
Suasana rumah besar itupun semakin riuh. Apalagi acara kejar-kejaran Gavin dan tiga sepupunya itu. Sungguh sangat menghibur.
"Empin, udahan lari-lariannya. Nanti malam demam lagi," ujar sang nenek.
"Mas ingin telul gulung, Mimo," ucap anak itu yang masih berlari.
"Ya udah, Mimo teleponin Abang telur gulungnya, ya."
Bukan hanya Gavin yang terkejut, Aska dan jingga melebarkan mata. Sedangkan Rion hanya menggelengkan kepala.
"Tapi, berhenti main lari-lariannya." Peringatan sang nenek membuat Gavin menganggukkan kepala. Sedangkan Rion sudah berdecak kesal.
"Kamu itu, Dek. Selalu saja seperti ini," omel Rion Juanda.
"Gak apa-apalah, Mas. Pasti si triplets juga senang. Bukankah itu kesukaan mereka?"
"Mimo emang the best," sahut mereka dengan begitu kencangnya.
"Ini punya kakak kembal tiga." Gavin mengembalikan telur gulung milik Aleena. "Mas mah mau makan yang disewa Mimo aja." Anak itu melenggang begitu saja.
Aska benar-benar tak habis pikir melihat tingkah anak dari abangnya ini. Plester demam masih di dahi, tapi Sudah berlarian ke sana ke mari.
Aska kira dia akan bisa bersantai. Nyatanya sang ibu malah menyuruhnya untuk membawa tukang telur gulung ke rumah. Sungguh merepotkan. Ingin rasanya dia menolak, tapi centong nasi sudah sang ibu genggam. Bahaya 'kan jika nanti dia jadi Sangkuriang.
"Ada ongkirnya, Mom," gurau Askara.
Bukannya diberi ongkos, telinga Aska malah diplintir cukup keras oleh sang ibu hingga dia merintih kesakitan.
"Kamu selalu ngeluh kalau dipalak keponakan-keponakan kamu. Padahal mereka mengikuti ajaran kamu, Askara!"
Jingga malah tertawa melihat suaminya disiksa oleh ibu mertuanya. Di balik sikap romantis Aska ada sisi humoris yang selalu menghangatkan suasana rumah. Sudah pasti jika Aska tidak ada rumah ini akan terasa sangat sepi bagai tak berpenghuni.
"Ampun, Mom. Sakit!"
"Sukulin!"
Malah keponakannya pun ikut mengejek sang paman. Begitu juga dengan si triplets. "Tarik lagi Mimo, sampe copot kupingnya!"
Sungguh keponakan kurang ajar. Sudah tahu jika sang ibu marah akan mengeluarkan tenaga dalam. Sebagai seorang laki-laki pun dia tidak bisa melawan. Lagi pula melawan kepada ibu kandung dosanya sangat besar.
Terus menggerutu di sepanjang perjalanan menuju tukang telur gulung. Berharap Abang itu masih ada. Aska dapat bernapas lega karena si abangnya masih mangkal di sana.
"Bang, saya mau beli semua telur gulungnya."
Si Abang telur gulung yang tengah menanti pembeli pun terkejut. Antara percaya atau tidak. Dia mengingat wajah Aska.
"Bukannya si Aa ini yang tadi sama anak kecil beli tur gulung lima puluh ribu?" Aska pun mengangguk.
"Iya, tapi kurang, Bang. Makanya saya mau borong semua."
"Alhamdulillah." Si Abang terlur gulung terlihat sangat senang karena dagangannya diborong semua oleh Aska.
"Bang, tapi jangan goreng di sini. Gorengnya di rumah saya aja."
"Siap, A," jawab si Abang telur gulung.
Ketika berhenti di depan pagar rumah yang sangat besar si Abang telur gulung terheran-heran.
"Ini rumah apa istana?" Begitulah jika orang biasa masuk ke dalam rumah orang kaya sesungguhnya.
Tanpa si Abang itu sangka, ternyata kedatangnbya sudah ditunggu oleh penghuni rumah besar tersebut.
"Yeay! Abangnya datang."
Bocah berumur empat tahun sangat antusias. Sedangkan Aska sudah mencium perut buncit sang istri.
"Aku ganti baju dulu, ya. Debu soalnya." Jingga mengangguk mengerti. Dia masih duduk di kursi yang ada di teras.
Melihat keempat keponakannya yang riang gembira membuat bibir Jingga terangkat dengan sempurna. Si triplets dan Gavin tetaplah anak kecil biasa. Menyukai makanan murah dan keluarganya tidak melarangnya untuk melakukan itu.
