
Aska maupun Gio sudah tahu perihal dokter Eki yang datang ke rumah mereka. Aska juga sudah tahu perihal Jingga yang membentak dokter Eki dari laporan ibunya. Inginnya Ayanda memeluk tubuh Jingga. Menenangkan hatinya, tetapi Aska melarangnya. Jingga membutuhkan ruang sendiri untuknya menenangkan diri.
Aska masih menatap nyalang ke arah dokter Eki. Tatapannya tajam bagai elang.
"Ingat, wahai dokter Eki," ucapnya. "Hati anak Anda sudah terlalu hancur karena sikap Anda kepadanya selama ini. Apalagi dengan sengaja Anda merenggut kebahagiaannya. Menghilangkan nyawa seorang Wanita yang selalu ada di samping putri Anda sedari dia berada di dalam kandungan hingga masa remaja yang mengagumkan. Apakah perlakuan Anda yang bia dab itu dikategorikan rasa sayang? APA SEPERTI ITU, DOKTER EKI?" terang Aska penuh dengan penekanan. Dokter Eki hanya mematung di tempatnya. Menatap Aska pun dia tidak mampu.
"Jangan ganggu kebahagiaannya sekarang ini. Dia sudah berada di lingkungan keluarga yang tulus menyayanginya," tegas Aska. Mulut dokter Eki pun tertutup rapat. Dia menjelma menjadi manusia gagu.
"Walaupun Anda bersujud di kaki Jingga sekalipun, lukanya tidak akan pernah bisa sembuh. Hatinya tidak akan pernah bisa utuh kembali. Kebahagiaannya tidak akan pernah bisa terulang lagi. Hanya sakit, perih, kecewa yang menjadi satu, dan alhasil menimbulkan kehancuran yang mendalam untuknya hingga sampai saat ini."
Manusia angkuh seperti dokter Eki terdiam membisu mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Askara. Dia pun menunduk dalam. Seakan bayangan masa lalunya tengah menghantuinya.
"Hati anak Anda sudah pecah dan hancur tanpa sisa, dan itu semua tidak bisa diperbaiki lagi. Hanya satu jalan keluarnya, menggantinya dengan hati yang baru, yakni keluarga yang baru yang memang benar-benar tulus menyayanginya."
Suasana pun mendadak hening. Aska menghela napas kasar. Dia masih menatap tajam dokter Eki yang tak lain adalah mertuanya.
"Saya harap Anda pergi jauh dari hidup istri saya. Jangan munculkan wajah Anda di depannya. Kesempatan Anda untuk memperbaiki diri sudah tidak ada lagi. Terlalu kejam perkataan Anda kepada istri dan anak-anak saya. Terlalu sadis sumpah serapah yang Anda keluarkan untuk anak kedua saya. Hingga pada akhirnya, anak saya pergi meninggalkan orang-orang yang tulus menyanyinya." Mata dokter Eki melebar ketika mendengar ucapan Askara. Jadi, anak kecil yang sering hadir di mimpinya bersama Dea adalah anak Aska dan juga Jingga. Anak itu sudah meninggal.
"Saya yakin Anda pasti bahagia mendengar kabar ini, dan saya persilahkan untuk Anda tertawa keras di atas penderitaan kami. Setelah ini, anggaplah kita tidak saling kenal. Saya juga sudah menganggap mertua laki-laki saya mati."
Dokter Eki tidak bisa berkata-kata mendengar ucapan dari Aska. Sangat dalam dan menusuk jiwa. Askara seakan sudah tahu semuanya.
Aska kembali ke meja kerjanya. Dia mengambil satu lembar cek yang sudah dia tulis nominalnya di sana. Dia menghampiri dokter Eki lagi dan memberikan cek itu. Dokter Eki terkejut dengan nominal yang tertulis di sana.
"Anda masih menjadi tanggung jawab istri saya. Berhubung istri saya tidak ingin bertemu dengan Anda lagi saya harap uang ini akan mencukupi hidup Anda selama Anda menggunakannya dengan baik. Bukan untuk bermain wanita," cetusnya.
Tidak ada respon dari dokter Eki. Menantunya yang satu ini ternyata serba tahu.
"Dua ratus lima puluh juta."
"Ada sebuah kontrakan satu petak yang sudah saya sewa. Saya tidak ingin Anda menjadi gelandangan karena sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Hiduplah yang tenang di sana. Jangan ganggu keluarga saya lagi. Jangan buat istri saya stress karena jika itu terjadi, kebaikan saya akan menjadi petaka untuk Anda."
__ADS_1
Ingin rasanya dokter Eki menolak pemberian dari Aska karena sebuah gengsi yang besar. Namun, dia juga butuh makan. Butuh tempat tinggal. Setelah diamputasi uangnya habis terkuras untuk biaya rumah sakit. Biaya hidup di Singapura sangat mahal. Itulah alasannya kembali ke Indonesia dengan sebuah harapan Jingga mau memberikan iba juga maaf untuknya.
