
Waktu tidak terasa cepat berlalu. Sudah lima tahun Aska dan Jingga beserta keempat anaknya tinggal di Singapura. Semenjak tinggal di sana Aska jarang memiliki waktu untuk keempat anaknya juga istrinya. Namun, dia selalu menyempatkan waktu untuk sekedar berbincang dan bercanda ria. Walaupun hanya satu sampai dua jam bersama anak-anak. Jingga pernah menuntut quality time, tapi suaminya belum bisa memenuhi karena kesibukan yang luar biasa yang tidak bisa Aska tinggalkan.
Melihat sikap suaminya, Jingga pun pernah bercerita kepada Riana. Dia bertukar pikiran dengan sang kakak ipar yang juga lebih dulu pernah mengalami LDR-an dan juga berada di posisi yang hampir sama dengannya, yakni suaminya memiliki perusahaan yang tengah dirintis dan mengharuskan suaminya fokus pada perusahaan tersebut. Riana pun menyamakan apa yang terjadi pada dirinya dan juga Jingga ketika baru pertama menikah.
"Jangankan quality time untuk berbincang saja susah." Itulah yang Riana katakan. Suaminya adalah orang pekerja keras. Dia tidak akan pernah menunda pekerjaan dan akan selalu mengerjakan hingga selesai Tak dia pedulikan waktu yang terus berputar.
Keempat anaknya pun masih setia dalam kepura-puraan. Terkadang mereka mengeluh. Hanya saja mengeluh pada saudaranya bukan kepada kedua orang tuanya. Satu hal yang tidak mereka inginkan yakni melihat Bunda dan ayahnya bersedih karena mereka. Ayahnya bekerja di sini itupun untuk masa depan mereka bukan untuk siapa-siapa.
Sebuah kabar mengejutkan Aska terima dari Jakarta. Ayah dari kakaknya, yakni Riom Juanda meninggal dunia. Aska terkejut pasalnya dia tahu duda pelit itu tidak sakit. Aska pun segera terbang seorang diri menuju Jakarta. Bukan tanpa alasan keempat anaknya harus bersekolah dan dia pun memilih bolak-balik Jakarta-Singapura-Jakarta.
Ketika berada di rumah duka, tidak ada orang yang tidak menangis. Ketiga anak Rion Juanda, yakni kakaknya juga kakak iparnya terlihat sangat terpukul dengan kepergian ayah mereka. Belum lagi putra bungsu dari sang mendiang yang terus menitikan air mata. Kepergiannya yang secara mendadak membuat mereka tida siap.
Bukan hanya anak-anak yang merasa kehilangan, dua menantunya pun terlihat sangat berduka. Di balik kesibukan Aksa dan Radit mengurus jenazah, ada air mata yang mereka tahan. Belum lagi kelima cucu sang mendiang yang terus menangis. Terutama Aleeya.
Aska memeluk tubuh Gavin. Anak itu terus menangis tak henti. walaupun mereka berdua sering bertengkar dan beradu mulut, tapi begitulah cara mereka menyalurkan kasih sayang mereka. Gavin terus memanggil nama sang kakek. Dia menangis dengan memeluk tubuh Ghea. Aska pun memeluk tubuh bocah yang belum genap berumur 10 tahun itu juga memeluk adiknya, Ghea. Aska mencoba menenangkan. Belum lagi ketiga keponakannya yang lain yang terus memeluk tubuh Iyan, putra bungsu Rion Juanda.
Melihat kejadian ini Aska merasa banyak hal yang sudah dia lewatkan. Banyak hal yang tidak dia ketahui tentang keluarganya selama lebih dari lima tahun ini. Aska mencoba untuk bertahan di Singapura, tidak pernah mendengar kabar buruk apapun karena mereka pun yang berada di Jakarta seakan menutup sekecil apapun kabar buruk yang terjadi di sini. Mereka tidak ingin Aska kepikiran dan berujung pada kesehatan juga pikiran yang bercabang yang nantinya akan mengganggu pekerjaan..
