Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
245. Membasuh Kaki


__ADS_3

Tiba sudah mereka di Bandung pada pukul sembilan malam. Kedatangan mereka membuat dokter Eki terkejut. Pasalnya Aska maupun Jingga tidak memberitahukannya terlebih dahulu.


"Ayah, besok kita ke Jakarta." Lebih terkejut lagi mendengarnya. Bukan hanya dokter Eki yang terkejut, Jingga pun ikut terkejut dengan apa yang dikatakan oleh suaminya.


"Ayah-"


"Ayah ingin kamu didampingi Ayah Eki ketika lahiran nanti." Sungguh terenyuh hati Jingga. Begitu juga dengan dokter Eki. Hatinya mencelos mendengar apa yang dikatakan oleh sang menantu.


"Ayah tidak mau merepotkan kamu," ujar dokter Eki. Sudah pasti di sana dia akan terlihat sangat merepotkan. Dia juga tidak ingin membebani Aska juga Jingga.


"Tidak ada yang direpotkan akan hal ini, Ayah. Aku hanya ingin melihat istriku bahagia ditemani oleh ayah kandungnya ketika melahirkan. Pasti itu yang dia idam-idamkan."


Jingga segera memeluk tubuh Aska. Suaminya tahu akan hal yang dia inginkan, tapi tidak dia utarakan. Aska bagai cenayang yang selalu membuatnya senang.


"Uncle, Mas mau pinjam itu," tunjuk anak itu ke arah kursi roda.


Mata Aska melebar. Ternyata anak ini tidak lupa dengan keinginannya. Aska menggeleng pelan, menandakan tidak boleh. Namun, anak itu terus merengek.


"Kenapa dengan si tampan ini?" tanya dokter Eki. Tangannya sudah mengusap lembut rambut lebat Gavin.


"Kakek, Mas mau pinjam ini boleh?" Dia memegang kursi roda yang digunakan ayah dari Jingga tersebut. Bukannya melarang dokterEki pun tertawa.


"Boleh."


Gavin terlihat sangat asyik bermain dengan kursi roda. Itu membuat dokter Eki tertawa dengan begitu puas. Ada kesedihan yang dia rasakan. Harusnya dia tertawa bersama cucunya sendiri bukan dengan cucu orang lain.


"Andaikan jika Dea ...."


Hembusan napas berat penuh penyesalan keluar dari mulutnya. Benar kata Gio, dia akan merasakan membutuhkan seorang cucu ketika kesendirian datang. Dia kesepian, tidak ada pelipur lara. Tidak ada yang membuatnya tertawa di usainya yang sudah senja.


.


Keesokan paginya mereka semua kembali ke Jakarta. Gavin nampak akrab dengan dokter Eki. Banyak canda tawa yang tercipta di sana. Jingga dan Aska hanya saling pandang dengan senyum yang terukir indah. Mobil berbelok ke sebuah rumah minimalis. Dahi Jingga mengkerut begitu juga dengan dokter Eki.


"Turun!" titah Aska. "Kita sudah sampai."


"Ini rumah siapa?" Jingga heran dan bingung.


Aska keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk istrinya. Rumah yang sederhana dan banyak tanaman hias di depannya.


"Ini rumah baru kamu, Ka." Begitulah yang dokter Eki katakan.


"Bukan."


Aska membawa mereka masuk ke dalam rumah tersebut. Sambutan hangat dari pekerja di sana hanya dijawab anggukan oleh Askara.


"Ini rumah untuk Ayah."


Dokter Eki membeku. Dia mematung dan sulit untuk berkata ataupun bergerak. Apa dia tidak salah mendengar apa yang dikatakan menantunya ini.

__ADS_1


"Ayah, ini beneran?" Jingga pun nampak tidak percaya. Hanya anggukan yang menjadi jawaban dari Aska.


Dia mengambil sesuatu dari salah satu laci yang ada di rumah tersebut. Dia menyerahkannya kepada Jingga. Wanita hamil itu membacanya dengan seksama dan tak terasa bulir bening menetes begitu saja.


"Ini rumah atas nama Bunda." Speechless. Jingga benar-benar tidak menyangka.