"Permisi, Pak."
Suara Barito seseorang terdengar. Dua orang pria sudah berada di ruangan Aska. Dokter Eki mengerutkan dahi. Ada apa ini? Begitulah batinnya berkata.
Pria tampan dengan kemeja berwarna gelap menyodorkan sebuah kertas ke hadapan dokter Eki.
"Apa ini?" tanya dokter Eki.
"Surat perjanjian."
Mata dokter Eki melebar mendengar jawaban dari pria tersebut. Kemudian, dia menatap ke arah menantunya. Aska hanya tersenyum tipis.
"Saya bukan orang bodoh. Saya tidak akan membuang uang begitu saja," tutur Aska dengan seringainya. Sungguh dokter Eki merasa dijebak.
Dokter Eki membaca isi perjanjian tersebut. Paling bawah ditekankan bahwa 'jika dokter Eki melakukan pelanggaran perjanjian. Maka, kasus pembunuhan berencana yang dokter Eki lakukan kepada saudari Jessi akan diproses kembali'
Kalah telak dan mati sebelum berperang. Itulah yang dirasakan oleh dokter Eki. Dia benar-benar tidak bisa berbuat apapun.
Jika, dokter Eki menolak sudah pasti dia akan hidup menjadi gelandangan. Jika, dia terima cek yang sudah dia pegang harga dirinya sudah diinjak-injak oleh sang menantu. Dua pilihan yang amat sulit.
Dia terlalu meremehkan kemampuan Askara. Padahal menantunya itu adalah orang yang licik dalam hal seperti ini.
"Silahkan ditandatangani." Chritianlah yang menjadi pengacara Askara. Fahri yang menjadi saksi dari perjanjian itu. Dia juga yang akan mengantar dokter Eki ke kontrakan yang sudah Aska siapkan.
"Pihak kami akan bertanggung jawab penuh atas diri Anda selagi Anda tidak berbuat macam-macam," terang Christian.
Akhirnya, dokter Eki pun menandatangani surat perjanjian tersebut. Dia melirik ke arah Aska, hanya tatapan tenang dan datar yang Aska berikan.
"Ingat, gerak-gerik Anda dua puluh empat jam kami pantau." Fahri berkata dengan sangat ketus.
__ADS_1
Hanya helaan napas kasar yang keluar dari bibir dokter Eki. Tidak ada pilihan lain. Biarlah harga dirinya diinjak-injak asal dia bisa hidup layak.
.
Jingga masih betah di dalam kamar. Makanan yang mertuanya buatkan sudah dingin. Ayanda bingung harus berbuat apa. Akhirnya, dia memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar sang menantu. Jingga tidak menjawab. Ayanda memutuskan untuk sedikit lancang. Dia masuk ke kamar dan terlihat Jingga yang tertunduk lesu di tepian tempat tidur.
"Jingga."
Suara sang mertua tak ayal membuat Jingga menoleh. Dia masih terdiam membisu. Ayanda menghampiri menantunya dan mengusap lembut pundak Jingga.
"Mom, apa aku salah ketika aku berkata kasar kepada ayahku?" Suara Jingga terdengar sangat berat. Dia sama sekali tidak menunjukkan wajahnya kepada Sang ibu mertua.
"Hatiku masih sakit, Mom. Hatiku sangat hancur. Aku tidak ingin bertemu dengannya lagi, Mom. Tidak mau."
Ayanda memeluk tubuh ringkih Jingga. Dari ucapan sang menantu dia sangat merasakan betapa dalamnya luka yang dokter Eki torehkan. Betapa sakitnya hati seorang anak yang sama sekali tidak mendapatkan kasih sayang dari ayahnya.
"Tenangkan diri kamu. Sayang. Jangan terus seperti ini. Kasihan cucu-cucu Mommy."
Pelukan hangat sang mertua membuatnya bahagia. Pelukan itu seperti pelukan ibundanya.
"Kamu masih punya keluarga utuh, yaitu Mommy dan Daddy. Anggaplah kami seperti orang tuamu sendiri. Jangan sungkan jika menginginkan sesuatu ataupun bercerita apapun."
Jingga tersenyum bahagia mendengarnya. Dia meregangkan pelukannya dan tersenyum dengan mata yang sembab.
"Makasih, Mommy."
"Sama-sama, Sayang." Kecupan hangat Ayanda bubuhkan di kening Jingga.
Kebahagiaan yang sesungguhnya seorang menantu yakni diperlakukan layaknya anak kandung. Jingga adalah salah satu wanita yang beruntung diperlakukan seperti itu.
...****************...
__ADS_1
Yang Unfavorit di tengah cerita pada nyesel gak, ya?🤔 Untuk kalian yang masih memfavoritkan cerita ini makasih banyak. 🙏🏻 Maaf, belum bisa menyuguhkan cerita yang bagus kepada kalian.
Jangan lupa komen, ya.