"Terlalu banyak yang gua lewati. Terlalu banyak yang tidak gua ketahui. Gua harus bekerja keras lagi. Gua ingin cepat kembali, tinggal bersama mereka orang-orang yang selalu ada di samping gua sedari kecil."
Begitulah janji yang dia ucapkan di dalam hati. Harus bekerja keras agar dia bisa cepat kembali ke rumah di mana dia dibesarkan dan rumah di mana banyak menyimpan kenangan.
Air mata terus mengalir deras di wajah keluarga besar termasuk kedua orang tuanya. Dia tahu bagaimana kedekatan kedua orang tuanya dengan ayah sang kakak yang tak lain sang mendiang adalah mantan suami dari ibunya. Ketika jenazah datang, air mata tumpah dengan begitu deras semua memanggil namanya seakan semua orang kehilangannya.
Satu hal yang membuat hati Aska sakit dan sedih, ketika melihat anak bungsu dari Rion Juanda yang terus menangis memeluk jasad sang ayah yang sudah terbujur kaku. Hati Aska sangat sedih, hati rasanya sangat sakit melihatnya. Bagaimana tidak anak itu Belum cukup dewasa, anak itu sedang mencari jati dirinya baru kuliah dan harus ditinggalkan oleh sang ayah. Sedangkan ibunya pun sudah berpulang lebih dahulu ketika dia masih kecil.
Aska membayangkan jauh ke depan. Bagaimana dia menikah nanti. Bagaimana perasaannya menikah tanpa didampingi sang ayah juga sang ibu. Bagaimana Iyan bisa menghadapi semuanya. Dia tahu anak itu sangat dekat dengan ayahnya. Hanya kata ayah, ayah, dan ayah yang Iyan ucapkan.
"Jangan tinggalkan Iyan, Ayah. Jangan yimggalakn Iyan!"
Mendengar kalimat itu dada Aska rasanya sesak. Dia membayangkan bagaimana jika itu terjadi pada anak-anaknya. Ditinggalkan olehnya di waktu anak-anaknya masih membutuhkan sosok seorang ayah. Itulah yang membuat semua keluarga Aska terutama keluarga besar menangis melihat Iyan yang terus menjerit memanggil nama ayahnya.
Apalagi ketika di pemakaman tiba. Ketika jasad diturunkan ke liang lahat Iyan hanya terdiam dengan air mata yang mengalir begitu deras. Suara Iyan Sudah tidak ada. Tubuhnya pun sudah tidak ada perlawanan. Iyan terus berada di atas. Dia tidak sanggup untuk berada di bawah meamasukkan jenazah ke dalam perut bumi. Dia tidak ingin air matanya menetes mengenai tubuh ayahnya dan akan memberatkannya nantI di akhirat. Aska tengah membayangkan jikalau itu dirinya. Bagaimana dengan putranya nanti.
Aska yang berencana setelah pemakaman akan kembali ke Singapura. Akhirnya membatalkan rencana awal dia tidak tega meninggalkan keluarga besarnya yang masih berselimut duka.
Sang ibu masih saja menangis dia kehilangan sosok seorang kakak. Mantan suami yang begitu baik. Walaupun pernah ada luka yang sama dia yang torehkan, tapi sang ibu sudah memaafkan dan membuka lembaran baru. Menjadikan mantan suaminya itu sebagai kakak untuknya.
"Kenapa Mas pergi terlalu cepat?" Begitulah gumamnya.
Aska tak tega melihatnya. Dia memeluk tubuh ringkih sang Bunda Begitu juga dengan ayahnya. meninggalkan ibunya dalam kondisi seperti ini dia tidak bisa, setidaknya dia harus menemani sang Bunda di malam ini.
__ADS_1
Aska pun tak lupa menghubungi istri dan keempat anaknya dia menjelaskan bahwa dia tidak bisa kembali hari ini juga.
"Enggak apa-apa, Yah. Lagian kalau pulang pergi juga kan capek," jawab Jingga di balik sambungan telepon. "Besok pagi aja baru balik ke Singapurnya," lanjut istrinya lagi.
"Maaf ya, malam ini Bunda hanya tidur dengan anak-anak." Jingga hanya tersenyum.
