
Sudah dua pagi Ini Jingga selalu menatap intens wajah sang putri. Ada rasa takut yang mendera hatinya. Mimpi yang terus datang dan seperti pertanda.
Aska sudah rapi dengan pakaiannya. Dia menegur sang istri karena masih termenung.
"Sayang, kamu belum siap-siap?" tanya Askara.
Jingga pun terbangun dari lamunannya. Dia menoleh kepada sang suami yang sudah tampan. Sedangkan dia masih bau asam.
"Aku mandi dulu, ya. Tolong jaga Ayna."
Aska menghela napas kasar ketika Jingga masuk ke kamar mandi. Dia menatap sedih ke arah Ayna, putri cantiknya.
"Apakah kamu akan sanggup menghadapi gunjingan orang lain nantinya?" gumam Aska. Dia hanya takut sang putri terkena mental karena ucapan para netizen maha benar.
Namun, ucapan abangnya yang terus diulang membuat Aska harus bersikap optimis. Ditambah dia selalu menjalin komunikasi dengan Riki yang kini sudah berada di Kalimantan. Banyak motivasi yang Riki berikan.
Sang ibu masuk ke dalam kamar Askara. Dia mengambil Ayna yang tengah anteng menatap wajah ayahnya.
"Ganti baju, ya."
Ternyata sang mimo sudah menyiapkan baju yang senada dengan Aska dan juga Jingga. Askara terus memandangi wajah ibunya yang terlihat sangat bahagia memakaikan baju kepada Ayna. Meskipun, terlihat jelas bagaimana kaki sebelah kiri Ayna.
"Kamu akan Pipo perkenalkan pada dunia," ujar Ayanda ke arah Ayna yang tengah tersenyum.
"Mimo dan Pipi sayang Ayna. Jangan berpikiran aneh-aneh karena kasih sayang kami sama kepada kalian semua. Mimo dan Pipi menyayangi kakak triplets, menyayangi Mas Gavin dan Ghea. Juga kamu, Ayna si mata indah penerang keluarga Wiguna."
Aska terenyuh mendengar ucapan dari sang ibu. Benar-benar tulus ucapan sang ibu. Dia juga bersyukur karena keluarganya tidak pernah membedakan hanya karena fisik. Mereka malah menerima dengan tangan terbuka dan hati yang ikhlas. Merangkul pundak yang rapuh, dan menggenggam tangan yang lemah.
"Sudah cantik." Ayanda mencium gemas pipi cucu keenamnya ini.
"Tetap tersenyum ya di depan kamera nanti." Ayna membalasnya dengan sebuah senyuman yang menawan.
"Cantik sekali cucu Mimo."
Aska masih mematung di tempatnya. Apalagi dia melihat hanya satu sepatu yang dipakaikan oleh ibunya di kaki kanan Ayna. Namun, itu tak membuat raut wanita paruh baya itu sedih. Dia terlihat sangat bahagia.
"Dek, Mommy bawa Ayna ke luar ya." Aska pun mengangguk.
Tak lama berselang, Jingga keluar dari kamar mandi. Dia mencari sang mertua, tetapi di sana hanya ada Aska.
__ADS_1
"Bukannya tadi ada suara Mommy?" tanya Jingga.
"Mommy udah keluar, bawa Ayna."
Jingga pun mengangguk mengerti. Ketika dia baru saja melepaskan handuk yang melilit rambutnya. sepasang tangan sudah melingkar di pinggang Jingga.
Aska meletakkan dagunya di pundak sang istri. Menciumi leher jenjang Jingga yang harum sekali.
"Bang, aku mau pakai baju. Acaranya sebentar lagi," imbuh Jingga. Bulu kuduknya meremang karena hampir dua bulan dia tidak merasakan seperti ini lagi.
"Kamu sudah beres masa nifasnya?" tanya Aska. Jingga pun mengangguk. Kemarin, tepat empat puluh hari.
"Yess!"
Mata Jingga melebar mendengar seruan dari sang suami. Sudah pasti akan ada yang terjadi malam nanti.
"Pisangku merindukan rumah ternyaman," bisik Aska. Jingga berdecih dengan senyum yang melengkung indah.
Aska tak melepaskan pelukannya. Dia terus memeluk Jingga dari belakang walaupun istrinya tengah membubuhkan bedak di wajah.
"Bang, aku mau make up dulu biar gak buluk-buluk amat." Asak malah tertawa mendengar ucapan dari istrinya tersebut.
Sebuah gombalan sederhana, tapi mampu membuat Jingga melengkungkan senyum indah. Selesai berrias, dia dan Aska bergandengan tangan dan menatap pantulan diri mereka di cermin. Bibir merek berdua pun melengkung dengan sangat sempurna.
"Ayo, Sayang." Aska sudah memberikan tangannya dan disambut hangat oleh Jingga.
