudian dia menatap wajah istrinya yang tengah menunggu jawaban darinya.
Jawaban suaminya membuat Ayanda terdiam seribu bahasa. Dia tidak tahu harus berkata apa. Baru satu bulan rasanya sudah sangat lama apalagi lebih dari 4 tahun lamanya.
"Jangan bercanda, Dad," sentak sang istri. Gio hanya tersenyum. Dia meraih tangan Ayanda dan mengusap punggung tangannya dengan begitu lembut.
"Siapa yang bercanda, Mom?" sanggahnya. Apakah wajah Daddyi menunjukkan sebuah candaan?" Ayanda pun menggeleng. Namun, dia tidak terima jika anak, menantu dan cucu-cucunya lebih lama lagi tinggal di Singapura. Tidak sesuai dengan waktu yang suaminya katakan di awal.
"Jujur saja Daddy mengirim Aska ke sini untuk menstabilkan perusahaan. Dia memiliki kemampuan sama seperti sang Abang. Hanya saja kemampuan Aska belum tajam. Maka dari itu harus diasah dengan proyek ini. Proyek pertama dia dan proyek terbesar dia.
"Kenapa tidak menyuruh Aksa saja? Jika Aksa yang menangani, Mommy yakin dalam waktu 2 tahun Wiguna grup Singapura akan bisa stabil." Bukannya Ayanda merendahkan Askara. Hanya saja dia tahu kemampuan anak pertamanya. Aksa lebih berpengalaman dari Aska, dan sudah pasti akan membawa dampak baik pada Wiguna grup Singapura.
"Tugas Aksa di Wiguna group Aussie sedangkan tugas Aska di Wiguna grup Singapura. Itu tidak bisa diubah dan diutak-atik. Cucu-cucu Ayah memiliki tugas masing-masing dan diberikan wewenang masing-masing di setiap Wiguna grup yang ada di berbagai negara. Sengaja dikirim Aska agar dia tahu bagaimana jadi pemimpin yang sesungguhnya. Perihal gagal atau suksesnya stabilitas Wiguna group, itu kembali kepada takdir Tuhan. Tidak ada usaha yang 100% sukses dan tidak ada usaha yang 100% gagal semuanya seimbang."
"Tapi, rumah akan terasa sepi ketika mereka terlalu lama di sini." Ayanda masih mencoba membujik.
"Kita tidak akan bisa melihat perkembangan cucu-cucu kita. Kita akan ketinggalan perkembangan mereka," l4anjutnya lagi.
"Kita bisa kapan saja datang ke Singapura, membawa pergi mereka pun kita bisa, tapi mereka adalah keluarga yang tidak ingin melakukan long distance relationship. Mereka ingin terus bersama-sama" kemanapun nahkodanya membawanya.
"Tapi, mereka akan kembali ke Indonesia lagi 'kan?" Ada rasa takut di hati Ayanda jikalau anak bungsunya tidak akan kembali ke Indonesia
__ADS_1
"Tenang saja, setelah semuanya stabil mereka akan ditarik ke Indonesia. Mereka akan tinggal di rumah besar kita." Senyum pun melengkung di bibir Giondra juga Ayanda
.
5 bulan kemudian ....
Gavin masih merajuk karena sang Paman tidak kunjung pulang ke Indonesia. Dua hari setelah kepergian sang Paman ke Singapura, sang Paman pernah berjanji jikalau dia akan datang menjenguk Gavin di sana. Namun, sampai sekarang Aska tak kunjung datang. Gavin kecewa, dia marah. Ketika sang Paman menghubunginya pun dia tidak ingin menjawab. Rasa kecewa terlalu besar di dadanya.
"Mas weekend ini Daddy ada libur panjang. Kita menjenguk kuamplet, yuk." ajak sang ayah. Anak itu masih fokus pada ipad-nya. Kemudiaan, dia menggeleng tanpa sebuah kata pun.
"Masih marah sama Uncle?"