"Salam untuk semuanya, ya. Maaf Bunda nggak bisa datang, anak-anak sekolahnya gak bisa ditinggal." tuturnya
Aska sengaja menghubungi sang istri di depan kedua kakaknya juga keluarganya agar mereka mendengar apa yang tengah jingga lakukan di sana. Kenapa dia tidak bisa pulang ke Indonesia walaupun hanya sehari saja.
"Enggak apa-apa. Kakak tahu kok gimana sibuknya kamu di sana ngurus anak-anak. Sehat-sehat terus ya di sana. Jangan lupa bahagia." Sang kakak menjawab.
Jingga terkejut mendengar suara kakak iparnya. Aska tidak bilang jika dia menghubungi dirinya di depan semua keluarga. Ketika suara sang kakak terdengar, barulah Aska menunjukkan gambar orang-orang yang tengah berada bersama suaminya.
"Iya Kak. Kalau anak-anak nggak sekolah pasti aku ikut pulang."
"Yang penting minta doanya aja ya. Semoga ayah tenang di sana." Echa mencoba untuk tersenyum, di wajahnya yang sangat terlihat sendu.
Suara sang kakak membuat hati Jingga bergetar. Dia tahu bagaimana rasanya kehilangan sosok seorang ayah. Dia merasakan betapa pedihnya hati sang kakak ipar sekarang ini. Dari suaranya saja sudah terdengar teramat berat.
"Semua keluarga yang sabar ya. Ayah orang baik pasti Ayah tenang di sana pasti ayah masuk surga."
Keesokan paginya Aska akan berangkat ke bandara untuk kembali lagi ke Singapura. Sebelumnya dia berpamitan kepada kedua kakaknya yang terlihat jelas masih berduka.
Ketiga anak ayah Rion Juanda terlihat sangat sendu terutama sang kakak dengan wajah yang sembab mata yang memerah dan hidung juga masih merah. Terlihat jelas betapa kakaknya itu kehilangan sosok seorang ayah.
Juga Sama halnya dengan Riana. Wajah cantiknya terlihat sangat muram dan tidak bercahaya. Dia mampu melengkungkan senyum, tapi senyum penuh kepedihan dan senyum yang sengaja dia paksakan. Dia harus terlihat baik-baik saja karena dia tahu kakaknya lebih hancur dibandingkan dirinya.
Aska memeluk tubuh Sang kakak. Dia mengusap lembut punggung kakaknya yang sedikit bergetar menahan tangis.
"Adek pulang dulu ya, Kak. Kakak jaga kesehatan. Ada anak-anak kakak yang butuh kakak. Percayalah Ayah sudah tenang di sana ayah akan sedih jika melihat Kakak terus menangis seperti ini."
Punggung Echa semakin bergetar dia menangis dan Aska dapat merasakan pundaknya basah karena tangisan sang kakak. Hatinya hancur dia baru melihat kakaknya sehancur ini kakaknya. Serapuh ini Aska melonggarkan pelukannya dia menatap lekat wajah sang kakak yang begitu menyedihkan. Tangannya mengusap lembut pipi sang kakak yang basah dengan air mata
"Kakak yang sabar ya. Adek tahu, mengikhlaskan itu sulit, tapi setiap yang mati pasti tidak akan pernah kembali." Echa pun menggangguk. Dia tersenyum dengan sangat perih.
"Makasih, kamu udah menyempatkan waktu untuk pulang ke sini." Ucapan yang begitu tulus yang dilontarkan oleh Echa. Dia tahu sang adik benar-benar sibuk. Sang adik tidak bisa diganggu dan sang adik tidak bisa kemana-mana selama beberapa tahun ini.
"Tidak perlu berterima kasih, Kak. Ini sudah kewajiban Adek untuk pulang ketika keluarga kita sedang dilanda musibah. Kakak yang sabar ya Kakak kuat Kakak adalah kakak Adek yang paling hebat."
Terlihat juga Riana menyeka ujung matanya ketika melihat sang kakak masih saja menangis. Hanya Aksa tempat ternyaman untuknya mencurahkan segala perasaannya juga air matanya perihal kehilangan sang ayah untuk selama-lamanya. Dia tidak ingin menambah kesedihan kepada sang kakak juga adiknya.