"Ketika anak kamu lahir. Biarkanlah mereka tumbuh di kalangan biasa agar mereka nantinya bisa bersyukur atas apa yang mereka punya. Mereka juga bisa berbaur dengan orang yang lebih rendah dari kita." Jingga baru tahu ternyata ini adalah ajaran dari ibu mertuanya. Pantas saja si triplets sekolah di sekolahan biasa. Begitu juga dengan Aska.
Gavin sudah membawa dua puluh tisu telur gulung. Dia membawanya masuk ke dalam.
"Mau ke mana, Mas?" tanya sang nenek.
"Ambil kecap, Mimo," sahutnya dengan sedikit berteriak.
Ayanda hanya tersenyum mendengarnya. Jingga tidak menyangka jikalau Gavin bisa semandiri itu. Padahal banyak orang dewasa di sana, tapi dia sama sekali tidak mau merepotkan. Aska keluar dengan kaos yang berbeda. Dia duduk di bawah kursi yang diduduki sang istri tercinta.
"Bunda gak makan?" tanya Aska.
"Belum kebagian, dari tadi keponakan Ayah makannya kaya orang kesetanan," papar Jingga.
Ayanda dan juga Rion tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Jingga. Mereka berdua sudah sangat hafal makanan kesukaan sang cucu.
"Kalau masalah telur mah udah gak bisa nego," ujar Askara.
__ADS_1
"Betul banget itu."
Empat orang dewasa itu hanya memperhatikan tingkah empat anak-anak itu. Asalkan empat anak itu bahagia pasti kebahagiaan itu akan menular kepada mereka semua.
"Ayah!"
Suara Echa terdengar dan dia berlari memeluk tubuh ayahnya dengan begitu erat. Duduk di pangkuan sang ayah tanpa mengenal malu.
"Kebiasaan!" dengkus sang ayah dengan senyum yang mengembang.
Jingga memperhatikan interaksi antara kakka iparnya dan juga ayahnya. Jika, mendengar cerita dari sang suami kisah hidup Echa pun sangat sedih. Ayahnya sama seperti dengan dirinya. Terang-terangan menyakiti hati anaknya. Kenapa dia dengan mudah memaafkan ayahnya? Ada banyak tanya dalam kepala Jingga.
"Udah beres semua?" Echa mengangguk dengan wajah yang lelah.
"Echa ingin liburan sejenak, Ayah." Echa sudah meletakkan kepalanya di bahu sang ayah. Rion pun tersenyum dan mengusap lembut rambut putrinya itu.
"Berlibur lah!" titah sang ayah.
"Jangan porsir tubuh kamu, Kak." Ibunya pun ikut bersuara.
"Iya, Mah. Tanpa Ayah ijinin pun Echa akan tetap liburan. Iya 'kan Ay?" Echa sudah menatap gembira ke arah suaminya yang tengah menikmati telur gulung. Radit pun mengangguk.
"Ngapain ngeluh kalau gitu?" sungut sang ayah.
"Senang aja kalau liat Ayah marah." Echa malah tertawa sangat puas dan Rion mencubit pipi Echa dengan begitu gemas.
"Mau Mamah masakin apa?" tanya Ayanda kepada Echa.
"Sosis pedas manis sama telur orak-arik aja, Mah." Echa pun merindukan masakan sang ibu. Kesibukannya membuatnya lupa akan jala ke rumah ibu kandungnya sendiri. Padahal hanya lima langkah saja dari rumahnya.
Ada rasa perih di hati Jingga ketika melihat interaksi antara Echa dan juga kedua orang tuanya. Betapa bahagianya jika dia bisa seperti Echa. Memiliki ayah yang sangat sayang kepadanya juga ibu yang sangat perhatian. Jingga juga sangat bangga kepada ibu mertuanya dan juga ayah mertua dari kakak iparnya. Walaupun mereka sudah berpisah, tetapi masih tetap kompak dalam segala hal. Seakan melupakan masa lalu mereka berdua. Dia juga sangat salut kepada ayah mertuanya yang mampu berlapang dada menerima masa lalu sang istri tercinta. Malah mantan suami dari istri.ya kini l menjadi sahabat sekaligus besan Giondra.
Mereka semua sangat luar biasa. Sentuhan Aska di punggung tangannya membuat Jingga tersadar dan tersenyum ke arah sang suami. Namun, tatapan Aska terlihat sangat berbeda.
"Bunda baik-baik saja, Yah." Senyum terukir di wajahnya cantik ibu hamil itu.