Kedatangan mereka berdua disambut hangat oleh kedua orang tua Aska dan dan kedua kakak Aska. Mereka ikut bahagia melihat wajah Aska yang bahagia.
Teras depan sudah disulap menjadi tempat konferensi pers di mana Gio akan memperkenalkan cucu dan menantunya kepada khalayak umum. Sengaja Gio memilih mengadakannya di rumah, dia tidak ingin terjadi apa-apa dengan cucu dan menantunya setelah konferensi pers berlangsung.
"Sudah siap?" tanya Gio.
Jingga menoleh kepada Aska dan dijawab anggukan oleh sang suami. Menandakan mereka sudah harus siap. Ayna dibawa oleh Ayanda. Hal seperti ini sering dilakukan oleh Gio ketika mereka akan memperkenalkan Anggota baru keluarga Wiguna.
Kali ini, Gio akan memperkenalkan Jingga dan Ayna kepada semua orang. Seharusnya Jingga diperkenalkan ke hadapan khalayak umum ketika baru saja menikah. Namun, kondisi kakek Genta yang tidak memungkinkan, maka semuanya diurungkan. Aska tidak mempermasalahkan itu. Ditambah Jingga yang tidak tahu perihal hal ini jadi biasa saja.
Aska merasakan tangan istrinya yang dingin. Wajahnya terlihat sangat tegang. Namun, Aska mencoba untuk terus menenangkan. Sorot matanya mengatakan bahwa tidak akan terjadi apa-apa.
"Selamat siang semuanya," sapa Giondra. Dia didampingi oleh Christo dan juga Christian. Banyak juga pria berbadan kekar di belakangnya.
__ADS_1
"Kalian pastinya sudah tahu, kenapa saya mengumpulkan kalian semua. Saya hanya ingin memperkenalkan anggota baru dari keluarga besar Wiguna." Gio sudah menoleh ke arah Jingga.
"Ini menantu saya, Jingga Andhira, pemilik JA Jewellery istri dari Ghattan Askara Wiguna, dan bayi yang tengah istri saya gendong adalah putri dari Aska dan juga Jingga."
"Kenapa baru diperkenalkan sekarang? Apakah ada hubungan terlarang sebelumnya, misalnya hamil di luar nikah?"
Pertanyaan dari seorang wartawan yang membuat darah Aksara naik. Manusia yang paling tidak bisa menahan emosi adalah Aksa. Keluarganya yang disenggol, dialah yang akan membunuhnya.
"Hahaha." Tawa renyah keluar dari mulut Giondra.
"Pernikahan putra bungsu saya terjadi di Singapura setahun yang lalu. Kenapa tidak langsung dikenalkan? Karena kondisi ayah saya pada waktu sedang kritis. Etiskah saya melakukan konferensi pers sedangkan ayah saya di ruang ICU," jawab Gio penuh dengan penekanan.
"Kami dapat kabar berita, bahwasannya cucu dari Anda ini berbeda. Dia terlahir dengan tidak sempurna. Apa benar?"
Pertanyaan itu membuat Gio menggelengkan kepala. Kabar burung lebih cepat sampai dibandingkan pesawat terbang.
"Jika, cucu saya memiliki kekurangan. Apa ada larangan untuk saya memperkenalkan cucu saya kepada kalian semua? Apa saya tidak boleh membanggakannya?"
"Bukannya begitu, Pak. Bukankah kebanyakan pengusaha sukses tidak akan memperkenalkan Anggota keluarganya yang mohon maaf cacat."
"Jangan samakan keluarga saya dengan keluarga yang lain. Jangan juga menyama ratakan semua orang."
Ketegasan Gio membuat Jingga merasa dilindungi. Ditambah Aska yang tak melepaskan genggaman tangannya kepada tangan Jingga .
"Jikalau, dari konferensi pers ini muncul berita tidak-tidak. Siapkan diri kalian karena saya akan menempuh jalur hukum."
Ucapan Gio sungguh tidak main-main. Dia sangat serius dengan apa yang dia katakan. Dia akan melindungi anak dan cucunya sama seperti sang ayah melindungi mereka.
"Ketidaksempurnaan cucu saya bukanlah aib. Melainkan keberkahan yang Tuhan berikan."
Air mata Jingga menetes begitu saja. Dia sangat terharu dengan apa yang dikatakan oleh ayah mertuanya. Aska mengusap lembut air mata dari wajah istrinya.
"Kamu gak sendiri, ada aku dan keluarga aku yang akan melindungi kamu juga anak kita," papar Aska.
"Kami akan berusaha membuat kamu bahagia. Kami ingin, menyembuhkan segala luka dan sedih yang kamu derita karena kami sangat menyayangi kamu."
Jingga berhambur memeluk tubuh Aska. Benar yang dikatakan oleh pamannya. Aska adalah pria tulus yang mencintainya dan selalu ada di sampingnya.
...****************...
__ADS_1
Komen dong ...