"Kenapa tidak diatasnamakan Ayah Eki saja?" lanjut Aska. "Karena Ayah belum percaya sepenuhnya kepada Ayah Eki." Aska menatap ke arah dokter Eki. "Maafkan aku, Ayah. Aku memang mudah memberi, tapi aku tidak mudah untuk percaya."


Sang mertua mengangguk. Dia tak masalah menantunya percaya atau tidak kepadanya sekarang. Taubatnya dia bukan untuk dilihat oleh manusia. Dia taubat dari hati dan untuk meminta ampunan kepada Tuhan. Dia juga tidak akan merasa sakit hati ataupun dendam, sesungguhnya dia lebih menyukai kejujuran walaupun menyakitkan.


Mereka berkeliling rumah sederhana tersebut dan terlihat betapa bahagianya Jingga hari ini. Mendapat kejutan yang sungguh luar biasa.


"Bunda bisa jenguk Ayah kapan saja. Kita juga bisa menginap di sini."


.


Waktu seakan cepat berputar. Tiga hari lagi Jingga akan melakukan operasi Caesar melalui metode yang sama dengan yang Riana jalani ketika melahirkan Ghea. Semuanya sudah disiapkan oleh Giondra. Semua biaya pun ditanggung olehnya.


Perihal perintilan bayi jangan ditanya. Empat bayi yang masih berada di dalam perut itu sudah memiliki kamar terpisah. Empat boks bayi untuk mereka tiduri juga baju-baju bayi pemberian dari kedua Tante mereka sudah memenuhi lemari. Bukan dari merk abak-abal, melainkan merk ternama. Semisal merk GENTONG, CHANTEL, DOIR, KREMES, JARA, FERDI.


Sebenarnya Aska dan Jingga belum memberitahu apa jenis kelamin keempat anak mereka. Maka dari itu, kedua kakak Aska membelikan baju bayi unisex. Bisa dipakai untuk semua jenis kelamin.


Jangan ditanya peran sang Mimo. Ayanda paling sibuk mengurus dekorasi kamar sang cucu. Kamar Ayna disulap lagi dan diperbesar lagi. Itupun memakan biaya yang tidak sedikit. Namun, demi cucu tercinta itu tidak masalah.


Aska terkejut ketika melihat istrinya sudah membawa wadah cukup besar berisi air ketika dia baru saja selesai mandi.


"Itu buat apa?" tanya Aska. Dia takut istrinya terpeleset karena tumpahan air tersebut.


"Mau ngapain?" Jingga menyerahkan wadah berisi air itu dan menggandeng tangan sang suami tercinta.


"Ikut aja."


Setiap pagi sebelum sarapan Ayanda akan selalu ada di dapur. Jingga sangat tahu akan hal itu.


"Mom."


Wanita yang sudah tidak muda lagi itupun menoleh dan Tersenyum hangat ke arah Jingga.


"Kamu bawa apa, Dek?" Ayanda heran kenapa putra bungsunya membawa wadah berisi air. Ditambah dia hanya memakai kaos polos putih juga celana pendek. Aska hanya menggeleng. Menandakan dia juga tidak tahu.


"Mom, boleh minta waktunya sebentar?" Jingga berbicara dengan sopan.


"Boleh, ada apa?" Ayanda nampak bingung. "Jangan buat Mommy takut."


Jingga membawa sang mertua ke ruang keluarga. Dia menyuruh ibu mertuanya itu untuk duduk. Juga menyuruh suaminya meletakkan wadah berisi air itu di bawah kaki sang ibu.


"Bunda mau nyuci kaki Mommy?" Itulah yang dapat Aska simpulkan. Jingga mengangguk dan Ayanda hanya terpaku melihat menantunya tersebut.


"Untuk apa? Jangan, Nak!" Ayanda menolak.

__ADS_1


Jingga yang sudah susah payah duduk di lantai tetap memasukkan kaki ibu mertuanya ke dalam wadah yang berisi air. Dia usap dan dia cuci kaki Ayanda dengan begitu lembut. Ayanda tak kuasa menahan laju air matanya.