"Anteu, ini punya Anteu." Gavin berlari menuju sang Tante dan memberikan sepuluh tusuk telur gulung untuk Jingga.
"Saosnya enak loh, Kak." Aleena ikut duduk di bawah kursi Jingga.
Gavin malah duduk di pangkuan sang paman. Aska menyuapi Jingga telur gulung racikan Aleena. Istrinya nampak suka dengan telur gulung tersebut.
"Enak 'kan Kak?" Jingga mengangguk seraya tersenyum.
"Jangan banyak-banyak, nanti bisulan." Rion sudah memperingati keempat cucunya. Namun, tetap saja mereka tak mendengarkan ucapan sang kakek.
"Enggak akan Bu," jawab Gavin. "Mas sembuh makan telul gulung." Semua orang malah tertawa mendengar ucapan dari Gavin tersebut.
"Coba Bubu tanya Baba emang ada obat yang namanya telur gulung." Echa senang mengerjai Gavin.
"Baba dokter loh," bisik Aska kepada Gavin. Mata anak itu melebar. Dia baru tahu jikalau ayah dari si kembar tiga adalah dokter.
"Baba, coba periksa ini anak nakal." Echa sudah membawa suaminya ke arah Gavin yang sudah mematung.
"Telur gulung bisa bikin panas lagi 'kan." Echa mengedipkan matanya agar suaminya mengerti.
"Iya."
Wajah Gavin sudah mulai ketakutan. Aska dan Jingga malah tertawa. Apalagi Gavin sudah merangkul leher Aska dengan begitu eratnya ketika Radit memaksa untuk memeriksanya.
"Uncle, Mas gak mau."
Jingga malah tertawa begitu juga dengan Rion juga Echa. Sedangkan wajah Radit sudah sangat serius ingin memeriksa Gavin.
"Mas udah sembuh. Mas gak mau disuntik lagi. Gak mau, Uncle."
Aska malah merasa sesak napas karena jatuhnya dia cekik oleh Gavin. Akan tetapi, keponakannya semakin mengeratkan rangkulan di lehernya.
"Bandit, pergi Sanah! Entar gua mati ini." Askara akhirnya menyerah dan membuat semua orang tertawa terbahak-bahak. Apalagi Gavin masih merangkul erat leher Askara.
"Malah pada ketawa pan. Tolongin!" bentak Askara.
Jingga membujuk keponakannya dan akhirnya Gavin mau melepaskan rangkulan lengannya di leher sang suami.
"Baba hanya ingin mengecek suhu tubuh Mas saja," ujar Jingga. Sang Tante mulai meyakinkan keponakannya. Akhirnya, anak itu mau dan membawanya kepada Radit.
"Baba gak akan jahat sama Mas 'kan?" Mata anak itu sudah nanar menatap wajah Radit. Dahi Radit pun mengkerut mendengar ucapan dari sang keponakan.
"Jahat?" ulang Radit.
"Suntik Mas."
Radit malah terbahak mendengar ucapan dari keponakan tampannya. Dia meraih tubuh Gavin dan memangkunya.
"Seorang dokter itu tidak akan sembarangan menyuntik seseorang." Radit mulai memberikan pengertian. "Kecuali, orang itu memerlukan suntikan demi kesehatannya."
"Mas butuh gak?" Wajah anak itu masih ketakutan. Radit mengusap lembut rambut Gavin. Radit pun menggeleng dan membuat Gavin mencium pipi Radit dengan begitu cepat.
__ADS_1
"Baba doktel hebat."
Gelak tawa tercipta lagi. Sungguh malam ini suasana rumah ini sangat ramai. Jingga terus mengusap lembut perutnya yang membukit. Dia terus merapalkan doa agar keempat anaknya kelak bisa seperti orang-orang yang berada di rumah ini. Memiliki hati yang baik.
"Ada apa ini?" tanya Ayanda yang sudah membawa nampan berisi sosis pedas manis dan telur orak-arik pesanan Echa.
"Mimo, Dedek mau!"
"Perut apa karung bolong, Dek?" hardik Askara.
"Dedek belum makan, Om."
Mulut Aska menganga mendengar ucapan Aleeya. Belum makan sedangkan telur gulung sudah habis puluhan tusuk.
"Itu apa?" tunjuk Aska ke arah tusukan yang sudah Aleeya masukkan ke dalam plastik.
"Ngemil doang itu mah."
Jingga malah tertawa mendengar ucapan dari keponakannya itu. Aleeya adalah cerminan orang Indonesia. Belum makan jika belum makan nasi.