__ADS_1
Aska juga berpamitan kepada Riana. Dia memeluk tubuh kakak iparnya tersebut. Riana bisa dibilang lebih kuat dari sang kakak, tapi Aska juga tahu hatinya begitu rapuh dan tak kalah hancur dari sang kakak.
"Hati-hati ya, Kak. Salam untuk keempat keponakan Ri," ucapnya dengan senyum yang masih bisa mengembang di dalam luka yang masih bersarang.
"Pasti. Mereka juga merindukan kamu dan juga kedua anakmu. Kakak tunggu kamu dan abang main lagi ke sana." Riana masih melengkungkan senyum yang begitu manis.
Hanya Iyan yang tidak dapat dia temui. Iyan yang paling hancur. Sedari pulang dari pemakaman, Iyan seolah mengunci diri di kamar. Dia tidak ingin diganggu. Dia telah bergelut dengan kesedihannya sendiri. Kedua kakaknya pun membiarkannya karena yang paling terpukul dan merasa kehilangan adalah p adik bungsu mereka.
Aska menghampiri sang Abang dan juga kakak iparnya. Aksa dan Radit tengah duduk bersama anak-anak mereka di ruang keluarga. Aska duduk di samping sang Abang, Aksara.
"Jaga istri kalian berdua, mereka sangat hancur. Jangan pernah tinggalkan mereka." Sebuah pesan yang Aska ucapkan kepada Aksa dan juga Radit. Kedua pria itu pun menggangguk.
"Tanpa lu suruh, pasti gua akan lebih menjaga istri gua," sahut Radit.
"Lu fokus aja beresin perusahaan di sana. Cepat kembali."Sebuah kalimat perintah dan juga kalimat penuh harap yang Aksa berikan kepada adiknya jujur dia merasa kehilangan adiknya yang sudah lebih dari 5 tahun ini meninggalkan dirinya. Walaupun dia sering main ke sana tapi suasananya berbeda.
Aska terdiam ketika melihat kelima keponakannya masih bergelut dengan rasa sedih. Wajah ceria mereka nampak hilang berganti dengan wajah sendu dan pilu. TV menyala tapi mata mereka tidak terfokus ke sana.
"Uncle, pamit ya. Uncle harus kembali ke Singapura." Mereka berlima kompak mengangguk.
"Jangan sedih lagi. Doakan Engkong biar Engkong bahagia di surga sana." Aska memeluk tubuh keponakannya satu per satu. Memeluk tubuh Gavin lebih lama dari yang lain.
"Anak laki-laki gak boleh cengeng. Harus kuat." Sebuah kalimat yang membuat Gavin menatap ke arah sang paman.
"Lelaki hebat adalah lelaki yang pantang menyerah dan pantang menangis." Seulas senyum Aska berikan. Dia ingin menyemangati sang keponakan tampannya.
.
Askara masih memikirkan perihal ayah Rion Juanda yang pergi tanpa aba. Seolah dia tidak ingin menyusahkan semuanya.
"Kenapa ngelamun, Yah?" tanya sang istri.
"Ayah orang baik, pergi pun dengan sangat muda," ujarnya. Jingga pun tersenyum. Dia melihat suaminya ini sangat merasakan kehilangan yang mendalam.
"Umur manusia hanya Tuhan yang tahu. Kemarin Ayah, esok atau lusa bisa jadi kita." Sontak Aska menoleh ke arah sang istri.
"Memang begitu 'kan kenyataannya. Sekarang ini banyak yang sehat, tapi besoknya meninggal. Sedangkan yang sakit malah panjang umur. Maka dari itu, kita harus banyak beramal tanpa menunjukkan. Siapa tahu saja salah satu amal kita bisa membantu kita terlepas dari api neraka."
Aska tersenyum mendengar ceramah dadi sang istri tercinta. Dia mengecup kening Jingga dengan begitu lama. Waktu untuk berdua sudah sangat jarang.
....
__ADS_1