"Mom, tiga hari lagi aku akan melahirkan. Aku minta maaf atas segala kesalahan yang pernah aku buat kepada Mommy. Baik itu disengaja maupun tidak. Aku ingin melahirkan dengan lancar dan tanpa halangan apapun. Aku juga ingin melahirkan anak-anak yang lucu juga sempurna secara fisik. Aku sangat yakin, maaf dari Mommy, ridho dari Mommy juga doa dari Mommy akan lebih mempermudah persalinanku nanti."


Ayanda menangis terharu. Dia menangkap wajah menantunya. Kemudian, dia kecup kening Jingga dengan begitu dalam.


"Kamu anak baik, Nak. Tuhan pasti akan menjawab semua doa kamu. Doa Mommy selalu tercurah untuk semua anak-anak, para menantu juga cucu-cucu Mommy. Yakinlah, Tuhan telah mempersiapkan hadiah yang indah untuk kesabaran kamu dan juga Askara.


Jingga tersenyum dan dia pun memeluk tubuh ibu mertuanya yang sudah seperti ibu kandungnya sendiri. Bulir bening pun menetes dengan cukup deras.


"Maafkan Adek juga, Mom." Aska sudah mencium kaki ibunya. Buru-buru Ayanda memegang bahu sang putra. Dia menggeleng pelan. Mengusap lembut wajah putra tampannya tersebut.


"Tak perlu meminta maaf. Seorang ibu akan selalu memaafkan anak-anaknya. Hanya untaian doa yang selalu Mommy panjatkan untuk kamu juga anak-anak Mommy yang lain. Ridho Mommy adalah jalan menuju kebahagiaan kamu." Aska memeluk tubuh sang ibu tercinta juga disusul Jingga yang ikut bergabung. Baru kali ini anak dan menantunya mencuci kakinya juga meminta maaf dengan begitu tulus.


"Jangan lakukan ini hanya kepada Mommy. Lakukanlah pada ayah kamu, Nak."


Setelah sarapan, Aska juga Jingga menemui dokter Eki. Pria senja itu nampak tengah berjemur dan memandangi bunga-bunga yang tengah bermekaran.


"Ayah!"


Suara sang putri membuatnya tersenyum. Dia mengayuh kursi roda menuju Jingga yang berjalan bersama Aska. Jingga membawa ayahnya masuk ke dalam Aska sudah membawa wadah cukup besar berisi air.


"Itu untuk apa?" tanya dokter Eki.


"Aku ingin membasuh kaki Ayah."


Hati dokter Eki bergetar mendengar penuturan sang putri. Dia sudah jahat kepada Jingga, tapi putrinya masih bersikap baik kepadanya dan kini ingin membasuh kakinya.


"Ayah sudah tidak punya kaki."


Deg.


Hati Jingga sakit mendengarnya. Dia memandang wajah ayahnya dengan sangat dalam.


"Jangan berbicara seperti itu, Ayah." Suara Jingga pun bergetar.


Jingga dan Aska membasuh kaki dokter Eki dengan lembut dan penuh perasaan. Dokter Eki pun menangis. Anak serta menantunya benar-benar sangat baik. Menyayanginya dengan tulus.


"Ayah, aku minta doanya." Jingga sudah menggenggam tangan dokter Eki. "Doakan aku semoga dipersalinanku nanti dimudahkan, dilancarkan dan diselamatkan ibu dan anak-anaknya. Juga, semoga anak-anak aku terlahir dengan sempurna."


"Amin, Ya Allah." Dokter Eki mengamini ucapan Jingga. "Ayah yakin, anak-anak kamu kali ini sehat-sehat. Sempurna dan tidak ada kekurangan satupun." Tangan dokter Eki sudah mengusap lembut perut besar Jingga.


"Jangan buat Bunda juga Ayah kalian susah, ya. Keluarlah dengan mudah dan cepat."


Belum selesai doa dokter Eki, Jingga merasakan ada yang merembes basah membasahi paha bagian dalam.


"Ayah, ini--"


...***To Be Continue***...

__ADS_1


Komennya mana?


__ADS_2