"Minta buatin ke Mbak aja, ya," ujar sang nenek. "Kamu mau makan apa, Dit? Minta buatin juga ke Mbak di dapur." Radit hanya menganggukkan kepalanya saja.
"Mah, kok banyak banget." Itu bukan porsi makan Echa. Makanya dia sedikit bingung.
"Anak Mamah bukan kamu doang," sahut Ayanda.
Aska malah tertawa dan membuat Echa mendelik kesal ke arah adik bungsunya.
"Adek gak pengen makan itu, Mom," tolak Aska.
"Percaya diri sekali kamu," sergah Ayanda. Aska menatap ke arah sang kakak yang juga menggedikkan bahunya.
"Anak perempuan Mommy bukan hanya Echa. Ada Riana sama Jinggq juga sekarang."
Deg.
Jingga merasa terharu mendengar ucapan dari ibu mertuanya. Terang-terangan ibu mertuanya mengatakan bahwa dia adalah anak perempuan dari keluarga Giondra. Sungguh beruntung sekali dirinya. Matanya sudah mulai nanar.
"Siapapun yang menjadi menantu Mommy, berarti dia sudah menjadi anak Mommy dan juga Daddy."
Ayanda sudah menyuapi Echa.
Sekarang, dia beralih pada Jingga dan menyuapinya juga. "Jangan merasa canggung kepada Mommy ataupun kakak-kakak kamu. Kami semua sudah menjadi keluarga kamu."
Tak terasa bulir bening itupun jatuh dari pelupuk matanya. Dia tidak menyangka jika akan memiliki mertua sebaik ini. Apalagi sampai mau menyuapinya bagai anak kandungnya.
"Jangan nangis lagi." Ayanda mengusap lembut air mata yang sudah membasahi wajah Jingga. "Tuhan sudah mengubah tangisan kamu menandai sebuah kebahagiaan yang kini kamu rasakan."
Aska tersenyum bahagia melihat ibunya yang begitu baik memperlakukan Jingga. Terlihat betapa tulusnya kasih sayang ibunya kepada istrinya. Sama seperti kasih sayangnya kepada sang kakak.
Ayanda terus menyuapi kedua anak perempuannya. Aska dan Radit hanya saling tatap dengan penuh senyum. Sebenarnya Radit tahu bagaimana hati Jingga. Namun, dia belum terlalu dekat dengan Jingga dan tidak ingin menjadi manusia sok tahu.
Empat anak-anak itupun malah makan di lantai tanpa beralaskan apapun. Terlihat mareka berempat sangat menikmati makan yang dimasakkan oleh Mbak yang kerja di sana.
"Gak ada kenyangnya kalian," omel Askara.
"Ini baru empat. Si Ghea belum gede, ditambah anak lu nanti," ujar Radit.
"Udah kaya play grup ini rumah," timpal Rion. "Kalau anak lu jadi empat, lu kudu beli mobil travel biar muat banyak."
Semakin malam rumah itu semakin ramai karena candaan dua pria dewasa yang ada di sana. Ayanda sudah selesai menyuapi dua anak perempuannya yang manja. Tinggal menunggu empat cucunya yang makan bagai anak kucing di lantai.
"Kalau Aksara tahu udah ngomel-ngomel dia," ucap Ayanda.
"Biarin ajalah, anak itu mending dikeboin biar gak kaget nantinya." Begitulah Rion, dia tidak akan melarang cucu-cucunya bermain kotor ataupun hujan. Dia membiarkan mereka untuk mencoba semua hal di masa tumbuh kembang.
Setelah selesai makan, mereka berempat membereskan piring bekas mereka makan. Tidak ada kata manja jika sudah begini. Untungnya mereka berempat sudah terlatih untuk mandiri sedari dini.
"Jangan lupa cuci tangan." Ayanda sudah berteriak agar empat cucunya mendengar.
"Mah, besok titip si triplets." Echa sudah bergelayut manja di lengan suaminya yang duduk di lantai.
"Jam berapa berangkatnya?" tanya Ayanda.
"Subuh paling, Mah. Menghindari macet," sahut Radit.
Jingga hanya mendengarkan saja. Sudah biasa orang kaya liburan tanpa persiapan. Malam ini bilang, besoknya akan berangkat.
"Cuma berdua?" tanya Ayanda lagi.
Echa dan Radit mengangguk.
Sedetik kemudian, dia menoleh kepada Jingga. "Kamu mau ikut ke Bandung?"
...****************...
Tolong komen di setiap bab-nya ya.
__ADS_1