"Mas paling tidak suka dengan orang yang ingkar janji. Mas paling benci sama orang yang seperti itu." Nada bicaranya penuh dengan kekecewaan. Aksa sangat merasakan
"Kemarin 'kan Pipi sudah bilang, Mas. Uncle sedang sibuk. Jadi, Uncle tidak bisa kemana-mana. Makanya kita yang harus jenguk Uncle," terang sang Ibu dia mencoba untuk mencairkan hati Gavin yang sudah membeku.
"Tidak! Mas tidak mau," sahut Gavin
"Jangan paksa Mas, kalau Mommy dan Daddu mau menjenguk si kumpret, silakan. Tapi, mas tidak mau ikut"
Aksa menghembuskan nafas kasar dan Riana menatap ke arah sang suami. Sikap Daddy itu, keras kepalanya minta ampun," ujar sang istri
"Gixiliran yang jelek-jelek aja ke bapaknya dan yang bagus-bagus aja semuanya itu keturunan Mommy,"i balik ejek Aksara.
Gavin tanpa si kuarted seperti sayur asem tanpa garam Anak itu tidak memiliki keceriaan. Dia hanya menghabiskan waktu untuk belajar dan belajar. Tidak ada waktu bermain. Dia yang membatasi bukan orang tuanya yang membatasi. Pergaulannya palingan dengan Rio dan juga Rangga, yang akan bermain bersamanya. Itu pun jika Gavin menginginkan mereka datang ke rumahnya atau juga Gavin akan ke rumah sang bubu untuk bermain dengan Alina Alisa dan Aleeya, juga Iyan
Ada rasa kecewa di hati Asia ketika dia menghubungi sang Abang. Dia ingin sekali berbicara dengan sang keponakan. Namun, Gavin seolah selalu menghindar Dia tidak akan menampakan diri ataupun juga memperdengarkan suaranya. Tidak ada lagi teriakan, tidak ada lagi palakan Aska sangat merindukan itu
"Mas, Uncle ingin berbicara sama kamu," ujar sang ibu. Anak itu malah mengunci diri di kamar dia tidak menjawab.
"Makanya Kakak pulang ke sini. Minta maaflah kepada Gavin. Tau sendiri kan watak dia itu keras. Jika, dia sudah kecewa dia akan lebih dingin dari balok es.
"Belum sempat, Ri," balasnya. "Sekarang aja pulang malam terus. Waktu bersama anak-anak aja cuma di hari sabtu minggu.Itupun jika nggak lembur. Jangankan buat keluar rumah, ingin bicara atau bercanda sama anak-anak pun terbatas waktunya." Bukannya mengeluh tapi itulah yang memang sebenarnya terjadi di Singapura
"Bang As dan Ri juga sudah membujuk Gavin untuk
pergi ke Singapura, tapi dia tidak mau. Walaupun kami berangkat, dia tidak mau ikut. Pasti Kakak akan lebih kecewa ketika Gavin tidak ada"
"Gua kangen anak lu. Gua kangen dipalak, gua kangen di bully. Sekarang sudah nggak ada lagi Gavin yang seperti itu. Mas, Uncle kangen Mas," ujar Aska dari balik sambungan video..
Di dalam kamar, anak berusia 6 tahun kurang itu tengah terduduk di tepian ranjang. Dia menunduk dalam menahan laju air mata. Dia juga sangat merindukan sang Paman, tapi rasa kecewanya lebih besar.
"Kalau Uncle nggak bisa datang mending gak. usah janji sama mas. Jadi, Mas nggak akan marah." Tangan anak itu menyeka ujung matanya dengan sangat kasar. Dia anak cengeng tapi pura-pura kuat di depan orang lain
"Enggak bisakah Uns ke sini, sehari aja. Mas, ingin peluk Uncle," gumamnya
__ADS_1
dengan nada yang bergetar.
Ikatan batin antara keponakan dan Paman itu memang sangat erat. Dari perut Askalah yang selalu menuruti keinginan Gavin. Ketika sang Abang harus berada di Aussie untuk mengurus perusahaannya. Maka dari itu, sampai sekarang dia sangat dekat dengan Gavin sekalipun anak itu menyebalkan, tidak akan pernah bisa marah malah rasa sayangnya sama seperti dia menyayangi anaknya sendiri.